The Love Story Princess And Prince Mafia

The Love Story Princess And Prince Mafia
Bab 137 Hadiah Pernikahan



Happy reading 🤗


.


.


.


.


.


.


Di Surya yang tenggelam, keluarga tuan Wijaya sudah berkumpul di meja makan, saat ini mereka sedang menyantap makanan, tampak hening semua fokus pada makanan masing-masing.


Beberapa menit berlalu mereka sudah menyelesaikan makan malamnya dan kini mereka berkumpul di ruang keluarga. Ada Richo, Karla, Tio, Aulia, tuan Farhan, Jons, Ayu, Reyhan, Amanda, Alex serta dua boss besar.


"Ini hadiah untuk kalian berdua, semoga kalian menyukainya" tuan Farhan membuka percakapan, ia menyodorkan sebuah map berwarna hijau tua di hadapan Richo dan Karla.


Richo menatap tuan Farhan lalu menatap pemberian tuan mudanya.


"Bukalah!" kata tuan Farhan lagi dan Richo lalu mengambilnya sedikit penasaran tentang isi di dalamnya. Saat membukanya ia sangat terkejut isi dalam map itu adalah sertifikat rumah, kunci rumah dan kunci mobil.


"Apakah ini tandanya aku tidak akan tinggal di sini lagi?" tanya Richo dengan wajah sedihnya, sudah bertahun-tahun ia tinggal di Mansion, susah senang selalu bersama dengan anggota lainnya bahkan saat usianya belasan tahun ia sudah tinggal di Mansion Utama ada banyak sekali kenangannya di sini. Ia tidak tahu apakah hadiah yang di berikan tuan Farhan adalah hal buruk atau sebaliknya.


Tuan Farhan mendesah kasar bisa-bisanya Richo menganggap buruk kebaikannya. "Dasar nih anak, pikirannya terlalu jauh dia pikir aku sekejam itu!" batin tuan Farhan.


"Aku tidak mengusirmu dari sini, terserah kamu jika kamu ingin tinggal di sini lagipula Mansion ini juga adalah rumah kamu, hanya saja kamu sudah berkeluarga aku tidak tahu apakah Karla bersedia tinggal di sini atau ia ingin mempunyai rumah sendiri bersama kamu" jelas tuan Farhan panjang lebar.


"Kamu sudah bukan lajang lagi, dan tanggung jawab kamu bukan hanya diri kamu juga organisasi ini melainkan Karla yang sudah menjadi istri kamu, kamu harus diskusikan bersama Karla... apakah dia mau tinggal di sini atau tinggal di rumah pribadi?" kali ini tuan Wijaya buka suara sambil menatap wajah Richo dan Karla bergantian.


Richo mengangguk mengerti, sekarang ia bukanlah pria jomblo namun kini statusnya telah menjadi suami yang mana tanggung jawabnya lebih besar lagi, dan ia harus mendiskusikan dengan Karla apapun yang dia lakukan.


"Baiklah aku mengerti, aku akan mendiskusikan masalah ini dengan Karla saat di kamar nanti. Ngomong-ngomong terima kasih banyak tuan muda sudah memberikan kami hadiah yang sangat mewah dan berharga" ujar Richo dengan rasa bersalah karena sudah berpikiran buruk tentang tuan Farhan.


"Itu bukan apa-apa, di banding dengan kerja kerasmu selama ini, apalagi kamu sudah banyak berkontribusi dalam organisasi papaku. Kau layak menerima ini bahkan itu masih terbilang kecil" jelas tuan Farhan.


"Oh iya kamu bisa melamar di perusahaan terserah kamu maunya di bagian apa" sambung tuan Farhan membuat Richo sungguh terharu. Semua di sana ikut bahagia mendengarnya.


"Maaf tuan muda aku tidak pandai soal perusahaan, tapi aku bisa meretas situs web dan semacamnya, bisa di bilang aku adalah salah satu hacker handal" puji Richo dengan kekehan kecil.


"Itu sangat bagus, kau bisa bekerja untukku jika aku membutuhkanmu kau harus siap siaga" balas tuan Farhan dan Richo mengangguk mantap, ia akan melakukan yang terbaik untuk tuan mudanya itu. Ia sangat bahagia bisa hidup dan tinggal bersama dengan keluarga tuan Wijaya yang begitu baik padanya bahkan pada anak-anak jalanan sekalipun.


Jons teringat jika besok adik satu-satunya itu akan kembali ke Surabaya membuatnya begitu sedih, ia ingin sekali agar adiknya tetap tinggal di Jakarta bila perlu tinggal di Mansion Utama.


"Ayu, apakah kalian tidak ingin menetap di Jakarta? aku akan sangat merindukanmu" tanya Jons dengan wajah murung. Ayu tersenyum lalu menjawab.


"Tidak bisa kakak, tapi sekalipun kami tinggal di Surabaya kita masih bisa bertemu bisa berkumpul bersama, jangan khawatir aku akan sering-sering ke sini" tutur Ayu sambil menatap Jons, Jons tidak bisa berkata lagi ia hanya mengangguk lirih ia tidak bisa melarang karena adiknya telah berkeluarga.


"Baiklah, tapi ingat harus sering-sering ke sini, janji?"


"Iya, insya Allah" jawab Ayu.


"Bagaimana keadaan Khadijah? apakah dia baik-baik saja di sana?" tanya Jons, ia baru teringat akan keponakannya yang sudah besar, dan sudah lama tidak bertemu.


"Siapa Khadijah sayang? sepertinya mama sangat-sangat ketinggalan informasi" kali ini nyonya Mita ikut bertanya, ia sebenarnya belum tahu jika Ayu memiliki satu anak perempuan di luar negeri.


"Oh Khadijah anak Ayu ma, dia anak pertama Ayu dan sekarang dia sedang sekolah di luar negeri, dia mendapatkan beasiswa di sana" jawab Ayu membuat nyonya Mita dan lainnya ikut terkejut.


"Bunda Ayu, Lia ingin melihat wajah kak Khadijah dia pasti sangat cantik seperti bunda" kata Aulia dengan wajah sumringah.


"Kamu ini kenapa tidak pernah cerita tentang cucuku, aku bahkan tidak tahu jika cucu perempuanku sudah besar dan sekarang malah sudah kuliah" kesal nyonya Mita karena Ayu mengabaikan dirinya, padahal ia ingin sekali tahu perihal cucu-cucunya itu.


"Maaf ma sudah menutupi tentang Khadijah pada mama, jangan marah yah lagipula mama sekarang sudah tahu kalau Ayu punya anak perempuan yang sudah besar" tutur Ayu dengan perasaan bersalah, kedua tangannya mengatup di depan dadanya seraya memohon welas asih dari nyonya Mita.


"Iya, iya mama sudah maafkan, tapi lain kali jangan ulangi lagi kalau kamu menganggap aku ini mama kamu, maka ceritalah tentang keluargamu, masalah apa yang kalian hadapi jangan pernah sungkan untuk cerita mungkin mama bisa bantu" jelas nyonya Mita, Ayu dan Reyhan mengangguk mengerti.


Ayu dan Reyhan akan kembali ke Surabaya besok dini hari yang langsung di antar oleh tuan Farhan dan Jons, karena malam semakin larut hingga mereka putuskan untuk segera tidur.


Sedang di negara New Zealand seorang gadis mengendarai motor ninja 250R berwarna ungu, dengan ransel di punggungnya ia mengendarai motornya kecepatan di atas rata-rata, hari semakin malam dan jalanan semakin sepi.


Ia menuju Bandar Udara Internasional Wellington karena hari ini ia akan kembali ke Meksiko lebih tepatnya di kota Chihuahua.


Namun di tengah perjalanan ia bertemu seorang pria yang tengah di ganggu oleh beberapa preman berbadan besar, sebenarnya ia ingin menutup mata atas apa yang ia lihat namun hati kecilnya menolak itu dengan terpaksa ia menghentikan motornya lalu turun dan berjalan menuju enam preman tersebut.


"Lepaskan dia!" serunya dengan ekspresi dingin. Semua mata tertuju padanya, enam preman itupun sontak tertawa kecil. Mata mereka seakan menatap lapar pada Ainsley.


"Wah ada santapan enak nih, memang rezeki selalu datang di waktu yang tepat" ucap salah seorang preman. Ainsley hanya memandang rendah preman yang mengatakan dirinya adalah santapan enak membuatnya jijik mendengarnya.


"Kita layani gadis ini baru kemudian pria itu!" katanya lagi sembari menjilati bibirnya tak sanggup menahan nafsu untuk memangsa Ainsley.


"Rendahan seperti mereka tidak pantas untuk hidup" batin Ainsley.


"Ayolah cantik, kita bersenang-senang dulu, kami akan memuaskanmu, kami jamin kamu akan merasa puas" Ainsley meludahi mereka membuat mereka menatap marah.


"Bereskan dia!" seru ketua preman, Ainsley langsung sigap membentuk kuda-kuda, melihat ada pergerakan musuh dari samping ia pun berpindah posisi lantas melayangkan tinjunya ke arah preman dan mengenai rahang musuh hingga tersungkur jatuh.


BUGH


"****! rupanya dia jago juga, jangan biarkan dia lolos kali ini" Ainsley hanya tertawa sinis, membereskan kalian bukanlah pekerjaan yang sulit, Ainsley tersenyum devil ia kemudian melayangkan tendangannya mengenai batang leher bagian samping musuh membuatnya langsung KO.


Smeckdown yang di layangkan Ainsley menumpukan kekuatannya pada satu titik yaitu pada bagian kakinya hingga musuh langsung tumbang.


Pria yang di ganggu tadi bernapas lega akhirnya ia selamat dari maut, ia pun menghampiri Ainsley untuk mengucap terima kasih karena sudah menolongnya.


"Lain kali berjalanlah bergerombol agar tidak terjadi hal seperti ini, jika kamu tidak memiliki seni bela diri jangan berjalan sendirian, apalagi hari sudah malam. Apa kau mengerti?!" tegas Ainsley sembari menatap wajah pria di depannya.


"Pulanglah!" titah Ainsley, pria itu tersentuh dan tersenyum mengangguk. Tanpa banyak kata Ainsley berjalan ke arah motornya namun di ikuti oleh pria yang di tolongnya. Ainsley tidak peduli ia terus berjalan.


"Tunggu! bolehkah aku meminta nomormu? aku ingin membalas kebaikanmu"


"Tidak perlu! aku tidak membutuhkannya" kata Ainsley datar, ia pun melesat pergi dengan kecepatan penuh.


"Menarik" senyumnya dengan tatapan mendamba.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung