The Love Story Princess And Prince Mafia

The Love Story Princess And Prince Mafia
Bab 45 Tak Tertolong



Happy reading 🤗


Like dan Votenya dong kaka 🤗❤️❤️


.


.


.


.


.


.


.


Di sebuah rumah sakit terbesar kota Las Vegas, atau Desert Springs Hospital namanya, tepatnya di ruangan operasi dengan lampu yang sedang menyala itu berarti operasi masih berjalan. Entah itu lancar atau tidak namun dua orang di luar ruangan begitu berharap dan benar-benar sangat berharap agar orang di dalam sana bisa di selamatkan. Walau tidak tahu harus bagaimana karena luka yang di alami cukup parah juga darah banyak sekali keluar.


Butuh satu setengah jam untuk sampai di rumah sakit Desert Springs Hospital. Sedang korban sudah pingsan entah dari kapan, membuat dua orang manusia itu begitu frustasi.


"Ku mohon bertahanlah!" harap Karla menutup wajahnya dengan dua telapak tangannya. Sedangkan Richo bersandar di dinding ruang operasi sesekali mendesah berat. Andai ia tidak datang terlambat mungkin Tio tidak akan masuk ke rumah sakit apalagi dengan luka tembakan di beberapa bagian membuatnya benar-benar menyesal.


Kilas balik sebelum ketemu


Di sebuah Markas di tengah hutan seorang pria keluar dari kamarnya memegang pistol di tangan kanannya berjalan melewati ruang tengah tempat untuk berdiskusi antara anggota.


Karla melihat Richo buru-buru segera beranjak dan menyusul Richo keluar dari Markas.


"Kau mau kemana Ric?" tanya Karla saat sudah di belakang Richo, pria itu menarik motor sport salah satu milik anak buah Tuan Zeus, ia sudah meminta izin pada pemiliknya. Richo melirik sekilas wajah Karla.


"Menyusul Tio, aku tidak percaya dia bisa menyelesaikan misinya seorang diri sedang para musuh sangatlah banyak" jawab Richo yang sudah naik ke atas motor sport berwarna hitam pekat siap untuk pergi.


Mendengar nama Tio di sebut, Karla ikut menjatuhkan bokongnya di jok belakang motor, memegang bahu Richo. Pria itu sungguh terkejut dengan keberanian Karla padanya, bahkan tanpa minta persetujuan ia malah tidak tahu malunya ikut naik.


"Dasar gadis bar-bar" ketus Richo pelan namun masih di dengar olehnya. Karla menepuk pelan punggung Richo.


"Sudah jalan saja, Tio lebih penting sekarang jangan berdebat yang tidak berfaedah" jelas Karla singkat. Richo mengangguk setuju Tio lah yang paling penting untuk saat ini. Pria itu kemudian menancap gas motor sportnya melewati jalanan sepi dengan pohon-pohon besar di sekitarnya.


Motor hitam Lexmoto LXR 125 itu melewati alun-alun besar kota Las Vegas, melewati jalan pintas menuju tempat yang di datangi oleh sahabatnya, melewati jalan besar yang masih bertanah dengan di temani pohon-pohon besar di pinggir jalan di kedua sisinya.


Tempat gelap tanpa cahaya dan suara jangkrik bersahut-sahutan juga burung pungguk yang tengah memandang ke arah langit lebih tepatnya pada bulan yang begitu bercahaya.


Hingga sinar lampu dari jauh di depan sana sudah terlihat oleh pasang mata dari dua manusia. Mereka berhenti tak jauh dari sana, menyembunyikan mobilnya di dalam semak-semak.


Berjalan menuju keramaian yang di sebut sebagai pasar gelap. Berbagai macam orang yang berada di sana, badan kekar juga tato di sekujur tubuh menghias di tubuh mereka.


Richo dan Karla kemudian berjalan ke arah panggung pelelangan, melihat ke sekeliling namun tidak menemukan keberadaan Tio, keduanya saling menatap. "Tidak ada Tio di sini." Ujar Richo kembali melihat ke sekelilingnya.


"Kita cari di daerah sana saja" kata Karla menunjuk ke arah penjualan minuman alkohol dengan sorot matanya mengarah ke arah perdagangan minuman. Richo mengangguk kemudian berjalan menuju ke penjualan minuman.


Lagi-lagi orang yang di cari tidak mereka temukan membuat mereka sangat frustasi, namun belum ada kata menyerah, kembali keduanya berjalan menuju ke segala arah hingga terdengar bunyi tembakan di salah satu tempat yang kosong.


"Di sana! pasti dia" seru Karla yang langsung berlari ke arah bunyi tembakan. Sedikit kesusahan karena pencahayaan yang tidak terlalu terang namun semakin maju ia mencium aroma anyir darah yang begitu pekat.


"Tidak salah lagi..." gumam Karla yakin. Wanita itu terus melangkah namun kali ini ia menggunakan sinar senter di ponselnya membuatnya tidak sulit menemukan jalan. Sedang Richo berjalan di belakang Karla sesekali melihat kanan dan kiri.


Kaki Karla berhenti membuat Richo ikutan berhenti, pandangan keduanya tertuju pada pria dan wanita yang terbaring di atas tanah dengan genangan darah di punggung pria berkaos putih.


"Tio!!!" Teriak Richo dan Karla bersamaan. Mereka menghampiri Tio yang sudah tak sadarkan diri. Genangan air di pelupuk mata Karla akhirnya tumpah tak terbendung lagi.


"Kita bawa mereka ke rumah sakit segera!!" ujar Richo yang tanpa berpikir panjang memasukkan tubuh Tio ke dalam jok belakang mobil musuh, kemudian kembali menggendong tubuh seorang gadis.


"Aku akan membawa mobilnya, aku tahu jalan daerah sini" tanpa menunggu lama Karla duduk di kursi kemudi sedang Richo di sampingnya, wanita itu segera menancap gas mobil, bahkan menaikkan volume kecepatan di atas rata-rata. Hingga tak butuh lama mereka akhirnya sampai di lokasi rumah sakit besar kota Las Vegas.


Karla dan Tio segera berdiri di hadapan dokter cantik, menatap wajah dokter yang menangani operasi Tio.


"Bagaimana keadaan pria di dalam dokter?" tanya Richo dan Karla bersamaan, mereka tentunya menggunakan bahasa Inggris sehingga membuat sang dokter mengerti.


"l'm really sorry... pasien terlambat kami tangani sehingga membuat pendarahan tidak bisa berhenti, juga akibat kehabisan darah jantungnya berhenti dan... pasien di nyatakan meninggal dunia." Jawab dokter tersebut membuat mata keduanya membulat sempurna.


Karla menutup mulutnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca tidak percaya atas apa yang ia dengar. Begitupula dengan Richo yang tidak bisa menerima kenyataan ini, terduduk lesu di atas lantai dengan air mata yang terus mengalir deras.


Dadanya begitu sakit tak tertahankan, Karla memukul-mukul dadanya yang begitu sesak ibarat roket yang terbang menukik di tengah-tengah laut begitulah yang di rasakan Karla saat ini. Benar-benar menyakitkan!.


"Maafkan kami yang tidak bisa membantu menyelamatkan pasien, kalian yang sabar, pihak rumah sakit akan mengurus jenazah pasien. Kalau begitu saya pamit dulu" jelas sang dokter yang segera meninggalkan Karla dan Richo.


"I-ini tidak benar, ini pasti mimpi" lirih Karla sesenggukan.


"Aku sahabat yang buruk, bahkan tidak bisa menyelamatkan teman sendiri... betapa bodohnya kamu Richo membiarkan sahabat kamu pergi ke tempat kematian!!" maki Richo dalam hati. Meninju dinding rumah sakit kuat hingga membuat buku-buku tangannya memerah. Ingin sekali berteriak kencang menghalau rasa sesak di hatinya.


Sedang di lain tempat seorang gadis dengan gaya tomboynya membawa motor sport Kawasaki Ninja ZX-6R dengan kecepatan sedang, menikamati udara pagi di kota Jakarta. Hari ini ia akan pergi ke Markas teman-temannya untuk membahas pekerjaan yang akan dia tekuni nanti.


Tersenyum tipis membayangkan dirinya membangun sebuah bengkel yang sudah lama ia mimpikan.


BUGH


Namun tiba-tiba Aulia terjatuh dari motornya, kakinya tertindih oleh tubuh motor yang sangat berat, orang-orang pejalan kaki segera berlari ke arah Aulia membantu gadis itu untuk menyingkir dari jalan raya. Sedang motornya mereka angkat membawanya di pinggir jalan.


"Dek baik-baik saja?" tanya seorang wanita paruh baya.


"Lia baik-baik saja Bu, terima kasih sudah menolong Lia" jawabnya meringis sakit.


"Apa Nona bisa jalan? ataukah Nona mau ke rumah sakit biar bapak yang antar?" Aulia menggeleng pelan sembari melempar senyum tipis.


"Tidak perlu pak, Lia baik-baik saja, terima kasih sudah membantu Lia" jawab Aulia dan mereka mengangguk.


"Lain kali Nona hati-hati bawa motornya jangan sampai bengong lagi kayak tadi, bahaya tahu!" timpal mereka lagi dan Aulia hanya bisa mengangguk kepalanya.


"Kami pergi dulu yah nak"


"Sekali lagi makasih banyak yah"


"Sami-sami nak" jawab mereka, lalu berjalan meninggalkan Aulia yang masih bingung, terlihat kerutan kecil di dahinya. Berpikir sejenak tentang kejadian yang di alaminya.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Lia bahkan tidak bengong saat berjalan tadi lalu tiba-tiba motor Lia jatuh tanpa Lia sadari... apakah ini adalah pertanda buruk?" batin Aulia.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung