The Love Story Princess And Prince Mafia

The Love Story Princess And Prince Mafia
Bab 26 Selir



Happy reading 🤗🤗


Kasih like dan vote Seninnya dong Guys ❤️❤️


.


.


.


.


.


.


.


Seorang gadis cantik yang hanya memakai hotpants dan baju kaos lengan pendek berukuran pas di tubuhnya hingga memperlihatkan lekukan tubuh yang sempurna tersimpan di balik baju berwarna putih itu. Dia masih asyik menonton sembari terkikik lucu.


Ia baru menyadari jika sudah tiga menit Hara belum kunjung masuk. "Eh, kenapa abang Hara lama sekali di luar? apakah terjadi sesuatu pada abang?" tanyanya dalam hati. Kemudian beranjak dari tempat ternyaman berjalan menuju pintu masuk depan.


Hingga sebuah tarikan di tangannya membuatnya langsung menubruk dada bidang seseorang. Sepertinya pria itu suka sekali dengan adegan tarik menarik itu.


"Ahhhkkkk" teriak Aulia terkejut. Mendongakkan kepalanya menatap pria yang tengah memeluknya mesra.


"Uncle!" seru Aulia yang langsung mendorong dada bidang milik Tio. Aulia menatap tajam dengan napas memburu akibat jantungnya yang selalu berkhianat.


"Kok bisa Uncle tahu rumah Lia? dan di mana abang Hara? Jangan bilang Uncle ikutin Lia yah!" tuding Aulia dengan jari telunjuk mengarah ke wajah Tio. Laki-laki itu hanya menatap datar wajah Aulia, tidak menjawab dan langsung berjalan menuju sofa. Menjatuhkan bokongnya di atas sofa tempat duduk Aulia dan Hara tadi.


Pria dewasa itu menonton kartun Tomy and Jerry menyandarkan kepalanya di sandaran sofa tanpa peduli dengan gadis yang terus menggerutu itu.


"Uncle!! di mana abang Hara!! dia adalah kekasih Lia tahu, kalau dia kenapa-napa gimana! Uncle mau tanggung jawab heh!." Teriak Aulia berkacak tangan. Berdiri di hadapan Tio sembari melotot tajam.


"Astaga! sejak kapan gadisku ini suka teriak-teriak pengen di cium apa" tutur Tio dalam hatinya. Yang saat ini sangat malas meladeni gadis remaja itu.


"Awas Nona Uncle mau nonton" pria itu malah terlihat santai membuat Aulia benar-benar emosi ingin sekali mengambil spatula dan memukulnya hingga pingsan.


"Uncle!!!" teriak Aulia dengan wajah merah padam.


"Iya Nona, kenapa sih teriak-teriak telinga Uncle jadi sakit tahu" gerutunya membuang napasnya kasar. Ia menatap gadis di depannya lama, terbersit rasa rindu di hatinya, sudah lama meninggalkan gadis kecilnya dan sekarang sudah tumbuh dewasa dan begitu cantik.


"Uncle merindukanmu Nona, maaf sudah sering membuatmu menangis tapi sekarang Uncle akan membuatmu bahagia dan kembali membuat Nona nyaman bersama Uncle" lirih batin Tio. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman menatap sayang wajah imut di hadapannya. Membuat Aulia mengernyit heran.


"Uncle demam yah kenapa senyum-senyum seperti orang gila" tangan gadis itu terulur menyentuh dahi Tio namun tidak merasakan panas, saat hendak menarik tangannya pria itu dengan cepat meraih tangan itu dan menjatuhkan di atas pangkuannya.


"Yaaaahhh, lepaskan!!" teriak Aulia terkejut. Mendorong bahu Tio. Ia harus menjauh dari laki-laki itu agar perasaannya tidak mendalam. Karena bagaimanapun dirinya berusaha itu akan sia-sia mengingat Tio tidak mencintainya benar-benar membuat sakit hati.


"Lepaskan Uncle!!" bentak Aulia namun pria itu malah memeluknya sangat erat. Bahkan menjatuhkan dagunya di pundak sang wanitanya.


"Biarkan seperti ini dulu, please!." Lirih Tio memejamkan matanya. Rasa lelahnya tiba-tiba sirna tergantikan rasa nyaman dan damai.


"Andai cinta berjalan semulus sungai, tidak ada hambatan yang menghalangi mungkin aku akan menjadi pria yang paling bahagia di dunia... tapi aku sadar bahwa itu tidak akan terjadi, Tuan muda pasti akan melakukan cara untuk memisahkan kami. Hah! sepertinya aku akan menjadi bawahan durhaka" keluh Tio dalam hatinya. Tangannya bertengger di pinggang ramping gadis di pelukannya, mencium aroma bayi di tubuh Aulia membuatnya sangat nyaman.


"Uncle" panggil Aulia pelan. Gadis itu tidak berani lagi berteriak ataupun memberontak tubuhnya mendadak kaku tidak mengerti atas kejadian sekarang.


"Hmmmm" gumam Tio.


"Uncle ke-napa? apakah Uncle sedang sakit?" tanya Aulia pelan. Gadis itu tidak bisa berbuat apa-apa bahkan menelan ludah saja terasa sulit. Berada di pelukan pria yang memporak-porandakan hatinya benar-benar menguji jantungnya.


"Tidak! Uncle baik-baik saja" jelas Tio singkat. Aulia dapat merasakan bibir pria dewasa itu sesekali mencium bahunya, darahnya seketika berdesir.


"Maaf" satu kata lolos begitu saja dari mulut Tio. Aulia benar-benar di buat bingung alisnya berkerut saling bertautan.


"Hey! kenapa minta maaf?" seru Aulia yang langsung mendorong bahu Tio menatap wajah pria dewasa itu. Ada rasa rindu di hatinya, bertahun-tahun berpisah dengan prianya dan sekarang di pertemukan dengan cara menyakitkan.


"Maaf sudah membuat Nona menangis dan sakit hati, bisakah Nona memaafkan Uncle" lirihnya tanpa tenaga. Aulia menarik sudut bibirnya membentuk lengkungan tipis.


"Jangan minta maaf lagi, Lia tidak marah sama Uncle. Mungkin inilah takdir Lia Uncle bukanlah jodoh Lia, jangan merasa bersalah lagi karena Lia akan belajar melabuhkan hati Lia pada pria lain... Jadi perasaan Lia tidak akan mengganggu Uncle ataupun aunty Karla" jelas Aulia tersenyum tipis. Gadis itu begitu lihai dalam menyimpan luka di hati, tapi itulah yang harus di lakukan ia tidak mau menjadi orang ketiga dalam hubungan Uncle dan auntynya biarlah dia mundur perlahan-lahan. Itu lebih baik daripada mencintai yang hanya menambah goresan luka.


"Tapi Uncle tidak mau, gimana dong?" jawab Tio membuat Aulia melongo.


"Hah!"


"Apa-apaan sih Uncle Tio ini! Lia udah berusaha untuk merelakan Uncle kenapa seakan-akan Lia yang bersalah di sini?." Ketus Aulia mendadak bad mood.


"Maksud Uncle apa?" tanya Aulia menampilkan wajah dungunya.


"Nona tidak boleh mencintai pria lain, kewajiban Nona adalah mencintai Uncle saja dan itu harus!" jelasnya tersenyum lebar bahkan tanpa perasaan bersalah.


"Uncle gila yah! Lia tidak mau menjadi perusak hubungan orang" gadis itu begitu geram dengan tingkah pria di depannya. Sifatnya tidak bisa di prediksi selalu berubah-ubah.


"Siapa bilang Nona menjadi perusak, Nona akan menjadi istri Uncle" jawab Tio tersenyum jahil. Ia ingin tahu seperti apa reaksi gadisnya itu.


"What! Uncle serius? tapi bagaimana dengan aunty Karla? aunty Karla pasti akan sedih" pekik Aulia tersenyum lebar. Mendengar ungkapan pria itu membuatnya hatinya berbunga-bunga namun juga merasa sedih pada wanita yang di panggil aunty itu. Bagaimana dengannya nanti pasti akan kecewa dan patah hati.


"Aunty Karla akan tetap jadi istri Uncle" sahut Tio tanpa beban membuat Aulia terkejut dengan mata melotot tajam.


"Jadi, Lia akan menjadi istri kedua? Dan istri pertama adalah aunty Karla?" tanya Aulia melongos. Dan pria tanpa hati itu mengangguk kepalanya pelan.


"Uncle!!!! brengsek! Lia benci Uncle. Lia tidak mau menikah dengan Uncle. Heh!. Enak saja Lia harus menjadi istri kedua. Ingat yah Uncle, biarpun Lia cinta sama Uncle Lia tidak mau menjadi selir ingat itu!!" ucap Aulia yang langsung turun dari pangkuan Tio berjalan menuju kamarnya membantingnya cukup keras. Hatinya mendadak sakit, sudah cukup hatinya tersiksa dan sekarang tidak akan lagi.


"Dia sangat imut saat marah" gumam Tio tersenyum tipis. "Heh selir".


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung