The Love Story Princess And Prince Mafia

The Love Story Princess And Prince Mafia
Bab 122 Rujak Anggur



Happy reading 🤗


.


.


.


.


.


Saat ini Tio sedang berada di salah satu warung yang menjual buah-buahan serta asinan atau rujak buah. Pria dewasa dengan setelan casual celana jeans coklat dengan atasan kaos oblong berwarna hitam.


Ada dua pelanggan yang lebih dulu memesan jus buah hingga membuat Tio harus mengantri terlebih dulu. Dua wanita cantik tak mengedip sedikitpun saat mata mereka menatap wajah Tio. Tio yang tahu dirinya sedang di tatap oleh dua wanita di depannya hanya menampilkan wajah datar.


Namun anehnya semakin dirinya menampilkan ekspresi datar dan dingin kedua wanita di depannya tak sedikitpun berpaling darinya membuatnya begitu risih.


"Aku akui aku memang tampan tapi tidak perlu sebegitunya untuk menatapku bukan? inilah yang aku tidak suka jika keluar tidak menggunakan masker..., ahhh bodohnya diriku sudah tahu tampan masih saja tidak berhati-hati" gerutu Tio dalam hatinya. Tidak salah Tio menjadi menantu raja Iblis rupanya kenarsisan mereka tidak jauh berbeda bahkan berada di satu tingkat yang sama.


Hingga kedua pelanggan wanita itu pergi Tio baru bisa bernapas lega, ia lalu berdiri di hadapan ibu pemilik warung tak jauh berbeda dengan dua wanita yang baru pergi rupanya ibu pemilik warung itu juga terpesona melihat ketampanan milik Tio.


"Astaga, apakah aku setampan ini yah?" keluh Tio dalam hati, ternyata menjadi seseorang yang di anugrahi wajah tampan tidaklah mudah bahkan untuk menjaga privasi saja sudah sangat sulit. Memuakkan sekali!.


"Hai Bu saya mau pesan rujak anggur, apakah ada?" tanya Tio membalas tatapan ibu pemilik warung. Karena masih dalam mode takjub hingga membuatnya tidak mendengar pertanyaan Tio.


"Jangan genit bu, ingat kamu udah punya suami!" tegur seorang pria yang seumuran dengan ibu pemilik warung sepertinya pria yang baru datang itu adalah suami dari ibu tersebut. Tio hanya tersenyum masam kala tatapan tajam mengarah padanya. Mengerutkan keningnya merasa heran kenapa dirinya yang di salahkan padahal dia tidak melakukan apa-apa.


"Ternyata mempunyai wajah tampan tidaklah mudah, aku yang tidak melakukan apa-apa di musuhi oleh para pria. Hah! meresahkan sekali" gumam batin Tio.


"Papa ini jangan sembarangan bicara, mana mungkin aku genit ada-ada saja. Aku hanya berpikir saja wajah anak muda ini sangat mirip denganmu waktu muda dulu" puji istrinya membuat wajah yang tadinya muram kini tersenyum lebar, terlihat dari pancaran matanya yang berbinar-binar.


"Hmmm, ibu bisa aja." Kata suaminya dengan wajah malu-malu. "Eh kamu pesan apa?" tanya pria paruh baya itu menatap ke arah Tio.


"Ah emmm, saya pesan rujak anggur pak" jawab Tio.


"Baik tunggu sebentar," jawab suami dari pemilik warung. Sedang istrinya berjalan masuk ke dalam rumah karena warung milik mereka berada di teras rumahnya. Tio mengamati secara intens yang di lakukan bapak warung itu, mulai dari mengambil buah anggur dan di belah menjadi dua bagian lalu di susun rapi di dalam mika rujak berukuran sedang. Setelah itu bumbu yang sudah jadi di isi di dalam plastik kecil.


Tio hanya angguk-angguk kepala mengamati kegiatan yang di lakukan bapak warung.


"Oh ternyata buah anggur bisa di buat rujak, aku pikir akan terasa aneh hmmm" bisik Tio dalam hati.


"Ini rujaknya sudah selesai" Tio berdiri mengambil dompet di saku celana bagian belakang, lalu mengeluarkan uang berwarna biru satu lembar.


"Ini uangnya" Tio menyodorkan uang senilai lima puluh ribu rupiah kepada pemilik warung.


Sedang di benua Amerika khususnya di negara Meksiko kota Chihuahua, kota ini berada di bagian Amerika Utara. di rumah megah nan mewah, bangunan tingkat dengan lantai tiga serta gaya nuansa klasik eropa itu begitu indah di pandang mata. Rumput-rumput hijau kecil tumbuh rapi di halaman rumah yang bernuansa klasik namun modern. Di samping rumah tersebut ada taman dengan bunga yang elok, bunga tulip yang sedang mekar, bunga lili putih juga bunga lavender tertata indah di taman tersebut. Selain keindahan bunga, ada kolam ikan hias yang berada di tengah-tengah taman tersebut dengan air mancur di bagian tengah kolam ikan.


Hari mulai tampak sore, gadis cantik dengan rambut kuncir kuda sudah rapi dengan setelan pakaian militernya, pistol di dua sisi saku celana tentaranya dan ransel yang bertengger di bahunya. Sedang berjalan keluar dari rumah di ikuti oleh dua orang pria di sampingnya.


Gadis itu berhenti dan menatap ke arah pria paruh baya, tatapan sedih terpancar dari mata indah milik gadis cantik itu. Membuang napas kasar kala ia harus meninggalkan pria tercintanya untuk beberapa saat.


"Dad, apakah Daddy serius mengirimku ke tempat jauh? siapa yang akan menyiapkan setelan kerja untuk Daddy, mengatur makanan untuk Daddy?" tanya gadis tersebut dengan wajah murung. Sedang pria dengan setelan jas hitam itu terkekeh kecil.


Mengulurkan tangannya menyentuh rambut anak gadisnya.


"Jaga diri kamu di sana, maafkan Daddy karena sudah mengirim kamu ke tempat tempur, Daddy hanya ingin kamu bisa belajar dari masalah ini" ucap ayahnya.


"Tenang saja putrimu ini sangat tangguh, aku akan menyelesaikan masalah ini secepatnya agar kita bisa berkumpul lagi..., aku hanya memiliki Daddy di dunia jadi jaga diri Daddy baik-baik di sini jangan sampai aku melihat luka di tubuh Daddy atau aku akan marah" jelasnya panjang lebar.


"Hahahaha, seharusnya Daddy yang bicara seperti itu, Daddy hanya punya kamu ibu kamu sudah lama pergi..., jadi jangan biarkan tubuh kamu tergores sedikitpun atau Daddy akan marah" gadis yang bernama Ainsley itu tertawa jenaka mendengar penuturan ayahnya membuat setitik air matanya jatuh. Gadis itupun memeluk erat tubuh pria yang sudah merawatnya hingga sebesar sekarang.


"Aku sayang Daddy, l love you so much" cicit Ainsley. Pria itu membalas pelukan sang putri menepuk pelan pundak putrinya sayang.


"Daddy, kenapa kita harus pindah ke sini? bukankah negara Washington lebih bagus daripada di sini?" pertanyaan yang sudah di pendamnya selama beberapa hari kini tersampaikan juga.


"Kamu tahu sendiri kalau Daddy sudah turun jabatan dari menteri militer, dan sekarang Daddy sedang membangun usaha di sini... sudah kamu pergilah jangan sampai kamu di tinggal oleh rekan kerjamu!" titah ayahnya dan Ainsley pun mengangguk mengerti.


Setelah berpamitan dengan ayahnya, Ainsley kemudian masuk ke dalam mobil yang sudah siap mengantar Ainsley ke kamp militer agent rahasia. Karena dirinya saat ini sudah menjadi agen rahasia militer. Saat ini dia dan rekan kerjanya di beri tugas untuk menangani masalah di kota B.


Penyelundupan manusia dan barang-barang senjata ilegal, bahkan ada beberapa anak juga wanita menghilang hingga mengakibatkan ketakutan di hati masyarakat. Beberapa geng yang tak berperikemanusiaan itu bahkan tak punya hati sampai rela menjual organ manusia entah untuk apa itu.


Kini mobil yang di tumpangi Ainsley itu sudah melesat pergi meninggalkan pekarangan rumah mewah yang bernuansa klasik Eropa, mata cantik miliknya menatap jalanan yang di tumbuhi pohon-pohon rindang sangat sejuk di pandang.


"Kenapa aku merasa hampa, dan sepertinya Daddy menyembunyikan sesuatu dariku..., aku harus mencari tahunya sendiri." Batin Ainsley sembari memijat pangkal hidungnya yang terasa penat.


.


.


.


.


.


Bersambung