
Happy Reading
.
.
.
.
.
.
Di negara Amerika Serikat kota Washington DC, tepatnya di sebuah bangunan besar bernamakan Mansion. Terlihat begitu banyak penjaga yang menjaga di bangunan tersebut apalagi di luar Mansion.
Di dalam ruangan bernuansa gelap abu-abu seorang wanita sedang duduk menyandar di sandaran kasurnya dengan di temani seorang wanita tua berumur, rambutnya sudah banyak beruban.
"Cucuku, bagaimana perasaanmu sekarang? Apakah sudah enakan?" wanita muda itu mengangguk dengan senyum hangat di bibirnya.
"Nenek juga istirahat dari kemarin nenek selalu jaga Ainsley, sekarang Ainsley sudah sehat jadi tidak perlu khawatir" wanita tua itu beranjak naik ke atas kasur, ia menyentuh jemari cucunya.
"Kamu itu segalanya bagi nenek, nenek khawatir terjadi sesuatu pada kamu, sekarang cucu nenek hanya kamu seorang. Kaka kamu sudah meninggalkan kita" Alexa tertegun. Ia melupakan sosok pria yang menyelamatkannya dari kematian. Jika tidak ada pria itu mungkin dia sudah lama meninggal dunia.
Ada satu alasan yang membuatnya tidak ingin pulang, ia mau membalas budi pada seseorang yang telah menolongnya jika tidak ada dia, mungkin dirinya sudah hancur sedari lama. Itulah sebabnya ia tetap menjadi sosok Ainsley adik dari Ronald.
"Jika masih ada Ronald di sini aku mungkin sudah melupakan Hamas dan tidak takut sakit hati ketika pulang ke Indonesia..., tetapi pria itu telah meninggalkanku untuk selamanya, kepergiannya meninggalkan bekas luka yang teramat dalam juga kerinduan yang tak mungkin tergapai." Setetes air mata mengalir dari pelupuk matanya ia segera memeluk tubuh wanita tua di sampingnya. Tidak mampu menahan beban sendirian.
"Hiks-hiks, nenek kak Ronald kenapa harus pergi secepat ini hiks-hiks, bisakah Ainsley iut dengannya? Ainsley tersiksa di sini" lirihnya dengan suara pilu. Wanita tua itu menepuk-nepuk punggung Alexa ia merasa sedih juga, cucu laki-lakinya telah meninggalkannya.
"Kamu jangan bicara sembarang sayang, kamu masih ada nenek di sini, masih ada ayah kamu. Kami semua selalu ada untukmu jadi jangan sedih lagi..., kalau kamu sedih kakak kamu pasti merasa sedih di sana"
"Huhuhuhu, nenek jangan tinggalkan Ainsley yah, Ainsley sudah tidak punya kakak lagi dan hanya punya nenek dan ayah" kata Alexa dengan suara parau karena terus menangis. Wanita tua itu mengangguk mantap, tangannya terulur merapikan anak rambut cucu kesayangannya.
Ia bertekad untuk menjaga Alexa dan tak akan membiarkan siapapun melukainya.
Sementara itu di lain sisi, sepuluh menit lagi pesawat yang di tumpangi Hamas akan mendarat di bandar udara internasional Soekarno-Hatta. Pria itu segera menutup benda persegi yang selalu di bawanya kemana-mana.
Sepuluh menit telah berlalu, pesawat pribadinya telah mendarat dengan sempurna di bandara internasional Soekarno-Hatta, pria duda itu pun beranjak dari duduknya dan berjalan di atas Garbarata.
Garbarata adalah jembatan yang menghubungkan antara terminal bandara dan pesawat udara. Pria itu berjalan dengan gaya coolnya memasukan sebelah tangannya ke dalam kantong celana sedang tangan kanannya menenteng tas berisikan laptop.
Tatapan tanpa ekspresi itu mampu menyihir para gadis yang berpapasan dengannya, mereka menatap dengan penuh damba ke arah Hamas, bahkan senyum terus terbit di bibir para gadis sampai bayangan Hamas sudah tidak terlihat pun, senyum itu masih merekah.
"Apakah pria itu adalah pengusaha muda yang terkenal itu?"
"Dia tampan sekali, bisakah agar dia menjadi priaku saja, aku ingin membungkusnya dan membawanya pulang"
Beberapa orang wanita menatap tidak suka pada seorang gadis remaja yang berteriak histeris saat mengatakan ingin membungkus Hamas. Namun gadis remaja itu hanya menatap tak acuh ia malah asyik dengan imajinasinya sendiri, tanpa memedulikan tatapan elang yang ingin memangsanya
"Di mana semua orang rumah? Kenapa begitu sepi" gumam Hamas sambil melihat-lihat sekeliling Mansion. Tiba-tiba seorang pria yang adalah anggota Black Wolf melewati Hamas dan memberikan hormat kepada tuan mudanya.
"Selamat datang tuan muda" sapanya kepada Hamas.
"Di mana orang rumah? Kenapa aku tidak melihat mereka di sini" tanyanya dengan ekspresi bingung.
"Maaf tuan muda. Tuan Farhan dan orang rumah lainnya sudah terbang ke kota Washington tadi pagi" jawaban anggota Black Wolf membuat Hamas membulatkan bola matanya, ia sungguh terkejut kenapa orang tuanya tidak memberitahunya atas kepergian mereka ke Washington.
"Astaga kenapa mereka tidak memberitahuku, aku mungkin tidak akan balik ke Indonesia dan menunggu mereka di sana" kesal Hamas menghela napas panjang. Ia menyuruh pria Black Wolf itu untuk pergi dan ia berjalan menuju lift.
Sedang di dalam pesawat, Aditya dan Enzi merasa senang, ini kali pertama mereka menaiki kapal udara, bisa terbang di atas awan dan melintasinya dengan berbagai lukisan alam yang begitu memesona, sejuk di pandang mata seakan mata berat ini langsung menyala kala lukisan hebat terpampang jelas di depan mata.
"Wow, amazing! Ini benar-benar surga dunia" seru Aditya dengan mata berbinar.
"Itu bukan surga dunia tuan muda kecil. Kau masih kecil, pikiranmu belum pantas sampai ke sana" bisik Alex dalam benaknya kala mendengar surga dunia keluar dari mulut Aditya. Padahal umumnya kata surga dunia di pakai untuk mendeskripsikan sesuatu kenikmatan yang hanya di lakukan oleh pasangan suami-istri.
"Kak, telnyata bukan bulung saja yang bisa telbang tetapi kita juga bisa telbang hehehe" sahut Enzi bahagia. Tuan Farhan menutup matanya melihat tingkah dua cucunya seperti dua orang miskin yang tidak punya apa-apa.
"Kalian berdua apa belum pernah naik pesawat yah? Berisik sekali" tegur tuan Farhan dengan tatapan masam. Dua bocah kecil itu seketika menatap tuan Farhan dengan ekspresi datar.
"kakek kami sangat miskin sampai kami baru kali ini naik pesawat, wajar saja tuan, kakek kami hanya pria tua yang tidak ada daya dan ketenaran"
JLEB
Bagai pisau yang tertancap di dasar hati, pria yang di sebut sebagai tuan Farhan itu melebarkan bola matanya, pasalnya cucu laki-lakinya telah menghinanya.
"Kamu berani sekali mengatai kakek dengan sebutan pria tua yang miskin dan tidak punya ketenaran? Siapa yang mengajarimu berkata buruk kepada kakek?" tanya tuan Farhan frustasi. Padahal apa yang di katakan Aditya dengan sebutan pria tua adalah benar tetapi si tuan Jelangkung itu tidak mau mengakui jika dirinya sudah tua.
"Bukankah benar yah, nyatanya aku dan adik Enzi baru kali ini naik pesawat, kalau orang kaya bukankah mereka sudah berkeliling dunia" tuan Farhan mendesah berat ia kalah telak harus beradu mulut dengan cucu laki-lakinya, andai Aditya mengikuti lomba debat dan nyinyir mungkin dia adalah juara satunya.
"Kamu! Dahlah kakek tidak bisa berkata apa-apa lagi" tuan Farhan menutup matanya dan berusaha tidur, agar dirinya tidak berdebat dengan cucunya.
"Lebih baik kamu tidur agar bisa mengurangi terjadinya risiko tensi darah hehehe" bisik Jons di telinga suaminya. Tuan Farhan melirik dengan tatapan datar dan kembali memejamkan matanya.
.
.
.
.
.
.
Bersambung