
Maaf Guys up nya cuma satu eps soalnya eps 104 terhapus hiks hiks sedih banget
.
.
.
.
.
Dua buah mobil Lexus berwarna putih dan biru laut baru saja memasuki halaman Apartment sederhana yang memiliki tingkat dua lantai. Terlihat dua orang keluar dari dalam mobil putih, pria dengan style casualnya berjalan menghampiri seorang wanita yang sedang tersenyum padanya. Lalu diikuti pria gondrong yang keluar dari mobil berwarna biru laut, berjalan mengikuti langkah dua insan yang sedang kasmaran.
Setelah membuka pintu apartemennya mereka pun masuk ke dalam membuka sepatu dan menyimpannya di rak sepatu yang berada di samping pintu bagian kanan lalu memakai sandal rumah sebagai alas kaki agar tidak kotor.
"Sayang, apa tidak apa-apa aku menginap di apartemen kamu? aku malu dengan adik kamu, sepertinya dia tidak menyukaiku" tutur wanita tersebut saat keduanya istirahat di sofa ruang keluarga. Sedang pria berambut gondrong berjalan menuju kamarnya yang berada di lantai satu tanpa peduli dengan dua insan yang tengah kasmaran itu.
Yah dia adalah Hamas putra tertua raja Iblis tengah bersama kekasihnya Shireen, putra raja Iblis itu mengulurkan tangannya ke wajah Shireen kemudian menyelipkan anak rambut di belakang telinga.
"Itu feeling kamu saja mana mungkin Azhar tidak menyukaimu." Jawabnya dengan senyum lembut terukir di bibirnya yang merah. Tatapan sayu begitu memikat hati wanita cantik asal Belanda itu.
"Kamu adalah pacarku kamu bebas melakukan apapun di sini, jadi tidak perlu sungkan lagi..." tutur Hamas lagi dan membuat perasaan Shireen menjadi tenang. Wanita asal Belanda itu mengangguk kepalanya mengerti.
"Oh iya kamu pasti lapar bukan bagaimana jika aku membuatkan makanan untukmu" tawar Hamas dan mendapat anggukan malu-malu dari Shireen.
"Hmmm, aku akan membantumu sekaligus ingin belajar menjadi istri yang bisa merawat suami hehehe" Hamas terkekeh geli melihat tingkah wanitanya apalagi saat melihat wajah memerah Shireen membuatnya ingin menciumnya saja namun ia harus menahannya saat ini karena status mereka belum halal.
"Ah baiklah, tapi kau harus ingat jika suatu saat kita menikah kau adalah istriku bukan pembantuku biar aku menyewa beberapa pengurus rumah tangga untuk kita" jelas Hamas beranjak dari duduknya diikuti Shireen. Hamas meraih tangan wanitanya untuk di genggamnya seperti pria yang baru merasakan kasmaran saja. Memang benar putra tertua raja Iblis itu baru pertama kali merasakan sesuatu yang berbeda ada sensasi tersendiri yang di rasakan saat ia berdekatan dengan Shireen. Mungkin itu adalah masa pubertasnya.
Di lain tempat masih di kota yang sama Washington DC tepatnya di salah satu sel tahanan kota Washington seorang gadis dengan pakaian narapidana tengah duduk di atas kursi kayu dengan tangan terikat. Gadis itu menutup matanya seperti tengah tertidur dan ruangan tersebut ada dua orang pria dengan tongkat di masing-masing tangannya tengah menatap datar wajah lebam gadis yang masih pingsan.
"Bangunkan dia dengan air! bisa-bisanya dia masih belum sadar sudah satu jam kita menunggunya di sini" seorang pria yang sebelah kanan alisnya terbelah dua. Temannya mengangguk kemudian mengambil air di ruangan sebelahnya sepertinya itu adalah wc.
Sebuah gayung bersisi air dibawa oleh teman pria yang duduk santai di hadapan gadis remaja yang tak lain adalah Alexa. Entah apa yang akan mereka lakukan pada cucu Tuan Wijaya itu.
BYUUURR
"Ouwh haahh, haaah dingin" Alexa terkejut dan bangun dari pingsannya mengerjap matanya berkali-kali hingga pandangan yang tadinya samar-samar terlihat jelas. Ia merasakan jika kedua tangan dan kakinya terikat ia lalu mengangkat kepalanya dan menatap wajah dua pria yang tak di kenalnya.
"Siapa kalian? kenapa aku di ikat? cepat lepaskan aku!!" tanya Alexa dengan wajah datar. Dua pria dengan seragam tentara terkekeh jenaka.
"Kau sudah membuat kesalahan besar Nona, nyalimu besar juga sampai membunuh putra Tuan Kalingga" jawab tentara tersebut dengan tatapan penuh intimidasi.
Alexa yang mendengar putra Tuan Kalingga seketika terkejut bayangan dirinya saat di sekap di gedung tua tiba-tiba terlintas dan makin terkejut lagi kala dua tembakan dengan peluru kaliber tinggi menghunus masuk ke dalam daging Ronald.
"Apa yang kamu bilang barusan? apa kau sedang bercanda, tidak mungkin! tidak mungkin" teriak Alexa dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Ini pasti bohong tidak mungkin Ronald meninggalkanku sendirian dia sudah berjanji untuk selalu ada untukku... bagaimana mungkin dia mengingkari janjinya." Bisik Alexa dalam hatinya.
"Jangan pura-pura berakting di depan kami... tipu muslihat seperti itu tidak bisa mengelabui kami" bentak tentara tersebut.
"Kamu adalah pembunuh kamu pantas di hukum karena berani menghabisi nyawa putra menteri di kota ini!!" Dua pria tentara itu mendekat ke arah Alexa sedang gadis itu menggelengkan kepalanya berusaha menjelaskan yang sebenarnya bahwa dirinya bukan pembunuhnya. Bahkan dia adalah korban dari penculikan yang di lakukan oleh Charlotte.
"Percaya padaku bukan aku pelakunya aku juga adalah korban yang di lakukan oleh Charlotte! seharusnya Charlotte yang harus di penjara bukan aku!" jelas Alexa berusaha melepas diri namun ikatan di tangan dan kakinya begitu kuat hingga membuat pergelangan tangan dan kakinya terluka.
"Diam kamu! kamu adalah pembunuh sebenarnya, setelah kamu membunuh Ronald sekarang kamu beralih menghabisi nyawa putri dari Tuan Kalingga... kau bahkan melakukan tindakan kriminal paling berat. Ingat kamu adalah pendatang di sini jadi jangan macam-macam!!" Jelas tentara tersebut dengan tatapan horornya namun tak membuat gadis itu takut sedikitpun dirinya tidak bersalah ia harus menegak keadilan untuk hidupnya.
"Sudah ku bilang bukan aku pelakunya!"
PLAK
"Diam kamu!" satu tamparan mendarat di pipi kanan Alexa membuatnya meringis sakit akibat tamparan kuat itu membuat sudut bibirnya pecah dan mengeluarkan darah segar.
"Kamu adalah pembunuhnya! karena kamu Ronald mati, kamu adalah masalahnya kamu menjadi penyebab kematian Ronald... sungguh malang" bayang-bayang saat penembakan terjadi dan Ronald tiba-tiba menjadikan tubuhnya sebagai pelindung untuknya serta bisikan dari tentara membuat mentalnya down pikirannya berkecamuk seketika.
"No! Not me! aku tidak membunuhnya hiks hiks bukan aku! bukan aku pelakunya hiks, hiks" teriak Alexa membuat dua tentara itu semakin tertawa terbahak-bahak.
"Dasar pembunuh kamu adalah pembunuhnya!!" bisiknya lagi dan makin membuat Alexa histeris.
"No! Not me! I did'nt kill him! (Tidak! bukan aku! aku tidak membunuhnya!!)" ucap Alexa dengan air mata yang terus mengalir.
PLAK
PLAK
PLAK
"Auuw brengsek lepaskan aku!" teriak Alexa dengan darah yang terus mengalir dari sudut bibirnya, rambutnya terlihat berantakan dengan wajah yang semakin lebam.
"James! ambilkan kabel dan colokan aku ingin tahu sampai dimana gadis ini bertahan berbohong" titahnya pada temannya.
"Baik tunggu sebentar" pria bernama James segera keluar mengambil kabel dan colokan yang di minta oleh rekan kerjanya.
"Aku tidak tahu apa masalahnya sampai kau begitu membenciku... sudah ku bilang bukan aku pelakunya aku tidak membunuhnya" jelas Alexa dengan tatapan dinginnya membuat pria bernama Banze terkekeh geli.
"Kau memang bukan pembunuh Ronald tapi apakah kau tidak ingat? gadis yang kau aniaya di sekolahmu kini sudah meninggal akibat gila, ketakutan seperti mengalami kesuraman yang sangat parah. Bayang-bayang dirinya di pukul di aniaya memicu penyakit gilanya, apa kau ingat itu!!" mendengar bisikan dari pria di sampingnya membuat Alexa melebarkan matanya.
"Gadis yang kau aniaya adalah adikku satu-satunya! apa kau ingat sekarang huh!"
PLAK
PLAK
"Akkkkkkhhh!!"
PLAK
Pria bernama Banze semakin gila menampar Alexa membuat gadis itu tak bertenaga lagi. Bahkan mengeluarkan rintihan sakit sudah tidak mampu akibat siksaan keras dari Banze.
"Ini belum seberapa dengan apa yang kau lakukan pembunuh... adik yang aku manja oh malang sekali rintihan dan teriakannya bagaimana aku bisa membiarkan pembunuh adikku masih bisa bernapas sampai saat ini huh!!" tutur Banze dengan tatapan tajam.
"Ini Boss" James tiba-tiba datang dan menyerahkan kabel dengan ujung tanpa kulit, serta colokan yang sudah di colok ke listrik.
"A-pa yang akan kau lakukan padaku?" tanya Alexa berusaha untuk tetap sadar.
"Aku hanya belajar dari kegilaan kamu, yang pernah kamu lakukan pada adikku gadis manis hehehehe" Alexa menggeleng pelan.
STRUUUM
"Akkkkkkhhh, akkkkkkhhh no! hentikan!!" teriak Alexa menahan rasa sakit akibat sengatan listrik. Benzi semaki gila menekan dua kabel dengan ujung polos di tangan Alexa membuat gadis itu benar-benar kehilangan tenaganya.
"Akkkkh sakit! akkkkkkhhh!!!"
"Tolong!! Mama, ayah tolong aku." batin Alexa
"Kakek, Nenek Alexa di siksa disini" batinnya lagi dengan cairan bening mengalir dari pelupuk matanya... karena lelah gadis itu perlahan-lahan menutup matanya.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung