
Happy reading 🤗
.
.
.
.
.
.
Setelah mendapat izin dari pemilik rumah, rombongan Tuan Wijaya pun segera masuk ke dalam bangunan mewah klasik namun terlihat sangat anggun, mereka di tuntun oleh salah seorang pengawal Tuan Kalingga.
Seorang pria masih dengan setelan jas sama saat dirinya turun dari mobil, sedang duduk bersandar di sofa ruang tamu. Melihat bahwa rombongan Tuan Wijaya datang dengan sigap pria yang menjabat sebagai Menteri pertahanan itu pun berdiri turut menyambut kedatangan keluarga Alexa.
"Silahkan duduk!" Tuan Kalingga mempersilahkan keluarga Tuan Wijaya untuk duduk dan mereka mengangguk dengan senyum tipis di bibir.
"Ada yang bisa saya bantu Tuan-tuan?" tanya Tuan Kalingga ramah menatap satu persatu keluarga Alexa.
"Mereka bukan orang biasa, sepertinya mereka adalah orang terpandang di negaranya." Batin Tuan Kalingga mengamati tamu-tamunya.
"Kami ingin bertemu Alexa Tuan, sudah beberapa hari saya meneleponnya tapi ponselnya tidak aktif...," terang Hamas sembari beradu pandang dengan pria paruh baya di depannya, namun terlihat masih gagah sangat jelas baju yang di pakainya begitu cocok di tubuhnya yang tercetak otot-otot kuat.
Melihat reaksi Tuan Kalingga yang diam saja Tuan Wijaya pun angkat bicara "Mohon maaf Tuan, anda tahu jika cucu saya dekat dengan putra Tuan bahkan tinggal satu rumah dengannya... sudah beberapa hari ini tidak melihat Alexa ada kejanggalan yang saya rasa"
Mendengar putranya di sebut membuat ingatan kelam itu kembali, putra satu-satunya kini sudah tidak ada, berpulang ke sisi Tuhan yang makin membuat hatinya terenyuh. Tuan Kalingga menundukkan kepalanya menahan gejolak amarah, balas dendam pun tak akan bisa mengembalikan jiwa hidup putranya.
"Putra saya meninggal karena menolong Alexa, kemarin adalah hari pemakaman putra saya dan saya masih berkabung...," menarik napas panjang lalu kembali melanjutkan ucapannya. "Saya tidak tahu di mana Alexa berada, terakhir saya menemaninya di rumah sakit lalu setelah itu saya tidak tahu" lanjutnya berbohong membuat keluarga Tuan Wijaya terdiam sejenak.
"Siapa sebenarnya yang sudah membawa Alexa?" tanya Tuan Farhan dalam hati. Alex yang mendengar jawaban Tuan Kalingga hanya menundukkan kepalanya mengepalkan tangannya kuat merasa gagal menjadi seorang ayah yang dapat di andalkan.
Tio yang berada di samping Alex mengelus punggung kekar sahabatnya, dirinya bisa merasakan kesedihan yang di rasakan sahabatnya saat ini.
"Hmmm..., apakah Tuan bisa membantu kami mencari keberadaan Alexa? kami mohon, Tuan begitu di segani di sini tolong untuk membantu kami" kali ini Tuan Smith angkat bicara membuat semua di sana menatap padanya terutama Tuan Kalingga.
"Tolong temukan putri saya Tuan, saya mohon sekali dia adalah putri saya satu-satunya, ku mohon!!" Alex ikut menimpali dengan tangan mengatup di dada, menatap wajah Tuan Kalingga dengan pandangan nanar bahkan mulai berkaca-kaca.
Tuan Kalingga menghela napas kasar lalu menghembuskan secara perlahan-lahan "Akan saya usahakan, tapi jangan terlalu berharap karena saya pun tidak memiliki kekuasaan yang besar di kota ini" jawabnya merendah diri membuat keluarga Tuan Wijaya menghela napas lega. Mereka sangat berharap jika Tuan Kalingga dapat membantu mereka menemukan Alexa.
Setelah mengutarakan maksud kedatangan mereka, mereka pun berpamitan undur diri karena merasa tidak enak jika berlama-lama di dalam rumah seseorang yang belum di kenal.
Kini mereka sudah berada di mobil masing-masing, pria yang bertugas menjaga gerbang kini sudah siap membukakan pintu gerbang kepada keluarga Mafia itu.
"Tuan terima kasih, kami pamit dulu" ujar Hamas kepada penjaga gerbang.
"Terima kasih kembali Tuan" jawabnya dengan senyum kecil di bibirnya. Setelah dua mobil yang di tumpangi keluarga Mafia pergi, pria itu langsung menutup pintu gerbang lalu kembali ke posnya.
Berjam-jam menunggu hingga tubuh terasa keram dan mati rasa namun tetap setia hanya demi mendapatkan informasi walau hanya secuil kata namun setelah datang malah tak mendapatkan apapun membuat mereka sedih sekaligus cemas, namun bukan namanya keluarga mafia jika mereka putus asa dan menyerah. Jika ikhtiar sudah di lakukan dan belum juga menemukan titik terangnya maka hanya ada satu cara yang harus lebih mereka lakoni yaitu doa.
Kini dua mobil beda jenis itu masuk melintasi pintu gerbang berhenti di depan bangunan yang lumayan besar nan mewah satu-persatu orang-orang yang ada di dalam mobil keluar, lalu kemudian melenggang masuk ke dalam bangunan Apartemen.
Terlihat wajah yang tak bersemangat menandakan jika apa yang mereka cari belum ketemu, para wanita yang baru selesai masak dan menatanya di atas meja makan seketika berhenti dan melihat beberapa pria berlenggak tanpa ada tenaga membuat para wanita sudah bisa menebaknya.
"Ayo duduk dulu kita makan siang sekalipun ini sudah sore!" ajak Nyonya Mita menampilkan senyum tipis. Yah waktu sudah menunjukan pukul 14 : 30 itu berarti sudah lama mereka keluar dan baru tiba di jam setengah tiga.
Amanda yang melihat suaminya serta yang lainnya menampakan wajah murung membuatnya mengerti dan itu makin menyesakkan dada, putri satu-satunya kini hilang entah kemana.
"Ya Tuhan, selamatkan putriku ku mohon" doa Amanda menguatkan hatinya. Perempuan anak satu itu lantas meletakan beberapa piring berisi sayuran lalu di ikuti Shireen dan Aulia. Setelah semuanya beres mereka pun duduk di kursi bersama-sama.
Keluarga besar itu makan dengan khidmat tidak ada yang bersuara hanya denting sendok yang menggema di dalam kebisuan orang-orang yang bersedih, saling bersahutan melempar bunyi bising yang bernada walau tak jelas namun tak membuat mereka terusik.
Dafa dan Daffin kemudian saling melirik rasanya sangat tidak lahap makan bersama dengan kebisuan yang belum pernah terjadi sebelumnya, mereka kemudian kembali melanjutkan makan siang berusaha mengatup mulut rapat-rapat untuk tak berbicara.
Setelah kegiatan makan selesai, para pria berjalan menuju ruang keluarga menjatuhkan pantat di atas sofa sedangkan para perempuan membereskan sisa makanan serta piring kotor dan membawanya ke dapur, mencuci piring kotor serta menyapu lantai yang kotor. Setelah selesai mereka kemudian bergabung bersama para pria.
"Lalu bagaimana, apakah ada informasi mengenai Alexa?" tanya Nyonya Mita.
"Tuan Kalingga tidak tahu keberadaan Alexa, namun beliau bersedia membantu kita mencari Alexa berdoa saja semoga Alexa segera di temukan...," jelas Tuan Wijaya.
Semua di sana menghela napas berat, Jons yang duduk di sisi Amanda segera merangkulnya mengelus lengan sahabatnya.
"Kamu yang sabar yah, Alexa pasti baik-baik saja dan secepatnya kita akan menemukan Alexa, " bisik Jons pada Amanda. Sesekali Tuan Farhan melirik ke arah istrinya tepatnya pada tangan sang istri yang memeluk Amanda, apakah si Jelangkung menaruh rasa cemburu atau hanya sekilas memandang namun tatapannya sangat sulit di artikan.
"Ekheem!" dehemnya kuat membuat semua atensi yang ada di sana menatap pada Tuan Farhan. Jons yang mengetahui jika sang suami cemburu segera melepas rangkulannya.
"Astaga tua bangka itu yah meresahkan sekali!" sewot Jons dalam hati sembari memelototi suaminya.
"Emmm, aku akan menyuruh anak buahku untuk mencari Alexa" lanjut Tuan Farhan saat pandangan semua orang tertuju padanya. Mereka yang mendengar hanya manggut-manggut.
"Sudah tua masih saja cemburu bahkan kepada perempuan" batin Tio dan Aulia bersamaan.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung