
Happy reading 🤗
.
.
.
.
.
Hamas sangat terkejut melihat putri dan putranya di dalam ruangan apalagi saat Enzi menatapnya tajam. Hamas tersenyum masam ia kemudian terkekeh dan merapikan kemeja yang di pakainya.
"Eh sayang, kenapa tidak bilang kalau mau ke sini? biar ayah jemput kalian" Enzi turun dari atas meja gadis itu mencebik kesal dua tangannya di lipat di atas dada. Merasa dongkol dengan ayahnya yang super duper sibuk.
"Enzi sepelti bukan anak ayah saja, ayah selalu sibuk dengan pekeljaan ayah dalipada Enzi" mata gadis itu mulai berkaca-kaca, Hamas menghela napas panjang kalau sudah begini maka ia tidak bisa bekerja, ia harus menenangkan putrinya itu.
"Enzi adalah putri ayah yang paling ayah sayang, ayah minta maaf jangan marah yah sayang ... ayah janji tidak akan sibuk kerja lagi, maafin ayah gak nih?" dengan malu-malu Enzi mengangguk, Hamas tersenyum tipis.
Setelah menenangkan putrinya, Hamas melirik ke arah Hanan dengan tatapan melotot karena tidak memberitahu perihal kedatangan anak-anaknya. Hanan meneguk ludah kasar tidak berani membalas tatapan Bossnya.
"Maaf tuan" Hamas mengangkat telunjuknya dan mengayunkannya ke depan, Hanan yang mengerti isyarat itu lantas keluar.
"Ayah, aku ada informasi penting" Aditya berujar. Hamas melirik putra kecilnya sembari mengangkat alisnya penuh tanya.
"Apa?" Aditya menarik tangan Hamas agak menjauh dari Enzi, gadis itu hanya menatap tak acuh.
"Aku akan mengatakan sesuatu yang penting, tapi ayah tidak boleh memotong pembicaraan sampai aku selesai" Hamas mengangguk mengerti. Bocah laki-laki itu menarik napas panjang kemudian menyodorkan ponselnya kepada Hamas.
"Apa ini?"
"Lihat saja" Hamas menerima ponsel yang diberikan Aditya padanya terpampang sebuah foto di layar ponsel bermerek iPhone 14. Mata Hamas menatap seksama foto tersebut ia seperti mengenal gadis itu.
"Siapa wanita ini? kamu mendapatkan foto ini dari siapa?" Hamas menginterogasi dengan wajah serius. Dengan tangan terlipat di atas perut Aditya menjawab.
"Tante itu yang menolong adik Enzi dari mobil yang hampir menyerempetnya, aku langsung mengambil foto itu untuk meminta ayah membalas kebaikannya" Hamas tidak fokus dengan penjelasan putranya ia langsung sibuk dengan ponsel di tangannya.
"Kalian tunggu di sini ayah mau telepon kakek ada urusan penting yang mau di urus" Aditya mencebik kesal karena ayahnya selalu seperti itu. Selalu sibuk bahkan tidak mau berterima kasih padanya yang sudah mengambil foto wanita yang menolong Enzi.
Hamas keluar dari ruangannya sembari membawa ponselnya ia kemudian mencari-cari nomor tuan Farhan.
"Tidak salah lagi, itu pasti kamu. Sekalipun sudah lama tapi aku masih mengingatmu" batin Hamas dengan ekspresi serius. Entah apa yang di maksud Hamas tentang 'dia' namun sepertinya begitu penting baginya.
"Halo Dad" seru Hamas saat panggilan teleponnya di angkat oleh tuan Farhan.
"Ada apa?"
"Aku melihat adik Alexa di Indonesia Dad" tuan Farhan terdiam, mendengar kata Alexa yang sudah lama menghilang bahkan pria tua itu sudah lupa seperti apa wajah keponakannya itu.
"Kamu lihat di mana? Daddy ingin kau mencarinya bahkan blokir semua jalur keluar masuk. Darat, udara bahkan jalur laut!" Hamas mengangguk, entah itu benar atau tidak namun ia harus memastikan gadis yang ada di ponsel milik Aditya. Ia akan mengintrogasi kedua anaknya nanti setelah bertemu dengan Alexa.
"Dad, apakah harus memberitahu Paman dan Bibi?"
"Jangan dulu, pastikan bahwa gadis itu adalah Alexa baru kamu beritahu pamanmu dan bibimu" Hamas mengangguk, pria itu lantas memutus sambungan telepon dan menghubungi seseorang yang sepertinya adalah anak buahnya.
"Halo Eric, tutup semua jalur keluar masuk, jalur penerbangan, darat maupun laut, dan saya minta segera kirim rekaman cctv yang mengakses semuanya! saya tunggu malam ini harus ada" Hamas berujar dengan tangan sebelah masuk ke saku celananya. Sedang orang di sebrang telepon mengiyakan perintah dari Bossnya.
Hamas melirik anaknya yang berusia tiga tahun setengah, ia memijat pelipisnya merasa heran dengan anak laki-lakinya yang super duper kepo tentang urusan orang dewasa.
"Dia mirip dengan anaknya Paman Alex, itulah sebabnya ayah ingin bertemu dengannya. Dia sudah lama hilang" Aditya mengangguk mengerti, lalu masuk ke ruangan Hamas. Namun sebelum itu ia berujar pada Hamas.
"Aku pinjam komputer ayah, sepuluh menit saja" Hamas menaikkan sebelah alisnya dan menatapnya penuh selidik.
"Apa yang akan di lakukan si bocil ini?" batinnya.
"Untuk apa komputer ayah? anak kecil tidak boleh sering bermain komputer itu tidak baik untuk mata kamu" tegasnya membuat Aditya tidak peduli. Bocah laki-laki itu mengangkat bahunya tak acuh ia lantas masuk ke dalam tanpa peduli perintah Hamas.
Aditya yang keras kepala pun duduk di atas kursi kebesaran milik Hamas, Enzi yang mulai bosan dengan bonekanya menghampiri abangnya. Sedang dua pengasuh Enzi dan Aditya sibuk dengan ponsel di tangannya.
Bocah laki-laki itu begitu serius dengan benda persegi di depannya, jari-jari kecilnya mengetik pada keyboard di atas meja, Enzi yang tidak mengerti dengan benda di atas meja lalu bertanya.
"Abang, itu benda apa? dan abang sedang apa?" tanya gadis kecil itu dengan alis berkerut. Aditya tidak menggubrisnya, ia masih setia mengetik pada keyboard lalu beralih pada mouse di samping komputer.
Enzi yang tidak suka di diemin lantas berteriak
"Abang! dengal tidak?!" Aditya menutup telinganya dan melirik tajam ke arah adiknya sedang dua perempuan yang menjadi pengasuh itu menghampiri kedua majikannya.
"Ada apa nona?" Enzi bersungut dengan mata berkaca-kaca, ia sangat benci ketika abangnya tidak mengindahkan perkataannya.
"Ada apa? kenapa kamu teriak sayang?" seorang pria dengan setelan jas rapi berjalan masuk ke ruangannya, ia tadi sedang di ruangan sekretarisnya namun, saat mendengar teriakan putrinya membuatnya segera menghampiri mereka takut terjadi sesuatu.
"Hiks, hiks, ayah abang tidak mendengar Enzi bicala tadi ... Enzi beltanya pada abang tapi hiks, abang malah diam saja" gadis kecil itu mengadu sembari sesenggukan. Hamas menghela napas panjang sedang Aditya masih tak acuh.
"Selesai!" sorak Aditya dalam hati. Bocah tengil itu turun dari kursi kebesaran Hamas ia memeluk adiknya dan mencium pipi Enzi.
"Jangan marah, abang minta maaf tadi abang sedang bermain" Enzi mendengus kesal ia masih marah pada Aditya.
"Sudah jangan marah lagi, kan abang sudah minta maaf" tutur Hamas dengan suara lembut.
"Maafkan kami tuan, tidak becus menjaga nona dan tuan muda kecil" dua pengasuh itu menunduk sebagai tanda maaf.
"Tidak apa-apa."
"Aku akan bertemu dengan tante itu secepatnya" bisik Aditya dalam hati. Entah siapa yang di maksud tante oleh Aditya namun tampaknya ia begitu serius.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung