The Love Story Princess And Prince Mafia

The Love Story Princess And Prince Mafia
Bab 114 Lamaran



Happy reading 🤗


.


.


.


.


.


.


.


.


Sudah satu bulan kepergian Alexa dan masih menjadi misteri bagi keluarga Tuan Wijaya mengenai kehilangan gadis cantik asal Indonesia. Alex dan Amanda perlahan-lahan sudah bisa menerima kepergian sang putri begitupun dengan keluarga lainnya.


Saat ini Tuan Farhan, Hamas dan Shireen sedang berada di Belanda tepatnya mau mengunjungi rumah orang tua Shireen karena ada sesuatu yang harus di bicarakan antara dua keluarga asing namun akan menjadi keluarga nantinya.


Terlihat sebuah bangunan yang cukup mewah terdapat kolam renang yang luas terletak di depan rumah tersebut namun sedikit ke arah kiri, selain itu ada kolam ikan dengan bentuk lingkaran juga air mancung mengalir di dalam kolam tersebut yang terletak tepat di depan bangunan mewah.


Saat ini sebuah mobil Lexus berwarna abu-abu berhenti di depan gerbang besi yang menjadi pelindung bagi penghuni rumah, tiba-tiba seorang pria berkulit putih berlari ke arah gerbang dan membukanya segera. Dari dalam mobil seorang gadis cantik menurunkan kaca mobil tersenyum ke arah penjaga gerbang.


"Dank je (Terima kasih)" ucapnya tersenyum tipis.


"Geen dank (Sama-sama Nona)" jawab pria tersebut. Mobil Lexus abu-abu itupun masuk ke dalam dan penjaga tersebut kembali menutup gerbang besi.


Dari jauh dua sepasang wanita pria tengah berdiri di teras rumah sembari menatap mobil yang berhenti di depan rumahnya. Tuan Farhan, Hamas dan Shireen keluar dari dalam mobil, mereka bertiga kemudian berjalan menghampiri dua sepasang manusia yang sedang menatap ke arah mereka.


"Mama en papa, hoe gaat het met jullie? (Ibu ayah, kalian apa kabar?)" tanya Shireen lalu memeluk tubuh kedua orang tuanya bergantian.


"Met ons gaat het goed schat (kami baik-baik saja sayang)" jawab ibunya Shireen. Setelah saling berpelukan, ayah Shireen menatap dua tamunya tersenyum tipis dan menundukkan kepala sebagai tanda hormat.


"Welcome, please come in Sir! ( Selamat datang, silahkan masuk Tuan!)" ucap ayah Shireen dan Tuan Farhan tersenyum mengangguk. Mereka kemudian masuk ke dalam mengikuti langkah kedua orang tua Shireen.


Hamas yang berada di samping Tuan Farhan sesekali menarik napas panjang kemudian menghembuskan perlahan-lahan, Tuan Farhan dapat mendengar deru napas putranya yang tak teratur, melirik sekilas dan melempar senyum kepada Hamas.


"Semua akan baik-baik saja..., jangan gugup!" kata Tuan Farhan dan Hamas hanya mengangguk kepalanya pelan. Rasanya dadanya semakin sempit kala masuk ke dalam rumah Shireen..., rasa-rasanya seperti berada di alam kubur dengan dua malaikat Munkar Nakir yang menatapnya tajam.


"Huufft, astaga seperti inikah seorang pria mau melamar? aku bahkan sangat kesulitan bernapas" batin Hamas yang sudah berkeringat dingin.


Kini mereka sudah di ruang tamu, orang tua Shireen mempersilahkan tamunya untuk duduk. Ayah Shireen duduk di sofa single sedang ibunya duduk bersama Shireen di sofa yang hanya muat dua orang. Tuan Farhan dan Hamas memilih duduk di sofa panjang.


Tak lama seorang pelayan datang dengan nampan di tangannya, pelayan tersebut kemudian meletakkan tiga gelas jus mangga dan dua jus alpukat.


"Please drink Sir! (Silahkan minum Tuan!)." Tutur ibu Shireen dan Tuan Farhan juga Hamas membalas dengan anggukan kepala. Sedangkan Shireen tidak berani menatap wajah ayahnya ia takut jika dirinya akan di marahi karena sudah membawa pria ke rumah sebelum dirinya menyelesaikan pendidikannya.


"Maaf jika kedatangan kami mengganggu waktu Tuan dan Nyonya..., tapi kedatangan saya di sini ingin melamar putri Tuan untuk putra saya Hamas" ucap Tuan Farhan menjelaskan maksud kedatangannya. Karena sebelumnya Shireen sudah mengabari kedua orang tuanya hingga membuat keduanya tidak terkejut.


Ayah Shireen kemudian melirik ke arah putri dan istrinya lalu kembali menatap Tuan Farhan dan Hamas bergantian.


"Semua keputusan saya serahkan kepada putri saya..., karena putri saya lah yang akan menjalani kehidupan rumah tangganya. Namun satu hal yang saya minta untuk selalu menyayangi putri saya dan jangan biarkan dia terluka sedikitpun entah itu fisik ataupun batinnya." ucap ayah Shireen membuat Shireen tidak percaya atas apa yang ia dengar. Shireen kemudian menatap ibunya dan perempuan di sampingnya hanya tersenyum tipis dengan mata yang berkaca-kaca.


Shireen dan ayahnya saling bersitatap beberapa detik kemudian ayahnya menatap dalam pria muda di samping Tuan Farhan.


"Apa kau mencintai dan menyayangi putri saya anak muda?" tanya ayahnya Shireen, Hamas yang di tanya menatap pria di depannya kemudian mengangguk pelan.


"Saya mencintainya Tuan" jawab Hamas mantap. Terdengar helaan napas lega keluar dari mulut pria yang belum terlalu tua itu.


"Saya berharap kamu menjaga Shireen seperti kamu menjaga diri kamu..., dari kecil hingga dia sebesar ini saya belum pernah membahagiakannya bahkan saya selalu bersikap kasar padanya. Saya adalah ayah yang buruk"


"Ayah!" protes Shireen ia menggeleng dengan mata yang sudah berkaca-kaca bahkan mengerjap sedikit saja benda kristal itu akan mengalir dari pelupuk matanya.


"Ayah adalah pria yang baik bagi Shireen, jadi jangan pernah katakan kalimat itu! ayah tidak salah dan ayah adalah kebanggaan Shireen" jelas Shireen tegas membuat ayahnya tersenyum tipis. Setitik air jatuh dari pelupuk mata pria yang di panggil ayah oleh Shireen, ia sungguh terharu putrinya masih mau menganggapnya seorang ayah padahal dirinya sudah sangat buruk pada Shireen.


"Saya dan ayahnya Shireen setuju jika Shireen akan menikah biar ada yang menjaga Shireen" kali ini ibunya Shireen bersuara.


"Baik kalau sudah setuju, pernikahan mereka akan di langsung sepuluh hari lagi..., hmmm, tapi pernikahan akan di langsungkan di Indonesia bagaimana menurut Tuan dan Nyonya?" tanya Tuan Farhan.


"Tidak masalah, selagi Shireen setuju saya juga setuju..., bukan begitu Ma?" ibunya Shireen mengangguk sebagai jawaban.


"Baik, kabari saya saja jika kalian akan terbang ke Indonesia. Saya akan menjemput Tuan dan Nyonya menggunakan jet pribadi" ungkap Tuan Farhan lagi.


"Tidak perlu repot-repot Tuan, kami bisa menaiki pesawat biasa" tolak ayahnya Shireen, namun Tuan Farhan bersikukuh untuk menjemput orang tua Shireen membuat mereka tidak bisa menolak lagi.


Setelah mengutarakan maksud kedatangan mereka ke Belanda Tuan Farhan dan Hamas pun berpamitan untuk pulang, karena hari ini juga mereka akan kembali ke Indonesia. Sedangkan Shireen menetap di Belanda karena dirinya juga sangat rindu dengan kebersamaan mereka yang sudah lama tidak bertemu.


Tuan Farhan dan Hamas pun masuk ke dalam mobil yang di kendarai oleh seorang pria yang adalah anggota Black Wolf, mobil Lexus abu-abu itupun melesat jauh meninggalkan halaman rumah orang tua Shireen.


Sedang di negara Amerika di kota Rochester, Minnesota tepatnya di rumah sakit Mayo Clinic. Seorang gadis dengan rambut sebahu baru saja keluar dari rumah sakit karena sudah di nyatakan sembuh oleh dokter. Tentunya pria yang sangat terkenal di kota Washington yang kini menjabat sebagai Menteri Pertahanan mengucapkan terima kasih yang sangat tulus kepada dokter juga direktur rumah sakit Mayo Clinic, yang sudah menolongnya menyembuhkan seseorang yang sangat berharga baginya.


Kini sebuah mobil sedan berwarna putih sudah menunggu Tuan Kalingga juga seseorang yang baru sembuh dari masa kritisnya. Keduanya pun masuk ke dalam mobil, perlahan-lahan mobil yang di tumpangi Tuan Kalingga bergerak meninggalkan halaman rumah sakit.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung