The Love Story Princess And Prince Mafia

The Love Story Princess And Prince Mafia
Bab 10 Dilema



Happy reading 🤗


Beri dukungannya dong teman-teman 🙏❤️❤️


.


.


.


.


.


.


.


.


Waktu menunjukkan pukul 12 malam, angin malam menerpa tubuh dua manusia berbeda jenis itu yang masih berkeliaran di tengah malam.


Rembulan malam bersinar di bawah langit bumi menyinari kota malam yang begitu sepi. Sepasang manusia itu saling bergandengan tangan menuju sebuah objek di depan mereka.


"Bagaimana, apa kamu sudah merasa puas?" tanya seorang pria pada gadis di sampingnya. Rasa dingin yang masuk menusuk tulang-tulang tubuhnya, membiarkan tangannya di genggam oleh pria di sampingnya menyalurkan kehangatan satu sama lain. Mereka benar-benar merasa dingin dan butuh kehangatan saat ini.


"Lia tidak pernah puas melihat pemandangan malam di kota Meksiko, sangat indah dan Lia akan terus datang di tempat ini" jawab Aulia dengan senyum mekar di wajahnya, mungkin orang awam akan mengatakan bahwa cahaya bulan sangatlah indah jika di lihat dari pantulan sungai ataupun danau. Maka tidak dengan Oskar pria itu bahkan tidak pernah melihat sesuatu yang indah sebelumnya kecuali hari ini.


"Sungguh mahakarya yang benar-benar indah, ukiran lekuk di setiap detail wajahnya membuat mata tidak bisa berpaling... sepertinya aku sudah jatuh cinta" bisik Oskar dalam hati


"Uncle akan selalu menemanimu" tuturnya tanpa mengalihkan pandangannya dari Aulia. Gadis itu mengangguk pelan. " Ayo kita pulang, sekarang sudah sangat malam" ajak Oskar.


"Oke Uncle" jawab Aulia. Saat sudah di depan motor sport, keduanya segera naik, Oskar melajukan motornya dan Aulia memeluk erat tubuh Oskar kala hembusan angin semakin membuat tubuhnya kedinginan. Berlindung pada tubuh kekar tubuh Oskar tidak masalah bukan.


Menekan klakson beberapa kali agar penjaga gerbang bisa mendengarnya. Dari sisi kanan dalam gerbang seorang pria segera berlari ke arah besi yang menjulang tinggi.


"Maaf Tuan" tuturnya yang telah berhasil membukakan pintu untuk Oskar dan Aulia.


"Tidak apa-apa, makasih pak. Kami pergi dulu" jawab Oskar dan penjaga gerbang mengangguk pelan. Pria itu kembali menutup kerangka besi kemudian menguncinya menggunakan gembok dan setelah selesai dirinya kembali ke pos tempat istirahatnya.


Oskar menghentikan motornya di depan Mansion, Aulia kemudian melepas pelukannya lalu turun dari atas motor.


"Uncle, makasih yah sudah mengajak Lia keluar, Lia senang banget malam ini." Ucap Aulia menatap wajah tampan Oskar ia sangat bersyukur masih ada yang peduli padanya, setelah pria yang ia sukai bahkan tidak meliriknya sama sekali.


"Tidak apa-apa, Uncle senang kamu bahagia... sana masuk! nanti masuk angin lagi, ingat langsung tidur sudah sangat malam" jawab Oskar tersenyum tipis. Mengulurkan tangannya mengacak-acak rambut Aulia pelan.


"Lia tunggu Uncle saja. Kita masuk sama-sama" tolak Aulia yang memang ingin masuk bersama.


"Uncle masih lama kamu masuk duluan! besok kamu ke kampus jangan sampai telat" tukas Oskar mengingatkan. Membuat Aulia menepuk jidatnya.


"Astaga Lia lupa, kalau begitu Lia masuk sekarang. Sekali lagi terima kasih Uncle." Ujarnya yang langsung bergegas masuk. Untung saja pintu Mansion belum di kunci jadi bisa membuat Aulia dapat masuk ke dalam. Keadaan di ruang tengah Mansion sudah gelap namun ada sedikit pencahayaan dari lampu di dapur hingga membuat Aulia tidak kesusahan berjalan. Mereka sengaja membiarkan lampu dapur menyala. Melihat ke sekeliling sudah sangat sepi. Mungkin orang-orang sudah pada tidur, yah jelas karena sekarang sudah sangat larut.


"Seram juga" gumam Aulia pelan. Saat hendak masuk ke dalam lift, tiba-tiba sebuah tarikan kasar di tangannya membuat tubuhnya tidak seimbang hingga hampir membuatnya jatuh. Tubuhnya terpentok ke dinding dengan kedua tangannya di apit di atas kepalanya.


"Apa yang kalian lakukan di luar sana? dan kenapa begitu lama di luar hingga jam sekarang baru pulang?" tanya seorang pria dengan kabut amarah. Ia seperti seorang suami yang di tinggal istrinya selingkuh.


Aulia menatap wajah pria di depannya bahkan sangat dekat, hembusan napas pria itu terasa hangat di kulit wajahnya.


"Uncle belum tidur?" kaku Aulia sedikit takut apalagi merasakan cengkaraman kuat di tangannya terasa sakit.


"Uncle, tangan Lia sa-sakit" lirih Aulia yang benar-benar kesakitan. Membuat Tio tersadar akan tindakannya. Ia lalu melepas cengkeramannya, tangannya menarik pinggang Aulia hingga merapat pada tubuhnya.


"Uncle sudah bilang jangan dekat-dekat dengan Uncle Oskar! kenapa kamu tidak mendengarnya hmmm...?" bisik Tio di telinga Aulia membuat bulu kuduk Aulia meremang seketika. Aulia tidak mengerti apa maksudnya larangan itu, padahal Oskar begitu baik padanya namun kenapa pria di depannya melarang hal itu.


"Lia semakin tidak paham, apa yang Uncle maksud? di satu sisi Lia senang Uncle cemburu tapi Uncle tidak mencintai Lia... Lia bingung Uncle, Lia harus apa?!!" batin Aulia frustasi.


Cup


Tio merasa gemas melihat wajah bingung gadis di pelukannya, entah keberanian darimana hingga laki-laki itu ******* bibir Aulia rakus bahkan sedikit kasar. Lidahnya bergerilya di dalam rongga Aulia menukar salivanya dan bahkan menelan saliva Aulia. Aulia mendorong tubuh Tio karena merasa dirinya sudah kehabisan napas.


Tio segera melepas pagutan ciuman panasnya, gadis itu menghirup banyak-banyak oksigen. Tangan Tio terulur menyentuh bibir Aulia yang sedikit bengkak karena ulahnya. Padahal dirinya tidak berani melakukan hal itu lagi setelah kejadian di rumah sakit. Gadis pertama yang membuat bibir Tio tidak suci lagi.


Menghapus air liur di bibir Aulia. Menyatukan keningnya dengan kening Aulia. "Jika tidak mengikwmbandahkan perintah Uncle, kamu akan mendapatkan hukuman lebih dari ini. Mengerti!" tegas Tio mencium pucuk kepala Aulia membuat gadis berusia 17 tahun itu mendadak kaku.


"Uncle, kenapa selalu membuat hati Lia menjadi tidak karuan seperti ini. Jika Uncle cinta sama Lia katakan yang sebenarnya jangan gantung hati Lia... karena masa mencintai, ada waktunya akan menjadi kadaluwarsa." Bisik Aulia dalam hati.


"Uncle..."


"Sssttt, jangan bicara!" potong Tio yang langsung mendaratkan ciumannya kembali. Terdengar derap langkah kaki yang mengarah ke arah mereka. Tio memeluk tubuh Aulia dengan bibir yang masih bertautan. Terlihat bayangan pria yang memasuki lift. Tio bersyukur tidak ketahuan karena memang di tempat yang mereka pijaki tidak terkena sinar lampu.


"Euugh" sesak Aulia membuat Tio melepas pagutan ciumannya. Pria itu terkekeh kecil.


"Ingat! jangan ulangi lagi. Hari sudah malam cepat kembali dan tidur" titah Tio membuat Aulia mendongakkan kepalanya.


"Uncle, sebenarnya..." lagi-lagi ucapan Aulia di potong olehnya.


"Cepat masuk! besok harus ke kampus" pria itu mendorong tubuh Aulia hingga berdiri di depan lift, menunggu lift itu terbuka. Setelah terbuka Aulia di paksa masuk oleh pria jangkung di belakangnya.


"Maaf, anggap saja tadi...tidak terjadi apa-apa!" tutur Tio tanpa rasa bersalah sedikitpun, membuat hati Aulia lagi-lagi merasakan sakit. Mata bulatnya mulai berkaca-kaca. Dengan bibir tersenyum lirih.


"Air mata Lia tidak bisa di kendalikan, tidak bisa di tahan... hingga terus mengalir" batin Aulia dengan cairan kristal mengalir di pipinya. "Hahahaha bodoh!" sambungnya dalam hati menertawakan kebodohannya.


Tio bisa melihat air mata itu jatuh dari pelupuk gadis di depannya. Kejam memang, namun ia tidak bisa mengendalikan rasa cemburunya. Tapi jika meneruskan hubungan yang jelas terhalang oleh tembok besar, apalah daya, kekuatannya masih sebesar biji beras. Ia akui tindakannya tadi adalah salah, tapi kembali lagi hatinya tidak bisa menerima gadisnya berjalan dengan pria lain.


"Maaf" hanya kata itu yang mampu terucap dari bibir pria itu. Begitu menyesali perkataannya.


Aulia buru-buru masuk ke dalam kamarnya, mengunci pintu rapat-rapat dan segera menjatuhkan tubuhnya di atas kasur.


"Lia benci diri Lia! kenapa Lia tidak bisa melupakan Uncle!!, Lia capek, Lia lelah hiks, hiks. Daddy, Lia tidak kuat hiks hiks" gumamnya dengan kepala tertanam di atas kasurnya. Menumpahkan kesedihannya dengan air mata yang masih setia menunggunya hingga dirinya terlelap dalam dunia mimpi.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung