
Happy reading 🤗
.
.
.
.
.
.
.
.
Sekon berganti menit berganti jam berganti hari bahkan minggu namun jejak Alexa belum juga ditemukan, mata-mata yang mereka kirim untuk memantau pergerakan Tuan Kalingga tidak menunjukkan adanya kecurigaan membuat perspektif buruk itu perlahan-lahan menghilang.
Berbagai cara sudah di lakukan bahkan menempel brosur foto Alexa di setiap tempat yang selalu di kunjungi orang-orang namun tetap tidak membuahkan hasil. Jejaknya seakan di telan Bumi tak ada yang tahu ataupun melihatnya.
Alex dan Amanda benar-benar pasrah saat ini, memaksa pun tidak ada gunanya mereka benar-benar menyerahkan semuanya kepada yang Maha Kuasa biarkan Dzat yang di atas yang mengembalikan putrinya, entah dalam keadaan hidup atau sudah meninggal yang penting putri satu-satunya itu kembali kepada mereka.
Namun mereka akan selalu berdoa meminta petunjuk serta keselamatan bagi Alexa agar terhindar dari segala marah bencana nantinya.
Kini Alex, Amanda serta kedua bossnya sudah bersiap-siap untuk kembali ke Indonesia mereka menggunakan jet pribadi yang mereka gunakan saat ke kota Washington. Dan saat ini mereka sudah berada di Bandar Udara Internasional Dulles, sebentar lagi jadwal penerbangan mereka, yang bertujuan ke Indonesia.
Tentunya Tuan Smith, Hamas serta Azhar mengantar kepulangan mereka ke Indonesia tak lupa Hamas dan Azhar memeluk Alex dan Amanda sebagai rasa bersalah mereka karena tidak becus menjaga adiknya.
"Uncle, Aunty, kami minta maaf karena belum bisa menjadi kakak yang bisa di andalkan untuk Alexa" tutur keduanya sembari memeluk kedua manusia dewasa.
Alex dan Amanda menepuk-nepuk punggung belakang Hamas dan Azhar.
"Jangan salahkan diri kalian, kalian tidak salah dalam hal ini, doakan adik kalian semoga dia selalu di lindungi oleh Allah..., kalaupun dia sudah tidak ada semoga Allah masih bisa menerimanya." mengatakan hal seperti itu membuat pita suara Amanda seakan tercekat. Menahan sesak yang mendalam kehilangan putri satu-satunya.
"Aunty jangan sedih kami akan berusaha mencari Alexa di sini" ujar Hamas dan Azhar dengan tekad yang besar. Amanda mengangguk lirih mengusap rambut Hamas dan Azhar bergantian. Kedua putra raja Iblis itu kemudian melepas pelukannya.
"Ingat jangan menyalahkan diri kalian" bijak Alex menepuk pundak kedua pria yang pernah menjadi anak asuhnya. Kedua pria muda kembar itu mengangguk pelan.
"Sering-seringlah main kesini, kita habiskan waktu tua kita bersama" kali ini Tuan Smith bersuara sembari menatap Tuan Wijaya dan Nyonya Mita yang adalah teman masa mudanya.
"Tentu saja, apalagi aku juga tidak mengurus perusahaan rasanya tanggung jawabku sudah tidak ada..., sekarang ini hanya menyenangi diri sendiri saja" balas Tuan Wijaya dengan kekehan kecil.
"Benar, mungkin satu minggu di Indonesia satu minggu lagi di Washington sekalian menjenguk dua cucuku yang reseh itu" ungkap Nyonya Mita melirik ke arah Hamas dan Azhar, membuat mereka tertawa. Tak berselang lama datang seorang pria berperawakan tinggi melapor kepada Tuan Wijaya jika penerbangan akan segera lepas landas.
Hamas dan Azhar kemudian memeluk tubuh Kakek dan Neneknya bergantian, lalu setelah itu kembali memeluk kedua orang tua Alexa setelah berpelukan. Tuan Wijaya, Nyonya Mita dan kedua orang tua Alexa berjalan masuk ke dalam lebih tepatnya ke ruangan penerbangan.
Di sebuah rumah klasik Eropa seorang pria paruh baya tengah duduk di kursi kebesarannya di dalam ruangan tertutup sepertinya itu adalah ruang kerjanya. Tiba-tiba sebuah dering telepon berbunyi membuat tatapan pria itu teralihkan dari laptop di depannya. Tangannya terulur meraih ponselnya terpampang nama seorang pria di layar ponselnya.
Dengan cepat pria itu menggeser layar hijau lalu meletakan di telinganya.
"Apa terjadi sesuatu?" tanyanya pada anak buahnya.
"Baik, aku langsung terbang ke sana" tutur Tuan Kalingga membuat pria di sebrang telepon mengangguk pelan. Beberapa menit kemudian Tuan Kalingga mengakhiri percakapan mereka.
Pria dengan setelan jas navy itu lalu beranjak dari duduknya berjalan keluar dari ruang kerjanya, kemudian turun ke bawah mencari seseorang. Terlihat seorang wanita yang seumuran dengannya berjalan menaiki tangga. Ia pun buru-buru menghampirinya.
"Sayang, ada yang ingin aku sampaikan dan begitu penting" tutur Tuan Kalingga kepada istrinya. Perempuan paruh baya itu menatap suaminya intens.
"Mau bicara di mana?" tanyanya. Lalu kemudian Tuan Kalingga menggandeng tangan istrinya membawanya naik ke lantai atas berjalan menuju salah satu ruangan yang ternyata adalah kamar pribadi mereka.
Keduanya pun duduk di bibir kasur, saling berhadapan hingga kedua mata mereka saling memandang satu sama lain.
"Perusahaan di Meksiko terjadi masalah, bulan kemarin sampai bulan ini terjadi penurunan yang sangat besar bahkan kerugiannya mencapai 1 miliar dan aku harus turun tangan langsung." Jelas Tuan Kalingga kepada istrinya tatapannya yang begitu lembut juga tak mengisyaratkan sebuah kebohongan membuat Nyonya Kalingga tidak menaruh curiga.
"Mungkin aku di sana akan satu atau dua minggu, kamu tidak apa-apa kan sendiri di sini? dan aku titip putri kita" sambungnya lagi membuat istrinya berpikir sejenak.
"Tidak apa-apa sayang, lagipula itu adalah masalah serius dan membutuhkan kamu sayang..., tenang saja masalah Charlotte biar aku yang urus nanti kalau ada perkembangan aku kasih tahu kamu secepatnya" jawabnya dengan senyum manisnya.
Tuan Kalingga pun mencium kening istrinya sebagai ucapan terima kasih dan wujud sayangnya.
"Ya sudah aku siapkan pakaian kamu selama di sana yah?" tanya istrinya membuat Tuan Kalingga memutar bola matanya berpikir sejenak.
"Ummmm..., gak perlu sayang nanti aku beli saja jika sudah di sana" jawab Tuan Kalingga dan istrinya mengangguk mengerti.
Setelah selesai mengutarakan maksud tujuannya pada istrinya, Tuan Kalingga pun bersiap-siap mengganti setelan jasnya. Dirinya memilih jas abu-abu sebagai style-nya sore hari. Kini Tuan Kalingga sudah berada di teras rumah bersama dengan istrinya.
Sebuah mobil sedan Lamborghini berwarna silver sudah terparkir rapi di depan rumah Tuan Kalingga. Nyonya Kalingga kemudian menyalami tangan suaminya sebagai bentuk baktinya sebagai seorang istri begitupun Tuan Kalingga mencium kening istrinya.
"Aku pergi sekarang, jangan lupa kabari aku kalau ada apa-apa" jelas Tuan Kalingga dan Nyonya Kalingga hanya menjawab dengan isyarat tubuh. Tangannya terangkat membentuk sebuah huruf O.
Tuan Kalingga langsung masuk ke dalam mobil sedan Lamborghini beberapa menit kemudian terdengar deru mesin mobil perlahan-lahan mobil yang di tumpangi Tuan Kalingga bergerak dan meninggalkan pekarangan rumahnya hingga melesat jauh dari gerbang.
"Kita mau kemana Tuan?" tanya seorang sopir.
"Ke perusahaan kita" jawabnya singkat. Dan sopirnya mengiyakan dengan anggukan ringan.
Yah mereka menuju ke arah perusahaan karena helikopter Sikorsky S-92 telah menunggunya di helipad yang berada di lantai paling atas perusahannya.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung