
Happy reading 🤗
Kasih like dan Votenya kakak 🤗🤗🤗😍
.
.
.
.
.
.
.
.
Aulia menetralkan rasa geramnya menghembuskan napasnya perlahan-lahan lalu kemudian ikut duduk di depan kepala sekolah sedang Daffin dan Dafa duduk di sebelah kanan kakak perempuannya.
"Sebenarnya apa yang terjadi Pak?" tanya Aulia berusaha bersikap tenang. Menampilkan wajah datarnya.
Kepala sekolah yang bernama Bobi itu menarik napas kemudian menghembuskan pelan, matanya melirik ke arah Daffin dan Dafa lalu beralih pada gadis muda di depan matanya.
"Daffin dan Dafa melakukan tindakan kriminal, mereka berdua hampir membunuh teman sebayanya dan sekarang korban sudah di larikan ke rumah sakit... salah satunya adalah anak saya" jawab pak Bobi mendesah berat. Pasalnya ia hanya memiliki satu-satunya putra ia bingung harus bagaimana sedang sekolah yang ia tempati saat ini adalah milik keluarga Tuan Wijaya.
Aulia membulatkan bola matanya kemudian melirik ke arah kedua adiknya menatapnya tajam.
"Yah, saya tidak mau tahu pokoknya dua anak itu harus di keluarkan dari sekolah! dan memberikan kompensasi pada anak saya!!" seru seorang ibu paruh baya, yang adalah orang tua dari Adit.
"Saya sangat setuju, pokoknya mereka harus di keluarkan dari sekolah ini! bagaimana bisa sekolah populer memiliki siswa preman seperti mereka. Untung putriku Dinda tidak terjadi masalah pada otaknya!" seru perempuan paruh baya lagi.
"Kau benar jeng, anak-anak seperti mereka memang tidak memiliki didikan yang baik dari orang tua mereka, tidak pantas untuk bersekolah di sini" timpal ibunya Anggi mengompori ibu-ibu di sampingnya. Sedang kepala sekolah menatap terkejut, mereka tidak tahu bahwa mereka telah menyindir anak dari pemilik sekolah tempat anak mereka menimba ilmu.
Dafa mengepal tangannya kuat, menahan geram mendengar ungkapan mereka, andai jika Aulia tidak menghentikannya mungkin ia akan melawannya. Anak siapa coba yang tidak marah jika mendengar orang yang di cintai di jelek-jelekin. Tentunya tidak akan terima.
"Maaf ibu-ibu, saya mewakili kedua adik saya untuk meminta maaf... saya memberikan kompensasi pada anak ibu tapi saya harus tahu seberapa parah lukanya?" ujar Aulia tenang, menatap orang tua murid di sampingnya.
"Heh! kamu pikir saya kekurangan uang hah! asal kamu tahu suami saya adalah manager perusahaan terbesar di Indonesia dan saya tidak mau tahu adik kamu harus di keluarkan dari sekolah ini!!." Ibu Adit menggebrak meja menatap nyalang ke arah Aulia. Karena merasa di remehkan oleh gadis kecil.
"Kenapa kakak diam saja dan tidak melawan? aku tidak bisa mengendalikan amarahku. Jelas-jelas anak mereka yang berbuat rusuh!" ucap batin Dafa merasa geram.
"Saya mohon ampuni adik saya, saya akan berikan apapun untuk menebus kesalahan mereka... saya mohon Bu" jawab Aulia memohon menatap penuh harap pada ketiga perempuan paruh baya. Ketiganya saling melirik dengan tsenyum tipis, lalu mengangguk kecil.
"Jangan memohon kakak, jelas-jelas anak mereka yang salah! Dafa dan Daffin tidak salah kami hanya melindungi diri dari binatang buas saja" sahut Dafa menimpali. Sedang tiga orang tua wali murid menatap tajam pada Dafa, bahkan hendak memberikan pukulan pada putra Tuan Farhan tapi langsung di tahan oleh Aulia.
Gadis kecil itu menahannya kuat sampai terlihat tanda merah di pergelangan tangan ibu Dinda dan Adit membuat keduanya kesakitan.
"Tolong hentikan! bisakah kalian tenang sedikit! dan mari kita selesaikan masalah anak-anak dengan kepala dingin." Seru kepala sekolah tegas. Seketika mereka langsung berhenti lalu duduk kembali ke kursi masing-masing menatap datar wajah kepala sekolah.
"Semua gara-gara Daffin, jadi begini" batin Daffin menunduk sedih. Andai dia bisa mengontrol emosinya mungkin masalah hari ini tidak akan terjadi... dia adalah biang masalahnya!. Pikirny.
"Saya akan membayar kompensasi anak-anak kalian sebesar dua milyar" ucap Aulia setelah mengatur napasnya. Mata mereka terkejut mendengar nilai uang sebesar itu benar-benar membuat siapa saja meneteskan air liurnya.
"Semoga itu cukup... untuk memaafkan adik-adik saya" sambungnya lagi membuat mata menatap ke arah Aulia.
"I-itu le-lebih dari cukup, tenang saja kami sudah memaafkan mereka. Namanya juga anak kecil jadi sudah sewajarnya berbuat seperti itu" jawab ke tiga perempuan tersebut terdengar sedikit gemetar, lidah mereka seakan kaku mendengar nama jumlah uang yang tidak main-main.
"Astaga, mulut mereka tidak seharusnya benar. Sungguh memuakkan!" batin kepala sekolah. Dafa dan Daffin hanya menatap datar ketiga ibu-ibu di samping kakaknya, mereka hanya geleng-geleng kepala.
"Kak Lia terlalu baik memberikan mereka uang sebanyak itu" ketus Dafa dalam hati.
"Kak Lia adalah orang yang baik. Beruntungnya Daffin memiliki kakak sepertinya..." kali ini Daffin bersuara namun hanya dalam batin.
"Mana rekening kalian saya akan mentransfer uangnya sekarang!" titah Aulia mengeluarkan ponsel barunya yang ia beli saat di Meksiko.
"Oh ini, ini" seru ketiga ibu tersebut mereka dengan cepat memberikan nomor rekeningnya pada Aulia. Gadis itu dengan penuh sabar menerima nomor rekening dan langsung mentransfer uang ke rekening yang baru di mintanya tadi.
"Daddy harus menggantinya lima kali lipat" gumam Aulia merasa sedih pada uang yang di keluarkannya barusan, demi rencananya ia harus merelakan hal tersebut. Walaupun sedikit tidak rela.
TING
TING
TING
"Wah, wah. Rezeki nomplok nih" gumam ibu Anggi.
"Gadis kaya yang baik hati kini keberuntungan berpihak padaku" ujar bu Adit dalam hati.
"Apakah sudah masuk?" tanya Aulia sembari melirik ke tiga perempuan paruh baya di sampingnya. Terlihat mereka tersenyum lebar tidak seperti pertama dia masuk.
"Sudah, sudah... berarti masalah ini sudah selesai anggap saja tidak terjadi apa-apa" ucap ibunya Dinda
"Iya, kami akan menyuruh anak kami untuk minta maaf pada dua adik kamu"
"Gadis yang baik, kamu memang kakak yang pengertian dan penyayang" ibunya Anggi menimpali. Aulia tersenyum tipis mengangguk canggung. Gadis itu beralih pada kepala sekolah yang sudah berkeringat dingin. Entah kenapa ia merasakan hawa-hawa panas di ruangannya akan terjadi.
"Pak, bisakah bapak memperlihatkan CCTV di tempat perkara saya ingin melihatnya sebenarnya apa yang terjadi di sana?" Aulia bertanya dengan senyum tipis nyaris tak terlihat. Lalu melirik ke arah dua adiknya yang memiliki lebam di wajah. Hal itu membuatnya tidak terima.
"Lia akan membuat mereka membayarnya!" bisik Aulia dalam hati.
"Eh?" semua pandangan seketika tertuju pada Aulia, bahkan ketiga perempuan paruh baya itu terkejut dengan dahi berkerut merasa bingung apa yang akan gadis itu lakukan.
"A-anu i-itu..."
"Saya tahu bapak sudah melihatnya, tidak baik menonton sendiri alangkah bagusnya menonton ramai-ramai" potong Aulia menatap datar pak Bobi hal itu membuat nyali pria itu menciut seketika.
"Baik, i-ini saya sudah menyimpannya di sini" menyodorkan ponselnya di depan Aulia, di depan layar tertera video di sana tinggal menekan layar maka video itu akan berputar. Tersenyum tipis sembari melirik pada dua adiknya. Dafa dan Daffin hanya mengernyitkan alisnya heran.
"Terima kasih pak, hmmm... lebih baik ibu-ibu ikut nonton juga" Aulia langsung memutar rekaman CCTV tersebut dan memperlihatkan adegan setiap adegan. Mata mereka membulat sempurna ternyata anak merekalah yang membuat masalah duluan.
Kristal bening itu mengalir dari dahi mereka tersenyum canggung karena sudah di permalukan.
"Sialan!" umpat batin ketiga ibu paruh baya.
"Wah, ternyata kejadian yang sebenarnya seperti itu yah" ujar Aulia menyindir ibu-ibu di sampingnya. Ia lalu memberikan ponsel milik pak Bobi.
"Saya akan membayar tagihan rumah sakit pak, jadi tidak perlu khawatir" tutur Aulia.
"Tidak! ti-tidak perlu Nona" gagap pak Bobi. Aulia terkekeh kecil.
"Tidak! saya tetap membayarnya, anak bapak terluka karena adik saya jadi sebagai kakak yang baik saya akan menanggung resikonya." Jawab Aulia tersenyum tipis. "Di dalam kartu ini mungkin tidak seberapa isinya, saya harap bapak menerimanya... tapi sebelum itu anak-anak kalian harus di keluarkan dari sekolah ini!" jelas Aulia membuat mata melotot ke arahnya.
"Apa! tidak bisa! enak saja kamu mengusir anak saya punya hak apa kamu?!" teriak Bu Anggi dan Bu Dinda.
"Jangan karena kamu menyogok kami jadi kamu bisa seenak jidat!" seru ibunya Adit. Sedang pak Bobi sudah frustasi.
"Sudah ku duga akan jadi seperti ini" batin pak Bobi.
"Aku sudah mengirim rekaman videonya ke ponselku, jadi tinggal aku berikan kepada pihak berwajib dan menyertakan bukti sejumlah uang hasil nego kita maka semuanya selesai..." Aulia terkekeh jenaka melihat wajah-wajah kasihan di depannya. Sedangkan Dafa tersenyum simpul ia mengerti sekarang cara bermain pintar yang sebenarnya.
"Brengsek! aku bunuh kamu!" teriak bu Anggi yang hendak mencakar wajah Aulia namun tiba-tiba ada tangan kekar menghentikannya.
"Siapa kamu berani melukai orangku!"
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung