The Love Story Princess And Prince Mafia

The Love Story Princess And Prince Mafia
Bab 116 Kedatangan Ayu Dan Reyhan



Happy reading 🤗


.


.


.


.


.


.


.


.


Dua saudara yang sudah lama tidak bertemu itu akhirnya kini bisa bersatu kembali, sudah beberapa tahun berpisah dan sudah banyak perubahan yang berubah dari diri keduanya. Seorang adik yang semakin Istiqomah di jalan Allah dan seorang kakak yang belum mendapatkan hidayah dari Allah namun ada sepintas cahaya menembus kalbu saat tatapan Jons melihat perubahan drastis dari adiknya membuat sedikit hatinya yang mati itu bergetar mengingat Tuhan yang sudah lama jauh.


Merasa tentram saat melihat keelokan paras adiknya yang menggunakan pakaian muslimah.


Jons kemudian membawa dua ponakannya ke ruang keluarga terlihat beberapa pria berkumpul di sana. Mendengar suara langkah kaki membuat atensi para pria yang sedang bercengkrama mengalihkan pandangan ke arah Jons dan dua ponakannya.


"Jons, siapa dua anak cantik dan tampan itu?" tanya Tuan Wijaya terpukau saat melihat dua bocah yang masih berumur 8 dan 9 tahun itu. Tersenyum tipis lalu kemudian mendekati mereka.


"Mereka adalah ponakan aku Pa, anaknya Ayu" jawabnya singkat. "Sayang salam pada Kakek dan Paman!" titah Jons lembut membuat kedua bocah beda gender itu mengangguk patuh.


"Assalamualaikum Kakek, Paman" salamnya dan kemudian mencium satu persatu punggung tangan orang-orang di sana. Semua terpukau akan kesopanan dua bocah kecil yang sangat asing di mata mereka. Tak berselang lama datang beberapa orang dewasa dan dua anak kecil lainnya.


Tuan Wijaya, Alex, Tio dan Richo memandang dalam wajah perempuan yang mengenakan jilbab syar'i, merasa bahwa perempuan tersebut tidak asing di mata mereka.


Tuan Wijaya kemudian menatap Jons lalu melirik ke arah Ayu, si pembunuh bayaran itu mengangguk kepalanya pelan.


"Dia adalah Ayu Pa, adik aku" ujar Jons tersenyum tipis.


"Assalamualaikum Pa" salam Ayu lembut. Seakan kaku mereka kemudian menjawab salam.


"Waalaikum salam" Ayu dan Reyhan kemudian menyalami mereka yang sedang duduk di sofa.


"Apa kabar nak? kenapa tidak pernah kasih kabar? hampir puluhan tahun dan kamu baru mengunjungi kami di sini" ujar Tuan Wijaya dan Ayu hanya tersenyum tipis.


"Maaf Pa, mas Reyhan sangat sibuk jadi belum bisa mengunjungi papa dan mama" jawab Ayu lembut. Alex, Tio dan Richo kemudian berdiri dari sofa, mempersilahkan tamu bossnya untuk duduk. Bersamaan itu rombongan wanita muda dan tua berjalan masuk, sejenak merasa heran dengan apa yang mereka lihat. Wanita dengan tudung besar menutupi kepalanya sampai pada pinggang yang sedang membelakangi mereka, lalu kemudian dua anak laki-laki dan perempuan yang sangat asing bagi mereka.


Jons melihat kedatangan ibu mertuanya juga anak dan sahabatnya segera menghampirinya.


"Siapa mereka sayang?" tanya Nyonya Mita. Mendengar seseorang bertanya Ayu pun berbalik dan menatap ke arah rombongan wanita.


"Bunda Ayu!" seru Aulia dengan mata berbinar. Aulia yang tahu wajah Ayu segera berlari menghampiri wanita dengan tudung besarnya. Ayu pun merespon dengan baik gadis cantik yang berlari ke arahnya. Aulia memeluk erat tubuh tantenya itu sekalipun tidak pernah bertemu dan hanya melihat fotonya saja namun membuat gadis cantik itu merindukan tantenya.


"Masya Allah ponakan bibi ternyata sebesar ini..., masya Allah cantik sekali mirip Mommy Jons" tutur Ayu lembut.


"Bunda Ayu gak adil, masa di pernikahan abang Hamas bunda Ayu datang sedangkan di pernikahan Lia kemarin tidak datang" ketus Aulia dengan bibir mengerucut membuat semua di sana terkekeh kecil.


"Maaf sayang, dulu bunda masih sibuk dan paman juga masih kerja jadi belum sempat datang" jawab Ayu mengelus lembut rambut Aulia. Aulia kemudian menatap dua bocah berumur 8 dan 9 tahun itu.


"Mereka anak bunda Ayu?" tanya Aulia menatap kedua bocah kecil.


"Iya sayang" jawab Ayu singkat. Aulia kemudian menghampiri kedua sepupunya. Sedangkan Ayu berjalan menghampiri Nyonya Mita dan yang lainnya.


"Ma, apa kabar? Ayu sangat-sangat merindukan mama" Ayu memeluk tubuh yang mulai rapuh itu.


"Baik sayang, mama juga merindukan kamu..., gimana kabar kalian?" tanya Nyonya Mita membalas pelukan Ayu yang sudah di anggapnya sebagai putrinya sendiri.


"Alhamdulillah kabar kami sehat ma," tutur Ayu kemudian melepas pelukannya. Ayu lalu beralih kepada Amanda.


"Baik sayang, kamu makin cantik saja semakin bercahaya" gurau Amanda dan Ayu hanya tersenyum tipis. Ayu yang melihat ada anggota baru menatap Amanda, Amanda pun tahu maksud Ayu, ia pun menjawab.


"Mereka dari Belanda dia adalah calon istri Hamas sedang yang itu adalah calon ibu mertua Hamas" Ayu mengangguk mengerti kakinya melangkah menghampiri kedua wanita beda usia itu dan menyapanya.


"Hai, namaku Ayu senang bertemu dengan kalian" Ayu mengulurkan tangannya dan dengan senang hati Shireen juga ibunya membalas jabatan tangan wanita bertudung itu.


"Saya Shireen tante, ini ibu saya..., senang berkenalan dengan tante juga"


Karena sofa di ruang keluarga tidak cukup, mereka kemudian menggunakan karpet besar untuk mereka duduk lesehan, Nyonya Mita menyuruh anggotanya yang bagian chef untuk menyajikan kopi sevel dan beberapa hidangan dessert.


Mereka semua duduk lesehan, membentuk bundaran, Dafa dan Daffin duduk di samping kedua sepupunya mereka bercerita dan terkekeh kecil.


"Ais, Ryan. apa kalian punya banyak teman di sana?" tanya Daffin menatap kedua sepupunya.


"Sangat banyak kak, dan mereka sangat baik" jawab Ryan apa adanya.


"Kalian bisa main PS?" kali ini Dafa ikut bertanya. Kedua sepupunya menatap dengan bingung terlihat sedikit kerutan di dahinya menandakan bahwa mereka tidak mengerti.


"PS itu adalah kependekan dari PlayStation adalah konsol game yang di kenal secara luas menggunakan CD sebagai media penyimpanan... hmmm, aku jelaskan panjang lebar pun kalian tidak akan mengerti. Ngomong-ngomong apa kalian punya kakak?" tanya Daffin menatap kedua sepupunya.


"Punya, kakak kami sedang sekolah di luar negeri" kali ini adik perempuan Ryan yang menjawab, gadis kecil itu bernama Aisyah.


"Hmmm..., kenapa tidak sekolah di Indonesia saja? sekolah-sekolah di sini juga tidak kalah bagus daripada di luar negeri" komentar Daffa.


"Hmmm..., aku juga tidak tahu" sahut Ryan dengan lugunya.


Tak lama kemudian datang beberapa pria dengan nampan di tangannya yang berisi gelas kosong sedang pria satunya membawa teko besar berisi kopi sevel dan beberapa jenis kue.


Mereka kemudian meletakkan gelas, teko juga kue di atas karpet, setelah selesai mereka berlalu dari sana. Sedangkan para wanita menyiapkan kopi juga kue kepada para pria untuk di santap.


"Farhan papa ingin bicara" Tuan Wijaya membuka percakapan. Tuan Farhan kemudian menatap papanya dengan wajah datarnya.


"Tadi papa meminang Karla untuk Richo dan Tuan Zeus sudah setuju. Papa ingin pernikahan Richo dan Karla berbarengan dengan pernikahan Hamas..., bagaimana menurut kamu?" tanya Tuan Wijaya kepada putra satu-satunya itu.


"Karla, Richo Shireen. Apa kalian setuju jika pernikahan kalian berbarengan?" Tuan Farhan bertanya pada ketiga anak muda di depannya. Mereka yang di tanya saling bersitatap.


"Kalau Shireen tidak masalah, itu terdengar bagus" jawab Shireen.


"Hmmm, saya ikut saja" sahut Karla dan Tuan Farhan mengangguk mengerti.


"Ya sudah saya akan memesan beberapa baju pengantin buat kalian berdua" kata Tuan Farhan dengan wajah datar. Raja Iblis kemudian mengambil ponselnya yang berada di atas karpet dekat kakinya, mengotak-atik layar ponselnya.


"Aku sudah memesan 20 baju pengantin pria dan wanita, sebentar lagi pesanan akan datang dan kalian segera mencobanya, karena pernikahan kalian akan di langsungkan besok pagi" tutur Tuan Farhan membuat semua di sana mengangguk. Tidak heran lagi jika Tuan Farhan turun tangan semua akan terasa mudah dan cepat. Pria terkaya nomor satu seduni itu hanya menatap datar semua yang ada di sana membuat dua D mencebikkan bibirnya kesal.


"Daddy sangat keren tapi sangat narsis juga" batin dua D.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung