
Happy reading 🤗
Like dan Votenya dong ❤️❤️❤️
.
.
.
.
.
.
.
.
Sudah empat jam mereka melakukan olahraga di atas ranjang bahkan sampai bermacam-macam gaya yang sudah mereka lakukan, Tio sudah tidak berdaya akibat buasnya Aulia. Bahkan gadis itu masih saja bertempur di atas tubuh Tio yang sudah berkeringat akibat kelelahan yang berlebihan.
"Astaga, dia bahkan tidak merasakan lelah. Apakah istriku ini manusia atau robot? aku baru mengetahui sisi lainnya... sangat buas" batin Tio yang benar-benar tidak memiliki tenaga lagi. Ia sudah terkapar di bawah Kungkungan Aulia, ia seperti seorang korban yang di paksa oleh gigolo yang sedang kehausan sentuhan.
"Lia berhenti, Uncle sudah tidak kuat lagi" ujar Tio pelan namun gadis itu tidak menggubrisnya bahkan Aulia malah memberikan stempel kepemilikannya di leher, dada, sampai perut sixpac suaminya.
"Uncle tidur saja biar Lia yang bermain oke" bisiknya sensual di telinga Tio bahkan meniup-niup pelan membuat Tio kembali terangsang namun ia sudah tidak kuat lagi. Dengan sekuat tenaga Tio menangkap tangan Aulia yang berada di atas adiknya yang sudah berdiri tegak.
Tio kemudian membalikkan tubuh Aulia menjadi di bawahnya gadis itu meronta-ronta. Tio buru-buru turun dari ranjang yang berantakan mengambil sehelai baju pengantin Aulia di atas lantai dan mengikat kedua tangan Aulia, setelah itu mengambil handuknya mengikat kaki Aulia agar tidak menyerangnya lagi.
Ia baru bisa bernapas lega saat Aulia sudah tidak bisa menggapainya namun ada rasa kasihan karena Aulia masih belum puas. "Astaga kekuatan betina ini sangat buas aku bahkan bukan lawannya... sepertinya aku harus minum obat kuat sebelum melakukannya. Bikin malu saja sebagai laki." Batin Tio malu.
Tidak tahu saja jika Aulia seperti itu karena minuman yang di campur obat kuat hingga mengubahnya menjadi betina buas. "U-uncle, Lia mau lagi. Lia belum puas huhuhu" tuturnya menangis. Karena gemas Tio mengigit kuat payudara kenyal milik Aulia hingga menyisakan tanda gigit di bagian tengah ***********.
"Ah, Uncle faster!" seru Aulia dengan tatapan memohon membuat Tio melebarkan bola matanya.
"Dia pasti sudah memakan sesuatu sampai dia segila ini" Tio bergumam lalu menggendong tubuh Aulia ke kamar mandi. Sepertinya ia akan memandikan istrinya dengan air dingin agar otaknya kembali jernih.
Sampai di kamar mandi Tio menurunkan Aulia di dalam bathtub menjalankan keran air dingin membuat gadis itu terpekik kaget. "Uncle! Lia tidak mau mandi Lia dingin Uncle!" serunya namun tak di gubris oleh Tio. Masih dengan tangan dan kaki terikat Aulia berendam di air dingin, membuatnya menggigil.
Sedangkan Tio mandi di bilik satunya yang hanya menyisakan kaca transparan, ia berdiri di bawah guyuran shower. Tangannya bersandar di dinding sesekali meraup wajah dan rambutnya dari air yang bercucuran.
"Uncle!!" teriak Aulia kencang membuat Tio segera mematikan showernya lalu berlari ke arah Aulia. "Buka Uncle!" tatapan tajam menghunus ke arah Tio membuat Tio segera membuka ikatan di tangan Aulia juga di kakinya.
"Sepertinya kamu sudah sadar yah" ujar Tio lalu ikut masuk ke dalam ia duduk di samping Aulia memeluknya dari samping. Mata Aulia membulat sempurna kala merasakan tubuh mereka sudah polos tanpa sehelai benang pun membuatnya terpekik kaget.
"Uncle!! apa yang sudah Uncle lakukan pada Lia haah!!" Tio segera menutup telinganya karena mendengar teriakkan cempreng istrinya.
"Pikir saja sendiri!" ketus Tio menutup matanya, ia merasakan tubuhnya menghangat juga wajahnya menjadi panas namun ia tidak memperdulikannya. Ia benar-benar lelah ia hanya ingin tidur sebentar karena terlalu membuang tenaga yang cukup besar.
Aulia menutup mulutnya kala gambaran dirinya yang begitu hots di ranjang membuatnya sangat malu ia seperti tidak punya muka lagi hanya untuk berhadapan atau menyapa Tio pria yang sudah sah menjadi suaminya.
"Tidak mungkin! Lia mana mungkin melakukan hal segila itu!" gumam Aulia pelan. Melirik ke arah pria di sampingnya matanya semakin membulat sempurna kala melihat seluruh tubuh Tio tercipta hasil karyanya yang berwarna merah kebiru-biruan.
"Gila! apa Lia segila itu? Lia bahkan baru pertama kali melakukannya dan Lia begitu ganas... apa yang sebenarnya terjadi pada Lia?" batin gadis itu.
"Uncle, Uncle Lia mau keluar tapi Uncle harus keluar dulu" ujar Aulia pelan tanpa melihat, memalingkan wajahnya menghindari tatapan Tio, sungguh ia masih sangat malu. Tio terbangun dan tanpa banyak bicara pria itu segera berdiri dan melenggang pergi dari sana.
"Syukurlah Uncle tidak melihat ke sini" Aulia bernapas lega ia buru-buru keluar dari dalam bathtub namun sialnya di dalam tidak ada handuk yang bisa menutupi tubuhnya yang polos juga stempel cantik di tubuhnya.
"Aww, perih sekali" pekik Aulia merasa bagian organ intimnya terasa ngilu dan perih. Benar-benar sakit ia bahkan sangat sulit untuk berjalan. Melihat ke arah vaginanya yang sudah sangat bengkak. "Astaga! apa ini?" pekiknya pelan sembari melihat bagian itunya bengkak berwarna kemerah-merahan.
"Apakah ini karena keganasan Lia juga sampai bengkak begini?." Tanyanya polos. Sepuluh menit berlalu Aulia membuka pelan pintu kamar mandi, menyembulkan kepalanya keluar melihat ke segala penjuru kamar, tepat di atas ranjang ia melihat Tio sudah berbaring di bawah selimut halus. Rupanya Tio langsung tidur.
Dengan jalan mengendap-endap Aulia keluar berlari pelan ke arah walk in closed yang berada di sebelah bilik kamar mandi. Bernapas lega kala Tio masih asyik dengan dunia mimpinya. Hari sudah gelap waktu menginjak pukul 7 malam, Aulia mengambil piyama panjangnya.
Berjalan pelan menuju lift, rasanya bagian intimnya sangat perih itulah kenapa ia berjalan sangat pelan bahkan lebih pelan dari kepompong. Hingga tiba saatnya dia di lantai dasar tidak ada orang di sana semua tampak hening.
"Sepi sekali" gumamnya pelan. Ia lalu berjalan menuju dapur membuka kulkas melihat sesuatu yang dapat di makan. Ada kue pernikahan juga buah-buahan di sana, di ambilnya kue di piring lalu setelah itu buah apel merah dan hijau.
Aulia berjalan sesekali meringis menuju meja makan, duduk di sana dan segera menyantap kuenya yang terdapat tiga potongan di dalam piring kaca. Setelah itu mengigit buah apel begitu saja.
Karena tidak ada makanan besar ia hanya makan apa adanya, setelah selesai Aulia berjalan keluar mencari udara segar. Tampak hari semakin gelap, membuka pintu Mansion. Matanya menangkap empat sosok yang dikenalnya yang sedang berdiri membelakangi Aulia.
"A-abang!" Empat pria itu menoleh dengan cengiran jenaka menatap Aulia serta benda berbentuk persegi di tangan masing-masing. "Masuk dulu kenapa berdiri di luar!" Mereka lalu masuk ke dalam Mansion, Aulia membawa mereka ke ruang tamu berusaha untuk berjalan biasa saja karena tidak ingin ada yang menanyakan soal rasa sakit di bagian vaginanya.
"Kenapa baru sekarang datang hmmm...?" tanya Aulia jutek dirinya menjatuhkan bokongnya di sofa single sedang empat pria itu duduk di sofa panjang.
"Kamu kan tidak memberikan undangan ataupun kabar!" ketus Hara membuat Aulia tersadar jika ponsel miliknya masih di sita oleh sang Daddy.
"Heheh, Lia lupa kalau ponsel Lia di sita sama Daddy" cengirnya menggaruk dagunya. Membuat ke empat pria itu hanya menghela napas kasar.
"Ini adalah hadiah yang tidak terlalu mewah namun ini berasal dari lubuk hati kami yang dalam" Gilang menyerahkan kado berwarna pink ukuran sedang di ikuti yang lainnya.
"Mungkin nilainya tidak seberapa tapi khasiatnya mampu merobohkan pertahanan pria" jelas Andre ambigu membuat Aulia hanya menaikkan alisnya.
"Iya, hadiah kami itu walaupun harganya murah tapi kualitasnya harga mati" seru Yogi membuat Gilang dan Hara menutup mulutnya agar tidak terbahak. Bagaimana tampang Aulia jika melihat isinya, astaga mengingatnya saja membuat Hara dan Gilang ingin sekali meledak tawa.
"Lia penasaran, Lia buka sekarang" Yogi dan Andre mengangguk polos mereka sudah sangat yakin jika Aulia pasti akan berterima kasih sebesar-besarnya karena sudah memberikan hadiah yang sangat di sukai wanita.
Mata Aulia membola sempurna ia seketika berteriak dengan suara kencang. "Abangggg!!!" Ke empat anak Lowkey Pro langsung menutup telinganya kala suara Guntur menggema.
Aulia menutup mulutnya, bagaimana tidak hadiah yang diberikan sahabat prianya adalah pembalut malam dan siang berjumlah dua bungkus, underwear dan BH jaring-jaring, itu sama saja tidak memakai apapun, juga lingerie hitam dan merah yang bahkan sangat tipis membuat Aulia menatap tajam ke arah pria-pria itu.
"I-ini benar hadiah kalian? kenapa tidak ada yang waras" tanya Aulia.
"Bukankah seharusnya pengantin wanita bahagia memiliki barang seperti itu? itu sangat cocok untuk di pakai pada malam pertama" celetuk Gilang.
"Abang! Lia tidak akan mungkin memakai benda yang seperti jaring ikan! memalukan!"
"Itu wajib Lia, itu adalah tradisi pengantin baru kalau tidak di pakai katanya suami kamu akan di embat oleh kuntilanak... konon kabarnya sih ada yang terjadi" jelas Andre membuat semua di sana menatap ke arah pria itu.
"Benarkah?" Andre mengangguk mengiyakan. Dengan polosnya Aulia percaya ia kemudian mengumpulkan hadiah yang di beri oleh sahabatnya. "Kalau begitu Lia akan memakainya segera, kalian pulanglah takutnya kuntilanak akan mengambil suami Lia!" Aulia segera berjalan cepat meninggalkan mereka yang sedang menatap Aulia heran.
"Eh, kok Aulia percaya aja sih" gumam Andre pelan.
"Berarti yang kamu bilang tidak benar?" tanya Hara dan mendapat gelengan dari Andre.
"Itu hanya karanganku saja... apa kalian mempercayainya juga?"
PLAK
Andre mendapat pukulan di punggungnya dari Gilang, karena gemas akan tingkah sahabatnya.
"Ayo kita pulang!"
.
.
.
.
.
.
Bersambung