The Love Story Princess And Prince Mafia

The Love Story Princess And Prince Mafia
Bab 75 Coffy Cafe



Happy reading 🤗


Like dan vote yah Kaka 🙏🤗❤️🌹🌹


.


.


.


.


.


.


Hamas buru-buru menaiki mobil Bugatti Chiron yang baru di ganti warnanya menjadi biru pekat. Mengendarai mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata menuju lokasi yang sudah di kirimkan oleh Shireen, entah apa yang akan di katakan oleh wanita cantik itu pada Hamas. Namun yang pasti jantung putra tertua raja Iblis sedang tidak baik-baik saja.


Menyentuh dadanya yang sedang bergemuruh hebat saat membayangkan melihat wajah wanita yang sangat ia dambakan. "Astaga, aku seperti pria gila saja kenapa aku senyum-senyum sendiri." Hamas menggeleng kepalanya pelan merasa konyol akan tingkahnya yang kekanakan.


Tepat pukul 11 siang mobil Buggati yang di tumpangi Hamas berhenti di depan Coffy Cafe dengan segera Hamas turun dari mobilnya namun sebelum itu ia bercermin di depan kaca spion. Merapikan rambutnya menjadi belah samping. Setelah di rasa cukup pria yang tengah di landa asmara itupun keluar dari mobil.


Menarik napas panjang lalu menghembuskan perlahan-lahan kaki jenjangnya menapaki tiga anak tangga hingga sampai dirinya di depan Cafe, segera pria itu masuk ke dalam. Seorang wanita cantik dengan dress batas lututnya melambaikan tangan ke arah Hamas.


Pria itu tersenyum tipis lalu berjalan ke arah Shireen. "Kamu sudah menunggu lama? maaf..." ucap Hamas saat dirinya sudah menjatuhkan bokongnya di atas kursi kayu. Shireen tersenyum lebar.


"Tidak, kau datang satu menit terakhir dari yang kau janjikan. Hmmm... terima kasih sudah menyempatkan untuk hadir, a-aku ingin mengatakan sesuatu padamu" wanita itu menggenggam jemari tangannya erat dengan wajah memerah menunduk ke bawah, tidak berani melihat wajah Hamas.


"Katakan saja aku akan mendengarkannya" jawab Hamas dengan senyum coolnya, sebisa mungkin pria itu menetralkan jantungnya yang berdegup kencang agar tidak ketahuan bahwa dirinya juga sangat gugup.


"Emmm, Hamas kau menyukai tipe wanita yang seperti apa...?" tanya Shireen mengigit bibirnya merasa malu. Melirik ke sembarang arah tanpa melihat wajah Hamas takut jika pria di depannya akan menertawakannya.


"Malu banget tahu gak!" pekik Shireen dalam hati, ingin sekali gadis itu melompat ke dasar laut agar tak menampakan wajahnya karena berani bertanya sesuatu yang privasi, sekalipun sebagian para remaja Amerika suka berterus terang namun tidak untuk gadis satu ini, ia sungguh benar-benar malu.


"Hahaha, apa kau sedang ingin mendaftar menjadi kekasihku hmmm...?" Hamas berujar sembari terkekeh jenaka menatap wajah malu-malu wanita di depannya, sungguh ia tak menyangka jika Shireen juga mencintainya.


"Hamas! jangan meledekku aku malu tahu" tukas Shireen menutup wajahnya sedang Hamas semakin terbahak melihat wanita itu malu-malu dan itu sangat terlihat imut di wajahnya.


"Aku menyukaimu Shireen, apakah kau mau menjadi kekasihku" perkataan Hamas membuat Shireen seketika menurunkan kedua tangannya dari wajahnya menatap tak percaya atas apa yang ia dengar barusan. Membulatkan bola matanya di hadapan Hamas.


"Ayo pacaran! aku sangat senang, ternyata kau juga menyukaiku dan kau tahu jantungku berdegup kencang saat ini" Hamas meraih tangan Shireen meletakkan di dadanya dan benar saja ia dapat merasakan guncangan hebat di dada Hamas. Tidak menyangka jika pria yang sedang memegang tangannya juga menyukainya.


"K-kau serius Hamas? kau tidak sedang mengerjaiku kan?." Shireen bertanya memastikan dan ia langsung mendapat anggukan jawaban dari Hamas membuat wanita muda itu tersenyum lebar.


"Terima kasih kau tidak menolakku... aku sangat bahagia, karena hari ini kita sudah resmi menjadi pasangan kekasih. Hmmm, bagaimana jika kita langsung merayakannya di sini?" pekik Shireen dengan wajah berseri-seri. Hamas mengangguk mengiyakan.


"Baiklah, aku akan memesan dessert" tutur Shireen lalu memanggil waiters dan waiters tersebut segera datang.


"Saya pesan Tiramisu coklat dan kue Pavlova serta coffee americano satu... sayang kamu mau pesan minuman apa?" tanya Shireen membuat Hamas tersenyum simpul.


"Di samain saja" jawab Hamas.


"Mohon tunggu sebentar kami akan membuatnya untuk kalian, kebetulan karena hari ini adalah hari spesial untuk Cafe kami, maka kami akan memberikan kue cinta gratis untuk kalian berdua... semoga hubungan kalian selalu bahagia" ujar sang waiters membuat Shireen dan Hamas tersenyum mengucapkan terima kasih.


"Apakah hubungan kita begitu terlihat? sampai waiters pun dapat mengetahuinya" ucap Shireen menaikkan sebelah alisnya tinggi sedangkan Hamas terus melihat wajah manis wanitanya. Bersamaan dengan itu sepasang wanita dan pria masuk ke Cafe, mereka memilih meja yang bersebalahan dengan Hamas karena hanya meja itu yang tersisa.


Mereka adalah Alexa. Di mana Alexa duduk sejajar dengan kursi Hamas sedangkan Ronald duduk di samping kanan Alexa. Waiters menghampiri kedua pengunjung yang baru datang.


"Selamat datang di Cafe kami, Tuan dan Nona ingin pesan apa?" tanya waiters sopan tersenyum tipis pada kedua pelanggan yang baru masuk.


"Kamu mau pesan apa sayang?" tanya Ronald dengan senyum manisnya membuat Alexa hanya memutar bola matanya malas, menghembuskan napas panjang kemudian menjawab.


"Pesto Chicken Sandwich, Tuna Melt Sandwich, and Hot Chocolate" jawab Alexa.


"Hmmm, saya Butter Sugar Crepes, Crepe Egg + Chesee and Latte" Ronald menjawab sedang waiters menulisnya di buku kecil.


"Baik, tunggu sebentar kami akan menyiapkan pesanan Tuan dan Nona secepatnya." Alexa dan Ronald mengangguk pelan. Waiters kemudian berjalan menuju dapur Cafe untuk membawa catatan pesanan pelanggan.


"Sayang kita akan segera lulus, apakah kamu sudah mempunyai rencana akan masuk ke universitas mana?" Ronald menjatuhkan sikunya di atas meja lalu kepalan tangannya ia sandarkan di pipinya menatap lembut wanita di sampingnya.


Alexa hanya diam tidak menjawab. Pria itu lalu mencium pipi Alexa membuat gadis remaja itu mendelik jengkel. "Bisakah kau menjaga sikapmu! kau sangat kekanakan!" ketus Alexa dengan tatapan tajam namun tak membuat Ronald sakit hati.


"Hahah, aku sangat suka melihat wajah jutekmu, itu terlihat sangat imut di mataku" mendengar jawaban dari pria gila di sampingnya membuat Alexa hanya bisa menutup wajahnya pusing.


"Kau pria gila yang baru aku temui selama hidupku"


"Bukankah itu berarti kau mudah untuk mengingatku" balas Ronald membuat Alexa ingin sekali berteriak. Hingga tiba-tiba Alexa melirik ke sebelah kirinya dan matanya seketika membulat sempurna. Melihat pria yang sangat ia cintai sedang duduk mesra bersama seorang wanita.


"Hey! kamu kenapa?" tanya Ronald melihat raut wajah suram Alexa. Gadis itu melirik ke arah pria di sampingnya.


"Tidak apa-apa, aku hanya merasa ingin poop heheh... aku ke toilet sebentar" Ronald terkekeh mendengar jawaban apa adanya dari gadisnya itu.


"Apa perlu aku mengantarmu?" Alexa menggeleng sebagai jawaban, gadis dengan tampilan casualnya tomboy berjalan cepat menuju toilet yang berada di belakang Cafe. Gadis itu berjalan sembari memegang dadanya yang terasa nyeri.


"Aaakkh, sakit! sakit sekali hiks, hiks." Teriak Alexa dalam hati. Merasakan rasa sesak juga denyut yang tak biasa ia rasakan. "Akkh, sakit! aku tidak kuat!" serunya pelan. Hingga sampai dirinya di dalam toilet dengan cepat ia menguncinya menyandarkan punggungnya di sandaran pintu sembari mengatur napasnya yang tersengal-sengal.


"A-aku sudah tidak kuat lagi... abang Hamas! abang tolong Lexa!" bisiknya pelan. Tangannya terulur mengambil benda yang ia simpan di dalam saku celana jeans-nya.


Pisau lipat itu ia buka cepat lalu menarik lengan bajunya dan mulai melukai tubuhnya dengan pisau lipat di tangannya. "Aaakkh, sakit sekali" lirihnya saat ia mulai menggores pisau di lengannya. Darah itu keluar bercucuran mengotori lantai putih.


SREEET


SREEET


SREEET


"Ke-kenapa dadaku tidak kunjung baik, a-aku bahkan sudah membuat beberapa luka kenapa tidak sembuh juga?" monolog Alexa. Wajahnya sudah pucat pasih dan gadis psikopat itu masih melukai tangan kiri dan kanannya Luka yang belum sembuh itu kembali ia lukai karena sakit yang di rasa belum kunjung pulih.


"Abang, kenapa? kenapa kau tidak memilih aku? kenapa abang?!" katanya dengan tatapan sendu terduduk lesu di lantai toilet dengan darah yang semakin keluar deras.


Sedangkan di luar, Ronald sesekali melirik jam tangannya khawatir jika terjadi sesuatu pada Alexa yang belum kunjung kembali. "Tidak mungkin dia kabur kan?" Ronald yang penasaran segera beranjak menuju ke belakang hingga tiba di toilet wanita, Ronald melirik ke seluruh penjuru.


"Eh maaf apakah kamu melihat seorang gadis dengan tampilan tomboy? yang tingginya kira-kira segini?" Tangan Ronald mengarah ke lehernya saat menjelaskan tinggi Alexa.


"Maaf, saya tidak melihatnya tapi di ruangan itu orangnya belum keluar-keluar mungkin yang kakak cari masih berada di dalam" jelas wanita tersebut menunjuk ruang toilet. Ronald mengangguk mengucap terima kasih dan segera ke dalam.


"Alexa! Alexa apa kamu di dalam? jawab aku Alexa!." Seru Ronald namun tak kunjung mendapat jawaban membuatnya sedikit takut.


"Lexa buka pintunya! apa kamu di dalam?" teriaknya lagi mengedor pintu kencang hingga membuat sebagian orang berdatangan.


"Tidak bisa aku harus mendobraknya segera" Ronald sudah bersiap-siap berjalan mundur ke belakang, menghitung satu sampai tiga dan...


BRAAAAK


"Alexa!!" Tubuh Alexa sedikit terpental dengan keadaan yang tidak bisa di jelaskan, dengan gemetar Ronald menggendongnya membawanya keluar. Orang-orang segera melihat apa yang terjadi. Mata Ronald memerah menahan takut.


"Apa yang terjadi dengan wanita itu?"


"Apakah dia sudah gila sampai melukai dirinya sendiri?"


"Benar-benar tidak habis pikir"


Bisik orang-orang di dalam Cafe, Ronald kemudian meminta bodyguardnya untuk membayar pesanan yang belum ia makan sedangkan dia segera membawa Alexa ke mobil untuk menuju rumah sakit.


"Apa yang terjadi denganmu Alexa?" batin Ronald.


"Siapa wanita itu sayang? kasihan sekali dia di temukan dengan kondisi yang sudah berdarah sepertinya dia melukai dirinya sendiri." Kebetulan Shireen yang ingin ke toilet melihat kejadian itu, Hamas yang mendengarnya seketika mengingat Alexa.


"Tidak mungkin itu Alexa. Alexa pasti baik-baik saja mungkin dia sudah di apartemen sekarang" bisiknya dalam hati.


"Biarkan saja, itu bukan urusan kita... sekarang kita nikmati lagi makanan lezat ini" jawab Hamas tersenyum tipis. Dan Shireen mengangguk.


Tidak tahu saja jika gadis yang telah di bawah ke rumah sakit adalah Alexa apa yang akan terjadi jika Hamas mendengar berita buruk itu.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung