
Happy reading 🤗
Like dan Giftnya kakak 🙂🙂🙂
.
.
.
.
.
.
.
Di perusahaan besar yang menjulang tinggi ditatapnya bangunan megah itu yang menampung jutaan manusia memberikan lapangan pekerjaan kepada mereka yang mempunyai ilmu di bidang masing-masing. Menarik sudut bibirnya tersenyum tipis saat melihat jutaan anak muda, tua bekerja keras untuk melangsungkan kehidupan sehari-hari melihat itu membuatnya ingin bekerja dan menjadi pria yang dapat diandalkan oleh istri.
"Aku ingin merasakan ketika aku bekerja dan pulang istriku menyambutku dengan sangat ramah, tersenyum kearahku lalu bertanya tentang pekerjaan, aku akan bercerita dengan istriku... ah aku ingin cepat-cepat bekerja" batin pria tersebut kegirangan.
Setelah memandang cukup lama dan merasa sangat puas, pria itu melangkahkan kaki jenjangnya berjalan di atas aspal menuju sebuah bangunan tinggi di depannya. Hingga sampai ia ke loby kantor melempar senyum kepada penjaga di depan perusahaan.
"Selamat siang, orang baru yah?" tanya pak penjaga dengan nada ramahnya.
"Siang juga pak, saya tidak bekerja pak hanya ingin bertemu saudara di sini... saya permisi dulu pak" jawabnya dan mendapat anggukan pelan dari pak security. Pria itu kembali melanjutkan langkahnya lalu berhenti di depan meja resepsionis. Mata dua orang wanita itu melebar dengan tubuh kaku tak berkutik.
Wajah maskulin dengan bulu-bulu halus tumbuh disekitar pipi sampai ke dagu, tubuh tinggi atletis sangat dan sangat terlihat tampan. Pria yang bernama Tio itu memberikan senyum tipis dan hal itu membuat kedua wanita itu menutup mulutnya ternganga.
"Permisi saya ingin bertemu dengan Tuan Farhan" ucapnya sopan kedua wanita itu seketika tersadar dari khayalannya yang ingin menjadi wanitanya, heh tidak tahu apa jika Tio sudah memiliki istri bahkan istrinya adalah anak dari pemilik perusahaan tempat mereka bekerja.
"Ah, eh, hmmm... maaf apakah Tuan sudah membuat janji sebelumnya?" tanyanya menatap intens wajah Tio.
"Sudah, Tuan Farhan yang membuat janji denganku" jawaban Tio mengundang tatapan tak percaya. Tanpa basa-basi Tio segera pergi dari hadapan resepsionis karena sudah 10 menit dirinya berdiri di sana membuatnya merasa lelah akan tingkah mereka seperti orang yang baru melihat pria tampan saja.
"Tidak bisa ku pungkiri jika wajahku memang sangat tampan tapi kalian tidak pantas memuja ataupun mendambakanku karena hanya gadisku yang pantas mendapatkannya." Gumam batin Tio tersenyum tipis nyaris tak terlihat.
Para karyawan wanita yang baru melihat Tio di perusahaan tak pernah lepas pandangan darinya, pria maco dengan tampilan elegan membuat mata mereka tak berkedip sedikitpun.
"Sangat tampan! siapakah pria itu?" tanya karyawan A
"Aku baru melihatnya hari ini apakah dia akan bekerja di sini?" karyawan B menyahut.
"Sepertinya dia adalah jodohku, pantas saja aku sangat bersemangat ternyata ini adalah alasannya... benar-benar beruntung berjodoh dengan pangeran tampan"
PLETAK
"Auuuw sakit tahu!!" pekik salah seorang karyawati menatap tajam lawan di depannya.
"Jangan macam-macam!! kamu adalah pacarku jika sampai ketahuan aku mendengar lagi kata-kata kotor itu maka jangan salahkan aku, jika aku menghukummu!!!" tegas salah seorang pria membuat gadis di depannya seketika terkekeh jenaka.
"Iya, iya bawel" jawabnya namun masih tak mengalihkan atensinya pada Tio. Menantu raja Hades itu hanya menggeleng kepalanya melihat tingkah kekanakan mereka.
Sebelum dirinya ke perusahaan Aulia sudah berpesan padanya untuk pergi ke lantai teratas lantai ke 29 karena di sana adalah ruangan sang Daddy. Dan disinilah Tio berada di lantai paling akhir ia keluar dari lift dan menuju ke salah satu lorong yang di yakini nya jika itu adalah ruangan ayah mertuanya.
Dari jauh sekertaris Rio sudah melihat kedatangan Tio, kaki tangan Tuan Farhan itupun segera keluar dari ruangannya dan berjalan menuju Tio. "Selamat siang Tuan muda, ayo saya antar ke ruangan Tuan Farhan beliau sudah menunggu anda" seru sekertaris Rio sopan.
"Jangan terlalu formal dan jangan panggil saya Tuan muda, panggil Tio saja" jawab Tio tidak suka dengan panggilan baru padanya. Sekertaris Rio tersenyum tipis.
CEKLEK
Pandangan seorang pria di kursi kebesarannya teralihkan kala mendengar suara bunyi pintu ruangannya, menatap tak berekspresi ke arah dua orang yang baru masuk.
"Maaf Tuan muda sudah membuat anda menunggu" tutur Tio menundukkan kepala ke arah Tuan Farhan membuat raja Iblis hanya mengerlingkan matanya.
"Panggil Daddy saja, ayo silahkan duduk! Daddy ingin mengatakan sesuatu padamu... Rio kamu juga ikut duduk" tutur Tuan Farhan.
"Baik Dad terima kasih." Tio dan sekertaris Rio pun duduk di sofa panjang sedangkan Tuan Farhan menjatuhkan bokongnya di kursi single menyilang kakinya dan menatap dua orang pria di depannya.
"Karena sekarang kamu sudah menjadi suami putriku, maka kamu harus bekerja di perusahan ini untuk memenuhi kebutuhan hidup kalian... kamu tinggal pilih saja ingin bekerja di bidang apa?" Tuan Farhan membuka percakapan.
Tio terdiam sesaat jika bekerja di perusahaan mertuanya yang notabenenya adalah perusahaan sukses di dunia nasional dan internasional butuh keahlian khusus sedang dirinya tidak terlalu mengerti tentang dunia bisnis ia hanya bisa berkelahi dan melakukan transaksi ilegal.
"Aku tidak mengerti dunia bisnis Dad, jadi aku akan mencari pekerjaan di bidang keahlianku saja" jawab Tio membuat Tuan Farhan berpikir sebentar.
"Pekerjaan apa yang kamu bisa Tio?" tanya Tuan Farhan menatap ke arah menantunya. Sekertaris Rio menyimak sangat serius menatap Tuan Farhan lalu kembali pada Tio.
Tio berpikir sebentar keahlian apa yang ia miliki dulu seketika sepintas bayangan terekam di memorinya.
"Aku bisa melakukan hack di semua situs dengan tingkat kesulitan di atas rata-rata, dulu saat aku belum menjadi anggota Black Wolf aku pernah belajar dan membuat game" jelas Tio mengingat kembali kenangan saat dirinya masih remaja yang saat itu dirinya masih tinggal di Dubai sebelum Tuan Wijaya mengangkatnya sebagai Agen rahasia.
"Itu adalah kemampuan yang sangat luar biasa!" puji sekertaris Rio dan Tuan Farhan mengangguk setuju. Tidak banyak orang memiliki kemampuan seperti itu dan ia sangat beruntung memiliki salah satu orang yang mempunyai keahlian di bidang teknik informatika.
"Kalau begitu kamu bisa bekerja di bidang Game Developer saja, kamu bisa membuat game yang sangat menarik dan tentunya sangat menantang dengan begitu perusahaan akan meluncurkan situs game kebetulan aku sedang mencari seseorang yang bisa di bidang ini" kata Tuan Farhan sembari tersenyum tipis.
Tio mendengar itu sangat bersemangat karena kemampuannya akan terpakai juga namun ia butuh rangsangan untuk bisa mengingat kembali memori tentang pembuatan game itu. By the way, Game Developer secara keseluruhan bekerja untuk mendesain dan membuat video game untuk komputer dan berbagai konsol.
"Aku butuh rangsangan untuk mengasah kemampuanku yang sudah lama tertimbun, jadi..."
"Biar sekertaris Rio yang akan mengaturnya, kamu tenang saja ketika sekertarisku mengurusnya aku akan menghubungimu segera" potong Tuan Farhan dan Tio mengangguk. Pria yang baru menikah itu melirik benda persegi dengan tali yang melingkar di pergelangan tangannya lalu beralih menatap ayah mertuanya.
"Dad, aku tidak bisa berlama-lama di sini karena semuanya sudah jelas aku akan pulang sekarang... Aulia pasti merasa bosan sendirian di rumah dia tadi mengatakan agar aku segera pulang... dia pasti sangat merindukanku" kata Tio dan langsung mendapat anggukan dari Tuan Farhan, Tio menyalami tangan Tuan Farhan kemudian tersenyum pada sekretaris Rio. Ia buru-buru keluar dari ruangan raja Iblis.
"Tuan kenapa senyum-senyum melihat kepergian Tio?." Tanya sekertaris Rio penasaran karena sedari Tio keluar Boss besarnya tersenyum sendiri padahal tidak ada yang lucu.
"Hehehe, Tio seperti diriku saat muda, tidak bisa jauh dari istri memang suami bucin akan beralasan jika istrinyalah yang merindukannya dan tidak bisa jauh-jauh darinya padahal dia sendiri yang rindu... namun malu mengungkapkannya. Heh bocah kecil masih mau mengakali pawangnya heh!" jawab Tuan Farhan dan sekertaris Rio mengerti sekarang.
Memang benar jika apa yang di katakan Tio tadi hanyalah sebuah alasan ia sebenarnya sangat merindukan sang istri saat ini.
"Sepertinya aku akan memodifikasi barang-barangku dengan gambar istriku saja" gumam Tio memasuki lift.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung