The Love Story Princess And Prince Mafia

The Love Story Princess And Prince Mafia
Bab 76 Panas-Panas



Happy reading 🤗


Like dan Votenya ❤️❤️❤️


.


.


.


.


.


.


.


.


Ronald segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat, tangannya menggenggam jemari Alexa menyalurkan kekuatan pada gadis di jok depan kursi penumpang.


"Apa yang terjadi? kenapa kau melukai dirimu sendiri, apa karena kau tersiksa karena berada di sisiku?" gumam Ronald pelan. Matanya yang merah menatap jalanan yang tidak cukup padat. Untung saja takdir berpihak padanya hingga memudahkan dia membawa laju mobilnya, kalau tidak ia pasti akan terlambat.


Hingga tiba dirinya di sebuah bangunan besar yang bertuliskan Barnes Jewish Hospital. Yaitu Rumah Sakit Barnes-Yahudi merupakan rumah sakit terbesar di negara bagian A.S. Missouri, terletak di lingkungan Central West End jalan St. Louis, itu adalah rumah sakit pendidikan orang dewasa untuk Fakultas Kedokteran Universitas Washington dan komponen utama dari Pusat Medis Universitas Washington.


Ronald segera turun dan mengangkat tubuh Alexa sembari berlari masuk ke dalam rumah sakit. "Please help me! dokter! dokter!!" teriak Ronald. Dokter dan perawat segera berlari ke arah Ronald yang tengah membawa gadis dengan darah yang terus bercucuran.


"Letakan pasien di atas bangsal!" titah dokter dan Ronald menurut, perawat laki-laki dan perempuan mendorong bangsal tersebut, diikuti dokter di samping membawanya ke ruang UGD.


"Tuan tunggu di luar kami akan melakukan penanganan yang terbaik untuk pasien"seru suster langsung menutup pintu ruang UGD. Ronald bersandar lesu di dinding sesekali meraup wajahnya kasar, menengadah menatap langit-langit rumah sakit.


"Jangan sampai Alexa kenapa-kenapa, aku tidak bisa kehilangan dia ya Tuhan! please God! save her" bisik Ronald dalam hati. Pria itu terduduk lesu di lantai sembari menekuk lututnya menyandarkan kepalanya di atas lutut.


"Kamu harus kuat Alexa, aku tidak akan membuatmu kesal lagi aku tidak akan mengancamu hanya untuk bisa berada di sampingku setiap saat. Aku akan membiarkanmu kembali bebas yang terpenting kamu baik-baik saja... aku takut! aku takut kehilangan kamu." Lirih Ronald. Sudah cukup ia kehilangan wanita yang paling berharga di hidupnya dan sekarang jangan lagi. Ia sudah tidak punya siapa-siapa ayahnya saja sudah tidak menghiraukannya karena memiliki istri dan anak baru. Menyakitkan!.


Tak jauh dari sana ada sepasang mata yang terus melihat ke arah Ronald yang sedang di landa kecemasan. Pria dengan rambut gondrong itu segera berjalan menuju Ronald berdiri di hadapan pria yang tengah menunduk cemas.


"Apa kamu adalah sahabat adikku Alexa? bagaimana bisa dia terluka separah itu?" Ronald mendongak kala mendengar seseorang berbicara di hadapannya, tatapan tajam mengarah pada Ronald membuat pria itu seketika berdiri.


"Aku tidak tahu kenapa bisa Alexa terluka? tapi yang pasti aku melihat pisau di tangannya dia yang melukai dirinya sendiri. Aku sangat terkejut kala mendobrak pintu toilet" jawab Ronald dengan wajah sendu. Azhar bisa melihat itu. Terdiam sejenak lalu berlalu dari sana. Ia akan menghubungi abangnya jika Alexa sudah di temukan namun dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.


Mengambil ponselnya lalu menekan kata call di layar ponselnya dan terdengar suara dari sebrang.


"Ada apa menelponku aku sedang sibuk!" ketus Hamas karena sudah mengganggu keromantisan dia dengan wanitanya.


"Alexa masuk rumah sakit, Barnes Jewish. Jika kau sedang sibuk maka terserah kamu yang penting aku sudah mengatakan posisi Alexa saat ini" jawab Azhar yang langsung memutus sambungan teleponnya tanpa mendengar reaksi dari Hamas.


"Semoga Alexa baik-baik saja" gumam Azhar pelan. Sedangkan di tempat lain tepatnya di Coffy Cafe seorang pria seketika terkejut mendengar berita yang di dengar dari adiknya itu.


"Shireen aku mau ke rumah sakit, adikku masuk rumah sakit saat ini" ucap Hamas dengan wajah khawatir.


"Aku ikut denganmu" Hamas mengangguk kedua pasangan yang baru jadian itu segera berjalan keluar namun sebelum itu Hamas meletakan selembar Dolar senilai 14,05 Dolar Amerika Serikat yang jika di rupiahkan menjadi dua ratus ribu.


Beberapa jam sebelumnya di lain tempat Azhar putra kedua raja Iblis masih setia mencari keberadaan Alexa bahkan berulang kali menghubungi nomor gadis itu tidak kunjung aktif. Membuat si gondrong memukul setir mobilnya kesal. Sudah dua bahkan masuk tiga jam ia mengelilingi kota Washington tak kunjung di temukan. Ingin menghubungi teman sekolah Alexa namun tak memiliki nomornya.


"Astaga! dasar gadis pembangkang! tidak bisakah untuk tidak membuat orang panik. Aaakkh! di mana kamu Alexa? bisa gawat jika ketahuan Kakek dan Nenek, urusannya bisa panjang kalau mereka sampai tahu." jelas Azhar.


"Ah iya lebih baik aku ke Coffy Cafe sekarang" Azhar kembali menjalankan mesim mobilnya menuju tempat di mana Hamas dan Alexa berada saat ini. Namun ketika Azhar sampai di depan Cafe ia tak sengaja melihat seorang gadis di gendong oleh pria asing dengan darah bersimbah. Namun saat meneliti lagi matanya seketika terbelalak karena orang yang di carinya selama ini berada di hadapannya dengan keadaan yang sulit untuk di jelaskan.


"Oh tidak itu pasti Alexa! penyakitnya pasti kambuh lagi... aku akan mengikutinya, tapi siapa pria yang menggendong Alexa?" gumam batin Azhar. Dan Azhar mulai mengikuti mobil Lamborghini Aventador milik Ronald.


"Bagaimana keadaan pasien dokter?" tanya Ronald dan Azhar bersamaan membuat kedua pria itu saling melempar tatapan tajam.


"Pasien baik-baik saja dan dia sudah sadar, kami akan memindahkan pasien di ruang rawat inap nanti" jawab dokter wanita memberikan senyum ramahnya. Azhar dan Ronald bernapas lega mendengar jawaban dari dokter yang menangani Alexa.


"Terima kasih dokter, apakah kami boleh menjenguknya?" tanya Azhar dan dokter wanita itu mengangguk tanda mengiyakan.


"Boleh. Tapi jangan membuat pasien kelelahan jangan terlalu mengajaknya untuk berbicara terlalu banyak" peringat dokter dan kedua pria itu mengangguk pelan.


"Saya permisi dulu"


"Baik dokter. Sekali lagi terima kasih banyak dokter" tutur Ronald. Saat hendak keduanya masuk seseorang berteriak dari arah belakang.


"Azhar!" Hamas berlari ke arah adik gondrongnya dan Ronald di ikuti wanita cantik di sisinya napas Hamas memburu dengan wajah letihnya.


"Bagaimana keadaan Alexa sekarang? dia baik-baik saja kan? dia tidak kenapa-kenapa kan?" tanya Hamas dengan rentetan pertanyaan membuat Azhar hanya memasang wajah datarnya.


"Dia baik-baik saja sekarang, dan kata dokter dia boleh di jenguk kok" ujar Ronald. Tanpa banyak tanya lagi Hamas berjalan masuk ke dalam di ikuti yang lainnya, Shireen masih setia di samping Hamas. Alexa yang sudah tersadar menatap orang yang baru masuk. Gadis itu berusaha bangun memposisikan tubuhnya untuk duduk menyandar, menatap datar ke arah Shireen. "Kamu tidak apa-apa? bagaimana bisa kamu terluka apa yang terjadi padamu hmmm...?" tanya Hamas yang langsung memeluk tubuh Alexa namun mendapat penolakan dari gadis kecilnya.


"Pergi! aku tidak mau lihat Abang!." Serunya dengan tatapan datar namun genangan air itu tampak terlihat jelas. Gadis itu mulai merasakan sakit di bagian dadanya lagi. "Kenapa harus ada wanita itu di sini! aku tidak menyukainya" batin Alexa mengepalkan tangannya.


"Kamu kenapa hmmm...? kamu marah karena perkataan abang Azhar? dia bohong mana mungkin aku tidak menyukai..."


"Berhenti Abang! aku bilang pergi! akkkkhh sakit!" Rintih Alexa sembari menyentuh dadanya. Hamas menyentuh pundak Alexa dengan tatapan khawatir.


"Kamu kenapa Lexa?" tanya mereka namun Alexa tak menjawab. Gadis itu melirik ke arah Ronald memintanya untuk datang.


"Ronald! Ronald" serunya dan pria yang di panggil segera datang.


"Maaf bang sepertinya Alexa membutuhkan aku daripada Abang" Hamas tak percaya dengan reaksi Alexa padanya. Menatap tajam saat Ronald menyentuh Alexa apalagi gadis itu memeluk erat pria lain dan bukan dirinya.


"Sial! apa yang aku lakukan sampai dia marah padaku?!" batin Hamas.


"Sakit Ronald! tolong sangat sakit"


"Aku panggil dokter kamu sabar yah" Alexa menggeleng dengan tatapan sendu.


"Peluk aku Ronald! aku butuh kekuatan darimu" Ronald lalu memeluk tubuh Alexa sesekali mengecup keningnya memberikan ketenangan dalam pelukannya. Sedangkan Hamas makin di buat panas saja.


"Brengsek! akan ku beri pelajaran untuknya" maki Hamas lalu keluar dari ruang UGD.


"Hatiku sakit saat melihat abang bersama wanita lain... sakit sekali bahkan untuk bernapas saja begitu sulit." gumam benak Alexa masih memeluk tubuh Ronald. Ia merasa nyaman dalam pelukan pria itu hingga perlahan-lahan matanya tertutup dengan perasaan sedih.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung