
Happy reading 🤗
Like dan Votenya kakak 🤗❤️❤️❤️
.
.
.
.
.
.
.
.
Aulia masih duduk di salah satu trotoar jalan ia ingin berdiri namun tidak bisa menggerakkan kakinya, rasanya begitu sakit bahkan hanya sekedar menyentuhnya. Namun tetap tak sebanding dengan sakit di hatinya. Ketika rindu tak kesampaian.
Dirinya hanya menatap jalanan memandang mobil-mobil mewah juga motor yang berlalu lalang, mendesah berat kala matahari semakin terik menyengat tubuhnya.
"Ah, bodohnya dirimu Lia! kenapa tidak menelpon Abang di Markas saja" gadis itu menepuk dahinya pelan kala menyadari kebodohannya. Padahal ia bisa dengan mudah menyelesaikan masalahnya, bukankah zaman sudah semakin canggih banyak tekhnologi yang dapat menghubungkan orang lain dengan jarak sejauh apapun.
Saat hendak meraih ponsel di dalam tasnya, seorang pria dengan setelan kantor berdiri di hadapan Aulia. Berjongkok menatap wajah Aulia yang sudah berkeringat.
Aulia tersentak kaget menatap wajah pria di depannya. "Daddy!" pekik Aulia menutup mulutnya. Ia tidak tahu kapan pria yang di panggil Daddy itu muncul di hadapannya. Seperti jailangkung saja datang tak di undang.
"Kau kenapa berjemur di sini? kamu bisa sakit jika berlama-lama duduk di bawah terik matahari" seru Tuan Farhan menatap datar wajah putrinya. Tidak tahu saja jika sang putri tidak bisa berjalan sekarang, entah bagaimana reaksinya jika mengetahui putri satu-satunya terjatuh dari motor.
"Ayo ikut Daddy!" Tuan Farhan lalu menarik tangan Aulia untuk berdiri namun karena kakinya terkilir hingga membuat Aulia kehilangan keseimbangan... hampir saja tubuhnya jatuh di atas aspal jika saja Tuan Farhan tidak menopangnya cepat.
"Ada apa denganmu? kau terluka hah!." Raja Iblis menatap khawatir wajah putrinya menatap ke arah kaki Aulia kemudian kembali menatap sang anak.
"I-itu kaki Lia terkilir, dan tidak bisa jalan" jawab Aulia menyengir kuda menggaruk pipinya yang tak gatal. Sontak saja membuat Tuan Farhan membulatkan bola matanya.
"Bodoh! kenapa tidak menelpon Daddy haaahh!!" bentak Tuan Farhan. Tanpa bertanya raja Iblis menggendong tubuh Aulia ala bridal style terlihat wajah sang ayah begitu khawatir. Aulia hanya pasrah menyembunyikan wajahnya di ceruk Daddynya begitu malu harus di gendong di depan umum.
Apa kata orang nanti jika melihatnya di gendong oleh pria paruh baya walaupun masih terlihat sangat tampan, takutnya malah di kira sugar baby. Dan itu sungguh merepotkan.
"Rio! cepat buka pintunya!!" teriak Tuan Farhan pada sekertarisnya. Pria bernama Rio itu segera membuka pintu mobil jok belakang dan Tuan Farhan kemudian menjatuhkan pelan bokong putrinya lalu ikut masuk ke dalam.
"Kita ke rumah sakit sekarang! putriku kesakitan!." Perintah raja Iblis tegas dan langsung mendapat anggukan cepat dari sekertaris Rio. Pria yang duduk di jok depan tepatnya di kursi kemudi itu sebenarnya ingin mengatakan tujuan kepergian mereka namun tidak berani saat melihat raut sangar Tuan Farhan.
"Hubungi klien untuk menunda pertemuan, ada hal yang lebih penting untuk aku lakukan!" titah Tuan Farhan, mengetahui isi hati sang sekertaris. Pria bernama Rio itu kemudian mengirim pesan pada rekan bisnisnya agar sementara ini membatalkan pertemuan hari ini.
Sedangkan Aulia hanya mencebikkan bibirnya kesal, kenapa Daddynya selalu berlebihan dalam menyikapi masalahnya padahal dirinya baik-baik saja.
"Tidak perlu ke rumah sakit Daddy, Lia baik-baik saja. Kaki Lia di urut sedikit akan sembuh" tutur Aulia pelan. Namun langsung mendapat tatapan horor dari sang Daddy membuat nyali gadis itu menciut seketika.
"Berjalan saja tidak bisa, bagaimana kamu mengatakan bahwa diri kamu baik-baik saja. Konyol sekali!" jawab Tuan Farhan bersedekap dada. Menatap lurus ke depan. Lagi-lagi gadis remaja itu hanya mendesah berat.
"Berlebihan sekali!" gumam Aulia pelan namun masih di dengar oleh Daddynya membuat atensi pria di sampingnya menoleh.
"Daddy begini karena Daddy sayang sama kamu, tapi kenapa kamu bisa terluka sayang? apakah ada orang yang menyakiti kamu?. Katakan siapa orangnya akan Daddy patahkan tulang-tulang tubuhnya! bila perlu akan Daddy giling ke penggilingan padi!" seru Tuan Farhan yang membuat Aulia memutar bola matanya malas.
Sekertaris Rio tersenyum tipis menatap anak dan ayah itu dari kaca spion di depannya. Tidak menyangka jika raja Iblis masih memiliki hati lembut walau kata-katanya sungguh tak mengenakkan.
"Lia jatuh dari motor" jawabnya acuh.
"Apa!!" Aulia menutup telinganya mendengar pekikan dari pria di sampingnya, bahkan sekertaris Rio hampir jantungan di buatnya.
"Tidak bisa Daddy! jangan menyita barang milik Lia! Daddy kan tahu kalau Lia sangat menyukai motor".
"Tapi jika sudah membahayakanmu Daddy tidak bisa diam saja, pokoknya Daddy tetap harus menyitanya!" ujar Tuan Farhan tanpa di bantah.
"Kenapa Daddy selalu membuat keputusan sendiri! tidak bisakah menghargai keinginan Lia haah! hiks, hiks, hiks. Kenapa Daddy tidak bisa membiarkan Lia merasa bahagia sedikit saja! Uncle Tio pun Daddy musuhi, bahkan mengirimnya ke tempat kematian sebenarnya Daddy sayang gak sih sama Lia!!" teriak Aulia dengan mata yang berkaca-kaca bahkan genangan air itu sedikit demi sedikit sudah mulai mengalir.
Tuan Farhan terkejut mendengar bentakan dari putri kesayangannya, apalagi melihat air mata itu mengalir membuat hatinya seketika berdenyut sakit.
"Berhenti Rio dan turun dari mobil!." Titah Tuan Farhan datar. Sekertaris Rio segera mencari tempat yang aman berhenti di salah satu tempat kosong yang pasti di luar jalur lalu lintas.
Sekertaris Rio segera turun memberikan ruang untuk anak dan ayah itu. Sedang di dalam mobil, Aulia menangis sesenggukan menutup wajahnya dengan telapak tangannya.
"Maaf jika perbuatan Daddy membuatmu tidak nyaman, maaf sayang sudah membatasi pergerakanmu tapi yang pasti setiap orang tua akan memberikan yang terbaik untuk anaknya" lirih Tuan Farhan menarik tubuh gadis ke dalam pelukannya. Raja Iblis dapat merasakan getaran dari tubuh putrinya yang sedang menangis.
"Hiks, hiks, Daddy jahat!" ujar Aulia sesenggukan.
"Maaf sayang, maaf sekali lagi. Daddy harus bagaimana agar putri Daddy tidak menangis lagi... jangan membuat hati Daddy sakit dengan air matamu" ungkap Tuan Farhan dengan raut wajah bersalah.
Terlihat smirk licik dari bibir gadis remaja itu. "Heheheh, berhasil!" bisik Aulia dalam hati. Rupanya gadis remaja itu hanya berpura-pura menangis, wow aktris yang sungguh berbakat bahkan tidak terlihat bahwa itu setingan. Luar biasa!
Perlahan-lahan wajah Aulia mendongak menatap dalam kornea mata sang Daddy yang berwarna coklat itu. "Apapun yang Lia minta akan Daddy kabulkan?" tanyanya pelan. Pria itu mengangguk dengan senyum tipisnya.
"Kalau begitu restui hubungan Lia dengan Uncle Tio" jawab Aulia masih dalam dekapan sang anak. Tuan Farhan menatap dingin wajah putrinya.
"Penipu kecil ini benar-benar cerdik heh!" gumam raja Iblis dalam hati. Senyum mengembang di bibir Tuan Farhan menoyor kepala putrinya pelan.
"Putri Daddy begitu mencintai Uncle Tio hmmm... bahkan bela-belain menangis sesedih ini, sayang sekali jika tidak di kabulkan" Tuan Farhan melerai pelukannya bersedekap dada menatap lurus ke depan.
"Maksudnya Daddy setuju Lia bersama Uncle begitu?" tanya Aulia memastikan. Tuan Farhan mengangguk pelan. Seketika itu Aulia langsung menubruk ke dalam pelukan sang Daddy.
"Thank you Daddy! l love you so much" ucapnya dengan senyum mengembang.
"Daddy tidak boleh melarang Lia lagi untuk menaiki motor, karena itu kesukaan Lia... Daddy sudah berjanji untuk mengabulkan permintaan Lia lho." Ucap Aulia terkekeh kecil saat mendapati raut kesal wajah Tuan Farhan.
"Hmmmm, tidak masalah selagi putri Daddy bahagia".
"Motor Lia tertinggal di jalan Dad, tolong di ang..."
"Kalau motor itu buang saja, karena dia sudah menyakiti Putri Daddy." Potongnya cepat membuat Aulia mencebik kesal.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung