
Happy Reading
jangan lupa kasih hadiahnya yah guys 😘😘😘
.
.
.
.
.
.
"Ahhhhhkkh" teriaknya terkejut saat sebuah tangan bertengger di pinggangnya.
"Kenapa kau berani sekali kabur dari abang hmmm?" bisiknya di telinga Alexa, bahkan napasnya begitu terasa di belakang telinganya membuatnya sangat merinding.
"Lepaskan aku! Lagipula aku tidak mau pulang denganmu! Aku sudah memiliki rumah di sini, mereka pasti mengkhawatirkanku saat ini, aku sudah beberapa hari ini menghilang" Alexa melepas pelukan Hamas dan beralih menatap pria duda itu.
Hamas yang kesal mendengar perkataan Alexa membuatnya hilang kendali dan mendorong pelan tubuh Alexa ke dinding lalu mengunci pergerakan wanita di depannya itu.
"Kau! Lepaskan aku Hamas!" Hamas semakin emosi kala Alexa meneriaki namanya, entah kenapa ia membenci gadis itu menyeru namanya dengan lantang.
"Beberapa tahun ini kau sungguh berani melawan abang, bahkan sudah tidak mendengar perkataan abang lagi... Katakan siapa yang sudah mengajarimu tidak sopan seperti ini hmmm?" Wajah Hamas semakin mendekat dengan wajah Alexa membuat perasaan wanita tersebut tidak karuan.
"Heh! Orang yang membuatku tidak sopan nyatanya berada di depanku sekarang, sudahlah aku tidak bisa pulang bersamamu, lagipula aku masih punya keluarga di sini dan mereka begitu peduli padaku" ucap Alexa dengan nada dinginnya.
Hamas menatap Alexa dengan tatapan datar, bahkan tatapannya sangat dalam
"Apa kamu tidak merindukan orang tuamu di Indonesia? Kamu begitu peduli dengan orang lain tapi tidak dengan orang tuamu dan keluargamu yang selama ini membesarkanmu bahkan sangat menyayangimu..., kamu benar-benar tidak punya hati nurani Alexa!" ucapan menusuk itu begitu masuk ke dalam relung hati Alexa. Wanita itu mengepalkan kuat kedua tangannya.
"Kamu bilang aku tidak punya hati nurani? Yang tidak punya hati nurani itu adalah kamu Hamas!" Alexa sungguh emosi hingga baru kali ini ia meninggikan suaranya di depan Hamas. Matanya berkaca-kaca ia sangat membenci pria di depannya. Ingin sekali pulang ke rumah yang sebenarnya tetapi ia tidak bisa, karena itu pasti menyakiti hatinya.
"Asal kamu tahu Hamas, menghilangnya aku dan apa yang aku rasakan selama ini adalah perbuatan kejammu! Tidak bisakah kamu menghilang dari hadapanku? Tidak cukupkah kau melukai hatiku bahkan aku hampir mati hari itu, semuanya karena kamu Hamas! Aku benar-benar membencimu aku sangat membencimu jadi tolong, jangan ganggu aku lagi! Ku mohon, hiks-hiks-hiks"
Alexa terduduk lesu di atas lantai, ia memukul-mukul dadanya yang terasa sesak, sementara Hamas diam membisu dengan ekspresi kosong.
"Kenapa aku selalu mencintaimu? Kenapa? Aku lelah, sangat lelah... Kupikir perasaan ini sudah tidak ada lagi, tetapi kenapa selalu tumbuh dalam hatiku, aku benar-benar membencimu... Kau sungguh hantu yang menyiksaku, hiks-hiks-hiks"
Hamas berjongkok dan menarik tubuh Alexa dalam dekapannya, sekuat tenaga Alexa menolak tetapi kekuatannya tidak mampu. Hamas semakin mempererat pelukannya, gadis kecilnya menangis tersedu-sedu bahkan air matanya juga ingusnya membasahi baju putih Hamas.
"Maaf, maafkan abang, abang benar-benar tidak tahu" lirih Hamas sesekali mengelus punggung Alexa.
"Abang akan menebus kesalahan abang di masa lalu, jadi tolong berikan kesempatan untuk abang agar bisa membahagiakanmu"
"Tidak perlu, aku sudah tidak membutuhkannya" Alexa mendorong tubuh Hamas agar menjauh darinya. Keduanya pun bersitatap.
"Abang mohon maafkan kesalahan abang, abang janji akan membahagiakanmu dan tidak akan membuatmu merasakan sakit lagi, please!" Alexa menggeleng pelan itu tandanya ia tetap kekeuh pada pendiriannya. Hamas membuang napas kasar lalu berdiri.
"Baiklah, jika itu mau kamu, abang tidak akan mengganggumu dan tidak akan menampakkan diri abang di hadapanmu, jika itu membuat kamu bahagia maka abang akan menerimanya" Hamas kemudian meninggalkan Alexa yang sedang menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan.
Bukannya senang, mata Alexa kembali berkaca-kaca, ia menggigit bibirnya dengan tangan terkepal kuat.
"Aku pikir kau benar-benar peduli denganku, tapi ternyata semuanya bohong belaka, baru begitu saja kamu sudah menyerah, aku membencimu sangat-sangat membencimu!" batin Alexa dengan napas memburu.
"Hehehe, aku lupa jika kau masih memiliki istri, heh! Miris sekali hidupku ini" Ia mengusap air matanya lalu bangkit dan berjalan keluar menuju pintu belakang.
Sementara di lain tempat, Azhar menunggu hasil tes DNA gadis berwajah Alexa dengan Amanda, yang sudah di lakukannya tadi siang. Ia harus menunggu selama dua jam untuk hasil DNA keluar.
Seorang dokter perempuan datang menghampiri Azhar dengan menyerahkan sebuah dokumen di tangannya.
"Ini tuan muda, hasilnya sudah keluar"
"Semoga hasilnya tidak mengecewakan" Azhar kemudian secara perlahan membuka map dan menarik selembar kertas yang berada di dalam dokumen tertutup.
Matanya melotot lebar saat melihat hasil tes DNA yang sebenarnya, ia segera berlari kala ia mengetahui sesuatu yang sangat penting, sedang dokter yang menangani tes DNA Alexa dan Amanda menatap aneh wajah tuan mudanya.
BRAAAAK
Pria di dalam ruangan VIP C terkejut mendengar suara pintu yang melengking tinggi.
"Ada apa denganmu? Kenapa wajahmu begitu panik?" tanya seorang pria yang memakai kemeja putih.
"Hosh, hosh, hosh, a-aku baru mendapatkan hasil tes DNA, di-dia sungguh Alexa, Alexa kita... Aku sangat bahagia, dia akhirnya di temukan" mendengar perkataan Azhar tidak membuat Hamas bergeming ia hanya menatap datar adik laki-laki nya.
Azhar yang merasa abangnya aneh mengerutkan keningnya dan berjalan menuju bangsal tetapi ia lihat hanya sebuah kasur yang kosong.
"Abang, di mana Alexa? Kenapa tidak ada di sini? Oh apa dia sedang di kamar mandi? Baiklah aku akan menunggunya" Azhar berjalan menghampiri Hamas yang tetap diam, membuat mulut Azhar gatal ia pun bertanya.
"Ada apa sih bang? Kenapa diam saja apa terjadi sesuatu pada abang?" Hamas melirik adiknya yang sedang menatapnya aneh.
"Dia bukan lagi Alexa yang dulu, dia telah berubah nyatanya dia kembali ke rumah orang yang merawatnya, hari ini aku kembali ke indonesia" Azhar masih belum mencerna ucapan Hamas, ia masih dengan posisi menatap kepergian Hamas dengan dahi berkerut.
"Hah? Apa maksudnya? Apa dia sedang patah hati?" gumamnya pelan, cukup lama ia berdiam diri sambil menunggu seseorang di dalam kamar mandi keluar namun yang di tunggu-tunggu tidak kunjung menampakkan diri.
"Kenapa dia lama sekali keluarnya?" Azhar beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kamar mandi, ia mengetuknya pelan tetapi tidak ada balasan, saat memutar gagang pintu, pintunya langsung terbuka.
"Hah? Tidak terkunci, apa Alexa tidak ada di dalam? Aku selama ini menunggu di sini seperti orang bodoh saja, eh?" pria gondrong itu seketika tersadar, ia melakukan kesalahan besar.
"Oh, sial!" Azhar mengumpat kasar, merasa kesal karena otaknya yang lemot, seharusnya ia menyadari lebih awal saat melihat abangnya yang tidak baik-baik saja.
"Gawat! Akan lebih sulit jika Alexa pergi lagi, apakah terjadi sesuatu antara Alexa dan abang? Hmmmm, tidak salah lagi... Ahhhhhk benar-benar sial hari ini" Azhar berjalan keluar, ia mengejar Hamas namun sudah tidak ada mobilnya di parkiran rumah sakit, itu berarti abangnya sudah pergi ke bandara.
"Aku telepon Fadil saja untuk menjemputku"
Sementara itu di lain sisi
Alexa kembali ke Mansion besar milik tuan Kalingga. Anak buah tuan Kalingga merasa senang karena nona mudanya sudah kembali pulang.
"Apa terjadi sesuatu dengan nona? Kepergian nona yang tanpa kabar beberapa hari ini membuat nyonya khawatir" Vicky berujar di samping Alexa, gadis itu hanya mengangguk pelan tidak semangat.
"Di mana nenek, aku mau bertemu dengannya?" belum sempat Vicky menjawab, seorang wanita tua datang menghampiri sambil merentangkan kedua tangannya.
"Nenek!" seru Alexa berlari ke pelukan sang nenek.
"Nenek, Ainsley merindukan nenek, sayang banget sama nenek" Alexa menangis di pelukan wanita tua itu.
"Ada apa denganmu? Semuanya baik-baik saja kan?" Alexa tidak menjawab bahkan tidak bersuara membuat wanita tua itu penasaran ia menepuk pundak cucunya tetapi tidak ada pergerakan.
"Ainsley"
.
.
.
.
.
.
Bersambung