
Happy reading 🤗
.
.
.
.
.
.
Tuan Kalingga, istri dan anak tirinya segera menatap ke arah dua orang yang baru datang, pria paruh baya yang terlihat masih bugar itu menatap senyum ke arah putranya juga gadis manis di samping sang anak dengan tangan yang saling bertautan.
"Oh rupanya gadis manis ini adalah menantu ayah hmmm... sangat cantik" puji Tuan Kalingga dengan seyum lebar di bibirnya. Ronald hanya menanggapi dengan senyum tipis nyaris tak terlihat sedangkan Alexa mendadak malu dengan pipi merona malu.
Sedang anak dan ibu itu hanya menaikkan sebelah alisnya kesal melihat Alexa bersama Ronald.
"Cih! cantikkan juga aku. Kak Ronald dan ayah buta yah tidak bisa membedakan gadis cantik dan jelek." Ketus batin gadis pirang itu tidak suka mendengar pujian dari Tuan Kalingga untuk orang lain.
"Ayo duduk" Tuan Kalingga mempersilahkan Ronald dan Alexa, kedua pasangan yang baru datang itu duduk di kursi yang saling berhadapan dengan gadis pirang serta istri kedua Tuan Kalingga. Alexa tak sengaja bersitatap dengan gadis muda di depannya menaikkan alisnya kala tatapan menghunus terarah padanya.
"Dia terlihat tidak senang, apakah gadis ini menyukai Ronald?" tanya batin Alexa, buru-buru Alexa memalingkan wajahnya ia lebih menatap ke arah Tuan Kalingga yang begitu gagah dan berwibawa daripada harus mendapat tatapan buruk dari orang baru.
"Kak Ronald siapa wanita itu? sikapnya sangat tidak sopan!" gadis berambut pirang itu bertanya sembari menatap wajah Ronald dan beralih pada Alexa membuat Ronald dan Tuan Kalingga geleng-geleng kepala.
"Jangan bicara seperti itu dek, kamu harus menghargainya karena dia akan menjadi kakak iparmu nantinya" jawab Ronald membuat anak tiri dari Tuan Kalingga membelalakkan matanya.
"No! aku tidak setuju!" ucapnya dengan suara besar.
"Charlotte!" Seru mereka dengan tatapan tajam, gadis yang bernama Charlotte itu terdiam menatap isyarat dari ibunya agar tidak melakukan apapun karena jika anak gadisnya itu hilang kendali bisa saja Tuan Kalingga akan menghukum mereka.
"Jaga sikapmu Charlotte! ayah tidak pernah mengajari kamu untuk tidak sopan terhadap tamu!" ucap Tuan Kalingga tegas membuat Charlotte mendengus dalam hati.
"Maaf ayah" tuturnya pelan dengan kepala menunduk ke bawah.
"Minta maaf ke kakak iparmu!." Titah Tuan Kalingga dan itu membuat Charlotte melebarkan matanya, selama ini ia tidak pernah di suruh untuk minta maaf dan sekarang ayahnya sendiri yang memerintahkannya hanya demi wanita yang baru hadir di keluarganya membuatnya benar-benar kesal.
"Iiihhhh, ayah kenapa sih harus nyuruh aku untuk minta maaf, padahal aku kan gak salah... sialan! akan ku habisi kamu wanita gak jelas! murahan!" gerutu Charlotte dalam hati. Melihat putrinya yang enggan minta maaf buru-buru wanita rubah itu meraih tangan putrinya.
"Sayang, ayo minta maaf jangan seperti itu bukankah orang yang meminta maaf memiliki hati yang besar" nasehat ibu Charlotte pada putrinya, ia harus bersikap baik apalagi di depan Tuan Kalingga, dengan wajah masam dan tatapan tak bersahabat Charlotte pun berujar.
"Aku minta maaf karena tidak sopan pada kakak ipar" Alexa tersenyum kikuk mengangguk kepalanya pelan.
"Tidak perlu minta maaf kamu tidak salah" jawab Alexa dan Charlotte hanya menaikkan sudut bibirnya tidak suka.
"Cih! wanita munafik ini akan ku habisi kau! kak Ronald hanya akan menjadi milikku seorang" gumam batin Charlotte.
"Sudah, sudah. Ayo kita makan malam sudah lama kita tidak makan bersama apalagi kau Ronald selalu saja di Apartemenmu" jelas Tuan Kalingga pada putra satu-satunya.
"Itu karena Ronald ingin mandiri lagipula Ronald ingin tinggal bersama pacar Ronald" jawabnya dengan senyum manis pada Alexa sedang gadis itu tersenyum malu.
"Apa! mereka berdua tinggal bersama? benar-benar tidak bisa di biarkan" kaget ibu Charlotte dan putrinya.
"Bagus, kamu harus menjaga Alexa baik-baik ingat tidak boleh bertengkar. Nak Lexa jika Ronald melakukan kesalahan atau berselingkuh, kamu tinggal lapor pada ayah, biar ayah akan memberikan pelajaran untuknya"
"Baik ay-ayah" kaku Alexa.
"Heh! aku tidak akan pernah selingkuh darinya karena hatiku sudah menjadi miliknya ayah" sahut Ronald. Ronald kemudian mengambil makanan untuk sang kekasih dengan wajah malu Alexa menerimanya ia seperti putri raja saja. Dan ia tidak terlalu menyukai itu terlebih tatapan tajam terus mengarah padanya.
Di negara lain tepatnya di Indonesia. Di sekolah internasional Dafa dan Daffin sudah pulang dari sekolah di jemput oleh Sandy. Sebenarnya Richo akan ikut menjemput dua Tuan muda kecilnya namun karena hari ini Karla dan Tuan Smith akan pulang ke Amerika hingga membuatnya tidak jadi ikut.
Di dalam mobil Dafa dan Daffin duduk di jok belakang Dafa bergeser mendekati adik kembarnya lalu berbisik. "Hey apakah kamu ingat jika kak Lia belum membuka hadiah pernikahan"
Daffin menaikkan sebelah alisnya tinggi lalu menatap wajah kakaknya yang duduk di samping kanannya. "Hmmm, Daffin tidak ingat, memangnya kak Lia belum membukanya dan hadiah itu ada di mana sekarang?" tanyanya.
"Terus apa urusannya dengan kita kak? nanti juga kak Lia akan mengambilnya bisa saja kak Lia belum sempat mengambil kado pernikahannya kan" ucap Daffin membuat kakak kembarnya mendengus kesal. Bocah laki-laki yang berumur 12 tahun lebih tua beberapa menit itu memijat keningnya karena merasa gemas dengan pikiran polos sang adik.
"Kau ini sangat lelet sekali, sekarang kak Lia sudah pindah rumah otomatis barang-barang kak Lia di kamar kosong itu akan menjadi milik kita... pulang sekolah kita langsung mengeceknya tapi jangan sampai Mommy atau Daddy tahu" kata Dafa dengan sabar menjelaskan.
Shandy memasang telinganya lebar-lebar ingin tahu rencana apa lagi yang akan dilakukan oleh Tuan muda kecilnya. Namun ia tak bisa mendengarnya hanya samar-samar dan itu tidak terlalu jelas.
"Apa yang mereka bisikkan?" guamam Sandy pelan.
Kini mobil sedan biru laut itu berhenti di depan Mansion Utama, dengan semangat empat lima Dafa dan Daffin turun dari mobil tanpa menunggu Sandy membukakan pintunya.
"Tunggu Tuan muda biar Uncle membukanya!." Seru Sandy dengan tangan ke depan
"Tidak perlu Uncle, Uncle terlalu lama. Umm... terima kasih Uncle, kami masuk ke dalam dulu" Dafa berujar dan tanpa menunggu jawaban dari Sandy kedua bocah itu sudah masuk ke dalam Mansion.
Dafa berharap agar tidak ada orang di dalam Mansion supaya apa yang sudah terpikirkan di sekolah tadi dapat terlaksana.
"Kakek! Nenek! Mo..." Dafa menyumpal mulut Daffin dengan tangannya agar sang adik tidak berteriak ia juga memberikan kode dengan tatapan tajam.
"Jangan teriak! ayo ikut aku!" Dafa menarik tangan adiknya kuat dan mau tidak mau Daffin mengikutinya. Dua bocah itu masuk ke dalam lift, segera Dafa memencet tombol angka 2 setelah lift tertutup.
Tidak sampai lama keduanya tiba di lantai dua buru-buru Dafa menarik tangan sang adik mereka berjalan menuju kamar paling ujung di mana kamar tidak terpakai berada tepatnya di samping kamar Aulia.
CEKLEK
Senyum tersungging di bibir kecil Dafa kala pintu tidak terkunci kedua mata bocah raja Iblis terbelalak kala melihat banyaknya benda persegi di sana.
"Wow! benar-benar rezeki nomplok nih" seru Dafa dengan mata berbinar. "Hehehe, nanti jika aku sudah mengambil sebagian baru aku kasih tahu kak Lia deh" batin Dafa bocah materialistis.
"Tapi kak itu milik kak Lia sama Uncle Tio kita tidak boleh mengambilnya" ucap Daffin tidak setuju. Dafa mengerling matanya tak suka pada perkataan adiknya yang sok polos.
"Kita ini kan adiknya kak Lia, jadi milik kak Lia adalah milik adiknya yaitu kita Daffin!" jawab Dafa memprovokasi kejujuran Daffin membuat anak bungsu raja Iblis mengangguk setuju.
"Benar juga sih kak, kalau begitu ayo kita membukanya" tukas Daffin dan langsung mendapat anggukan dari Dafa. Segera mereka mengerumuni kado pernikahan Aulia yang hampir memenuhi isi kamar yang luas itu.
"Aku buka ini aja, semoga mendapat benda berharga" batin Dafa semangat. Ia kemudian membuka kotak berukuran sedang di dalamnya ada sebuah kertas yang membungkusnya, dengan tak sabar tangan mungil itu membukanya alisnya terangkat tinggi kala melihat sebuah kain dengan jaring-jaring transparan berwarna merah.
"Eh apa ini? bentuknya seperti baju tapi apakah ada baju yang seperti ini? mereka pikir kak Lia Nelayan sampai memberikan hadiah jaring ikan heh!" sungut Dafa kesal.
"Kak, kak Dafa tahu ini benda apa?" mata Dafa membelalak ketika melihat kain berbentuk segitiga berjaring seperti baju yang ia dapat tadi.
"What! apa-apaan ini! kenapa hadiahnya sangat tidak berkualitas! mereka pikir kami adalah Nelayan apa!!" teriak Dafa marah.
"Menyebalkan! aku akan mengadu pada Daddy. Sangat tidak sopan mereka!... dek ayo kita keluar" Dafa beranjak dari duduknya dengan wajah kesal, Daffin hanya melongo melihat kakaknya marah-marah.
"Iya juga sih, kenapa mereka memberikan hadiah jelek pada kak Lia..." kali ini Daffin berkomentar sembari mengikuti langkah kaki kakak kembarnya.
Hahahaha, tidak tahu saja jika benda yang di sebut murahan itu berharga ratusan juta yang khusus dibuat oleh sang pengantin baru. Heh sepertinya Dafa terkena mental akibat melihat baju jaring ikan hmmm....
.
.
.
.
.
.
.
**Bersambung
Maaf guys up-nya cuman satu soalnya lagi susun proposal KKN dan ikut kegiatan KMD Pramuka. 🙏🙏🙏🙏**