The Love Story Princess And Prince Mafia

The Love Story Princess And Prince Mafia
Bab 183 Demi Anak Atau Demi Dia?



Happy Reading teman-teman 😇😇😇


Setelah memutuskan sambungan telepon, pria dengan setelan casual, celana levis pendek dan baju kaos berlengan pendek itu berjalan menghampiri orang-orang yang ada di ruang makan.


Ia melihat keluarga itu masih belum menyelesaikan kegiatan makan, apa harus selama itu? Pasalnya hampir setengah jam ia lihat piring mereka masih terisi penuh oleh nasi goreng buatan Tio.


"Tidak mungkin seenak itu kan nasi gorengnya?" batinnya menatap aneh orang-orang yang makan, karena sejak dirinya duduk hingga ia pergi dan kembali, mereka masih belum selesai juga.


"Apa kau ingin makan lagi?" tanya Tio melirik Hamas, pria itu menggeleng sebagai jawaban.


"Tidak, aku akan terbang ke Washington, Daddy dan Mommy masih lama di sana, aku akan membawa Aditya dan Enzi pulang ke Indonesia" jawabnya membuat atensi semua orang mengarah padanya.


"Aku ikut bang!" seru dua D senang, pasalnya mereka sangat ingin ke Washington bertemu dengan Alexa, wanita yang sudah lama hilang. Tadi mereka di beritahu oleh Jons bahwa mereka telah menemukan Alexa membuat hati terasa lega.


"Kalian sedang sekolah, abang akan berangkat malam ini, tadi abang sudah pesan tiket pesawat" katanya lagi membuat semua di sana buru-buru menyelesaikan makannya.


Dafa dan Daffin langsung berdiri dan menghampiri Hamas, mereka memasang wajah memohon bahkan mata mereka telah berkaca-kaca, Hamas melihat tingkah dua adiknya merasa jijik.


"Mau kalian seimut apapun, abang tidak akan mengizinkan, kalian harus tanggung jawab terhadap sekolah kalian!" tegasnya membuat Dafa dan Daffin memajukan bibirnya kesal. Mereka kembali merengek dan tidak pantang menyerah tetapi, keputusan pria duda itu sudah bulat dan tetap pada pendiriannya.


"Kalian selalu berada di ranking terakhir, jadi benahi dulu nilai kalian kalau bisa mendapat ranking, abang akan membawa kalian jalan-jalan ke luar negeri" Dafa dan Daffin hanya berdehem dan tidak merengek lagi, karena tidak ada gunanya jika berhadapan dengan Hamas, pria itu terlalu tegas membuat mereka sulit menang.


Walaupun mereka adalah anak orang kaya tetapi tidak mudah untuk mewujudkan keinginan, mereka harus lebih berusaha lagi.


"Kapan pesawat yang kamu tumpangi terbang?" tanya Tio yang kini sudah di ruang keluarga.


"Kurang lebih setengah jam lagi"


"Baiklah, kalau begitu ayo, aku akan mengantarmu" ucap Tio namun mendapat penolakan dari Hamas, pria itu menggeleng, ia tidak mau menyusahkan adik iparnya, apalagi umur mereka terpaut jauh. Sekalipun Hamas masih muda tetap ia memanggilnya adik ipar sebab Tio menikahi adik perempuan Hamas.


"Tidak perlu, sebentar lagi Hanan akan sampai, dia yang akan mengantarku" jawabnya, tak berapa lama terdengar bunyi panggilan masuk, ia lantas melirik layar ponselnya tertera nama sekretaris Han, ia pun berdiri.


"Dia sudah datang, aku pergi dulu"


"Tunggu! Aku siapkan abang jaket, di pesawat pasti dingin, oh iya sama bekal juga" Aulia yang hendak berdiri langsung di sela oleh Hamas, ia menolak dengan tatapan masam.


"Aku pesan kelas bisnis jadi tidak perlu repot-repot, apa kamu tidak pernah naik pesawat hmmmm....? " Aulia berdecak sebal ia menatap tajam Hamas, pasalnya ia sedang perhatian padanya tetapi malah di tolak mentah-mentah dan bahkan menghinanya, walau mungkin itu adalah candaan Hamas.


"Paman, kalau tidak mau yah bilang saja, bunda kan bermaksud baik kenapa harus menghina bunda segala, jika aku besar nanti aku akan membuat bunda puas naik pesawat bahkan bila perlu harus tinggal di dalam pesawat" ketus Adrian melotot ke arah Hamas, ia bahkan sampai mengepalkan tangannya, ia benar-benar membenci perkataan Hamas pada ibunya.


"Benar kata kakak, kalaupun bunda di hina harus kami yang melakukannya, paman tidak punya hak bahkan ayah pun sama, apa paman mengerti?!" tegas Adnan mencibir membuat Aulia terkekeh senang, sebab ia baru melihat dua putranya membela dirinya sementara wajah Hamas sudah tidak di kondisikan, ia semakin kesal padahal itu hanya guyonan sebagai kakak untuk adiknya, tetapi ponakannya malah salah paham.


"Adrian, Adnan, paman Hamas hanya bercanda, mereka sering mengejek jadi jangan di masukan ke hati yah" sahut Tio meluruskan perkara yang jika di biarkan akan semakin parah, namun Adrian dan Adnan tidak menanggapi, mereka hanya melirik dengan tatapan malas.


"Kalian berdua ini, paman minta maaf jika kalimat paman tidak baik untuk bunda kalian, kalian berdua jangan marah lagi, jadi hadiah apa yang harus paman tebus untuk kesalahan paman" dua anak kecil itu saling melirik, mereka lalu menjawab.


"Tidak ada, yang penting paman sampai tujuan dengan selamat" semua di sana tersenyum mendengar perhatian dari dua putra Aulia dan Tio. Masih kecil sudah seperti itu, bukankah sangat romantis seusia mereka ini?


"Baiklah paman akan membelikan kalian mainan, ya sudah paman pergi dulu"


"Terima kasih paman Hamas yang baik hati" Hamas tidak menggubris, ia berjalan menuju pintu utama. Dafa dan Daffin melirik kepergian Hamas, mereka geleng-geleng pelan.


"Apa kau yakin, abang Hamas pergi ke Washington demi anak?" bisik Dafa pada adiknya.


"Tidak mungkin, dia pasti merindukan kak Alexa makanya dia pergi ke sana dengan dalih bertemu anak-anaknya"


"Kamu benar, heh! Padahal bisa menggunakan ponsel untuk melakukan panggilan video dengan Enzi dan Aditya, alasannya sangat klasik"


"Sudahlah, lebih baik kita telepon daddy segera!" seru Daffin, mereka pun menghubungi daddy mereka untuk meminta oleh-oleh saat pulang nanti, dua pria remaja itu tidak mau kalah dengan dua ponakannya.


Sementara di Washington, sisa Alexa, Amanda dan dua pasien di ruang VIP sedang tiga anak buah Vicky berjaga-jaga di luar.


"Ma, lebih baik mama istirahat, biar Alexa yang jaga ayah, nanti kita gantian jaga ayah dan Uncle Vicky" kata Alexa yang merasa kasihan dengan Amanda, sejak Alex di masuk rumah sakit, wanita tua itu tidak pernah istirahat, cintanya sungguh tulus, dalam keadaan suaminya sakit ia bahkan ikut menerima penderitaan itu.


"Lebih baik kamu istirahat saja sayang, kamu harus jaga kesehatan kamu, biar mama jaga ayah di sini, mama masih belum ngantuk" tolaknya membuat Alexa mendesah kasar, ia pun menggenggam tangan ibunya dan menatapnya dalam.


"Ma, kalau mama sakit dan ayah tahu itu, ayah pasti akan ikut sakit juga jadi istirahatlah, Alexa tadi sudah istirahat, sedang mama dari tadi menunggu ayah di sini, Alexa mau menjaga ayah juga" katanya dengan suara lembut, Amanda pun mengangguk dan beranjak dari sana.


Di ruang tersebut menyediakan tempat tidur bagi yang menginap, ada satu buah kasur dengan ukuran king size, jadi bisa tidur bersama, tentu khusus untuk wanita saja.


Kini Alexa duduk di kursi samping bangsal ayahnya, menatap wajah Alex penuh penyesalan, andai dirinya bisa lebih dulu melerai perkelahian tersebut, mungkin tidak ada yang terluka tetapi dirinya benar-benar tidak tahu kedatangan keluarganya.


Tiba-tiba ia teringat bahwa Hamas akan datang ke Washington DC, membuat jantung gadis itu kembali tak karuan.


"Bagaimana ini, apa yang harus Alexa lakukan? Alexa pasti bisa melupakannya, jantung Alexa pasti tidak akan berdebar lagi kalau tidak ada perasaan padanya, semoga Alexa bisa melakukannya, kumohon ya Allah" lirih Alexa dalam hati. Ia sungguh menghindari pria duda itu yang selalu membuat jantungnya tidak sihat, ingin sekali pergi dari kehidupannya namun ia harus tinggal bersamanya.


"Dia seperti pantulan di depan cermin, begitu dekat hingga bisa menjangkaunya, tapi dia seperti ilusi yang tidak bisa di sentuh, ada sekat yang membatasi, cinta Alexa bertepuk sebelah tangan, mustahil bisa menggapainya" desahnya memejamkan mata.


Lelah dengan perasaan yang bertentangan, ingin bersama tapi hanya angan-angan, ingin melupakan tapi hati enggan melepaskan, siapa yang bisa mengontrol hati? Bisakah membatasi cinta ini? Cinta ini begitu kacau, terkadang bisa membunuh, sebab hasrat cinta sudah mendarah daging.


.


.


.


.


.


.


Bersambung