
Happy reading guys 🤗
Beri Vote Seninnya dong kak 🙏🤗🤗🤗🤗
.
.
.
.
.
.
Oskar membawa Aulia ke salah satu bangunan tinggi dan besar, bangunan yang berada di di alun-alun besar itu, atau nama lengkap resmi yang telah di sepakati adalah Plaza de La Constitucion.
"Uncle kita akan ke mana?" tanya Aulia dengan posisi tangannya di genggam oleh pria di sampingnya. Oskar melirik ke arah Aulia, bibirnya melengkung tipis membentuk senyuman. Pria itu hanya menoleh sebentar lalu memposisikan wajahnya kembali ke depan.
"Lia penasaran, Uncle Oskar akan membawa Lia kemana?" bisik Aulia dalam hati. Hingga sampai mereka di lantai teratas bangunan tinggi di alun-alun besar itu.
"Wow, di sini sangat indah" pekik Aulia dengan mulut membentuk huruf O. Matanya sangat di manjakan dengan sebuah pemandangan indah di depan mata. Bangunan-bangunan tinggi dan besar itu terlihat sangat jelas di atas sini. Juga orang-orang terlihat seperti seekor semut.
"Kamu suka?." Tanya Oskar menatap wajah indah Aulia. Bibirnya ikut tertarik ke atas kala melihat wajah rupawan gadis itu tersenyum lebar.
"Iya Uncle. Lia suka banget" jawab Aulia antusias. Pandangannya masih setia menatap orang-orang yang sedang berjalan kaki juga kendaraan di bawah sana yang berlalu lalang.
"Kalau malam akan sangat bagus, jika kita perginya siang begini kurang mendapatkan panorama indah yang sesungguhnya. Malam hari akan ada lampu-lampu dengan berbagai macam warna menyinari kota Meksiko, hal tersebut akan menghasilkan keindahan yang sempurna." Jelas Oskar yang sudah berdiri di samping Aulia. Sonta Aulia menoleh ke arah Oskar membuat wajah mereka hampir bersentuhan. Mendadak tubuh keduanya terasa kaku dan keadaan menjadi canggung.
"Ah, ma-maaf" lirih Oskar dengan jantung berdegup kencang. Terlihat wajahnya yang putih bersih berubah menjadi merah akibat wajah Aulia yang begitu dekat dengannya. Bahkan dirinya bisa merasakan deru napas lembut menyapu pori-pori kulitnya.
"Aku merasakan getaran aneh" gumam Oskar dalam hati.
"Tidak apa-apa Uncle. Wajah Uncle merah, apakah itu karena terkena sinar matahari?" tanya Aulia polos. Tidak tahu saja jika laki-laki itu sedang bersemu karena dirinya.
"I-iya, sepertinya be-begitu" kaku Oskar menggaruk pipinya yang tiba-tiba saja gatal. Aulia mengangguk pelan tidak menaruh curiga sedikitpun.
"Kalau begitu, bolehkah malam nanti Uncle membawa Lia ke sini lagi? pinta Aulia dan Oskar tersenyum menganggukkan kepalanya.
"Uncle, fotoin Lia yah, kan sayang jika tidak mengambil foto di tempat sebagus ini" ucap Aulia melebarkan senyumnya. Oskar hanya menanggapi dengan anggukan ringan, karena dirinya benar-benar tidak bisa konsentrasi lagi. Pikirannya terus tertuju pada Aulia. Gadis yang baru kemarin hadir di rumahnya.
"Apakah cinta, secepat ini datang?." Bisik Oskar dalam hatinya. Mengambil ponsel yang di sodorkan oleh Aulia.
"Uncle, fotoin yang bagus yah" teriak Aulia dan pria itu hanya mengangkat sebelah jempolnya sebagai jawaban.
Aulia berpose imut di mana kedua tangannya membentuk love di atas kepalanya kemudian memberikan finger love ke arah Oskar. Dan semua gaya yang Aulia lakukan ia abadikan di ponsel Aulia namun sudah ia kirim melalui aplikasi WhatsApp ke nomornya. Setelah mengirimnya buru-buru Oskar menghapus kirimin foto itu. Ia tidak mau jika Aulia tahu karena sudah pasti ia akan malu sendiri.
Di sisi lain.
Seorang wanita berlari kecil ke arah seorang pria yang tengah melangkahkan kakinya menuju sebuah bangunan besar yang menjulang tinggi itu.
"Tio! tunggu aku!" seru wanita tersebut. Yang menahan kekesalannya pada kekasihnya. Bagaimana tidak, selepas kepergian Oskar dan Aulia Tio kembali pada mode biasanya. Padahal ia sudah sangat bahagia dengan berbagai macam pose romantis yang mereka lakukan namun nyatanya. Kebahagiaan itu tidak bertahan lama.
Tio menghentikan langkahnya menatap datar Karla.
"Kamu kenapa sih!. Tadi biasa-biasa saja sekarang malah pergi tidak jelas... kamu cemburu yah?" tuding Karla dengan napas ngos-ngosan.
"Cemburu? mana mungkin!" jawabnya dengan senyum mengejek. Kembali dirinya berjalan masuk ke dalam lift di ikut Karla di belakangnya.
"Kamu serius tidak cemburu? baguslah kalau memang tidak. Sepertinya Oskar akan mudah mendapatkannya" tutur Karla santai membuat Tio segera menatap Karla dengan pandangan yang sulit di mengerti.
"Tidak! Nona Aulia pasti tidak akan menerimanya, lebih baik kamu bilang pada Oskar untuk tidak mengatakan apapun pada Nona Aulia atau hatinya akan terluka." sahut Tio membuat Karla menautkan kedua alisnya.
Tidak lama kemudian lift terbuka, buru-buru Tio keluar berjalan cepat menuju atap gedung tersebut. Hingga sebuah pemandangan yang membuatnya benar-benar terbakar di tambah sinar matahari yang memang dengan mudah membakar kulit.
Tanpa babibu lagi Tio melangkah ke arah Oskar yang memeluk tubuh Aulia. Dengan tarikan kasar membuat tubuh gadis itu terlepas dari pelukan Oskar.
"Apa yang sudah kau lakukan Oskar! jangan macam-macam kamu!!. Aku tidak bisa nembiarkanmu mendekati Nona Aulia!. Aku sendiri yang akan mengantarnya pulang" tegas Tio dengan tatapan tajam menghunus pada Oskar. Tio menarik tangan Aulia kasar membawanya turun dari atap gedung itu. Meninggalkan Oskar dan Karla yang masih mematung melihat kepergian Tio dan Aulia.
"Apa aku berhak cemburu? kenapa, kelihatannya Tio melakukan itu bukanlah hanya pekerjaan namun karena dia mencintainya..." batin Karla.
"Apa yang sebenarnya terjadi, Kak?" tanya Karla menghampiri kakak sepupunya.
"Haaah! Aulia tergelincir dan hampir jatuh, aku refleks menangkapnya tapi kalian datang di waktu yang tidak tepat. Kalau di lihat-lihat pacar kamu sepertinya cemburu, apakah dia benar-benar tulus mencintaimu Dek?" tanya Oskar yang sudah merasakan keanehan pada pacar adik sepupunya.
"Hahaha, kamu biacara apa sih! yang jelasnya dia sangat mencintaiku kalau tidak kenapa kami pacaran. Lagipula dia khawatir karena Aulia adalah anak dari raja Hades kau tahu kan bagaimana tempramennya" jawab Karla sedikit berbohong. Berusaha untuk tersenyum walau pada akhirnya rasa sakit itu mendominasi hatinya.
"Ayo turun!" ajak Oskar dan Karla menjawab dengan anggukan pelan. Keduanya lalu turun ke lantai dasar lebih tepatnya di lapangan besar itu, melihat ke sekeliling mencari keberadaan Tio dan Aulia namun tidak mereka temukan. Wajar saja banyak sekali pengunjung yang hadir di tempat itu jadi sangat sulit untuk mencari seseorang.
"Kita cari di parkiran saja" saran Karla. Mereka kemudian berjalan menuju parkiran motor namun lagi-lagi tidak melihat kedua orang yang di cari. Melihat salah satu motor tidak ada, membuat keduanya saling menatap.
"Mereka sudah pergi" gumam Karla dan Oskar.
"Kamu masih mau di sini atau pulang saja?" tanya Oskar.
"Pulang saja, mungkin mereka akan segera tiba di Mansion" jawab Karla tersenyum kecut. Oskar mengangguk mengerti. Keduanya pun keluar dari parkiran motor. Melesat dengan kecepatan tinggi bergabung dengan kendaraan yang lainnya.
Di sebuah danau dengan pohon-pohon rindang bertebaran di setiap sisi jalan. Dua anak manusia sedang duduk di salah satu kursi kayu berukuran panjang berwarna putih. Menatap air danau yang begitu teduh. Keduanya tidak ada yang bersuara. Saling diam dengan pikiran masing-masing.
Melirik takut pada wajah pria di sampingnya. Sediki merasakan takut saat pertama kali melihatnya se-marah itu.
"Apa Nona takut dengan Uncle?" tanya pria itu setelah sekian lama diam. Menatap wajah wanita di sampingnya yang masih gemetaran. "Maaf" lirihnya meraih tubuh Aulia mendekapnya dalam pelukannya.
"Apa Lia punya salah Uncle? Lia takut melihat Uncle marah... Lia tidak tahu kesalahan apa yang Lia buat" tutur Aulia pelan.
"Maaf" hanya kata itu yang mampu di ucapkannya.
"Apakah Uncle sedang cemburu? jika benar berarti Uncle mencintai Lia kan" ujar Aulia mendongakkan kepalanya menatap wajah maskulin pria di depannya. Tersenyum lebar.
"Uncle hanya tidak mau Nona salah bergaul, karena Nona adalah tanggung jawab Uncle di sini. Uncle tidak mungkin cemburu, sudah ada aunty Karla yang akan menjadi istri Uncle dan tidak lama lagi Uncle akan menikah dengannya" jawab Tio yang langsung melepas pelukannya. Pria itu segera beranjak. Menatap sekilas wajah Aulia lalu berujar.
"Ingat untuk tidak dekat-dekat dengan Uncle Oskar, ayo kita pulang sekarang" Tio melenggang pergi meninggalkan Aulia yang mematung di atas kursi kayu itu. Tertawa getir mendengar ungkapan Tio barusan.
"Hehehe, Lia. Kau sungguh tidak beruntung" gumam Aulia pelan. Menarik napasnya kemudian ikut beranjak mengikuti langkah kaki Tio.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung