
Happy reading 🤗
Like dan komen, vote Seninnya dong kak 🙏🤗🤗🤗
.
.
.
.
.
.
Di bandara internasional Soekarno Hatta sepasang pria dan wanita saling bertatap-tatapan berdiri sejajar saling menghadap satu sama lain, rute penerbangan Garuda Indonesia dengan tujuan langsung ke Amerika sebentar lagi akan berangkat. Sekalipun menggunakan jet pribadi namun tidak bisa menunda waktu keberangkatan karena terkadang cuaca begitu cepat berubah.
Tuan Smith berjalan duluan meninggalkan sepasang pria dan wanita memberikan waktu kepada dua sejoli itu. Entah kapan dan dimana lagi mereka akan bertemu Richo memberanikan diri mengutarakan isi hatinya kepada wanita di depannya sekalipun waktu berduaan begitu singkat namun meninggalkan kesan yang amat sangat di hati.
Menarik napas panjang kemudian menghembuskan perlahan-lahan, di tatapnya wajah cantik gadis di depannya tangannya terulur meraih kedua tangan sang wanita, digenggamnya erat penuh rasa seakan tidak rela melepasnya walaupun badai menerpa ombak laut menerjang ia tetap menggenggamnya erat.
"Mungkin ini terlalu singkat menurutku bersama denganmu hanya beberapa hari saja, aku tidak tahu kapan rasa ini hadir tapi yang ku tahu saat ini aku sudah terbiasa denganmu. Emmm..., aku tidak menuntutmu untuk mengatakan ya cukup dengarkan apa yang akan aku sampaikan" jelas Richo masih dengan posisi menggenggam jemari tangan Karla. Gadis itu menatapnya serius tanpa berkedip.
"Aku belum pernah dekat dengan wanita lain kecuali dua sahabatku yang sudah menikah, aku tidak tahu seperti apa perasaan cinta itu namun yang pasti aku merasakan ada sesuatu getaran dalam jiwa yang tidak bisa aku definisikan... saat aku mendengar bahwa kamu akan kembali ke Amerika, hatiku mendadak kosong, hari ini aku ingin mengatakan jika aku sepertinya menyukaimu. Kamu tidak perlu menjawabnya sekarang kamu cukup mendengarkan dan tahu bahwa aku mencintaimu" jelas Richo panjang lebar, wajahnya berubah menjadi pucat terlihat bulir keringat sebesar biji kacang hijau menetes di dahinya. Ini kali pertama dirinya menyatakan cinta pada wanita ternyata sesulit ini untuk mengakui perasaan benar-benar menantang jantung.
Sedikit sudut bibir Karla terangkat sebelah merasakan betapa dinginnya tangan pria di depannya. "Apa sudah selesai?" Richo mengangguk dengan tatapan lirih. Senyum manis terpancar di wajah Karla, wanita itu mendekat melepas genggaman tangan Richo membuat pria itu sedih karena menganggap bahwa cintanya bertepuk sebelah tangan.
Namun tak disangka Karla menarik kerah baju Richo dan...
Cup
Karla menempelkan bibirnya ke bibir Richo, kakinya berjinjit untuk bisa memperdalam ciumannya, mengigit bibir Richo dan secara tidak langsung bibir prianya terbuka, Richo terdiam dengan tubuh kaku mendapat serangan mendadak membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa bahkan lupa di mana dia sekarang.
"Dia menciumku..." batin Richo. Karla menekan tengkuk leher Richo lidahnya bermain-main dengan lidah Richo menukar saliva kemudian menjilat bibir prianya.
Karla melepas pagutan ciumannya menatap senyum wajah pria di depannya seperti patung hidup tanpa nyawa. Terkekeh kecil dan kembali mencium pipi Richo makin salah tingkah si jones.
"Itu adalah jawabanku, aku tunggu tanggal lamarannya" bisik Karla di telinga Richo setelah mengucapkan kalimat tersebut wanita berambut light brown itu melenggang pergi karena rute penerbangan akan segera lepas landas. Richo masih mematung dengan tatapan kosong masih belum mengerti apa yang terjadi.
"Eh, apakah dia menerimaku? dan apa tadi? tanggal lamaran?" melihat wanitanya sudah pergi seketika membuatnya tersadar ia buru-buru berlari mengejar Karla.
"Karla! tunggu!" merasa namanya di sebut wanita itu menghentikan langkahnya kemudian menoleh ke belakang dengan senyum mengembang.
Richo menarik tangan Karla hingga tubuh wanita ramping itu terjatuh ke dalam pelukannya, terasa benda kenyal menyentuh pundaknya. "Terima kasih sudah menerimaku, tunggu aku! sebentar lagi aku datang melamarmu" bisik Richo terharu sesekali mencium pundak wanitanya.
"Hey! bisakah untuk mempercepat kegiatan romantisnya! waktu tidak menunggu kalian!" seru Tuan Smith memandang jengah kedua sejoli yang baru menjalin hubungan itu. Richo dan Karla segera melepas pelukannya kala mendengar seruan dari belakang mereka.
"Sepertinya kita harus LDR-an, ah padahal baru menjalin hubungan..." gumam Richo membuat Karla tertawa kecil.
"Aku pergi sekarang jangan lupa untuk segera melamar" pesan Karla dan Richo mengangguk semangat.
"Eleh, eleh! dasar anak muda membuat aku menunggu saja" Tuan Smith geleng-geleng kepala ia lalu pergi meninggalkan Karla dan Richo. Melihat dua sepasang muda membuat dirinya teringat dengan almarhumah istrinya yang begitu bucin.
"Aku tidak mau di omeli lagi dari Tuan Smith, aku pergi dulu kamu baik-baik di sini" ucap Karla tersenyum tipis.
"Kamu juga hati-hati di sana, jangan lupa kabari aku jika sudah sampai" jawab Richo dan Karla mengangguk sebagai jawaban.
"Hey! jangan lama!" terdengar teriakan lagi yang tak lain adalah Tuan Smith membuat kedua pasangan baru pacaran itu terkekeh.
"Aku pergi dulu" Karla kemudian berjalan menjauh dari Richo, namun pria itu kembali memanggilnya.
"Tunggu!" Richo berjalan cepat menuju Karla menangkup pipi wanitanya dan...
Cup
Richo mencium bibir Karla sebagai tanda perpisahan sementara dan dengan senang hati wanita itu membalas ciuman sang pacar.
"Astaga aku sepertinya terkena mental bucin" gumam Richo senyum-senyum sendiri.
Di sisi lain Jons dan Amanda baru kembali dari Mall dengan menenteng beberapa paper bag di tangan mereka, dua wanita paruh baya namun masih terlihat sangat cantik itu menjatuhkan pantatnya di atas sofa yang empuk menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.
"Capek juga keliling Mall dari pagi dan sekarang sudah mau sore saja" ucap Amanda membuang napas kasar. Mendengar keluhan wanita di sampingnya membuatnya terkekeh kecil.
"Sudah sewajarnya capek, sekarang kita tidak muda lagi tidak seperti dulu bahkan tebing yang terjal pun tak membuat kita merasa lelah malah semakin bersemangat" jawab Jons dan Amanda membenarkan hal itu.
"Itu karena lemak di tubuh kita semakin banyak, kita butuh olahraga untuk mengurangi lemak ini" tutur Amanda melirik ke perutnya yang buncit dan semakin lebar.
"Good! di lantai tiga ada ruang fitness kenapa kita tidak menggunakannya untuk olahraga, kita juga bisa melakukan yoga" balas Jons dan membuat kedua wanita itu tersenyum tipis.
"Hari minggu kita bisa melakukan yoga, dan hari-hari biasa kita bisa menurunkan berat badan dengan lari" kata Amanda.
"Mommy!!" terdengar suara teriakan dari arah lift, dua bocah laki-laki berlari ke arah ruang keluarga tepatnya ke arah Jons. Jons menaikkan sebelah alisnya melihat wajah masam dua putranya.
"Ada apa dengan wajah kalian berdua? kok di tekuk gitu?" tanya Jons kepada dua putra kecilnya.
"Kalian tidak sedang membuat masalah di sekolah kan?" timpal Amanda memicing curiga.
"No! kami adalah siswa teladan mana ada membuat masalah di sekolah" sahut Daffin memutar bola matanya malas.
"Lalu kenapa kalian cemberut?" Jons bertanya lagi membuat kedua bocah Iblis itu membuang napas kasar seakan mendapat beban hidup yang berat.
"Mom, tahu tidak jika teman-teman Daddy, Kakek dan Nenek meremehkan kita" dua wanita dewasa mengerutkan dua alisnya masih belum mengerti arah pembicaraan sang putra.
"Maksudnya gimana sayang?, meremehkan bagaimana?" tanya Jons menatap Dafa dan Daffin. Dua bocah itu berdiri di depan sang Mommy.
"Tadi kami berdua masuk ke sebelah kamar kak Lia, tempat penyimpanan hadiah pernikahan kak Lia, dan kami mendapat jaring ikan nelayan di sana sangat banyak" jelas Daffin polos. Jons dan Amanda saling melirik satu sama lain, keduanya masih belum mengerti.
"Maksudnya bagaimana sayang? bentuknya seperti apa?" kali ini Amanda bersuara.
"Bentuknya kayak segitiga dan ada yang bentuk baju sepertinya mereka pikir kita ini adalah keluarga nelayan sampai memberikan hadiah untuk kak Lia jaring ikan" sahut Dafa membuat dua wanita dewasa membulatkan bola matanya.
"Whatt!! kalian sudah melihatnya?" pekik Jons dan Amanda.
"Iya sangat jelas" jawab dua D.
"Astaga!!! Amanda ayo kita lihat ke atas!" Jons dan Amanda berlari menuju lift membuat dua bocah itu menaikkan alisnya tinggi.
"Kak, apakah mereka marah?" tanya Daffin.
"Yups! tentu saja mereka sudah meremehkan kita, Daddy dan Mommy tidak akan terima penindasan itu" balas Dafa.
"Untung Tuan muda kecil masih polos, jadi belum tahu jika benda yang mereka pegang adalah benda keramat wanita" batin Sandy.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung