The Love Story Princess And Prince Mafia

The Love Story Princess And Prince Mafia
Bab 184 Kamar Mandi Menjadi Solusi Akhir



Happy Reading Guys semoga hari-hari kalian selalu bahagia 🤗🤗😇😇


.


.


.


.


.


Mobil yang di tumpangi Hamas dan sekretaris Hanan telah tiba di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, sekretaris Hanan turun dan segera membuka pintu untuk tuan mudanya lalu menutup kembali kala sang empu sudah keluar.


"Sampai di sini saja, ingat untuk kabari aku kalau ada kendala besar"


"Baik tuan muda" jawabnya dengan anggukan kepala. Hamas berjalan meninggalkannya sedang dirinya masih berdiri di tempat dan menatap punggung Hamas.


"Tuan muda!" serunya dan sang empu nama berbalik menatap aneh sekretaris Hanan, ia mengerutkan kening kala tidak ada respon dari pria muda di depannya.


"Semangat berjuang! Semoga tuan muda berhasil" sekretaris Hanan berujar dengan wajah datar dan dengan kepalan tangan terangkat sejajar kening, memberi semangat kepada pria duda itu, ia pun buru-buru masuk ke dalam mobil, entah kenapa jantungnya berdebar kencang, bukan cinta tetapi itu pertama kalinya ia memberi semangat kepada Hamas, walaupun dengan ekspresi datar.


"Anak ini, lucu sekali" bisik Hamas terkekeh kecil, ia pun kembali melanjutkan langkahnya menuju pintu masuk, lalu melakukan cek-in tiket karena ia datang tepat pada waktunya.


Kini ia sudah di dalam pesawat, sebagai salah satu penumpang pesawat kelas bisnis dari sepuluh orang yang ada di ruang tersebut. Ia duduk di bagian jendela sembari menatap pemandangan luar yang sungguh menarik perhatiannya. Pesawat itu telah lepas landas, terbang layaknya burungnya ke udara tanpa takut akan bahaya di depannya.


Burung besi itu melintasi lautan awan, melesat cepat oleh dorongan angin, pria dengan setelan casual itu menikmati hamparan awan, ingin sekali berpijak di atasnya, bagaimana rasanya? Apakah akan menyenangkan? Mungkin saja iya tetapi bagaimana melakukannya? Sangat mustahil.


Adakah makhluk yang bisa berpijak di atas awan? Dia terlihat seperti sebuah jebakan yang bisa saja menjatuhkan benda di atasnya, saat sibuk menatap awan seseorang datang menghampiri Hamas.


"Permisi tuan, apakah tuan ingin memesan makanan dan minuman?" Hamas melirik pramugari cantik itu yang sedang menatapnya penuh damba, pesona pria duda itu tidak di pungkiri sungguh menarik perhatian para wanita.


"Berikan saya jus mangga saja" jawabnya kemudian beralih menatap ke arah jendela, pramugari itu mengangguk dan berjalan menuju dapur. Hamas yang bosan mengambil ponsel di saku celananya ia melihat-lihat gambar di galeri ponsel, terlihat sebuah foto gadis cantik yang memakai seragam sekolah, dia mengelusnya lembut dengan tatapan rindu.


"Maaf tuan, ini pesanan anda" Hamas kemudian mengambil segelas jus mangga dan meletakkan di atas meja di sampingnya, ia kembali melihat foto gadis di ponselnya itu.


"Apakah itu istrinya? Rupanya telah menikah" batin seseorang dengan nada kecewa.


"Tidak sopan melihat benda orang lain tanpa izin! Apa kau tidak di ajari sopan santun?" ucap Hamas dengan tatapan datar, ia tak sengaja melihat pramugari itu masih berdiri di sampingnya dan melihat ke arah ponselnya, sungguh ia benar-benar emosi.


"Sa-saya tidak se-sengaja tuan, tolong maafkan saya" ucap wanita itu terbata-bata dan menundukkan kepala memohon ampun, Hamas mengangkat tangan sebagai isyarat untuk menjauh darinya karena ia tidak ingin di ganggu. Buru-buru wanita itu pergi ia ketakutan melihat wajah Hamas yang sangar.


"Kita akan bertemu lagi, dan saat itu tiba aku tidak akan melepasmu" gumamnya dengan senyum penuh maksud.


Sementara di kota Washington tepatnya di Apartemen Azhar, di sebuah ruang terbuka dua sejoli tua sedang tidur bersama saling berpelukan tanpa melihat situasi, seakan bodoh dengan sekitarnya prianya semakin mempererat pelukannya. Sang wanita membiarkannya sekalipun merasa risih tetapi pria itu adalah suaminya.


"Sayang, sekarang Alexa sudah ketemu, apakah perjodohan dulu tetap di lanjutkan?" tanyanya pelan, dulu mereka telah melakukan kesepakatan untuk menjodohkan Hamas dengan Alexa namun salah satu di antara keduanya tidak mau alhasil perjodohan itu di tunda, menunggu kesiapan Azhar untuk menikah dengan Alexa, tetapi kabar duka itu muncul tiba-tiba, semuanya terpukul dan masalah perjodohan akhirnya di lupakan.


CUP


Sebuah kecupan mendarat di dahi istrinya, dia tersenyum lebar.


"Anak-anak yang akan menikah dan mereka yang akan menjalankan bahtera rumah tangga itu, jadi biarkan mereka memilih sendiri pasangan hidup, kita sebagai orang tua tidak boleh ikut campur" terdengar helaan napas panjang, Jons tidak setuju dengan pendapat tuan Farhan, ia ingin menjodohkan putranya dengan Alexa.


"Kenapa? Apa kau ingin menjodohkan anak-anak?" seakan tahu keresahan hati sang istri pria itu bertanya, Jons mengangguk pelan.


"Aku ingin menjodohkan Hamas dengan Alexa prince, Hamas sudah tidak ingin menikah, tetapi dua anaknya membutuhkan sosok ibu untuk menjaga dan membimbing mereka, aku tidak mau dua cucuku tidak mendapatkan kasih sayang seorang ibu" usapan lembut di kepala membuat Jons tenang, ia kembali memeluk tubuh kekar suaminya, pria itu sekalipun sudah berumur namun tidak lupa untuk berolahraga agar bentuk tubuhnya tidak berubah, ke-bucinan terhadap sang istri membuat dirinya melakukan apa saja agar terlihat gagah.


"Yang kamu bilang itu benar Ara, tetapi kembali lagi kepada anak-anak, akankah mereka setuju? Terlebih Hamas adalah duda dengan dua anak sementara Alexa, dia masih kecil sudah harus mengurus dua anak kecil, aku tidak setuju jika dia menikah dengan Hamas, Hamas pernah menikah akan sulit melupakan kenangan pahit itu, aku takut Hamas masih mencintai Shireen dan itu akan membuat Alexa sakit hati, lebih baik dengan Azhar saja yang tidak terikat dengan masa lalu" jelasnya panjang lebar. Jons terdiam sesaat memikirkan penjelasan tuan Farhan yang masuk akal.


"Kau benar Prince, kalau begitu kita harus mendekatkan mereka mulai dari sekarang agar tumbuh benih-benih cinta di kedua hati mereka" katanya mantap. Hari semakin larut, semua penghuni di Apartemen itu sudah tidur, tidak ada suara yang terdengar hanya keheningan yang tercipta.


Tiba-tiba sebuah pergerakan mulai beraksi dengan panduan naluri pria, hingga sampai pergerakan itu di sebuah gunung yang masih aktif, dia meremasnya penuh kelembutan, sang empu menatap pelaku dengan tatapan tajam.


"Jangan gila Prince! Ini di ruang terbuka, anak-anak akan melihatnya nanti" serunya dengan suara pelan.


"Aku main di atas saja, lagipula bukankan ada selimut, kita bisa menutupinya menggunakan kain ini, mudah bukan?" ucapnya dengan mengedipkan mata sebelah. Aksi itu terus berlanjut tangannya semakin aktif, tidak puas di gundukan kenyal ia beralih ke bibir, ia menyosor tanpa meminta izin, kini tuan Farhan berada di atas Jons, mulai menyingkap baju sang istri, di malam yang sepi itu keduanya bercumbu nikmat.


"Kakek, nenek, kami mau tidur sama kakek dan nenek yah" suara anak kecil tiba-tiba terdengar, kenikmatan yang hampir mencapai puncak tiba-tiba turun drastis, terbang tinggi ke atas langit dan akhirnya di jatuhkan oleh benda asing yang tidak tahu dari mana asalnya.


Tuan Farhan turun dari atas tubuh Jons, sang empu merapikan kembali pakaiannya, wajah tuan Farhan sudah tidak di kondisikan, benar-benar datar. Pria itu menutup matanya dengan ekspresi dongkol tanpa menjawab pertanyaan sang cucu.


"Benar-benar sial sekali, padahal hampir saja merasakannya tetapi dua kerucil itu sungguh merugikanku, lebih baik aku tidak membawa mereka kemari" batinnya berkeluh kesah.


"Nenek, kakek kenapa tidak jawab? Apa kalian tidak mau kami tidur di sini? Kami tidak bisa tidur dengan paman Azhar, paman tidur seperti ular kepanasan saja" curhat Aditya dengan wajah sedih.


"Siapa bilang tidak boleh sayang, ayo sini tidur bersama kakek dan nenek" Jons bangun dan tersenyum hangat. Kedua anak itu segera pergi ke samping Jons, Enzi dan Aditya tidur di tengah-tengah kedua pasangan itu.


"Kakek sudah tidul, padahal tadi Enzi liat kakek tulun dali atas nenek" ucapnya polos, mata Jons terbelalak rupanya dua cucunya melihat mereka, itu sangat memalukan.


"Kakek sudah tidur dari tadi, mungkin kamu salah lihat sayang, ayo tidur, sekarang sudah malam" kata Jons kikuk, mereka pun akhirnya tidur sementara tuan Farhan ia benar-benar tersiksa dan pada akhirnya ia beranjak bangun menuju kamar mandi, sepertinya ia akan menuntaskan kegiatan yang tadi tertunda. Memang masalah seperti ini solusi terkahir hanyalah kamar mandi.


.


.


.


.


.


Bersambung