The Love Story Princess And Prince Mafia

The Love Story Princess And Prince Mafia
Bab 134 Senyuman Mentari Pagi



Happy reading 🤗


.


.


.


.


.


Kini Tuan Farhan sudah bersiap-siap dengan pakaian kantornya, saat ini ia berdiri di depan cermin besar sembari menatap sang istri yang masih terlelap tidur, seutas senyum merekah selalu terbit di bibirnya, entah apa yang dia senyumkan namun raja Iblis terlihat sangat bahagia pagi ini.


Jons masih terkapar di bawah selimut, menutup matanya rapat-rapat akibat kelelahan di malam hari, bertempur di atas ranjang lebih melelahkan daripada di medan perang, terdengar horor namun rasanya sangat nikmat tiada tara.


Pria dengan setelan kantor itu berjalan menuju ranjang, mengelus lembut rambut istrinya, perlahan-lahan ia memajukan wajahnya dan...


CUP


Satu kecupan cinta mendarat di kening istrinya lalu turun ke kelopak mata dan berakhir dengan ******* kecil di bibir seksi Jons.


"Manis sekali, aaahk aku bahkan ingin bermain lagi tapi kasihan Araku pasti sangat lelah" gumam tuan Farhan. Setelah memberikan ciuman sayang, pria itu pun keluar dari kamar dengan menenteng tas di tangannya. Saat mendengar suara pintu tertutup buru-buru Jons membuka matanya. Ia sangat kesal dengan tuan suaminya sampai ia begitu sulit hanya sekadar bangun.


"Dasar si Jelangkung batangan, bisa-bisanya ingin menggempur ku lagi! untung saja aku pura-pura tidur kalau tidak habislah aku..., aku bahkan sangat takut berada di dekatnya semalam seperti setan kesurupan seperti tidak pernah makan saja" ketus Jons dengan wajah di tekuk. Padahal memang benar tuan Farhan sudah beberapa bulan ini tidak pernah menyentuh Jons hingga membuatnya kelaparan saat mereka berdua menyatu dalam keheningan malam.


Tuan Farhan turun menggunakan lift, ia melihat sudah ada banyak yang duduk di meja makan, ia pun bergabung dengan yang lain.


"Lia, nanti bawakan makanan untuk mommy, dia sedang tidak sehat saat ini, jika masih tidur jangan bangunkan mommy" kata tuan Farhan dengan senyum mengembang di wajahnya membuat semua di sana keheranan.


"Apakah mommy sakit Dad?" tanya Aulia khawatir.


"Tidak, mommy kalian hanya kelelahan saja jangan khawatir" jawabnya masih dengan senyum tipis di bibirnya.


"Sepertinya hari ini adalah hari baik, melihat tuan muda begitu senang sepertinya Jons telah menyenangkan adiknya" batin Amanda ikut bahagia.


"Anak ini, pasti semalam mereka sedang merajut cinta sampai membuatnya begitu bahagia, dasar pria nakal itu mengingatkanku saat aku masih muda dulu, benar-benar persis sekali denganku" kata tuan Wijaya dalam hati, pria tua itu mencuri-curi pandang ke arah nyonya Mita sembari tersenyum tipis. Sepertinya tuan Wijaya memikirkan kisah indahnya saat masa dulu.


Tuan Farhan kemudian melirik ke arah Hamas, Azhar dan Shireen, mereka terlihat sudah rapi dan ia tahu bahwa putra dan menantunya akan kembali ke Washington untuk melanjutkan kuliahnya karena cutinya sudah selesai.


"Daddy tidak bisa mengantar kalian, tidak apa-apa kan?" tanya tuan Farhan menatap kedua putranya.


"Tidak apa-apa Dad, kami sudah besar jadi tidak perlu di antar oleh Daddy lagi" balas Azhar sembari mengunyah nasi gorengnya.


"Bagus, Daddy harap kalian cepat menyelesaikan kuliah kalian agar bisa menggantikan Daddy..., sekarang ini Daddy sudah tua Daddy ingin pensiun dan menikmati hidup Daddy bersama mommy kalian" ungkap tuan Farhan dengan senyuman manis di wajahnya. Azhar dan lainnya menaikkan alisnya menatap aneh perubahan ayahnya padahal semalam masih berwajah sangar dan datar kini mulai berubah 200°c


"Daddy baik-baik saja kan? kenapa senyum-senyum?" tanya Hamas mengerutkan dahinya.


"Tidak, habiskan makanan kalian sebentar lagi jadwal pesawat kalian akan lepas landas" kata tuan Farhan.


Sedang Aulia membawa makanan ke lantai dua di bantu oleh Tio, saat di depan kamar Jons, Tio kembali turun ke lantai satu karena ia belum menyentuh habis makanannya.


Aulia masuk ke dalam ia melihat seseorang masih tidur dengan posisi membelakanginya, ia tersenyum tipis lalu semakin mendekat ke arah kasur. Meletakan nampan berisi makanan di atas nakas dan ia pun duduk di bibir kasur.


Sedang Jons menutup rapat-rapat matanya agar tidak ketahuan oleh putrinya jika ia sudah bangun, apa yang akan ia jelaskan saat Aulia melihat banyaknya stempel yang di ciptakan oleh tuan Farhan, mengingat adegan semalam membuat Jons benar-benar kesal.


"Orang tua itu rupanya masih menyimpan tenaga yang cukup kuat bahkan menciptakan tanda merah di sekujur tubuhku" kesal Jons. Jons baru bisa bernapas lega saat mendengar suara pintu tertutup itu berarti Aulia telah keluar dari kamarnya.


"Huuft, aku seperti seseorang yang menyembunyikan perselingkuhanku terhadap suamiku" gumam Jons mendengus kesal, ia pun bangun dari tidurnya bersandar sebentar lalu melirik nampan berisi makanan di atas nakas, melihat makanan tersebut membuat perutnya keroncongan ia sangat lapar.


"Lebih baik aku makan dulu" ucapnya.


Sedang di lantai bawah, tuan Farhan sudah selesai menyantap makanannya, ia kini telah bersiap-siap untuk ke kantor apalagi sekretaris Rio sudah menunggunya di ruang keluarga.


"Hubungi Daddy jika kalian telah sampai di sana" ujar tuan Farhan dan semuanya mengangguk. Tuan Farhan kemudian berjalan menuju ruang keluarga, sekretaris Rio melihat Bossnya berjalan ke arahnya segera berdiri dan mengambil alih tas yang ada di tangan tuan Farhan.


"Selamat pagi tuan muda" sapanya dan tuan Farhan mengangguk sebagai jawaban.


"Apa kau sudah sarapan Rio?" tanya tuan Farhan basa basi.


"Sudah tuan." Balasnya sembari mengikuti langkah kaki tuan Farhan.


Sekretaris Rio segera membuka pintu mobil jok kedua setelah memastikan tuannya masuk ia pun mengitari mobil menuju pintu jok depan bagian kemudi. Ia pun masuk dan duduk rapi di kursi kemudi. Memasang sabuk pengaman lalu menyalakan mesin mobil. Perlahan-lahan mobil Buggati Chiron coklat itu bergerak dan melesat keluar dari gerbang Mansion.


"Putramu tidak jauh beda darimu, dia sangat cocok menjadi sekertaris Hamas saat putraku akan menggantikanku nanti" tuan Farhan membuka percakapan, duduk dengan menyilang kaki dan menatap lurus ke depan.


Sekretaris Rio tersenyum melihat pantulan wajah tuannya melalui kaca spion depan. "Terima kasih atas pujiannya tuan, aku akan lebih mengajari putraku agar bisa layak menjadi sekretaris tuan muda" jawab sekretaris Rio sopan.


"Aku akan mengizinkan putramu untuk bersekolah mengikuti Hamas dan Azhar, biarkan mereka bersosialisasi agar mereka semakin dekat" ucapan tuan Farhan membuat sekretaris Rio terkejut, pasalnya putranya masih berumur 14 tahun itu masih kanak-kanak menurutnya.


"Ta-tapi tuan, Hanan masih sangat muda aku takut dia akan merepotkan tuan mudanya di sana" tukas sekretaris Rio tidak setuju. Ia tidak mau jika putranya malah merepotkan anak-anak tuannya itu.


"Penglihatanku tidak pernah keliru, aku sangat yakin Hanan akan membuat kedua putraku kewalahan karena sikap tegasnya heheheh" gumam tuan Farhan dalam benaknya ia tersenyum tipis nyaris tak terlihat.


"Jangan membantahku Rio, segera kirim Hanan ke Washington apalagi dengan kecerdasannya ia bisa lulus SMA di umur mudanya bahkan putraku saja kalah" tegas tuan Farhan. Sekretaris Rio tidak berkutik ia hanya bisa pasrah jika tuan mudanya sudah berbicara, kata-katanya tidak bisa di bantah.


Ia hanya bisa berdoa semoga putranya tidak membuat kedua anak tuan mudanya pusing tujuh keliling.


"Sebelum mengirimnya aku akan benar-benar mendisplinkannya" tuturnya mantap dalam hati.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung