
Happy reading 🤗
.
.
.
.
.
.
.
Karena Aulia sudah sehat dokter pun sudah memperbolehkan Aulia untuk pulang hal itu membuat Aulia sangat bahagia, bagaimana tidak betah di rumah sakit jika makanan di rumah sakit selalu tanpa garam membuat siapa saja muak melihatnya apalagi memakannya.
Setelah Tio menyelesaikan biaya administrasi rumah sakit sang istri ia pun buru-buru keluar karena mertua dan lainnya sudah menunggunya. Menjadi putri satu-satunya cukup membuat heboh keluarga besar mafia, sangat khawatir jika terjadi hal buruk pada Aulia cukup Alexa yang saat ini hilang tanpa kabar dan tidak akan membuat kesalahan yang sama terulang kembali.
Kali ini tuan Farhan dan Azhar yang menjemput sang putri untuk kembali ke Mansion Utama, keputusan sudah di putuskan bahwa Aulia dan Tio untuk sementara harus tinggal di Mansion Utama apalagi ini menyangkut cucu pertama raja Iblis tentunya tuan Farhan sangat antusias begitupun dengan tuan Wijaya dan lainnya.
Sedang rumah Tio dan Aulia mereka menyuruh empat karyawannya untuk tinggal di rumah agar tidak membuat mereka lelah pulang pergi dari bengkel ke markas.
Tampak fana merah jambu di ufuk barat perlahan-lahan surya bergerak dan jatuh tenggelam hingga tak terlihat lagi oleh mata, mobil yang di tumpangi tuan Farhan kini memasuki halaman Mansion yang luas, pelan-pelan mobil berwarna merah itu terparkir di depan Mansion.
Tuan Farhan turun dari mobil dan membuka pintu mobil jok kedua mengulurkan tangan kepada putrinya untuk di genggam, Aulia pun meraih genggaman tangan Daddynya lalu perlahan-lahan turun dari mobil.
"Daddy, Lia sudah sembuh jangan perlakukan Lia seperti orang sakit yang sedang sekarat" ketus Aulia menampilkan wajah datarnya sedang tuan Farhan hanya menatap dingin ke arah putrinya.
Bukannya menjawab tuan Farhan malah menyentil kening Aulia membuat sang empu berteriak kesakitan seutas senyum tercekat jelas di wajah raja Iblis yang mulai terlihat keriput.
"Daddy sakit tahu!" teriak Aulia melengking tinggi.
"Kamu bilang sudah sembuh kenapa sekarang bilang sakit" jawab tuan Farhan dengan tampang lugunya seakan tidak membuat dosa sedikitpun. Ingin rasanya Aulia menangis meraung-raung di atas tanah atas tingkah polos Daddynya itu.
"Daddy!! Lia sakit bukan karena penyakit tetapi Daddy menyentil kening Lia!" sungut Aulia mengelus keningnya yang terasa sakit, tuan Farhan hanya menarik sudut bibirnya tersenyum simpul.
"Tetap saja putri Daddy masih belum sembuh sepenuhnya" jawab tuan Farhan angkuh membuat Aulia benar-benar kesal, tanpa berkata-kata Aulia berjalan masuk menuju Mansion namun segera di tahan oleh raja Iblis.
"Tio! gendong Aulia jangan membiarkan dirinya kecapean" titah tuan Farhan tegas, Tio mengangguk lalu segera menggendong Aulia ala bridal style. Aulia tidak habis pikir akan tingkah kekanakan Daddynya juga suaminya yang hanya mendengar perintah tuan Farhan langsung menurut. Ia merasa bahagia di perlakukan begitu lembut namun ini terlalu berlebihan bukan? siapa saja akan muak jika di perlakukan seperti seorang penyandang disabilitas. Tidak berguna!.
"Apa-apaan Daddy ini! Lia sudah sehat dan baik-baik saja kenapa harus di gendong segala sih emang Lia tidak punya kaki" tutur Aulia dalam hati menampilkan wajah kesalnya.
"Jangan marah kami lakukan ini karena kami sayang sama kamu" tutur Tio lembut Aulia hanya memutar bola matanya malas. Tidak mau menanggapi kekonyolan orang-orang dekatnya yang sangat menyebalkan menurutnya.
"Sayang, putri mommy bagaimana keadaanmu sayang? apakah sudah baikan, apa ada yang sakit?" tanya Jons menghampiri Aulia saat Tio menurunkannya di atas sofa.
"Lia baik-baik saja, jangan khawatir" balas Aulia tersenyum tipis. Di ruang keluarga sekarang ada nyonya Mita, tuan Wijaya, Ayu dan Reyhan yang tengah berbincang-bincang. Mereka sangat bahagia akhirnya Aulia bisa pulih dengan cepat apalagi sekarang ini Aulia sedang mengandung anak pertama hal itu membuat mereka harus lebih memperhatikan Aulia.
"Sayang, untuk sementara kalian harus tinggal di sini dulu, nenek tidak akan tenang jika kamu akan sakit lagi seperti malam kemarin" tutur nyonya Mita menatap wajah Aulia yang sedikit pucat. Aulia mengangguk pelan lagipula ia juga merindukan suasana di Mansion Utama.
"Baik nenek, Lia dan Uncle sudah berdiskusi dan kami akan tinggal di sini, emmm... tapi Lia ingin sekali makan nasi goreng Pete, air liur Lia hampir saja menetes" ujar Aulia dengan senyum malu-malu. Mereka yang mendengar permintaan Aulia begitu antusias, nyonya Mita segera menyuruh koki untuk membuat nasi goreng sesuai pesanan cucunya namun langsung di tolak oleh Aulia.
"Lia ingin Daddy yang membuatkannya untuk Lia" semua di sana terkejut mendengar permintaan Aulia, tuan Farhan yang tidak pernah memasak membulatkan bola matanya begitupun dengan yang lainnya.
"Uhuk, uhuk. Sayang bagaimana jika Uncle saja yang buat yah?" tanya Tio namun langsung mendapat gelengan kepala dari Aulia.
"No! Lia ingin masakan Daddy kalau bukan Daddy yang memasak Lia tidak mau makan!!" ancamnya membuat yang lainnya melirik ke arah tuan Farhan.
"Baiklah kali ini aku akan memasak untuk cucu pertamaku, sepertinya cucuku ini begitu dekat denganku sampai ingin mencoba masakanku hmmm...," bisik raja Iblis dalam hati.
"Terima kasih Daddy, Daddy tidak pernah mengecewakan Lia" entah itu keinginan dari si bayi atau rencana ibunya yang ingin membalaskan dendam akibat sentilan yang di lakukan tuan Farhan padanya. Tuan Farhan tidak menanggapi ia pun berjalan ke dapur menggulung lengan bajunya hingga ke siku.
Tuan Farhan menatap peralatan dapur dengan tatapan datar bingung harus melakukan apa sedang dirinya tidak pernah ke dapur apalagi melakukan kegiatan masak yang notabenenya seorang tuan muda.
"Apa yang harus aku lakukan dengan benda-benda bodoh di sini? sebelumnya aku tidak pernah datang apalagi memasak, apakah cucuku punya dendam padaku sampai begitu tega dia menyuruhku membuatkan nasi goreng?" tutur tuan Farhan membuang napasnya kasar, raja Iblis hanya mematung dengan tatapan datar menatap kompor di depan matanya.
"Tuan biarkan aku membantu tuan muda" dua orang pria datang mereka adalah koki di Mansion Utama.
"Iya tuan muda, biarkan kami yang memasak"
"Tidak perlu, cukup kau siapkan bahan-bahannya dan jelaskan bagaimana cara membuatnya biar aku yang memasak" titah tuan Farhan. Karena ini adalah perintah dari cucu pertamanya yang masih dalam kandungan ia tidak mau melakukan trik kotor.
"Baik tuan muda, tunggu sebentar kami akan menyiapkan bahan-bahannya duli" tuan Farhan mengangguk ia pun membiarkan anak Black Wolf itu menyiapkan bahan-bahan bumbu nasi goreng sedang dirinya hanya mengamati dengan tatapan dinginnya.
Setelah menyiapkan bahan-bahannya dua pria itupun menjelaskan cara-cara untuk membuat nasi goreng tuan Farhan hanya angguk-angguk kepala, entah mengerti atau tidak namun tuan Farhan begitu serius mendengarkan penjelasan dari anak buah orang tuanya itu.
"Apa tuan muda mengerti?"
"Iya, aku sudah mencatatnya dalam memoriku kalian pergilah dan jangan menggangguku!" titah tuan Farhan, ia harus serius membuat nasi goreng Pete itu karena ia ingin membuat kesan baik untuk sang cucu.
Tuan Farhan mulai menyalakan kompor gas lalu mengambil wajan ukuran sedang dan meletakkannya di atas kompor yang menyala, di tuangkan minyak secukupnya setelah merasa cukup panas, bumbu yang sudah di blender di tuangkan ke dalam minyak goreng.
"Astaga mengagetkanku saja" ucap tuan Farhan mengelus dadanya pelan, ia mengaduk bumbu bawang yang di tumis lalu kemudian memasukkan pete ke dalam bumbu yang di tumis setelah bumbunya sudah matang tuan Farhan menuangkan dua porsi nasi putih, di aduknya penuh tenaga.
Beberapa menit kemudian nasi gorengnya sudah matang mematikan kompor gas, peluh keringat bercucuran di wajah juga tubuh tuan Farhan, menatap senang karya buatannya yang baru selesai itu.
"Akhirnya selesai juga, memang aku adalah tuan muda yang tidak buruk" gumam tuan Farhan pelan.
"Astagfirullah, apakah sekarang dapur sudah berubah menjadi tempat pembuangan sampah!!" pekik Ryan menutup matanya saat melihat dapur seperti kapal pecah, butiran-butiran nasi, spatula, pisau, dan kain lap berserakan di atas lantai membuat Ryan geleng-geleng kepala.
"Kotor sekali! apakah uncle jika bekerja selalu berantakan?" tuan Farhan yang mendengar pertanyaan itu membuat kupingnya merah padam melotot tajam ke arah Ryan.
"Anaknya si pebinor ini rupanya punya lidah seperti silet, bikin sakit hati saja" batin tuan Farhan sangat menyedihkan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
**Bersambung
Selamat Menunaikan ibadah puasa teman-teman 🙏🙏🙏🤗**