
Happy reading 🤗❤️
.
.
.
.
.
.
.
Di kediaman putri raja Iblis, dua penghuni rumah itu tengah bersiap-siap untuk pergi ke tempat yang sudah di janjikan oleh Tuan Wijaya, Tio menggunakan atasan kaos oblong berwarna putih di padukan dengan jaket levis berwarna hitam, serta bawahan selalu menjadi andalannya yaitu celana jeans sobek di bagian lututnya.
Tak kala modis dari Tio, Aulia memilih outfit kasual wanita yang sederhana yaitu perpduan antara celana jeans biru langit dengan tie front shirt alias kemeja dengan model ikat di bagian pinggang. Kemeja berwarna putih itu menjadi pilihan Aulia yang menyelaraskan dengan kaos milik suaminya. Penampilan pasangan suami-istri itu terlihat menjadi effortlessly stylish.
Aulia menggunakan flat shoes sebagai alas kakinya sedang Tio menggunakan sepatu sneaker yang sangat cocok dengan gayanya.
Di lantai bawah, lima pria sedang duduk di sofa menunggu kedatangan dua bossnya, mereka juga sudah sangat rapi dengan style casualnya.
Tak lama orang yang di tunggu-tunggu akhirnya muncul, berjalan cool di atas tangga, semua pandangan melirik ke arah wanita manis dengan rambut di kuncir kuda memperlihatkan lehernya yang putih mulus. Tio segera merangkul pinggang istrinya kala tatapan para laki-laki mengarah ke arah sang istri.
"Ekheem!" dehem Tio menampilkan wajah datarnya. Lima pria itupun terkekeh jenaka saat melihat tatapan dingin dari Tio.
"Tenang saja Boss, kami hanya terpukau saja, adik kami terlihat feminim sekarang" tutur Gilang dengan senyum tipis di bibirnya. Hara masih belum mengalihkan tatapannya pada Aulia, pria itu seakan ingin terus menatap wanita yang sudah bersuami itu.
"Ayo jangan sampai kita terlambat" seru Aulia, ia tidak mau membuat suaminya ini salah paham dengan teman-temannya. Semuanya mengangguk mengerti, lantas 7 orang tersebut berjalan keluar dari rumah.
Dua buah mobil sudah terparkir di halaman rumah Tio, mobil berwarna abu-abu dan warna biru dengan merek berbeda.
"Kalian ikuti mobil kami dari belakang" ujar Tio pada lima pria di depannya. Tio dan Aulia lalu masuk ke dalam mobil Lamborghini Aventador berwarna biru kemudian di ikuti Gilang, Hara, Yogi, Andre dan pak Mamat.
Mereka berlima menaiki mobil Toyota Avanza yang mempunyai 3 jok hingga dapat menampung mereka berlima. Mobil Lamborghini Aventador itu perlahan-lahan mulai bergerak meninggalkan halaman rumah yang tidak terlalu luas itu lalu kemudian di ikuti oleh mobil Toyota Avanza yang di kendarai oleh Yogi.
Sedang Tuan Wijaya dan rombongannya sudah sampai di salah satu tempat yang sangat ramai dan selalu menjadi tempat favorit tongkrongan malam anak-anak muda hingga dewasa. Tugu Monas terlihat sangat besar dan tinggi jika di lihat dari dekat, keluarga Tuan Wijaya memarkirkan mobilnya di salah satu parkiran umum yang tidak jauh dari Monas.
Orang tua Shireen, Tuan Smith juga Tuan Zeus sangat terpukau melihat banyaknya orang-orang pejalan kaki, ada yang membawa anak juga pasangan membuat iri saja, apalagi ada beberapa pria yang tidak memiliki pasangan. Sungguh menyedihkan.
Tak lama rombongan Tio datang menghampiri Tuan Wijaya dan yang lainnya, mereka berdiri di bawah tugu Monas yang sangat besar.
"Maaf kami terlambat" kata Tio saat sudah di depan rombongan Tuan Wijaya.
"Tidak, kami juga belum lama sampai" jawab nyonya Mita dengan sudut bibir terangkat ke atas.
"Ayo, aku sudah memesan tempat makan yang sangat lezat..., aku yakin kalian semua akan sangat menyukainya" tutur tuan Wijaya dan mereka semua mengangguk pelan. Lantas berjalan mengikuti langkah kaki tuan Wijaya.
Dua D berjalan bersama dua sepupunya, bercengkrama layaknya orang dewasa, terkadang tertawa dan saling mengejek entah apa yang mereka bicarakan sampai se-seru itu.
Berjalan kaki beberapa meter dari tempat mereka berdiri, tak berselang lama mereka pun tiba di jejeran warung makan yang cukup ramai. Namun mereka tidak terlalu sulit karena tuan Wijaya sudah memesan tempat duduk lesehan beralaskan tikar pandan.
Salah satu pria yang telah mengenal tuan Wijaya segera menghampirinya saat rombongan tuan Wijaya antri di depan warungnya.
"Terima kasih pak" jawab tuan Wijaya dengan senyum mengembang. Mereka kemudian duduk di atas tikar pandan yang memiliki beberapa macam warna. Tikar tersebut di bentangkan di trotoar.
"Wow ramai sekali!" pekik dua D dan dua sepupunya menatap kagum pada suasana malam yang belum pernah di lihatnya, sangat ramai juga cukup banyak pejalan kaki di area tersebut.
"Kalian tunggu sebentar, aku akan memesan makanan dulu" tutur tuan Wijaya. Pria yang tidak muda lagi itu beranjak dari duduknya lalu berjalan menuju salah seorang kenalannya.
"Siapkan semua menu yang ada di sini, oh iya bilang juga kepada warung-warung yang lainnya kalau kami juga memesan semua menunya" ungkap tuan Wijaya.
"Tuan, warung di sini sangat banyak, apakah tuan tidak akan rugi? di sini lumayan mahal" jelas pemilik warung yang menjual nasi goreng kambing kebon sirih. Tuan Wijaya terkekeh kecil, rupanya pria di depannya belum tahu siapa dirinya sebenarnya.
"Tidak masalah, lakukan saja pak" kata tuan Wijaya lagi dan pada akhirnya pemilik warung nasi goreng itu mengangguk mengerti. Walaupun sedikit menyayangkan akan pemborosan yang di lakukan tuan Wijaya. Tidak tahu saja jika kekayaan tuan Wijaya tidak akan habis hanya dengan membeli makanan mereka.
Lagipula tuan Wijaya melakukan hal tersebut agar para penjual tidak merasa iri antara satu dengan yang lain, selagi dirinya di berikan harta yang cukup ia harus berbagi dengan yang lain, karena harta miliknya saat ini bukan miliknya sepenuhnya melainkan orang-orang di luar sana termasuk para pedagang kaki lima.
Setelah memesan makanan, tuan Wijaya kembali ke tempat duduknya.
"Wow, budaya yang unik, belum pernah saya melihat keindahan ragam di manapun kecuali hanya di Indonesia" ungkap ayah Shireen menatap kagum suasana malam di Jakarta pusat.
"Tentu saja paman, Indonesia memiliki puluhan bahkan ratusan budaya, hidup di satu negara dengan budaya, bahasa yang berbeda-beda..., dan perbedaan itulah yang menjadi ciri khas Indonesia. Berbeda-beda tapi tetap satu" sahut Aulia dengan bibir melengkung lebar, membanggakan negaranya sendiri.
"Indonesia adalah negara yang sangat hebat, bisa mengatur berbagai ragam suku dalam satu negara, saya benar-benar takjub juga bangga karena bisa memijakkan kaki saya di tanah ini" kali ini ibunda Shireen menimpali dengan mimik wajah berseri-seri. Tuan Wijaya dan lainnya ikut merasa bangga karena mereka berasal dari negara Indonesia yang membuat orang luar memuji tanah air tercintanya.
"Yah kami merasa bersyukur bisa terlahir di negara Indonesia" sahut Tuan Farhan, yang sedari tadi diam saja. Tak lama para pemilik warung datang membawa makanan dan di letakan di atas tikar. Beberapa makanan sudah tersaji di atas tikar, menu makanan yang belum pernah mereka lihat bahkan menyentuhnya sebelumnya membuat mereka hampir mengeluarkan air liurnya karena aromanya yang sedap dan sangat khas.
"Kelihatannya sangat enak" tutur tuan Smith dan tuan Zeus. Mereka tak bisa melepaskan pandangan dari kuliner Indonesia yang sangat lezat. Ada gulai sapi, sate Padang ajo ramon, nasi goreng kambing kebon sirih, Joni steak, nasi uduk kota intan, sate geroan, bak mie, lalapan, serta gorengan tahu, tempe, ayam goreng juga ada sambal sebagai pelengkapnya.
"Yeaaaa akhirnya bisa makan enak juga!" seru dua D bersorak membuat Tuan Farhan melirik tajam ke arah dua putranya.
"Makanan di rumah sungguh membosankan" tutur Dafa, tidak tahu saja jika ada mata-mata tajam yang sedang mengarah ke arahnya.
"Alhamdulillah sayang, kita harus bersyukur apa yang sudah Allah berikan kepada kita" nasehat Ayu dengan suara lembut. Membuat Jons tersenyum tipis.
"Bocah awas saja kalian, selama ini kalian tidak makan makanan enak apa? bocah kecil kurang asem" batin tuan Farhan dengan mimik wajah yang tak biasa.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung