The Love Story Princess And Prince Mafia

The Love Story Princess And Prince Mafia
Bab 166 Sebuah Panggilan



Happy Reading


.


.


.


.


.


"Bagaimana keadaannya sekarang?" Azhar melirik abangnya lalu kemudian beralih menatap ke depan jalan.


"Dia masih belum sadar..." Azhar menghela napas berat kemudian melanjutkan ucapannya. "Kata dokter dia mengalami sesuatu yang mengguncang batinnya sampai membuat dia trauma, entah sebenarnya apa yang sudah terjadi pada Alexa sampai ia tidak mau bangun dari tidurnya?" Hamas mengepal tangannya kuat, dadanya begitu sakit mendengar penuturan Azhar tentang keadaan Alexa saat ini.


"Andai aku lebih ketat menjagamu dan tidak membiarkanmu pergi dari rumah, kamu tidak akan menjadi seperti ini... Maafkan aku Alexa, maafkan aku yang sudah lalai menjagamu" sungguh hati pria duda itu benar-benar sakit ia semakin merasa bersalah bahkan jika menebus kesalahannya tidak akan cukup membayar perbuatannya kepada Alexa.


"Kali ini aku tidak akan membiarkanmu terluka bahkan seinci tubuhmu pun aku janji akan melindunginya, sudah cukup penderitaanmu gadis kecilku sekarang aku datang untuk menjagamu" tuturnya dalam hati mantap.


Kini mobil yang di tumpangi Azhar dan Hamas telah memasuki kawasan rumah sakit, dan memarkirkannya sesuai dengan aturan. Kedua pria itu pun turun dari dalam mobil dan masuk ke dalam lobi rumah sakit.


"Aku akan membawa abang ke ruang Alexa, lalu aku akan memberikan rambut ini ke dokter agar bisa memeriksanya cepat" kata Azhar dan Hamas hanya mengangguk pelan. Kedua kakak adik itu berjalan masuk ke dalam lift untuk menuju lantai 3 karena ruang yang di tempati Ainsley berada di lantai 3.


Lift yang memiliki dinding transparan itu perlahan-lahan bergerak naik ke atas, sampai tiba di lantai 3 lift dengan otomatis berhenti, kedua pria itu segere keluar dan berjalan menuju ke arah kanan.


Tepat di ruang VIP C Azhar berhenti dan pria duda itu tanpa sadar menghentikan kakinya.


"Abang masuk saja, aku pergi mencari dokter dulu" Hamas berdehem sebagai jawaban, tiba-tiba jantungnya berdebar hebat, ia menyentuh dadanya merasakan debaran yang pernah ia rasakan saat berdekatan dengan almarhumah Shireen.


"Astaga, aku seperti pria remaja yang baru saja merasakan cinta" gumamnya pelan, sedang Azhar sudah pergi meninggalkan Hamas yang sedang gugup di depan pintu.


Hamas menarik napas panjang kemudian menghembuskan perlahan-lahan, tangannya terulur menyentuh gagang pintu, pintu itu terbuka namun ia masih tetap di luar. Rasanya tidak sanggup masuk ke dalam debaran jantungnya semakin tidak bisa di ajak berkompromi.


"Astaga! Ada apa denganku? Sial!" umpatnya kesal. Ia sungguh heran, pasalnya ia adalah pria yang pernah menjalin kasih asmara namun kenapa debaran saat menyukai istrinya kembali hadir setelah sekian lama mati. Ia seperti seseorang yang mengalami pubertas kedua. Konyol sekali.


"Abang" Hamas tersadar dan langsung memasang ekspresi datar, merapikan jasnya dan bergaya cool, kala adik laki-lakinya datang menyapanya.


Ia tersenyum dan menyapa Fadil dengan tangan di goyang ke depan. Fadil merasa abangnya bertingkah aneh menaikkan alisnya tinggi, ia menyipitkan matanya menatap abangnya yang pura-pura tersenyum.


"Abang sedang gugup?" Tanyanya polos. Hamas langsung menatap adiknya tajam, padahal dirinya sebisa mungkin menutup kegugupannya tetapi anak satu itu tetap tahu.


"Siapa yang kamu bilang gugup? Abang tidak gugup dan kenapa harus gugup?" Jawabnya mendelik jengkel, ia segera masuk meninggalkan Fadil yang hanya geleng-geleng kepala.


"Hadeuh, dasar orang tua, tidak pernah mau jujur" desah Fadil lalu meninggalkan Hamas bersama wanita yang masih setia tidur di atas bangsal.


Ia akan memberikan ruang kepada pria duda itu, biar bagaimanapun keduanya dulu menyimpan rasa mungkin jika di pupuk lagi, benih cinta yang dulu hilang akan tumbuh kembali.


Sementara itu di ruang VIP C Hamas duduk di kursi samping bangsal menatap sendu wajah wanita yang sudah sejak bayi selalu bersama. Setelah sekian lama menghilang kini mereka di pertemukan kembali, sungguh hati pria duda itu sangat senang lantas gadis kecilnya berada di depan mata.


Namun ia juga merasa sedih karena keadaan gadis kecilnya sedang tidak baik-baik saja.


Raut wajahnya begitu teduh seperti air yang berada di dalam sebuah wadah. Sesekali Hamas mencium punggung tangan gadis kecilnya.


"Cepatlah sadar agar abang bisa menebus kesalahan abang padamu, apapun yang kamu minta abang akan kabulkan... Kau tahu bahwa tidur terlalu lama tidaklah baik untuk kesehatan, abang akan sedih melihat kamu seperti ini" Hamas terus berkata tiada henti.


Sementara itu di bangunan besar yang bernama Mansion, seorang wanita tua sedang pusing karena cucu perempuannya tidak kunjung pulang. Saat kepergiannya kemarin siang dia tidak kembali lagi membuatnya benar-benar stress.


Sudah berbagai cara ia lakukan bahkan sampai menyuruh dua puluh anak buahnya untuk mencari cucunya yang hilang tetapi hasilnya nihil, bahkan CCTV di luar sudah di retas oleh mereka tetapi tak satupun menampilkan keberadaan seseorang yang mereka cari. Seakan kepergiannya bagai di telan bumi.


Wanita tua itu rupanya adalah nenek Ainsley, salah satu wanita yang berkuasa di kota tersebut. Kini wanita tua itu tengah duduk bersandar di kursi kebesarannya yang berada di lantai dua.


Kepalan tangannya bertengger di bawah dagunya menopang kepalanya yang sedang condong ke kanan. Ia menatap ke arah bingkai foto di atas meja kerjanya. Foto yang memperlihatkan seorang gadis cantik dan dirinya.


"Cucuku kemana kamu pergi? Apa terjadi sesuatu denganmu?" Gumamnya berbisik. Tidak lama seorang pria mengetuk pintu kemudian segera masuk setelah di persilahkan oleh nyonya besarnya.


"Apa nyonya memanggilku?" Tanyanya membungkuk hormat. Wanita tua itu memutar bola matanya dan menatap wajah Vicky dengan ekspresi datar.


"Saya tidak mau tahu, kamu harus menemukan cucu saya sekarang! Saya tidak mau dia kenapa-kenapa, laporkan kepada saya jika kamu mendapatkan informasi tentangnya" ujarnya dengan ekspresi yang sulit di jelaskan.


"Baik nyonya saya akan melakukan yang terbaik untuk mencari keberadaan nona besar, saya berjanji untuk membawanya pulang" Vikcy berujar mantap. wanita tua itu mengangguk pelan. Setelah mendapatkan titah dari boss besar, Vikcy kemudian izin keluar.


Sementara di rumah sakit, Hamas masih setia menunggu wanita yang tertidur itu untuk membuka matanya, bahkan pandangan pria duda itu tidak sedikitpun berpaling dari wajah teduhnya, rasanya hatinya kembali bangkit dan menemukan ruang bunga yang sebentar lagi mekar di hatinya.


"Gadis kecilku sebenarnya apa yang sudah terjadi denganmu sampai kamu begitu trauma? Abang benar-benar bodoh, andai abang tidak membiarkanmu pergi mungkin kamu tidak akan masuk rumah sakit... Abang tidak bisa memaafkan diri abang jika kau tidak kunjung bangun juga" lirih Hamas dengan mata berkaca-kaca.


TES


Setitik air mata jatuh dari pelupuk mata Hamas, seumur hidup setelah kepergian Shireen baru kali ini ia kembali meneteskan air mata yang sudah lama kering.


"Oh, astaga aku begitu cengeng sampai menangis begini" Hamas terkekeh jenaka walau cekatan senyum itu mengandung luka.


"Abang"


DEG


Tubuh Hamas menjadi kaku dengan mata terpusat pada seseorang yang sudah lama ia nantikan, mulutnya bungkam tidak bisa mengeluarkan kata satupun. Aliran darah yang tadinya mengalir normal kini tiba-tiba berhenti seperti sedang di setrum.


"Auww, kenapa jantungku begitu sakit?" lirihnya memegang dadanya, ia sulit bernapas.


.


.


.


.


.


Bersambung