The Love Story Princess And Prince Mafia

The Love Story Princess And Prince Mafia
Bab 22 Menjemput



Happy reading 🤗


Kasih vote dan hadiahnya dong kak 🙏🤗❤️


.


.


.


.


.


.


.


.


Mentari pagi yang begitu indah menyinari Bumi manusia, orang-orang terbangun dengan tubuh segar dan hati yang tenang namun tidak dengan gadis satu ini. Terlihat mata bulatnya yang bengkak juga bola matanya memerah akibat menangis semalam.


Hari ini dirinya akan ke bandara menjemput seseorang yang di teleponnya semalam, sekitar satu jam lagi pesawat yang di tumpangi oleh Hara akan mendarat. Buru-buru ia membersihkan dirinya di bilik kamar mandi. Dua puluh menit Aulia telah menyelesaikan kegiatan mandinya.


Karena semua pakaiannya sudah di bawah dan di simpan di rumah barunya alhasil Aulia memakai kembali pakaiannya yang semalam... ia meminjamnya pada Larissa. Celana Jeans longgar berwarna biru langit dan baju kaos oblong berlengan pendek.


Berdiri di depan cermin memastikan bahwa matanya sudah tidak bengkak lagi, dan gadis tersebut berusaha untuk tetap tersenyum.


"Lia kamu pasti bisa! lupakan Uncle Tio dan cari yang lain, mungkin jika Lia bergaul dan mencari pria lain Lia akan melupakan Uncle Tio... perlahan-lahan rasa itu akan memudar" gumam batin Aulia, mengepal tangannya ke atas memberikan semangat untuk dirinya.


"Tetap semangat!" pekiknya dengan senyum tipis menghiasi wajahnya walaupun begitu, hatinya masih tetap belum menerima kenyataan.


Setelah menata rambutnya ia mengambil ponsel Daddynya dan berjalan keluar dari kamarnya, waktu menunjukkan pukul 7 pagi. "Lia pinjam motor milik kak Larissa saja" tuturnya menuju kamar milik Larissa yang bersebelahan dengannya.


Tok tok tok tok


Tok tok tok tok


"Aunty! Aunty" seru Aulia dari luar pintu, Larissa yang kebetulan baru selesai mandi buru-buru membuka pintu kamarnya.


"Ada apa sayang? kamu mau kemana pagi-pagi sekali sudah rapi." Tanya Larissa dengan balutan handuk menutupi tubuhnya. Kerutan kecil tercetak jelas di kening wanita cantik itu. "Ayo masuk dulu!" ajaknya namun Aulia dengan cepat menggeleng.


"Tidak usah aunty, Lia buru-buru. Mmmmm... bolehkan Lia meminjam motor milik aunty tidak? please Lia mohon." Mohon Aulia mengatupkan kedua tangannya di depan dada membuat wanita yang memakai handuk itu terkekeh kecil dan menggeleng kepalanya pelan.


"Astaga, kamu kayak minta pada siapa saja, bentar aunty ambilkan dulu kuncinya" jawab Larissa terkekeh, Aulia hanya tersenyum kikuk.


"Semoga hari ini tidak bertemu Uncle. Semoga saja" gumam Aulia pelan. Lagi-lagi gadis itu mendesah berat di satu sisi ia masih belum menerima pernikahan Tio dan Karla tapi dirinya tidak boleh egois. "Andai Uncle mencintai Lia, mungkin Lia akan berjuang! tapi jika hanya cinta bertepuk sebelah tangan untuk apa mengejarnya... usaha akan sia-sia saja" celetuk Aulia menguatkan hatinya untuk tidak rapuh.


"Ini sayang, tapi kamu mau kemana hmmm...?" tanya Larissa penasaran.


"Lia mau menjemput pacar Lia" jawabnya asal dengan senyum mengembang. Mata Larissa membulat sempurna kala mendengar kata pacar yang keluar dari mulut putri raja Hades.


"Hey benarkah? kenapa aunty tidak tahu? apakah pacar Lia dari Indonesia?" pekik Larissa heboh bahkan sampai menggenggam jemari tangannya.


"Yups! tebakan aunty benar... Daaah Lia pergi dulu, makasih aunty" Aulia lantas berjalan cepat takut jika ia terlambat dan membuat Hara menunggu lama di bandara.


"Kenapa Lia sampai menyebut abang Hara pacar Lia? dasar bodoh!" gerutunya pelan. Gadis itu menuju lift dan turun ke lantai dasar. "Lia lupa di mana kamar Daddy, semalam Lia sudah tertidur jadi Lia tidak tahu... sudahlah semoga Daddy sudah bangun jadi Lia bisa berpamitan padanya"


Aulia keluar dari lift kala pintu berwarna silver itu terbuka lebar, menapaki lantai yang bersih itu hingga melewati ruang keluarga namun tidak ada siapapun di sana. "Mereka pasti masih di kamar" ujarnya pelan, gadis itu kembali berjalan menuju pintu keluar namun langkahnya seketika terhenti kala mendengar suara pria yang begitu di kenalnya.


"Nona mau kemana pagi-pagi begini?" tanya seorang pria menghampiri Aulia. Gadis itu seketika membeku, bahkan untuk menggerakkan kakinya begitu berat. Jantungnya tiba-tiba bergemuruh saat merasakan derap langkah kaki itu semakin mendekat ke arahnya.


"Jangan mendekat Uncle!! Lia tidak kuat jika harus melihat wajah Uncle." Teriak Aulia dalam hatinya.


"Nona mau kemana sepagi ini, dengan tampilan yang rapi? apakah Nona tidak takut menghilang seperti kemarin?" pria itu kembali berujar dengan nada dinginnya. Ia berhenti di samping Aulia, gadis itu tidak menjawab sekata pun malah melenggang pergi dari sana.


"Jangan menjawabnya, Lia harus pergi secepatnya" batinnya.


"Nona!" serunya berjalan cepat hingga sebuah tangan kekar meraih pergelangan tangan Aulia. Gadis itupun berhenti.


"Kenapa tidak menjawab? Nona mau kemana?" ujarnya sabar.


"Apa yang Nona ucapkan! pasti bohong kan mana ada Nona memiliki pacar" pria itu membalikan tubuh Aulia hingga menghadap padanya. Menatap tajam manik mata indah di depannya. "Sudah ku bilang untuk tidak memiliki hubungan dengan pria lain! kau tidak mendengar seruanku hmmm...!" bisiknya di telinga Aulia membuat gadis itu mengepalkan tangannya kuat.


"Uncle jahat! tidak punya hati!" monolog hati Aulia.


"Cih! Lia punya pacar bukan urusan Uncle! lagipula Uncle bukan siapa-siapanya Lia jadi tidak perlu ikut campur... dan yah, biar Lia ingatkan Uncle sudah akan menikah jadi urus wanita Uncle!!" tegas Aulia menatap tajam pria di depannya. Melepas kasar tangan Tio dari pundaknya.


"Uncle yang meminta ini jadi jangan salahkan Lia jika Lia akan melupakanmu Uncle" batin Aulia berjalan cepat. Pria itu membeku mencerna setiap kata-kata yang terlontar dari mulut gadis yang baru saja pergi.


"Ke-kenapa begitu menyakitkan?" lirih Tio mengepalkan tangannya hingga terlihat buku-buku jarinya yang memutih.


"Apa yang kau lakukan dengan berdiri di sini?" tanya seseorang dari belakang Tio. Tio segera membalikkan tubuhnya lalu menunduk hormat pada Tuan mudanya.


"Selamat pagi Tuan muda" sapanya dengan kepala menunduk hormat.


Tuan Farhan sedari tadi melihat dan mendengar interaksi antara putrinya dan bawahannya. Raja Iblis itu tersenyum tipis nyaris tak terlihat.


"Kau tidak pantas bersama putriku Tio! jadi jangan mengganggunya lagi... lagipula kau harus menjaga hati seorang wanita yang akan menjadi istrimu kelak" tutur Tuan Farhan di dekat Tio. Tatapan keduanya saling bertemu, ada kilatan amarah yang terpancar di mata Tio dan raja Iblis itu hanya menatap dingin.


"Ku peringatkan kepadamu! jangan sampai nyawamu melayang karena kebodohanmu" bisiknya pelan, terkekeh sinis lalu meninggalkan Tio yang masih berdiri di sana.


"Sial! akan ku buktikan padamu Tuan muda bahwa aku pasti bisa mengalahkan egomu itu!!" batin Tio mengepalkan tangannya kuat. Menggertakan kedua sisi giginya marah.


Sedang Tuan Farhan terkekeh kecil. "Benar-benar pria bodoh! hanya dengan gertakan kecil dia mundur begitu saja... dia benar-benar sangat tidak pantas untuk putriku" sinis Tuan Farhan.


Di sisi lain


Aulia membawa laju motor sport Kawasaki Ninja ZX-6R berwarna merah. Angin pagi menerpa kulitnya yang hanya di baluti oleh baju dengan bahan tipis membuatnya sedikit kedinginan. Menuju bandara bukanlah sesuatu yang sulit karena dirinya sudah pernah melewatinya jadi tidak membuatnya kebingungan seperti kemarin.


Tidak begitu banyak kendaraan yang berlalu lalang jadi tidak membuat gadis itu menunggu lama. Jarak antara Mansion dan bandara sedikit memakan waktu lama. Sekitar satu jam setengah lamanya namun karena kecepatan yang di pakai oleh gadis tomboy itu membuatnya tidak berlama-lama dan sudah sampai di parkiran bandara.


Aulia celingak-celinguk mencari sosok yang begitu di rindukannya. Mengunci setir motornya lalu turun dari atas motor. Hingga sebuah tangan tiba-tiba menutup matanya.


"Bang Hara" tebak Aulia dengan bibir tersenyum lebar.


"Yah ketahuan deh!" sesalnya dengan bibir mengerucut. Aulia segera membalikkan tubuhnya menatap wajah tampan pria di depannya.


"Lia kangen abang, benar-benar kangen" pekik Aulia memeluk erat tubuh pria itu. Membuat Hara terkekeh kecil.


"Hey! apakah benar kau merindukanku hmmm...? ini bukan pelampiasan kan?" ujar Hara menoel hidung mancung Aulia.


"Yah! mana mungkin. Lia serius merindukan abang" jawab Aulia dengan bibir mengerucut.


"Masa sih? aku tidak percaya" ujar Hara tersenyum menggoda, tangannya terulur menyentuh anak rambut Aulia menyelipkan di telinga gadis cantik itu.


"Jangan bersedih lagi, jangan membuatku panik seperti kemarin" lirih Hara mengecup kening Aulia membuat gadis itu terdiam.


"Jangan menciumku atau Lia akan melukai bibir abang heh!" ketus Aulia melotot tajam dan pria itu hanya tertawa puas.


Sedang tak jauh dari sana ada sepasang mata menatap adegan itu dengan tatapan bengis. "Tidak akan ku biarkan kau melupakanku" bisiknya dalam hati kemudian meninggalkan tempat itu. Melajukan mobilnya meninggalkan halaman bandara.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung