The Love Story Princess And Prince Mafia

The Love Story Princess And Prince Mafia
Bab 124 Pencerahan



Happy reading 🤗


.


.


.


.


.


.


.


.


Surya yang tenggelam memperlihatkan kelap-kelip bintang di atas nabastala, gugusan bintang dan bulan menjadi lentera malam di atas bentala yang menyinari perjalanan para manusia dan makhluk hidup lainnya. Kendaraan berlalu lalang di tengah-tengah jalan raya, menikmati senja dengan semilir angin sepoi-sepoi membuat tubuh terasa santai.


Pejalan kaki menikmati setiap langkah kakinya, menatap trotoar penuh debu dan sampah kertas di atasnya. Seringkali menendang sesuatu di depannya, komat-kamit tidak jelas entah apa yang di bicarakan.


Jejeran pedangan kaki lima di trotoar jalan Jakarta pusat itu memperlihatkan kuliner Indonesia yang bikin ngiler bahkan tidak membuat lidah ini merasa bosan.


Keluarga tuan Wijaya adalah salah satu konglomerat terkaya nomor 1 di dunia tentunya mereka belum pernah makan di tempat kecil atau warung dan belum pernah merasakan citra rasa dari makanan sederhana. Itulah sebabnya rencana mereka malam ini untuk berjalan-jalan sembari menikmati kuliner Indonesia yang belum semuanya mereka santap.


Seluruh keluarga besar Tuan Wijaya sudah bersiap-siap hendak menjelajahi ibukota Indonesia, terlebih Tuan Zeus, Tuan Smith dan orang tua Shireen akan kembali ke negaranya besok siang. Itu sebabnya mereka ingin membuat kenang-kenangan sebelum meninggalkan bumi Indonesia.


Kini Tuan Farhan mengeluarkan tiga buah Toyota Voxy yang baru di pesannya dari Jepang dan termasuk mobil keluaran terbaru, ia belum pernah menggunakan mobil tersebut kecuali malam ini, ada enam kursi dalam mobil Voxy, dua kursi di jok depan, tengah dan di bagian belakang.


Tuan Farhan sangat menyukai Toyota Voxy yang ia beli karena bentuk parasnya memang sangat modern dan terlihat mirip dengan Vellfire dengan lampu depan yang bertumpuk dan grille besar melebar di bagian bawah, plus pintu geser elektrik.


Di Indonesia mobil Toyota voxy satu unitnya dibanderol seharga 558, 20 juta rupiah itu berarti Tuan Farhan menghabiskan uang tiga kali lipat dari nominal di atas. Padahal mobil yang di miliki Tuan Farhan sudah mencapai puluhan bahkan bisa di bilang sudah bisa membuka perusahaan mobil terkeren.


Tiga Toyota voxy memiliki warna yang berbeda, Tuan Farhan memilih warna yang cukup unik yaitu warna hitam doff, emas dan bronze.


Tuan Farhan, Jons, dua D, dan dua sepupunya juga Azhar serta salah satu anggota Black Wolf yang menjadi supir mobil Tuan Farhan. Tuan Farhan memilih menaiki mobil berwarna emas karena dirinya sangat menyukai warna tersebut. Dua D dan kedua sepupunya duduk di jok bagian tengah karena tubuh mereka yang masih kecil hingga bisa memuat empat orang sedang Tuan Farhan dan Jons lebih memilih duduk di jok belakang agar mereka bisa bersantai. Sebenarnya itu adalah keinginan dari Tuan Farhan, ia ingin bersantai sejenak..., aku sedikit curiga maksud dari kata santai yang di ucapkan si Jelangkung membuatku berpikir keras. Ingin sekali berpikir positif tetapi tingkahnya yang mesum dan tangannya yang tidak bisa di kondisikan itu membuatku urung dalam pikiran baik untuknya.


Sedangkan Tuan Wijaya, Tuan Zeus, Tuan Smith, Alex dan ayah Shireen menaiki mobil berwarna hitam doff karena mereka tidak suka warna yang terlalu mencolok itu bisa menarik perhatian orang-orang di luar. Tak lupa salah satu anggota Black Wolf menjadi sopir bagi Tuan besarnya itu.


Sedangkan para wanita mereka memilih mobil berwarna bronze, ada nyonya Mita, Amanda, Ayu, Reyhan dan ibunda Shireen. Sedangkan Hamas dan Shireen mereka menaiki motor sport berwarna merah karena Shireen ingin sekali menikmati pemandangan malam di atas motor bersama sang suami.


Sedang Richo dan Karla menaiki mobil merek Mitsubishi Pajero sport, mobil tersebut memiliki tiga jok dengan masing-masing dua kursi. Richo dan Karla duduk di jok belakang, sedang Sandy dan Larissa duduk di jok tengah. Sebenarnya Larissa, gadis Meksiko itu ingin duduk bersama Oskar namun karena Sandy dan Richo melarangnya hingga membuat Larissa terpaksa harus satu tempat dengan Sandy pria yang paling tidak di sukainya.


Larissa juga merasa bingung dengan dirinya kenapa ia sangat membenci pria di sampingnya padahal Sandy tidak pernah melakukan sesuatu yang membuat Larissa benci, namun kebencian itu tiba-tiba saja datang dari hatinya..., Ia tidak tahu apakah itu pertanda baik ataukah buruk.


Sedangkan Oskar duduk di kursi kemudi ia menjadi sopir sementara bagi orang-orang yang tengah Kasmaran. Sungguh miris memang dia yang masih setia sendiri.


"Hmmm, beginilah kalau sendiri akan menjadi budak bagi yang sudah punya pasangan" celetuk Oskar pelan namun masih di dengar oleh yang lain.


"Carilah pasangan agar kau tidak iri pada kami" jawab Sandy tanpa sadar. Larissa, Oskar langsung melirik ke arah Sandy sedang pria itu diam membeku sepertinya ia sudah salah bicara hingga mengundang tatapan maut dari gadis di sampingnya.


Sedang Richo dan Karla tidak peduli dengan orang sekitar mereka asyik berduaan di belakang, tidak ada larangan bagi mereka karena keduanya sudah menjadi pasangan halal.


"Siapa pasanganmu, jaga bicara kamu yah!" tegas Larissa membuat Sandy menarik sudut bibirnya membentuk senyuman tipis namun mengandung misteri. Tidak menanggapi, Sandy malah semakin merapatkan tubuhnya dengan Larissa membuat gadis Meksiko itu merasa risih. Sedang Oskar sudah mengendarai mobil Pajero sport itu keluar dari halaman luas Mansion Utama.


"Kamu bisa tidak duduk sedikit menjauh dariku, aku sangat risih!" tegur Larissa dengan tatapan tajam namun Sandy tak mengindahkan. Sandy menatap mata Larissa yang memiliki kornea mata berwarna hazel membuatnya terpaku cukup lama.


"Semakin kau menjauh dariku semakin aku tertantang untuk mendapatkan mu Larissa" bisik Sandy di telinga Larissa membuatnya merinding takut.


"Aku akan menjatuhkan harga diriku di depan kamu saja wanitaku"


"Bodoh!" seru Larissa mencebikkan bibirnya kesal. Ia lalu memalingkan wajahnya ke samping lebih tepatnya ke arah jendela. Sandy hanya tersenyum tipis mendapati reaksi Larissa.


Sedang di mobil Voxy berwarna emas, penumpang di dalamnya bercengkrama dengan suka cita.


"Bagaimana kuliahmu son, apa ada kendala?" tanya Tuan Farhan kepada putra keduanya.


"Tidak ada Daddy" jawab Azhar singkat.


"Kapan kamu akan membawa pacarmu ke rumah? mommy tidak sabar akan mendapatkan dua menantu perempuan" celetuk Jons girang, sedang Azhar hanya menghela napas panjang.


"Azhar tidak punya pacar, belum ada wanita yang membuat Azhar tertarik" tutur Azhar apa adanya membuat Tuan Farhan dan Jons hanya angguk-angguk kepala.


"Abang, kalau menikah ingin perempuan yang seperti apa, hmmmm..., apakah wajahnya cantik?" tanya Dafa dengan tatapan tertuju pada pria gondrong di depan.


"Tentu saja harus cantik" jawab Azhar singkat.


"Iih, abang Azhar kalau menikah itu harus melihat hatinya, terutama agamanya. Kalau agama wanita itu bagus maka pilih saja dia bukan karena wajahnya yang cantik" kali ini Aisyah bersuara.


"Hmmm, tapi abang sukanya wanita yang cantik biar keturunan abang cantik dan tampan" balas Azhar mengutarakan pendapatnya.


"Apakah abang pintar?" tanya Ryan. Kali ini anak ke tiga Ayu dan Reyhan mengajukan pertanyaan.


"Tentu saja abang pintar, nyatanya abang bisa kuliah di sekolah ternama juga selalu dapat nilai tinggi" katanya dengan unsur-unsur kesombongan.


"Menurut Ryan, abang tidak pintar. Abang adalah orang paling bodoh!" ucapan Ryan membuat semua di sana melotot kecuali Aisyah ia menganggukkan kepalanya tanda setuju.


"Kok bisa begitu sayang?" tanya Jons lembut.


"Hmmm, karena kalau abang pintar maka abang Azhar akan memilih perempuan yang agamanya bagus, karena perempuan dengan agama bagus itu akan membawa masa depan yang cerah terutama di akhirat nanti" tutur Ryan dengan panjang lebar.


Semua yang hadir mendengar ucapan Ryan merasa malu, kenapa anak sekecil mereka sudah bisa berpikir dewasa dan sangat pandai.


"Aku seperti mendapat pencerahan dari bocah kecil" ujar Azhar pelan.


"Sepertinya akan ada peradaban keluarga Mafia terbesar berhijrah ke jalan yang benar..., itu akan menjadi sejarah yang tidak terlupakan nantinya." Bisik sopir tersebut yang sedari tadi menguping pembicaraan majikannya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung