The Love Story Princess And Prince Mafia

The Love Story Princess And Prince Mafia
Bab 165 Akan Bertemu



Happy Reading


.


.


.


.


.


.


.


"Oh astaga anak siapa dia ini? Kenapa bicaranya seperti pria dewasa saja, sepertinya Hamas akan bersaing dengan putranya sendiri, haaaah sudahlah biarkan ayah dan anak ini bertarung aku tidak akan peduli, lebih baik bersenang-senang bersama Araku" pria bucin ini sudah tidak tertolong lagi, tetapi itu lebih bagus untuk kelangsungan hubungan suami-istri agar tetap terjalin dalam kasih dan cinta. Bucin adalah budak cinta yang memiliki manfaat besar dalam menjaga bahtera rumah tangga tetapi akan lebih baik jika keduanya sama-sama menjadi budak cinta untuk meminimalisir rasa sakit sepihak.


"Abang, kalau begitu Enzi akan belgantung hidup ke abang saja" Kini gadis kecil Hamas mulai berulah, semua di sana kembali memasang wajah bingung dengan alis berkerut.


"Kenapa tidak bergantung hidup kepada ayah Hamas? Bukankah uang ayah Hamas lebih banyak?" Kini Tio bertanya dengan rasa penasaran, ia ingin mendengar jawaban menarik apa yang akan ia dengar dari penerus keluarga mafia versi malaikat.


"Enzi tahu kemampuan abang Aditya, abang bisa mengumpulkan uang yang sangat banyak dalam hitungan menit, tapi setelah mendapat uang dali abang, Enzi akan belgantung hidup kepada ayah Hamas juga jadi Enzi punya dua mesin uang hehehhe" jelasnya dengan wajah polos. Semua orang menepuk jidat mereka. Darimana anak-anak kecil mempelajari kata-kata tersebut? Bahkan sudah pintar mengatur masa depan mereka, apakah mereka ini lahir dari rahim seorang paham kapitalis? Benar-benar menguji adrenalin.


"Astaga, nona muda kecil lebih sadis dari yang kubayangkan" Amanda membatin, saking terkejutnya menelan ludah saja begitu sulit.


PLETAK


Aditya menyentil kening adik perempuannya merasa gemas mendengar jawaban Enzi yang sungguh luar biasa.


"Aww, abang sakit tahu!" Pekik Enzi sambil mengusap keningnya yang kesakitan. Matanya melotot menatap tajam Aditya, ia memonyongkan bibirnya kesal.


"Anak kecil tidak boleh berpikiran rakus seperti itu, kamu harus memilih antara ayah atau abang, mengerti?" Nasihat Aditya dengan lembutnya.


"Adik Enzi kamu lebih baik pilih abang Aditya saja, itu akan membuat kamu cepat kaya, abang Aditya sudah kaya sejak dini apalagi kalau sudah besar" kali ini salah satu putra Tio berkata, ia bernama Adrian. Orang-orang dewasa hanya menyimak obrolan anak kecil yang memiliki imajinasi tinggi.


"Kenapa Enzi halus memilih abang Aditya? Bukankah ayah sekarang sangat kaya" gadis itu mengangkat alisnya tidak sependapat dengan kakak sepupunya itu.


"Iis, iiis, iiss, kalau adik Enzi memilih abang Aditya kemungkinan besar adik Enzi akan menang banyak, karena paman Hamas sudah tua, itu berarti paman Hamas akan menyerahkan perusahaan kepada abang Aditya dan adik Enzi bisa menghabiskan uang sepuasnya" mendengar penuturan Adrian, mata Enzi seketika berbinar dan bertepuk tangan, gadis kecil itu segera turun dan berjalan menghampiri Adrian.


"Kak Adlian sangat pintal, nanti jika kita sudah besal, kak Adlian jadi pengikut Enzi saja, kak Adlian yang mengulus uang Enzi yah, Enzi malas menghitung uang jadi mulai hali ini kak Adlian sudah Enzi booking, oke" tuturnya dengan wajah berseri-seri. Semua orang di sana tidak habis pikir dengan apa yang di katakan gadis kecil mereka.


"Astaga, mereka seperti anak-anakku dulu, apakah ini ada kaitannya dengan induknya? Mengapa mereka sudah dewasa sebelum umurnya?" Bisik Jons dalam hati. Jons dan tuan Farhan saling melirik mereka tersenyum tipis lalu menggeleng pelan. Cucu-cucu mereka begitu lucu bahkan sudah bisa memeras uang di usia dini, padahal mereka tidak pernah mengajarkan perbuatan tersebut entah dari siapa mereka belajar? Membayangkan pola pikir mereka yang seperti seorang kapitalis membuat mereka sedikit berhati-hati takutnya saat dewasa nanti mereka akan saling berkelahi hanya demi keuntungan sesaat.


Di lain sisi


Perjalanan seorang duda anak dua menuju kota Washington, yang hendak bertemu dengan sosok gadis yang ia rindukan, bohong jika ia berkata tidak rindu nyatanya gadis itu pernah mengisi ruang hatinya walau hanya sebentar.


Gadis yang selalu membuat hari-harinya tidak nyaman, pasalnya gadis bernama Alexa, seringkali membuat onar, pernyataan cinta tanpa lelah dan gombalan-gombalan cinta sering terdengar di telinganya. Mengingat tingkah lucu dan lugu Alexa membuat pria duda itu menarik sudut bibirnya. Ia tersenyum tipis.


Perasaan polos, dan keluguan Alexa dalam menyatakan cinta menciptakan rindu dari relung hati Hamas, jika waktu bisa di putar kembali maka pasti ia akan mengembalikan waktu yang pernah hilang.


Perjalanan menuju kota Washington memakan waktu yang cukup lama, jarak antara Jakarta-Indonesia ke Washington DC adalah 22 jam 30 menit, rasanya punggung dan pantat terasa sakit jika duduk terlalu lama. Namun berbeda dengan Hamas, pengusaha muda yang ketenarannya berada di urutan ke dua dunia tidak sulit baginya untuk menikmati jet pribadi dengan fasilitas yang tidak membuat hati jenuh juga badan lelah.


Nyatanya pria duda itu sangat menikmati waktunya di pesawat menuju ibu kota Amerika Serikat yang letaknya begitu jauh dari Indonesia, tetapi demi gadis kecilnya ia tetap akan pergi bersua walau pekerjaan menumpuk, tidak ada yang bisa menghalanginya untuk bersua dengan gadis kecilnya yang lama hilang.


Waktu berlalu begitu cepat, kini hari telah berganti, Azhar tidak pernah meninggalkan wanita yang sedang terbaring tidur di atas bangsal, sejak kemarin tiba-tiba pingsan belum ada pergerakan sedikitpun darinya, sepertinya wanita itu begitu menikmati tidur panjangnya.


Malam hingga pagi ini, Azhar berjaga di samping bangsal Ainsley, sedang kedua adiknya bergantian menjaga nyonya Mita yang sedang di rawat di rumah sakit yang sama hanya lantainya yang berbeda.


Hari ini Azhar tidak masuk ke kampus padahal dirinya memiliki agenda mengajar hari ini, tetapi ia sudah minta izin untuk tidak hadir karena ia akan menjaga wanita di depannya itu.


"Sebentar lagi kamu akan tahu identitas kamu yang sebenarnya, maafkan kami yang tidak bisa menemukanmu hingga membuat kamu begitu menderita ... Abang akan pastikan orang yang melukai kamu itu akan menerima balasannya" Azhar berkata pelan, tangannya menggenggam jemari tangan Ainsley sesekali mengelus kepala wanita yang terbaring tidak sadarkan diri itu.


Detik, menit berganti jam kini waktu telah memasuki pukul 11 siang, Azhar meminta Fadil untuk menjaga Ainsley karena ada yang ingin ia kerjakan di luar. Setelah Fadil datang, Azhar segera meninggalkan ruangan VIP yang di tempati oleh Ainsley.


Berjalan menuju parkiran mobil dan segera masuk ke dalam transportasi beroda empat ukuran sedang. perlahan-lahan mobil itu meninggalkan halaman rumah sakit dan menuju jalan raya.


Sedang di lain tempat, seorang pria dengan setelan jas abu-abu sedang berdiri di pintu keluar bandara sembari menenteng sebuah tas di tangannya. Matanya terus menatap mobil dan orang-orang yang sedang berlalu lalang, seakan tengah menunggu kedatangan orang lain.


Kacamata hitam bertengger di hidung mancungnya membuatnya terlihat begitu keren, tidak sedikit para gadis memperhatikannya tetapi pria itu tetap cool dengan gayanya.


"Astaga kenapa bocah tengil itu lama sekali? Apa dia melupakanku? Awas saja jika aku menemukannya akan kuberi dia pukulan mautku" gumamnya menggertakan gigi.


Tak lama kemudian sebuah mobil berhenti tepat di depannya, tiba-tiba kaca jendela mobil turun memperlihatkan seorang pria gondrong tengah tersenyum.


"Bang naiklah, maaf menunggu lama di jalan macet" Hamas mendelik jengkel dengan perasaan dongkol Hamas naik ke dalam mobil, pria itu duduk di samping kemudi.


"Aku hampir berjamur tahu!" timpalnya datar.


"Yaelah, yang penting gak berjamur, kan masih hampir bang jadi aku datang tepat waktu bukan, hehehehe" sahut Azhar terkekeh geli melihat wajah kesal abangnya.


"Dasar bocah freek"


"Hey! Tidak sopan tahu mengatakan adik sendiri gila" protes Azhar. Hamas tidak peduli ia memalingkan wajahnya ke arah jendela, menatap toko-toko yang berjejeran di pinggir jalan.


"Alexa" batinnya dengan mata terpejam.


.


.


.


.


.


.


Bersambung