
Happy reading 🤗
Kasih like dan vote Seninnya dong 🙏😁😁😁
.
.
.
.
.
.
Hari sudah malam dan Aulia masih betah di dalam kamar mengunci diri di sana. Sudah beberapa kali Tio mengetuk dan berteriak tapi tidak ada sahutan dari dalam. Sepertinya Aulia benar-benar marah pada Tio yang selalu mempermainkan perasaannya.
"Astaga sudah enam jam mengurung diri dalam kamar, apakah dia tidak lapar?" gumam Tio mendesah berat. Padahal Aulia mengurung diri karena perbuatannya. Menyebalkan sekali!.
"Lebih baik aku masak saja" gumamnya. Lalu melangkah menuju dapur, membuka kulkas mencari sesuatu yang bisa di masak. Namun tidak ada apapun di sana bahkan beras juga tidak ada.
"Sepertinya harus pesan makanan lewat aplikasi saja" ujar Tio saat melihat tidak ada sesuatu yang bisa di masak ataupun di makan. "Besok baru akan belanja saja". Sambungnya lagi. Lalu kemudian berjalan kembali menuju sofa menghempaskan tubuhnya kasar di atas empuknya sofa berwarna silver itu.
Sedang di dalam kamar seseorang baru selesai mandi. Melangkah keluar dari bilik kamar mandinya. Mengambil satu set pakaian santai dari dalam lemarinya memakainya ke tubuhnya. Celana pendek dan kaos longgar berlengan pendek menjadi pilihannya malam itu.
Berdiri di depan kaca besar menatap pantulan dirinya di depan cermin. "Apakah Lia jelek? sampai Uncle tidak mencintai Lia dan bahkan menjadikan Lia selir." Gumamnya mendesah berat. Lagi-lagi gadis remaja itu memikirkan tentang pria bernama Tio.
"Apakah ini saatnya untuk melepaskan Uncle dan pergi darinya? Lia tidak mau menjadi benalu dalam hubungan aunty Karla, Lia pikir Uncle Tio mencintai Lia ternyata Lia salah besar... sia-sia Lia ke sini. Haahh" lirihnya meraup wajahnya kasar. Memikirkan perasaannya yang selalu di permainkan.
"Lebih baik Lia pulang saja ke Indonesia di sana Lia bisa berkumpul dengan teman-teman Lia, juga keluarga Lia. Lia rindu Mommy rindu Daffin sama Dafa" ujarnya lemas. Sepertinya putri raja Hades sudah merasa lelah dengan drama yang ia buat sendiri. Menjauh adalah jalan terbaik untuk mereka tidak ada salahnya memulai hidup baru dan perasaan baru.
"Semoga Uncle Tio sudah pergi, Lia tidak mau bertemu dengan Uncle untuk saat ini... rasanya belum siap" gumam batin Aulia. Menarik napas panjang lalu menghembuskan perlahan-lahan. Berjalan menuju pintu kamarnya dan keluar dari bilik kamar tidurnya.
Berjalan turun ke lantai dasar menapaki setiap tangga yang akan membawanya ke bawah. Matanya celingak-celinguk ke setiap sudut rumahnya memastikan bahwa laki-laki yang sudah memporak-porandakan hatinya telah pergi.
Gadis itu bernapas lega karena tidak melihat keberadaan Tio ia mengira bahwa laki-laki itu sudah pulang ke Mension menarik sudut bibirnya tersenyum tipis.
"Mungkin inilah saatnya untuk menata hati lagi. Lagipula laki-laki baik bukan hanya Uncle Tio!. Heh, dia pikir Lia akan mengemis cinta padanya, itu tidak akan terjadi karena Lia tidak akan melakukan itu! Lia kan juga cantik banyak kok laki-laki yang mau sama Lia." gerutu Aulia tanpa sadar. Ia berjalan menuju dapur sembari menggerutu bahkan mengumpat kasar tentang Tio.
Tidak tahu saja jika ada sepasang mata tajam yang tengah menatapnya marah. Aulia masih saja berceloteh meluapkan emosinya. Hingga kembali dari dapur pun masih saja menggerutu sebal.
"Lihat saja Uncle, Lia akan membuat hidup Uncle menyesal karena sudah membuat Lia sakit hati... Lia akan mencari laki-laki yang lebih tampan dan tentunya sangat perhatian dan cinta sama Lia!. Cih! dasar Uncle Tio awas saja, Lia akan tertawa jika Uncle Tio mengemis cinta pada Lia!!" gerutu Aulia yang tidak sadar masih ada seseorang di rumahnya itu. Aulia menjatuhkan bokongnya di atas karpet hitam mengambil remot untuk menyalakan tv.
Mencari serial kartun kesukaannya. Hingga sebuah deheman membuat Aulia terkejut bukan main sampai remot di tangannya terjatuh kasar.
"Eh!" Aulia memutar tubuhnya menatap ke belakang. Betapa terkejutnya melihat Tio sedang duduk tegap di atas sofa. Gadis itu menelan ludahnya susah kala tatapan elang terarah padanya.
"Tunggu! berarti apa yang Lia ucapkan tadi sudah di dengar oleh Uncle Tio? mati kamu Lia! mampus!!" batin Aulia menyengir kuda. Sedangkan pria yang sedang duduk itu beranjak berdiri dan menuju ke arah Aulia. Gadis itu semakin sulit hanya sekedar bernapas ia seperti berada di ruangan sempit penuh debu.
"Bagaimana ini Uncle Tio mendengar Lia berbicara? Jangan sampai Uncle marah pada Lia lagi" ujar Aulia dalam hati.
"U-uncle, maaf Lia hanya iseng saja. Sungguh yang Lia katakan tadi jangan di masukin ke hati yah" ujar Aulia pelan. Tangannya melambai ke depan sebagai isyarat bahwa perkataannya hanya salah paham. Sedangkan pria itu malah menatapnya datar tanpa menjawab, Tio menjatuhkan kepalanya di pangkuan Aulia. Sungguh jantung Aulia hampir terjatuh karena saking terkejut.
Tio tidak marah sama sekali malah menjatuhkan kepalanya di atas pangkuan Aulia, yang sedang duduk bersila, kedua tangannya memeluk mesra pinggang Aulia sedang kepalanya ia benamkan di perut gadisnya membuat putri raja Hades membeku seketika.
"A-apa yang sedang terjadi? Uncle berbaring di pangkuan Lia? jantung Lia berdetak begitu kencang sangat kencang sampai-sampai hampir putus" kata Aulia di dalam hatinya.
"Eh?" Ia seperti seorang ibu yang sedang memanjakan putranya, menarik sudut bibirnya membentuk lengkungan tipis. Padahal sudah bertekad untuk menjauh dari Tio tapi sepertinya ia akan menarik kembali ucapannya. Rupanya hatinya tidak bisa menjauh dari pria yang di sebut Uncle itu.
Tangan mungilnya mengelus rambut tebal pria di pangkuannya menyisirnya menggunakan jemari tangannya.
"Biarkan seperti ini, hubungan yang tak pasti. Biarkan semuanya mengalir begitu saja tanpa peduli Uncle akan menikahi aunty Karla. Lia akan menerimanya, Lia akan memanfaatkan waktu berdua dengan Uncle Tio... mungkin wanita yang terbodoh di dunia adalah Lia karena mencintai orang yang salah tapi Lia tidak punya kehendak untuk memilih rupanya hati Lia benar-benar lunak untuk pria yang sedang berbaring di pangkuan Lia..." ujarnya dalam hati. Tangannya masih menyisir rambut prianya lembut.
"Uncle"
"Hmmm" dehem Tio.
"Jika suatu hari, Lia tidak sengaja melupakan Uncle, apa yang akan Uncle lakukan?." Tanya Aulia membuka percakapan.
"Kenapa bertanya seperti itu? Apakah Nona berniat untuk melupakan Uncle hmmm...?." Pria itu melepas pelukannya merubah posisinya menjadi telentang menatap dalam wajah cantik itu. Keduanya saling menatap cukup lama hingga Aulia memalingkan pandangannya.
"Tidak. Uncle akan selalu ada di ingatan Lia bahkan di hati Lia. Tapi masa depan tidak ada yang tahu, Lia hanya berandai saja jika suatu hari Lia tidak mengingat siapapun bahkan Uncle sendiri... apa yang akan Uncle lakukan?" Jelas Aulia menatap wajah tampan pemuda dewasa itu.
"Uncle tidak akan mengizinkan Nona melupakan Uncle bahkan di mimpi sekalipun Uncle tidak mengizinkan!!" tegas Tio mengelus lembut punggung tangan gadisnya yang bersandar di atas dadanya. Bibir tipis itu tersenyum.
"Uncle! Lia mau jawabannya bukan gombalan!" ketus Aulia namun tetap tersenyum.
"Jika ingatan itu adalah tentang kenangan buruk Uncle, maka Uncle tidak akan mengembalikannya biarlah kenangan pahit itu terkubur di alam bawah sadar dan Uncle akan menciptakan kenangan manis agar hati ini tidak akan merasakan kesedihan" jawab Tio panjang lebar. Telunjuknya terarah ke dada Aulia membuat gadis cantik itu menatap intens prianya.
Hingga sebuah bell rumah berbunyi dan Tio segera bangkit dari tidurannya.
"Uncle tadi pesan makanan. Nona tunggu sebentar Uncle akan mengambilnya" ujarnya dan bergegas ke depan. Benar saja seorang pria paruh baya membawa dua kotak makanan lalu menyerahkan selembar kertas dan pulpen.
Tio kemudian menanda tangani kertas tersebut dan mengambil bingkisan berisi dua boks pizza dan membayarnya.
Tio masuk ke dalam tak lupa mengunci pintu rumah. Sebenarnya pria itu memesan tiga boks pizza namun satu di berikan untuk Hara dan duanya untuk dirinya dan Aulia.
"Uncle pesan apa? Lia sudah sangat lapar" ujar Aulia mengelus perutnya.
"Uncle pesan pizza, ini makanlah" pria itu menyodorkan satu boks pizza ke arah Aulia gadis itu tersenyum lebar dan membukanya segera. Melahap pizza yang sangat gurih di lidah.
Keduanya makan dengan khidmat tidak ada pembicaraan di antara mereka. Menikmati santapan lezat di depan mata.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung