The Love Story Princess And Prince Mafia

The Love Story Princess And Prince Mafia
Bab 14 Di Copet



Happy reading 🤗


Beri like dan hadiahnya dong kak 🤗❤️❤️❤️


.


.


.


.


.


.


.


Aulia membawa barang-barangnya ke lantai dua di mana rumah itu terdapat tiga kamar, dua kamar terletak di lantai dua satu di dekat tangga dan yang satunya lagi terletak di samping balkon rumah.


Sedang di kamar bawah terletak di bawah pojok tangga, Aulia lebih memilih menempatkan dirinya di kamar dekat balkon agar nanti dirinya bisa menghirup udara pagi ataupun sore di balkon rumah.


"Yeah! akhirnya Lia bisa tinggal di rumah minimalis... Lia bebas melakukan apapun" pekiknya kegirangan bahkan dirinya sampai berjingkrak-jingkrak.


"Hmmm... Lia kan tidak punya teman di sini, bagaimana jika menyuruh teman-teman Lia yang di Indonesia untuk datang berkunjung di rumah baru Lia?" monolognya dengan jari menyentuh dagunya. Tiba-tiba sebuah senyum terukir di bibir tipisnya.


"Baiklah Lia akan memanggil mereka untuk datang kemari hehehehe" gadis itu menutup mulutnya cekikikan, menjatuhkan tubuhnya kasar di atas kasur berukuran sedang. Jika di Mansion ukuran kasur ini empat kali lipat besarnya, tapi sekarang mungkin hanya memuat dua orang dewasa saja.


Tiba-tiba terdengar sebuah klakson di depan rumahnya membuat Aulia buru-buru keluar. Menuruni anak tangga satu persatu hingga sampailah ia di teras rumah. Terlihat motor berwarna merah dengan desain rangka tralis yang membuatnya terkesan lebih kekar. Aulia yang melihat itu membulatkan bola matanya, pasalnya motor Ducati Monster adalah motor kesukaannya dan sekarang motor itu ada di depannya.


" Ducati Monster 821 yang didalamnya terpasang mesin Testastretta 11° L-Twin berkapasitas 821cc yang diklaim mampu mengeluarkan tenaga mencapai 112 Horsepower". Batin Aulia mengamati motor merah bermerek Ducati Monster itu.


"Apakah Uncle salah membelinya, Tuan Putri baik-baik saja kan?" tanya Jonathan, pria itu menaikkan alisnya heran kala melihat Aulia hanya diam saja bahkan wajahnya tidak menunjukan reaksi apapun.


"Ekspresi datar siapa yang tahu mendeskripsikannya" gerutu Jonathan dalam hati. "Tuan Putri pasti tidak suka" sambungnya lagi dalam hati. Membuang napasnya kasar. Namun tiba-tiba tubuhnya mematung seketika dengan mata melotot.


"Terima kasih Uncle Jo" ujar Aulia memeluk tubuh Jonathan bahkan mencium pipinya membuat pria itu tidak bisa berkata-kata.


"Uncle tahu banget motor kesukaan Lia, motor ini sudah lama Lia pengen beli tapi tidak di perbolehkan oleh Daddy katanya punya satu motor cukup... huh! benar-benar menyebalkan" jelas Aulia dengan wajah berseri-seri. Tidak ada respon dari pria di samping Aulia, pria itu seakan kaku mendapatkan serangan mendadak.


Aulia yang terus berceloteh namun tidak di tanggapi mulai merasa aneh, dengan cepat gadis itu menoleh ke arah Jonathan yang masih berdiam diri.


"Uncle Jo kenapa? kok wajah Uncle pucat?" tanyanya dengan perasaan khawatir. Buru-buru Aulia berdiri di depan Jonathan menatapnya serius.


"Tuan putri bisakah ambilkan Uncle air?" Aulia bernapas lega, pria di depannya akhirnya bicara. Aulia mengangguk tanpa curiga gadis itu dengan semangatnya masuk ke dalam rumah lebih tepatnya ke arah dapur.


"Kenapa Tuan Putri menciumku...?" bisik Jonathan dalam hati. Matanya mulai menganak tangannya terulur menyentuh dadanya yang bergetar hebat.


"Ini Uncle" Aulia menyodorkan segelas air putih pada pria yang di panggil Uncle Jo. Buru-buru pria itu mengambilnya dan menyiramnya pada wajahnya lebih tepatnya di area pipi yang di cium oleh Aulia tadi, entah apa maksudnya itu?.


"Uncle Jo, kenapa membasuh wajah Uncle dengan air... Lia pikir Uncle mau minum" tukas Aulia bersedekap dada menatap heran Jonathan.


"Tunggu! jangan bilang Uncle menghapus bekas ciuman Lia yah! Uncle Jo jahat!!" teriak Aulia mencak-mencak, ia baru menyadari tujuan pria itu membasahi wajahnya dan menggosok kuat pipi yang di cium oleh Aulia tadi.


"Maaf Nona, ini semua demi kebaikan kita... Uncle tidak mau di marahi oleh istri Uncle. Tuan Putri tahu sendiri istri Uncle tuh kayak kelelawar yang indra penciumannya sangat tajam, makanya Uncle tidak mau bekas wanita lain menempel di tubuh Uncle" jelasnya yang langsung menyerahkan gelas kosong pada Aulia, gadis itu menerimanya dengan bibir mengerucut.


"Cih! sekalipun itu adalah Lia sendiri?" tanyanya dengan tatapan datarnya.


"Ya mau bagaimana lagi" kata Jonathan mengedikan bahunya. "Uncle pulang dulu, jaga diri putri baik-baik yah" pamitnya, Aulia mengangguk pelan.


"Salam buat aunty Chaca, Uncle" teriak Aulia dan pria itu mengangkat jarinya membentuk huruf O sebagai jawaban. Aulia masuk ke dalam rumah menaiki anak tangga.


Tidak jauh dari sana seorang pria menatapnya dengan tampang datarnya, dirinya baru pindah menjadi tetangga Aulia beberapa menit yang lalu, membawa beberapa perlengkapan pribadi di dalam rumah yang lumayan besar.


"Mau kemana dia?" batinnya mengamati gadis berbaju putih itu, Aulia menaiki motornya dan melesat pergi dari kompleks perumahan Indrasari.


Gadis itu melajukan motornya di jalanan raya yang tidak terlalu padat, karena keasyikan mendapatkan motor kesayangannya hingga ia tidak menyadari bahwa dirinya masih sangat awam tentang kota Meksiko.


"Astaga! Lia lupa." Pekik Aulia yang langsung menghentikan motornya di sisi jalan raya.


"Eh, di mana Lia harus pergi? dan Lia lupa nama jalan rumah Lia di mana?" gumamnya melihat-lihat sekelilingnya. "Ah masa bodoh, nanti saja, Lia akan menelepon Uncle Jo" tuturnya kembali menjalankan motornya.


Hingga sebuah tempat sepi menarik perhatiannya, di sana terdapat pohon yang cukup besar juga ada tempat duduk. Aulia mengarahkan motornya untuk pergi ke tempat yang di lihatnya tadi. Menghentikan motornya di salah satu pohon rindang mencabut kunci dan berjalan menuju kursi bercat putih.


"Eh, di sini ada danau? indah banget" tuturnya yang baru menyadari keberadaan danau. Angin sepoi-sepoi membuatnya merasa damai merentangkan kedua tangannya ke udara dengan posisi mendatar seperti horizontal.


Menutup matanya merasakan angin sejuk yang seketika dirinya merasa ngantuk. "Andai di sini ada kasur Lia pasti akan langsung tertidur di temani selimut lembut dan boneka Lia... ah pasti sangat nyaman" gumamnya tersenyum lebar. Namun tiba-tiba sebuah tangan menutup matanya lalu kedua tangannya di pegang erat oleh orang lain yang tidak di ketahui.


"Hey! siapa itu jangan macam-macam lepaskan Lia!" teriak Aulia yang merasakan tas mini di punggungnya di tarik oleh seseorang.


"Woe lepaskan Lia! brengsek!!" teriak Aulia meronta-ronta namun sepertinya kekuatan orang tersebut tidak sebanding dengannya membuat Aulia sedikit kesusahan untuk melepas diri.


"Bodoh! ayo cepat kita cabut!!" ujar seorang pria yang sudah berhasil mengambil tas milik Aulia. Dua pria yang menutup mata Aulia juga memegang kedua tangan Aulia mendorong gadis itu hingga tersungkur jatuh di atas tanah.


"Aww, brengsek jangan lari!!" Aulia dengan cepat bangun dari jatuhnya mengejar tiga orang pria yang sudah kabur, bahkan motornya pun mereka ambil, Aulia mengejar satu pria yang berlari ke arah selatan sedang dua temannya melarikan diri menggunakan motor Aulia yang baru di belinya. Sepertinya para pencopet itu sudah mengamati Aulia saat dirinya menuju danau.


Dengan sekuat tenaga Aulia berlari mengejarnya hampir ia menemukannya namun sebuah motor mengangkut pencuri tersebut untuk kabur.


"Woeee! jangan kabur kembalikan barang Lia, bangsat!!" amuk Aulia dengan napas memburu. Ia begitu shok bagaimana tidak semua barang-barangnya berada di dalam tasnya, sekarang ia tidak memiliki apa-apa lagi.


"Lia tidak tahu harus bagaimana sekarang? ponsel, kunci motor, kunci rumah, dompet semua sudah di curi... Daddy, Mommy, Abang, Kek, Nek. Lia akan mati di negara orang, mana Lia sudah sangat lapar" batinnya memegang perutnya yang rata. Ia tidak tahu jika di kota besar yang ia pijaki begitu rawan akan perampok, bahkan yang lebih sadisnya yaitu pembunuhan.


"Apakah Lia akan menjadi pengemis? Lia sangat lapar... siapapun tolong Lia" teriak Aulia dalam hati. Berjalan lunglai di trotoar jalan bahkan rambutnya sedikit acak-acakan.


"Astaga, bagaimana ini? Daddy bantu Lia!" gumam Aulia yang sudah mau menangis namun ia tidak mau menjadi cengeng sekarang, dirinya harus bertahan hidup apapun kondisinya saat ini.


"Apakah ini adalah teguran untuk Lia yah? karena Lia tidak suka kemewahan?. Daddy, maafkan Lia Dad, yang tidak suka kekayaan Daddy jadi Lia kena karmanya hiks, hiks, hiks..." sesalnya dengan kepala menunduk hingga ada sebuah tangan kecil mengarah padanya.


"Jangan nangis lagi kak, ini ada kue makanlah. Setelah itu kita bernyanyi di pinggir jalan agar bisa mendapatkan uang" tutur bocah laki-laki yang berumur 7 tahun, membuat Aulia mematung seketika. (pakai bahasa indo biar mudah di mengerti wkwkw).


"Lia akan menjadi gelandangan sekarang" batin Aulia dengan wajah datarnya.


"Terima kasih"


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung