
Happy reading 🤗 Like dan Votenya dong ❤️❤️
.
.
.
.
.
.
Setelah membahas masalah Aulia dan Tio, Tuan Smith dan yang lainnya langsung bergegas menuju Las Vegas menggunakan jet pribadi Tuan Smith. Jika menggunakan mobil maka cukup memakan waktu lama, kurang lebih lima jam setengah namun karena menggunakan jet pribadi tidak terlalu lama, satu jam dalam perjalanan Tuan Smith dan rombongan sudah mendarat di bandara Las Vegas.
Sebelum ke Las Vegas Hamas putra tertua raja Iblis menghubungi Richo terlebih dahulu karena ia sudah yakin pasti Richo bersama Tio. Dan sekarang Richo sudah menunggu mereka di parkiran bandara Las Vegas. Ada dua buah mobil sedan berwarna coklat dan putih bermerek Ferarri.
Saat melihat Tuan Smith dan rombongan lainnya Richo mengangkat tangannya melambai ke arah mereka, rombongan itu segera berjalan ke arah Richo yang tengah berdiri di samping mobil sedan putih.
"Kita langsung ke rumah sakit Tuan?" tanya Richo pada Tuan Smith saat pria paruh baya itu sudah berdiri di hadapannya.
"Iya, kita langsung ke rumah sakit segera!" jawab Tuan Smith dan Richo mengangguk kepalanya mengerti. Tuan Smith dan Azhar masuk ke dalam mobil yang di kendarai oleh Richo sedangkan Hamas dan Alexa masuk ke dalam mobil satunya yang di sopiri oleh anggota Black Wolf.
Kedua mobil sedan Ferarri berbeda warna itu segera meluncur meninggalkan parkiran bandara, melesat ke jalan raya yang di penuhi dengan berbagai jenis transportasi. Mulai dari transportasi kelas ekonomi rendah sampai pada tingkatan kelas kakap. Waktu menginjak pukul 23 : 50 tak terasa dua mobil yang di bawa oleh Richo dan temannya memasuki halaman rumah sakit.
Menghentikan mobil mereka di samping mobil lainnya yang sudah ada sejak tadi siang. Mereka kemudian turun dari mobil berhenti sejenak menunggu yang lainnya, Richo berjalan di depan sebagai pemandu jalan menuju lantai tiga tempat di mana Tio di rawat.
Mereka menaiki tangga menuju lantai tiga karena salah satu lift sedang dalam perbaikan sedang yang satunya sudah terisi penuh. Mereka tidak mungkin menunggu lift untuk turun ke bawah, karena mereka begitu terburu-buru pada akhirnya solusi yang tepat adalah menggunakan tangga selain untuk menyehatkan tubuh.
Hingga tiba mereka di lantai tiga, mereka masih mengekori Richo untuk menuju ke ruang ICU tempat Tio berada. Di salah satu deretan kursi rumah sakit tepatnya di luar ruangan ICU seorang wanita berambut light brown sedang duduk dengan kepala bersandar di dinding sembari memejamkan matanya.
"Wanita itu adalah pacar Uncle Tio" gumam batin Hamas dan Azhar menatap wajah Karla.
"Di sini ruangan Tio di rawat" ujar Richo berhenti di depan pintu ruang ICU mereka mengangguk mengerti kemudian saling melirik. Hamas lalu bersuara. "Aku akan masuk duluan" Setelah mengetahui bahwa Tuan Smith, dan Tuan mudanya akan datang, Richo sudah meminta izin kepada Customer Care & Kantor Terima (CCKTM) dengan menyebutkan alasan khususnya. Dan setelah memberikan alasan yang masuk akal, pihak penanggung jawab pun membolehkannya sebagai catatan harus mengikuti aturan yang sudah di tetapkan.
Mendengar orang berbicara Karla membuka matanya melihat beberapa orang yang sedang berdiri di depannya. "Eh, kalian sudah datang rupanya" tutur Karla sedikit menggosok matanya lalu merubah posisi duduknya menjadi tegak.
"Halo Aunty Karla" sapa Azhar dan Alexa melambaikan tangan ke arah wanita yang sedang duduk dan Karla membalas mereka dengan senyum simpul. Kemudian menepuk-nepuk tempat duduk di sampingnya sebagai isyarat untuk mereka duduk. Azhar dan Alexa juga Tuan Smith menjatuhkan bokongnya di atas kursi samping Karla, di ikuti Richo dan temannya selanjutnya.
Sedang Hamas sudah masuk ke dalam tanpa barang apapun di tubuhnya terutama ponsel, karena benda-benda elektronik sangat di larang keras saat membawanya masuk ke dalam ruang ICU, bisa saja hal itu dapat mengganggu waktu istirahat pasien.
"Sebenarnya apa yang terjadi pada Tio sampai bisa masuk rumah sakit dan kondisinya kritis?" tanya Tuan Smith melirik Karla dan Richo bergantian. Keduanya mendesah memikirkan hal itu membuat mereka merasa bersalah. Andai mereka tidak terlambat mungkin Tio tidak akan mengalami nasib seburuk ini.
"Dia menyelamatkan seorang wanita muda seorang diri, yang di sandera oleh Mafia di Las Vegas, dan ia berhasil menyelamatkan namun sayang dia terkena tembakan tiga peluru sehingga mengakibatkan dia banyak kehilangan darah... aku tidak tahu siapa sebenarnya wanita itu sampai Tuan muda meminta Tio menyelamatkannya" jelas Richo panjang lebar. Azhar dan Alexa terkejut itu berarti Tuan Farhan sudah merencanakannya. Tidak mungkin Tuan Farhan menyuruh seseorang untuk menyelesaikan misi seorang diri kalau bukan ada maksud terselubung.
"Sepertinya Paman Farhan sangat membenci Uncle Tio sampai berusaha untuk melenyapkan Uncle Tio dengan cara halus..." Kali ini Alexa berbicara dalam hati. Memandang lurus ke depan.
"Andai kami terlambat sedikit saja, mungkin Tio sudah tidak tertolong lagi" lirih Karla meraup wajahnya kasar. Semua di sana semakin terkejut apakah separah itu luka yang di alami Tio sampai sedikit saja terlambat akan berakhir pada kematian. Mendengar hal itu membuat Azhar memikirkan sang adik perempuan, bagaimana dia bisa menerima pria yang merawatnya dari kecil mati saat menyelesaikan misi yang bahkan itu di sengaja oleh Daddynya. Tidak terbayangkan bagaimana hancurnya Aulia saat itu.
"Lalu di mana wanita yang di tolong oleh Uncle Tio? apakah dia terluka parah?" tanya Alexa penasaran.
"Dia sudah membaik dan sekarang dia di rawat di ruang VIP" jawab Richo. Semua di sana mengangguk mengerti.
Sedang di dalam ruangan, Hamas menatap lekat-lekat pria yang terbaring tak berdaya di atas bangsal dengan selang di beberapa bagian tubuh. Menarik napas panjang kemudian menghembuskan perlahan-lahan. Pria muda itu lalu duduk di kursi dekat bangsal matanya tanpa berkedip melihat wajah pria yang di cintai adik perempuannya.
"Uncle Tio, aku Hamas maaf baru sempat mengunjungi Uncle jangan marah yah" tuturnya pelan. "Aku tahu dari kecil Uncle sudah sangat mencintai adikku Lia dan sebaliknya Lia juga mencintai Uncle." Sambungnya terkekeh pelan.
"Aku di sini hanya ingin menyampaikan satu berita yang akan membuat Uncle sakit hati, namun aku harus mengatakannya walau Uncle tidak bisa menerimanya... Lia akan menikah dengan rekan kerja Daddy" jelas Hamas panjang lebar. Sudut matanya mulai menggenang satu-satunya cara untuk membatalkan perjodohan adiknya adalah dengan membuat pria itu terbangun dari tidur nyenyaknya. Namun apakah dirinya bisa membantu pria itu untuk cepat bangun? sangat mustahil di waktu dekat pria itu tersadar karena dari keterangan dokter, Tio bahkan tidak ada harapan lagi. Di tinjau dari pengamatan yang di lakukan oleh suster setiap hari tidak ada perubahan sama sekali.
"Jika Uncle sangat mencintai Lia, ku mohon bangunlah dan nikahi Lia secepatnya atau Uncle akan terlambat memilikinya... aku tidak mau melihat Lia tersakiti dan terus menangis. Cukup sudah dia menangis saat dirinya masih kecil ketika dia melihat Uncle bersama aunty Karla" tuturnya tanpa henti.
"Lia akan menikah dua minggu lagi, ku harap informasi yang aku berikan dapat membuat Uncle cepat sadar sebelum waktunya terlambat" Hamas kemudian beranjak dari duduknya menatap sekilas wajah pria yang masih setia menutup matanya.
Ia lalu berjalan menuju pintu untuk keluar, tidak ada harapan di wajah Hamas, ia terlihat sangat lesu karena Tio masih belum menunjukkan tanda-tanda siuman.
CEKLEK
Semua di sana berdiri dan melihat wajah Hamas yang terlihat sedih sudah di pastikan bahwa masih belum ada keajaiban. "Bagaimana Hamas, apakah ada perubahan?" tanya mereka namun pria itu menggeleng sebagai jawaban.
"Tio!! kau akan menyesal nantinya karena kau tidak mau bangun!" seru Richo dalam hatinya.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung