
Happy reading 🤗
.
.
.
.
.
.
.
Pagi kembali datang sinar bulan berubah menjadi sinar mentari, cahaya arunika menembus masuk ke sela-sela jendela ruangan hingga menganggu tidur dua orang insan yang tengah bergelut dalam selimut. Seorang gadis manis kembali menarik selimutnya hingga menutup semua tubuhnya agar cahaya mentari tak mengganggu tidur cantiknya.
Sedang di ruangan sebelah dua pasangan suami istri masih asyik tidur dalam pelukan hangat yang saling menghangatkan, tidur di atas kasur king size dengan selimut yang membungkus tubuh keduanya. Sedang di lantai terdapat hamparan karpet sebagai pengalas kasur tipis agar tidak terlalu dingin. Ada empat anak manusia yang masih terlelap tidur dua di antaranya masih kecil sedang dua pria sudah dewasa. Mereka adalah kakak beradik. Hamas, Azhar, Dafa dan Daffin. Ke empat orang itu tidur di kasur seadanya sedang di kasur king size di tempati oleh Tuan Farhan dan Jons.
Senyum manis terukir di bibir tipis si Jelangkung kala mengingat semalam dirinya memindahkan sang putra ke kasur tipis bersama dua kakaknya membuat pria itu terkikik geli. Tuan Farhan yang malas untuk bangun makin mempererat pelukannya mencium kening sang istri yang sudah membersamainya hingga melahirkan keturunan yang imut-imut seperti dirinya.
Tio dan Aulia menempati kamar Alexa yang kini sudah menjadi kamar Shireen, namun karena Aulia menyukai kamar Alexa hingga Shireen tidur di kamar Azhar yang berada di lantai satu.
Jika di Apartemen Hamas penghuninya masih asyik tidur maka tidak dengan Tuan Wijaya semalam mereka masih berkutat di depan monitor yang memperlihatkan rekaman CCTV di ruangan yang di tempati Alexa hingga jalan keluar bahkan di parkiran pun tidak ada tanda-tanda seseorang yang membawa Alexa membuat mereka begitu sedih karena pulang dengan keadaan tangan kosong.
Karena tidak ada jejak Alexa di rumah sakit, hari ini Tuan Wijaya dan lainnya akan pergi ke kediaman Tuan Kalingga untuk bertanya keberadaan Alexa di mana sekarang karena mereka yakin Tuan Kalingga pasti tahu keberadaan keturunan cucu mafianya. Namun sebelum itu Tuan Wijaya akan ke Apartemen cucunya Hamas untuk memberikan pelajaran kepada cucu bodohnya itu.
Jam menunjukkan pukul 7 pagi keluarga Tuan Smith dan Tuan Wijaya baru saja menyelesaikan sarapan untuk mengisi nutrisi dalam tubuh mereka, dua cucu Tuan Smith sudah berangkat ke sekolah di antar oleh ayahnya yaitu River. Kini tinggallah Tuan Smith, Laura serta rombongan Tuan Wijaya. Mereka sudah bersiap-siap untuk ke Apartemen Hamas takut jika pergi siang hari tidak menemukan keberadaan mereka di Apartemen.
"Ayo kita ke apartemen Hamas!" ajak Tuan Wijaya.
"Ayo, sebelum mereka pergi kuliah" balas Tuan Smith dan mendapat anggukan dari yang lain.
Di kediaman Tuan Kalingga Nyonya Kalingga dari semalam menunggu suaminya yang belum kunjung pulang membuatnya begitu cemas, beberapa kali menghubungi nomor suaminya namun hanya suara operator yang menjawab membuat perempuan berusia 39 tahun itu mendesah kasar.
"Kemana perginya dia dari semalam nomornya sudah tidak aktif... bikin cemas saja. Lebih baik aku ke rumah sakit sekarang melihat keadaan putriku" ucap Nyonya Kalingga yang langsung memutuskan untuk ke rumah sakit.
Di negara Asia Tenggara yang di lintasi garis khatulistiwa dan berada di antara daratan benua Asia dan Oseania, serta antara samudera Pasifik dan samudra Hindia. Tepatnya di negara yang banyak sekali akan kekayaan alam apa lagi kalau bukan Indonesia, negara yang penuh rempah-rempah.
Di bengkel mantap jaya lima orang pria sedang berkutat dengan beberapa benda di sebuah ruangan yang banyak sekali barang-barang rongsokan juga beberapa motor dan mobil yang harus mereka perbaiki. Seorang pria berumur 40 tahun itu terlihat sangat serius kala di tangannya memegang sebuah botol Pilox dan membuat sebuah gambar yang sangat unik dengan warna yang tidak terlalu mecolok.
Tak lama datang empat orang gadis dengan pakaian seragam SMA namun bawahannya menggunakan jeans hitam masing-masing menaiki motor Yamaha Xabre membuat semua atensi lima pria yang sedang bekerja teralihkan karena suara bising yang di hasilkan dari motor Yamaha Xabre.
Empat gadis cantik itu turun dari atas motor berjalan layaknya seorang preman, menuju bengkel mantap jaya, seorang pria muda yang tak lain adalah Gilang menghampiri gadis berseragam sekolah itu.
"Ada yang bisa kami bantu Mbak?" tanya Gilang sopan menampilkan senyum tipis di bibirnya.
"Mbak, mbuk mbak... kami bukan Mbak panggil Nona saja kami masih muda tahu!" ketus gadis berambut tosca sepertinya mereka adalah geng motor terlihat dari tampilannya yang menunjukkan sebuah geng.
"Kami mau motor kami di modifikasi jadi motor modern tracker... apakah bisa?" tanya gadis berambut tosca kehitam-hitaman itu. Gilang berpikir sejenak mendengar permintaan dari pelanggannya.
"Tunggu sebentar saya diskusikan permintaan Nona dengan rekan kerja saya" pamit Gilang dan ke empat gadis sekolah itu mengangguk pelan.
"Maaf pak Mamat ini ada konsumen yang ingin memodifikasi motor Yamaha Xabre menjadi motor modern tracker, apakah bisa soalnya ini ada empat motor" jelas Gilang saat sudah di samping pak Mamat, pria yang sedang memberikan warna pada mobil Suzuki Splash.
Pak Mamat kemudian menghentikan kegiatannya lalu menatap Gilang, pria umur 40 tahun itu mengangguk kepalanya pelan sebagai jawaban.
"Terima saja Gilang, dan tanyakan apakah modifikasi motornya mau di samakan atau masing-masing berbeda?" jawab pak Mamat kembali melanjutkan kegiatan modifikasi mobil namun hanya memberikan beberapa sentuhan warna pada motor Suzuki Splash berwarna putih itu.
"Baik terima kasih pak Mamat" setelah menanyakan pendapat pak Mamat Gilang kemudian menghampiri gadis berseragam sekolah itu. Pak Mamat adalah seseorang yang pernah bekerja di bengkel terbesar dan bisa melakukan modifikasi model terbaru ataupun yang klasik dan tentunya semua konsumen yang di tangani oleh pak Mamat merasa puas atas kinerjanya yang benar-benar tidak bisa di kalahkan karena desainnya yang sangat indah.
Dan pak Mamat juga adalah salah satu kerabat jauh Yogi dari Yogyakarta yang sedang merantau di kota metropolitan.
Gilang melempar senyum kepada empat gadis sekolah sebagai bentuk profesionalitas sebagai seorang wirausaha di bidang otomotif ia harus menjalankan profesinya agar pelanggannya merasa puas atas kinerjanya.
"Kalau boleh tahu apakah semua motor ini mau dimodifikasi dengan gaya yang sama?." Tanya Gilang dan empat gadis sekolah itu saling menatap satu sama lain lalu kemudian mereka tiba-tiba mengangguk tanpa sepatah katapun seakan memberikan pesan melalui pandangan mata.
"Iya, modifikasi dengan gaya yang sama, mungkin untuk bedanya hanya dari warna saja... untuk warnanya kami serahkan semuanya kepada kalian karena kalian lebih mengerti tentang modifikasi motor modern tapi tetap elegan" kata salah satu gadis berambut coklat, berbeda dengan gadis berambut tosca gadis berambut coklat terlihat ramah dan murah senyum.
"Baik kalau begitu, untuk waktunya mungkin butuh tiga atau empat minggu baru bisa di ambil" jelas Gilang lagi dan di anggukin oleh ke empat gadis remaja.
"Boleh saya minta nomor kontak salah satu dari kalian? kalau motornya sudah selesai di modifikasi, saya segera menghubungi nomor kalian" tutur Gilang yang sudah siap dengan buku serta balpoin di tangannya.
Gadis berambut cokelat itu seketika menyebut angka nomor ponselnya hingga sampai pada angka digit terakhir.
"Terima kasih karena sudah mempercayakan bengkel kami, saya akan mengabari jika pengerjaannya sudah selesai"
"Terima kasih juga, kalau begitu kami pamit dulu" Gilang mengangguk dengan senyum ramahnya lalu kemudian kembali masuk ke dalam bengkel.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung