
Happy reading 🤗
.
.
.
.
.
.
.
Keluarga konglomerat yang belum pernah mencoba makanan warung itu, dan kali ini mereka benar-benar menikmatinya. Makanan yang di anggap tidak higienis itu kini menjadi favorit mereka sekarang. Makanan sederhana dan dengan tampilan yang tidak enak di pandang mempunyai rasa yang tidak bisa di jelaskan oleh kata-kata.
"Benar kan kata Daffin, makanan di sini sangat enak" celetuk Daffin sembari mengunyah sate di mulutnya.
"Daffin, nanti setiap malam kita makan di sini saja yah" ajak Dafa dan adik kembarnya mengangguk mantap.
"Tidak boleh! jika setiap hari makan makanan yang berlemak itu juga tidak baik untuk tubuh kalian" seru tuan Farhan memelankan suaranya agar tidak di dengar oleh pedagang kaki lima.
"No Dad! makanan ini sangat enak, bahkan sepertinya lidah kami sudah tidak bisa makan makanan lain selain makanan ini" protes Dafa membuat tuan Farhan melotot tajam.
"Terserah kalian saja" tuan Farhan tidak bisa berkata apa-apa lagi, menghadapi dua bocah ingusan itu membuat naik darah saja. Dirinya tidak mau stress saat ini karena itu pasti akan mempengaruhi tingkat ketuaan pada wajah dan dirinya tidak mau tua sekarang.
Dasar raja Iblis, sekalipun dirimu berlari sejauh mungkin, tua akan selalu datang menghampirimu itu adalah salah satu sifat manusia yang fana, menandakan bahwa semua isi Bumi hanyalah sementara dan pasti akan kembali ke asalnya.
Semua di sana kembali menikmati hidangan kuliner Indonesia yang baru mereka makan, putri raja Iblis itu sangat antusias mencoba semua menu yang di pesan oleh kakeknya.
Aulia mengambil sambal hijau yang terkenal pedas, bahkan sudah beberapa kali dirinya terus menambah sambal hijau tersebut.
"Sayang, jangan terlalu makan pedas itu tidak baik untuk kesehatan" seru Tio menepis tangan istrinya saat Aulia mengambil satu sendok sambal lagi.
"Iiih, Uncle! lidah Lia tidak bisa kalau tidak makan sambal, rasanya sangat hambar seperti tidak ada garam" jawab Aulia dengan bibir mengerucut seperti bebek.
"Tidak boleh! Lia sudah makan sambal terlalu banyak, kali ini Uncle tidak akan izinkan Lia untuk makan sambal lagi!" tegas Tio hingga semua pandangan mengarah padanya, Aulia yang benar-benar ingin makan sambal mulai melancarkan aksinya. Matanya sudah berkaca-kaca yang jika mengerjap mata sekali akan langsung terjatuh buliran kristal suci itu.
Namun Tio tidak mengindahkan Aulia, ia malah asyik memakan makanannya yang sangat lezat itu. Aulia akhirnya tidak melanjutkan makannya berdiam diri dengan kepala menunduk ke bawah.
Tio tidak bisa berbuat apa-apa kalau seperti itu, dan pada akhirnya Tio lagi-lagi mengalah pada istri kecilnya itu. Melihat air mata jatuh dari mata wanitanya membuatnya gagal menjadi suami yang baik, hatinya mudah luluh jika berkaitan dengan tangisan wanita.
"Makanlah, tapi jangan menangis" tutur Tio dengan suara pelan hingga membuat Aulia yang tadinya menangis kembali tersenyum lebar. Dengan gerakan cepat kini dua sendok sambal hijau itu sudah mengisi piring Aulia. Tio hanya mendesah berat melihat tingkah Aulia yang seperti anak kecil saja.
Sedang empat pasangan suami-istri yang baru menikah itu saling suap-suapan membuat iri orang tua juga empat sahabat Aulia yang masih jomblo. Shireen meminta Hamas untuk menyuapinya sate ayam dan dengan senang hati putra raja Iblis itu melakukannya. Tidak kalah romantis, Richo dan Karla melakukan hal yang sama.
Richo menyuapi Karla dan Karla menyuapi Richo. Sandy, Tuan Zeus dan Tuan Smith hanya mengerlingkan matanya kala melihat keromantisan pasangan muda-mudi itu. Membuat napas terasa sesak.
Sandy melirik ke arah Larissa yang tengah melahap makanannya, Larissa yang merasa di lirik pun segera menatap balik dan membuat Sandy salah tingkah karena ketahuan mengintip.
"Dasar kurang kerjaan sekali!" bisik Larissa dalam hati, dan kembali melanjutkan makan malamnya.
Aulia menyantap ayam goreng, juga sate ayam dengan sambal hijau, rasanya benar-benar lezat belum pernah dirinya makan makanan seenak ini. Peluh keringat bercucuran membasahi wajah Aulia, karena pedasnya sambal hijau membuat bibirnya memerah dan sedikit tebal namun tiba-tiba ia merasa perut bagian bawahnya keram hal itu membuatnya berhenti makan.
"Awww, sakit sekali! perut Lia sangat sakit" pekik Aulia dalam hati.
"Sayang, kau kenapa?" tuan Farhan yang tidak sengaja memandang putrinya merasa aneh dengan gelagat putrinya itu.
Mendengar pertanyaan tuan Farhan sontak membuat mereka berhenti makan dan menatap ke arah Aulia yang tengah menahan sakit.
"Hehehehe, tidak apa-apa Dad, mulut Lia kepedasan" ucapnya bohong, semua di sana mengangguk mengerti namun berbeda dengan tuan Farhan rupanya raja Iblis tidak mudah di tipu, Aulia adalah putrinya yang ia rawat dari kecil hingga dewasa, jadi ia sangat tahu kebohongan dan kebenaran yang di lontarkan sang anak.
"Jangan bohong Lia! katakan apa yang terjadi? kenapa kamu sampai berkerut seperti itu?" desak tuan Farhan. Tio lalu menatap sang istri di sampingnya.
"Sayang, ada apa?" tanya Tio lagi, Aulia sudah tidak bisa berbohong lagi menggigit bibirnya kuat menahan rasa sakit yang sangat dalam.
"Sakit sekali" tetesan air mata mengalir dari sudut matanya, tuan Farhan segera berdiri dan berjalan cepat menuju Aulia. Tanpa ba-bi-bu lagi tuan Farhan menggendong putri kesayangannya itu.
"Tio cepat siapkan mobil!!" teriak Tuan Farhan kalang kabut. Orang-orang yang berlalu lalang bahkan para pedagang kaki lima itu menatap aksi tuan Farhan yang menolong putrinya.
Tio juga ikut berlari menyiapkan mobil Toyota Avanza yang di kendarai oleh karyawannya tadi, nyonya Mita, Jons dan Azhar ikut bergabung menaiki mobil yang di tumpangi tuan Farhan, Aulia juga Tio.
Tuan Wijaya dan lainnya menghentikan makannya, mereka lalu ikut masuk ke dalam mobil, namun sebelum itu tuan Wijaya mengeluarkan uang merah dua puluh lembar yang itu berarti senilai dua juta rupiah. Lalu meminta tolong kepada salah satu pedagang kenalannya untuk membantu dirinya membayar makanan yang telah di pesannya kepada pedagang kaki lima yang lain.
Mobil yang di tumpangi tuan Farhan sudah melesat jauh menuju rumah sakit terdekat, kali ini tuan Farhan yang menjadi sopir Sedangkan Tio memeluk istrinya dengan keadaan khawatir. Sedangkan Jons dan nyonya Mita duduk di jok belakang mereka juga ikut panik melihat Aulia yang kesakitan.
"Sayang kamu yang kuat yah, kita akan segera sampai ke rumah sakit" tutur tuan Farhan dengan wajah merah padam.
"Hiks, hiks, hiks, Daddy sakit! Lia tidak kuat lagi sangat sakit hiks hiks" lirih Aulia mengigit bibirnya kuat.
"Sayang, tahan yah sebentar lagi kita sampai ke rumah sakit," ucap Tio pelan sesekali menyeka keringat di wajah Aulia.
"Astaga, sayang putriku kenapa bisa begini? Prince cepetan dikit kasian putriku" desak Jons. Nyonya Mita memeluk Jons dia juga sangat khawatir kepada cucu perempuannya itu.
"Aaaakkkh, sakit!! Uncle! Dad, Mom sakit sekali" teriak Aulia mencengkeram kuat bahu Tio.
"Tio! lakukan sesuatu kepada putriku! kenapa bisa dia sesakit itu hah!!" bentak Jons dengan air mata yang mulai menetes. Sedangkan tuan Farhan kembali menginjak pedal gas, menaikkan kecepatan mobil bahkan hampir saja tuan Farhan menabrak kendaraan beroda dua untung saja pengendara sepeda itu cepat-cepat menghindar kalau tidak dia pasti sudah menjadi salah satu korban kecelakaan malam ini.
"Sayang, hey jangan tutup mata! sadarlah buka mata kamu sayang!" seru Tio dengan wajah semakin panik, menepuk pelan pipi Aulia agar istrinya tetap sadar. Namun rasa sakit yang tiada tara itu membuat Aulia jatuh pingsan.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung