
Happy Reading
.
.
.
.
.
.
Di kediaman Tio, mereka semua sudah berkumpul di meja makan, hari ini Tio memasak nasi goreng pete telur ceplok, dan ikan bumbu balado, tidak lupa sambal bawang sebagai pelengkapnya, jika tidak ada sambal, rasanya tidaklah enak, makanan akan hambar rasanya. Adnan dan Adrian turun dari ayahnya, mereka berdua menyukai sambal, jika biasanya anak-anak lebih cenderung menyukai sesuatu yang manis dan membenci pedas maka tidak dengan kedua putra Tio, mereka menyukai keduanya.
"Selamat makan" ucap Aulia dengan senyum merekah di bibir, menu hari ini adalah makanan favoritnya, ia terus tersenyum melirik suaminya karena tahu bahwa ia ingin sekali makan nasi goreng pete telur ceplok.
"Ekhem! Kak Lia kenapa senyum-senyum terus dari tadi? Apa tidak lelah?" tanya Daffin merasa heran dengan sikap kakaknya. Padahal nasi goreng di piring kakaknya bukanlah emas ataupun barang berharga yang bisa membuat orang bahagia, hanya sepiring nasi goreng tapi mampu membuat kakak perempuannya tersenyum lebar.
"Itu karena ayah memasak nasi goreng ini, nasi goreng ini adalah makanan favorit bunda, dan setiap kali ayah membuat menu ini hati bunda akan berbunga-bunga" sahut Adrian, dan Aulia mengangguk membenarkan.
"Iya paman, bukankah kebahagiaan bunda sangat sederhana? Aku kalau mau cari istri yang kebahagiaannya adalah uang, seperti tuan crab" kali ini Adnan yang menjawab, pemikiran anak laki-laki itu beda daripada yang lain.
"Tapi bukankah lebih baik seperti bunda kalian? Mencari perempuan seperti kak Lia sangat langkah, semuanya memandang uang itu akan menghancurkan dirimu dan sangat merepotkan" tutur Dafa menggeleng pelan.
"Kakek sangat kaya, ayah juga sangat kaya dan paman juga kaya, tidak masalah jika istriku menghamburkan uang, laki-laki mencari uang tugas istri yang menghamburkan, bukankah seperti itu cara mainnya"
"Astaga, pemikiran darimana itu Adnan!" Hamas yang sedari tadi diam ikut bersuara, ia melongo mendengar argumen keponakannya, yang di luar ekspektasi orang dewasa.
"Paman kenapa terkejut? Bukankah pemikiranku benar yah" Adnan tetap kekeuh pada pendiriannya, entah jika besar nanti dia menjadi pria playboy yang suka menghamburkan uang.
"Adik, seharusnya kita itu mencari uang untuk diri kita sendiri bukan untuk istri... Kita yang lelah masa istri yang terima senangnya, itu kan tidak adil"
"Mereka berdua ini apakah tidak di ajari yah? Pemikiran mereka bukankah berbahaya kedepannya?" Hamas melirik ke arah Tio dan Aulia namun kedua pasangan suami istri itu tidak menanggapi.
"Iiiish, kakak tidak lihat ayah kasih uang ke bunda setiap hari? Itu berarti ayah kerja untuk bunda" balasnya lagi.
"Kalian berdua ini cerocos mulu, lebih baik habisin makanan kalian" setelah lama berdiam, Tio berujar dan melerai perdebatan kedua putranya. Adnan dan Adrian tidak lagi saling melempar argumen, mereka fokus pada makanan di dalam piring masing-masing.
Suasana makan malam itu hening seketika, keluarga besar itu makan dengan khidmat, terdengar dentuman sendok yang saling bersahutan juga kunyahan dari sebagian mereka.
"Suasana seperti ini membuatku segera menyudahi makan, aku merasa sedang berada di tengah-tengah keluarga pengabdi setan, horor sekali" bisik Daffin dalam hati merasa parno dengan suasana sekarang.
"Aku sudah selesai, maaf tidak menunggu kalian aku mau menelepon Daddy dulu" Hamas tiba-tiba berujar dan segera berlalu dari meja makan, ia melakukan panggilan suara dengan tuan Farhan tapi belum kunjung di angkat, sementara Daffin , jantungnya berpacu cepat ia terkejut saat abangnya berbicara di kesunyian malam.
"Paman, wajah paman pucat? Apa paman melihat setan?" Adrian berujar santai tidak tahu saja jika Daffin parno dengan setan.
"Daffin, are you okay?" Aulia bertanya dengan nada khawatir, semua atensi mengarah padanya ia menggeleng sebagai jawaban, dan yang lainnya bernapas lega tapi tidak dengan saudara kembarnya. Dafa tahu telah terjadi sesuatu terhadap adiknya itu, keduanya saling melirik, buru-buru Dafa menggenggam tangan Daffin yang berada di bawah meja, mengisyaratkan dengan matanya bahwa semua akan baik-baik saja.
"Dia pasti melihat sesuatu" batinnya melanjutkan makan yang tadi tertunda, sementara di ruang keluarga, seorang pria tengah duduk di atas sofa sambil menyandarkan punggungnya di sandaran sofa, kaki kanannya menindih kaki kirinya. Tangan kanannya memegang ponsel dan menempelkannya di telinga.
"Aku tidak mau tahu besok segera pulang! Lagipula kenapa harus membawa anak-anakku si Dad!" serunya dengan nada dingin.
"Tidak bisa, pamanmu Alex terkena tembakan jadi dia harus di rawat di rumah sakit" balasnya dari sebrang telepon. Hamas mendesah berat, ia membuka dua kancing atas baju kaos, rasanya begitu gerah padahal ac di ruangan tersebut hidup.
"Ti...." panggilan telepon terputus, Hamas memutuskan sambungan telepon tanpa ucapan apapun membuat pria di sebrang sana mengumpat kesal, pasalnya ia selalu di cuekin oleh putra sulungnya.
Di lain tempat di kota besar negara Amerika, masih di tempat yang sama yaitu tempat yang menyatukan dua keluarga asing menjadi keluarga dengan status persaudaraan, kini tuan Kalingga dan wanita tua hendak bersiap-siap pulang, biar bagaimanapun mereka harus pulang apalagi ibunda tuan Kalingga sudah tua sangat rentan terkena penyakit jika berlama-lama di rumah sakit. Suasana rumah sakit akan mempengaruhi imun orang tua juga anak-anak.
Kini tinggalah keluarga tuan Farhan yang masih menetap di ruang VIP tempat Alex di rawat, ayah anak satu itu telah tertidur pulas setelah di beri obat oleh suster begitupula dengan Vicky, ia tidak tahu jika kedua bossnya telah pulang meninggalkan dirinya dengan keluarga asing, namun ketiga anak buahnya tetap di sana.
"Hamas akan kemari besok"
DEG
Mendengar Hamas akan datang ke Washington membuat jantung Alexa berpacu tak karuan, tiba-tiba saja jantungnya berdebar kencang, ia harus bersikap seperti apa ketika berhadapan dengan pria yang tidak ingin ia lihat lagi.
"Tante tenang saja, ada aku di sini aku tidak akan membiarkan ayah mengganggu tante" seakan tahu isi pikiran Alexa, bocah laki-laki itu berbisik di telinga Alexa, gadis itu menoleh dengan senyum merekah, hatinya mulai tenang tidak sekaruan tadi.
"Pinky swear?" Alexa mengulurkan jari kelingkingnya untuk membuat janji dengan Aditya, pria kecil itu tanpa basa-basi langsung menautkannya.
"Pinky swear" ucapnya tegas, Alexa senang berada di dekat Aditya pasalnya bocah laki-laki itu bisa menenangkannya, entah apakah itu tanda bahwa Aditya benar-benar bersaing dengan ayahnya?
"Kakak apa yang kamu lakukan dengan tante Alexa?" bocah perempuan itu ikut bergabung, melirik heran dua jari kelingking saling bertautan.
"Anak kecil tidak perlu tahu, ini urusan orang dewasa" balasnya percaya diri, lupa jika dirinya juga masih kecil.
"Kamu kan masih kecil, kenapa bilang diri sendiri dewasa"
"Iya benal tante, kakak ini selalu bilang dewasa padahal kan tubuhnya kecil sama seperti Enzi" balas Enzi menaikan sebelah bibirnya sambil melirik remeh kepada Aditya.
"Kalian berdua ayo pulang bersama kakek, kita tidur di Apartemen" tuan Farhan datang menghampiri mereka di sofa, ketiga anak manusia itu langsung mengalihkan atensinya ke sumber suara.
"Tante ayo pulang" ajak kedua anak kecil itu, Alexa menggeleng ia tetap di rumah sakit merawat ayahnya, biar bagaimanapun kondisi ayahnya saat ini karena ulahnya, ia masih ingin melepas rindu dengan ayah dan ibunya.
"Tante Alexa tetap di sini, kalian berdua pulang ke Apartemen, di rumah sakit tidak baik untuk kalian berdua"
"Baiklah, jaga diri tante baik-baik, jangan dekat-dekat dengan paman di sana, aku tidak suka... Dan satu lagi, tante di larang memikirkan pria lain selain aku, oke" ucapnya mengedipkan sebelah matanya dan jarinya membentuk bentuk love membuat semua mata tercengang atas sikap Aditya yang seperti pria dewasa.
Mata Alexa tidak berkedip masih melongo keheranan, Aditya dengan gaya coolnya berjalan keluar dari ruangan tersebut.
"Astaga, apakah aku baru saja di gombalin oleh anak kecil? Kenapa dunia begitu kejam sekali padaku!" lirih Alexa geleng-geleng heran.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung