The Love Story Princess And Prince Mafia

The Love Story Princess And Prince Mafia
Bab 31 Ke Indonesia



Happy reading đŸ˜˜


Like dan vote yah đŸ˜˜đŸ˜˜


.


.


.


.


.


.


.


Sepeninggal Tio dari rumah Aulia sebuah mobil sedan coklat berhenti di depan rumah minimalis Aulia. Seorang pria gagah turun dari mobil berjalan masuk ke dalam rumah. Pintu rumah tidak di kunci jadi tidak membuat orang tersebut bersusah payah harus mengetuk pintu ataupun memencet bel rumah.


Di tatapnya setiap sudut ruangan tampak indah dan rapi menarik sudut bibirnya membentuk senyuman tipis. "Tidak buruk" ujarnya pelan. Kaki jenjangnya terus berjalan hingga berhenti di ruang tamu mendudukkan bokongnya di atas sofa. Mengamati eksterior rumah putrinya.


"Daddy!" pekik Aulia tersenyum lebar. Berjalan cepat menuju pria yang di panggil Daddy. Tuan Farhan hanya tersenyum tipis. Aulia baru dari dapur mencari sesuatu untuk di makan namun tidak ada.


"Kok Daddy tahu rumah Lia? padahal Lia belum cerita ke siapa-siapa lho" tutur Aulia memicing curiga.


"Daddymu adalah orang berkuasa sekecil apapun informasi itu Daddy pasti tahu." Jawabnya sombong membuat Aulia berdecak sebal. "Daddy akan pulang hari ini, Daddy harap Lia ikut Daddy kembali ke Indonesia Mommy merindukanmu" sambungnya setelah membuang napas kasar.


Aulia menunduk sedih karena cintanya ia harus rela terbang ke Meksiko meninggalkan keluarganya di sana, ia seperti anak yang tidak berbakti.


"Maafin Lia Daddy" lirihnya sedih. Tuan Farhan tersenyum tipis membelai rambut sang Putri.


"Lia tidak punya salah, putri Daddy tidak melakukan kesalahan jangan sedih dong" Tuan Farhan menarik kepala putrinya untuk bersandar di dadanya tangannya terulur mengelus rambut sang putri.


"Kurang ajar kau Tio! berani sekali kau menghina putriku. Cih! tidak akan ku ampuni kau, aku mengirimnya ke Las Vegas hanya untuk memberikan pelajaran padanya, jika dirinya hidup maka itu adalah keajaiban" batin Tuan Farhan. Saat menonton CCTV di kediaman Tuan Zeus ia baru tahu ternyata putrinya sangat tertekan hal itu membuatnya naik pitam.


"Baiklah Lia akan ikut Daddy ke Indonesia, Daddy memang yang terbaik... Lia sayang Daddy" jawab Aulia memeluk erat tubuh pria jangkung itu, rasa rindunya terobati sekarang. Ia sangat menyayangi pria itu karena Daddy-nya lah yang selalu mengerti hatinya.


"Itu jawaban yang Daddy harapkan, kalau begitu cepat siap-siap biar kita buat surprise untuk Mommy dan Kakek, Nenek kamu juga dua adik kamu" jelas Tuan Farhan dan Aulia mengangguk setuju. Gadis itu berjalan sesekali berlari menuju lantai dua dengan semangat 45 nya.


Tak jauh dari sana Hara keluar dari bilik kamar yang berada di bawah tangga bagian pojok, Tuan Farhan hanya menatap datar pria yang sedang berjalan ke arahnya.


"Pagi Om" sapanya menunduk hormat. Tuan Farhan hanya mengangguk kecil. Hara kemudian duduk berhadapan dengan Tuan Farhan, menetralkan degub jantungnya yang tidak seperti biasanya, ia seperti tengah duduk bersama calon mertuanya begitu gugup rasanya sampai bernapas pun sangat sulit.


"Apa kau sungguh pacar putriku?" tanya Tuan Farhan dengan kaki kanannya menindih kaki kirinya. Bersedekap dada menatap wajah Hara datar. Pria muda itu hanya menelan ludahnya kasar.


"A-apa yang harus aku jawab, astaga Lia kau membuatku jatuh dalam jurang yang gelap" gerutu Hara dalam hatinya.


"Sekalipun kalian pura-pura pacaran tapi sebagai Daddynya saya akan merestui kalian berdua, yang penting kamu tidak menyakiti putriku, fisik maupun batin jika itu terjadi maka jangan salahkan saya, nyawamu saya ambil." Tegas Tuan Farhan tersenyum misterius. Ia tahu bahwa mereka hanyalah teman. Karena ia sangat tahu putrinya tidak akan menjadikan seorang teman sebagai pacar.


Hara begitu terkejut kala mendengar ungkapan Tuan Farhan, ia pikir bahwa pria paruh baya itu tidak tahu perihal drama yang dirinya lakukan bersama Aulia. Sepertinya tidak mudah mengelabui seorang raja Iblis.


"Om tahu dari siapa jika kami hanya pura-pura?" tanya Hara mengetuk-ngetuk pipinya dengan telunjuknya. Menyengir kuda merasa malu.


"Itu tidak penting, yang terpenting sekarang kamu adalah menantu saya dan tugas kamu adalah menjaga putriku... oh iya hari ini kamu bersiaplah kita akan pulang ke Indonesia" titah Tuan Farhan.


"Tapi..."


"Jangan membantah!." Tegas Tuan Farhan membuat Hara akhirnya mengangguk tanpa protes. Karena bagaimanapun menolaknya itu tidak akan mengubah keputusan raja Iblis.


Di negara bagian Nevada Amerika serikat tepatnya di Bandara Internasional McCarran sebuah jet pribadi milik Tuan Zeus sudah mendarat di bandara internasional Las Vegas. Semua penumpang turun dari pesawat pribadi.


Kali ini tujuan mereka yaitu membebaskan sandera yang di culik oleh organisasi hitam terbesar di Las Vegas, juga menghancurkan organisasi perdagangan manusia. Kali ini misi mereka tidaklah ringan. Kota kriminal terbesar yang mereka pijaki bukanlah sesuatu yang di anggap remeh, pergi ke sana anggap saja seperti memberikan nyawa dengan ikhlas kepada Malaikat maut.


"Ayo kita pergi dari sini, jangan sampai para musuh mengetahui tujuan kedatangan kita kemari" ujar Richo sebagai pemimpin dalam penyelesaian misi itu.


"Baik, ketua." Jawab mereka mengerti. Mereka lalu berjalan menuju pintu keluar di sana sudah ada beberapa mobil untuk membawa mereka menuju Markas. Sekalipun mereka tidak menguasai tempat tersebut tapi Tuan Zeus sudah menyiapkan tempat sebagai Markas anggotanya.


Mereka kemudian turun dari mobil berjalan masuk ke dalam bangunan yang di sebut Markas.


"Selamat datang di Markas kami Boss" seorang pria besar memberikan hormat pada sekelompok yang baru datang.


"Terima kasih" jawab mereka.


"Ayo masuk" tuturnya sopan sembari mempersilahkan anggota Richo dan Tio masuk. Mereka kemudian menjatuhkan bokong mereka di atas kursi kayu yang sudah di sediakan oleh anggota Azteca yang berada di Las Vegas. Anggota Azteca kemudian memberikan beberapa minuman anggur di atas meja.


"Silahkan di minum dulu" ujar sang ketua dari pemilik Markas tersebut.


"Terima kasih sudah menyambut kami dengan ramah" jawab Karla.


"Kita adalah anggota tidak perlu sungkan".


"Apakah sudah ada kabar tentang organisasi ilegal itu?" tanya Richo menampilkan wajah serius menatap setiap anggota barunya.


"Menurut informasi dari anak buah saya, besok malam Boss dari kelompok Rine X akan melakukan transaksi di jalan XX" jawabnya sembari menyedot rokok di tangannya. Memangku kaki kirinya dengan tangan bersandar di atas kursinya.


"Baiklah kita harus menyusun rencana, jangan sampai kita gagal mengambil sandera dari mereka" ujar Richo.


"Cih! para penjahat sosial itu sangat menyusahkan" ketus Tio. Mengambil satu batang rokok Marlboro lalu membakarnya dan menghisapnya kasar.


"Aku harus segera menyelesaikan misi ini, aku tidak percaya dengan Tuan muda. Aku tidak akan melepaskan wanitaku, Nona Lia akan selalu menjadi gadisku apapun yang terjadi" bisik Tio dalam hati.


"Ada berapa banyak tahanan wanita yang akan di jual?" kali ini Karla ikut bicara.


"Kurang lebih lima puluh orang, dua puluh anak-anak yang masih berumur enam tahun dan sisanya adalah anak gadis berumur dua puluh tahun" jelas ketua Markas.


"Mereka benar-benar sampah! kenapa tidak menjadikan tubuh mereka sebagai bahan percobaan obat-obatan, huh! hukum negara benar-benar tidak bisa di andalkan... mereka hanya mementingkan hidup mereka daripada warga setempat" keluh Karla memijat pangkal hidungnya. Merasakan penat akibat pekerjaan yang tiada habis.


"Sebaiknya kalian istirahat dulu, setelah ini baru kita diskusikan taktik apa yang akan kita gunakan untuk menyerang mereka" ucap pria bernama Kendrick.


"Yah benar, perjalanan hampir empat jam sangat melelahkan membuat tubuh terasa letih" sahut Karla.


"Baiklah kalau begitu kami permisi dulu, untuk kamar kalian nanti akan di atur oleh anak buah saya" tuturnya lagi dan mereka hanya mengangguk pelan. Tio dan Richo masih asyik menyedot rokoknya sembari meminum anggur yang di suguhkan sedangkan Karla sudah masuk ke dalam kamarnya.


"Bagaimana kabarmu Tio?" tanya Richo setelah hanya berdua saja.


"Baik, kamu sendiri?" jawabnya singkat dan kembali menghisap rokok Marlboro yang tinggal setengah itu.


"Selalu baik. By the way bagaimana hubunganmu dengan Nona Lia? apa kau sudah menjelaskannya?"


"Sudah, aku berharap Tuan muda tidak melakukan apa-apa di saat aku tidak ada. Sepertinya masalah ini harus kita selesaikan secepatnya aku takut Tuan muda akan mendahuluiku" jelas Tio dengan napas beratnya. Memikirkan Tuan mudanya yang selalu menentang hubungannya dengan sang putri.


"Baiklah, kita akan melakukannya bersama-sama" Tio hanya mengangguk kepalanya pelan. Berharap agar semuanya baik-baik saja.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung