The Love Story Princess And Prince Mafia

The Love Story Princess And Prince Mafia
Bab 12 Pergi



Happy reading guys 😘


Beri like dan Votenya dong


.


.


.


.


.


.


.


.


Gadis cantik raja Hades itu menarik kopernya keluar dari ruang walk in closed berjalan lunglai menuju kasurnya. Meletakan kopernya di sisi tempat tidur lalu tangannya terulur mengambil sebuah benda persegi panjang menatapnya lama. Mengotak-atik benda tersebut hingga berhenti pada salah satu kontak, menekan layar dengan tulisan memanggil.


Hingga sebuah suara pun terdengar dari sebrang telepon. "Hallo Nona"


"Uncle Jo, jemput Lia di Mansion Oppa Zeus sekarang" jawab Aulia dengan nada pelan. Membuat seseorang di sebrang mengernyit heran.


"Apa yang terjadi padanya?" batin pria yang di panggil Uncle Jo itu. "Nona kenapa? suara Nona seperti habis menangis apa yang terjadi sebenarnya?" tanyanya dengan nada panik membuat gadis itu berdecak sebal.


"Lia tidak suka mengulang perkataan Lia! Lia tunggu sekarang, harus secepatnya!" ujar Aulia dengan nada dingin segera memutus sambungan telepon membuat orang di sana langsung buru-buru mempersiapkan kendaraan untuk ke Meksiko.


"Siapkan jet sekarang! aku akan ke Meksiko...ini darurat!" teriak seorang pria berjalan turun dari lantai dua bahkan memakai jaket pun sampai asal-asalan karena terlalu panik.


"Boss, jaket anda terbalik" ucap seorang pria yang membuat atensi Jonathan menatap ke arah tubuhnya sendiri. Dengan wajah datar ia kembali melihat anak buahnya yang berkata tadi.


"Kau memang laki-laki kuno, ini adalah trend dan sangat di minati oleh kalangan anak muda. Sangat payah!" dalihnya lalu melangkah keluar Mansion. Semua yang ada di sana menatap Bossnya dengan geleng-geleng kepala.


"Mana ada trend seperti itu, orang gila saja masih waras. Memakai pakaiannya dengan benar" batin anak buah Jonathan. Jonathan adalah pria yang di percayakan oleh Tuan Wijaya sebagai kaki tangannya untuk mengurus Markas di kota California.


Di luar Mansion Jonathan berjalan cepat menuju lapangan udara buru-buru ia membuka jaketnya lalu memakai jaketnya dengan benar.


"Aku tidak tahu jika aku memakai jaket terbalik... ironis sekali" ucapnya dalam hati. Terkekeh pelan.


"Apa jetnya sudah siap?" tanya Jonathan pada salah satu anggotanya.


"Sudah Boss, pilotnya sudah siap tinggal Boss segera naik dan pesawat akan lepas landas... saya juga sudah meminta kepada pilotnya untuk sampai lebih cepat" Jelasnya dan Jonathan mengangguk mengerti.


"Terima kasih segeralah kembali" Jonathan lalu menaiki tangga jet pesawat milik Black Wolf yang di gunakan untuk keperluan mendadak.


Di kota lain tepatnya di salah satu negara benua Amerika, seorang gadis menyeret kopernya berjalan keluar dari kamarnya melangkah menuju lift untuk ke lantai bawah.


"Jangan nangis Lia!, Lia pasti bisa meninggalkan Uncle Tio. Lia harus pergi dari sini agar bisa melupakan Uncle... mungkin dengan pergi dari hadapannya Lia akan melupakan perasaan salah ini, memang dari awal Uncle Tio tidak mencintai Lia hanya Lia yang bodoh mengharapakan balasan cinta Uncle" bisik Aulia dalam hati. Menarik napas dalam-dalam kemudian menghembuskan perlahan.


Hingga pintu lift itu terbuka, gadis itu dengan penuh semangat berjalan masuk ke dalam lift lalu menutupnya kembali.


KRUUUUUKK


Terdengar bunyi dari perut Aulia membuatnya terkekeh kecil. "Lia belum makan jadinya sangat lapar... tapi Lia harus pergi sekarang" ujar Aulia mengelus perutnya. Mengangkat kepalanya hingga menatap pantulan dirinya di dinding lift yang seperti kaca.


Ting


Tidak berapa lama pintu lift terbuka Aulia kembali menyeret kopernya yang berukuran sedang, berjalan melewati ruang keluarga untung saja tidak ada art ataupun anggota Azteca yang melihatnya.


"Mau ke mana Nona?" tanya seorang pria dengan rokok bertengger di dua jari telunjuk dan tengah. Duduk di atas sofa dengan kaki menyilang, punggungnya bersandar pada sandaran sofa dengan tatapan yang sulit di artikan tertuju pada gadis cantik di depannya. Aulia menelan ludahnya kasar ingin sekali tidak bertemu dengan pria di sebrang sofa namun apalah daya akhirnya ketahuan juga.


"Maaf, Uncle Jonathan menjemput Lia untuk tinggal di Apartemennya saja. Lia tidak bisa tinggal di sini lagi, maaf untuk kejadian tadi pagi" jawab Aulia dengan dada sesaknya. Entah kenapa ia kehilangan keberaniannya. Merasa hilang kekuatannya melihat pria yang di sebut Uncle itu.


"Benarkah seperti itu Nona?. Baguslah akhirnya tidak ada lagi yang menggangguku di sini, hmmm... hati-hati di jalan. Oh iya apa aku perlu mengantarmu untuk keluar? takutnya Nona lupa di mana pintu keluarnya" jelasnya dengan kekehan kecil. Aulia makin tidak bisa mengendalikan rasa sakitnya air mata yang ia tahan sedari tadi tumpah perlahan-lahan seiring dengan kata-kata Tio yang sangat tajam.


"Tidak perlu mengantar Lia karena Lia tahu pintu keluarnya, maaf sudah membuat Uncle terganggu akan kehadiran Lia... tapi tenang saja nama Uncle sudah tidak ada lagi di hati Lia, terima kasih sudah membuat Lia melupakan Uncle dengan mudah..." jawab Aulia dengan senyum manisnya namun air mata itu semakin menderas keluar. Kedua insan itu saling menatap cukup lama hingga akhirnya Tio memalingkan wajahnya.


"Baguslah, jadi Nona tidak perlu merasa terzholimi dalam hal ini" ucap Tio lagi menghisap rokoknya kemudian menghembuskan asap rokok ke udara dengan gumpalan berbentuk huruf O.


"Ah iya Uncle, jangan lupa untuk memberikan Lia undangan pernikahan Uncle dengan aunty Karla" ucapnya, mengepal tangannya kuat yang ia sembunyikan di belakangnya. Walaupun mendengar perkataan Tio yang begitu menyakitkan namun tetap saja perasaannya masih belum rela jika pria di depan matanya harus bersama orang lain.


"Jangan khawatir undangan pernikahan akan segera aku berikan" Aulia mengangguk pelan hingga sebuah suara membuat atensi keduanya mengarah pada sosok pria tinggi dan tampan itu.


"Tuan putri" Aulia tersenyum tipis melihat Jonathan datang tepat waktu. Di saat dirinya benar-benar membutuhkan sandaran saat ini.


"Uncle Jo" lirihnya segera berlari memeluk tubuh kekar pria yang datang ke arahnya. Terlihat seorang pria sangat membenci adegan tersebut.


"Bawa Lia cepat dari sini Uncle, Lia tidak kuat" bisik Aulia dengan isakan kecil. Jonathan menatap tajam ke arah Tio salah satu anggota Black Wolf kemudian menatap pada gadis di pelukannya.


"Baiklah. Ayo kita pergi" Jonathan menarik koper Aulia, dan tangan sebelahnya merangkul bahu Aulia mendekapnya erat.


"****! brengsek!!" umpat seorang pria yang duduk di atas sofa. Bibirnya tersenyum lebar namun cairan bening itu perlahan-lahan jatuh dari pelupuk matanya. Rupanya pria itu merasakan sakit di hatinya juga.


"Maafkan Uncle yang pengecut ini Nona, Uncle masih belum berani harus melawan Tuan muda... itulah kenapa Uncle mengeluarkan kata-kata kasar padamu agar kau menghilangkan rasa cinta itu. Maaf Nona, maafkan Uncle" tuturnya dengan suara parau. Tangannya menarik kasar rambutnya.


Sebenarnya tujuannya masuk ke dalam kamar gadisnya hanya untuk mengatakan jika dirinya sudah mendaftrkannya di universitas yang ia minati, juga ingin mengajaknya jalan-jalan namun entah kenapa kata-kata kasar itu harus keluar dari mulutnya.


"Uncle harap Nona tidak membenci Uncle" bisiknya dalam hati. Kembali menyedot benda nikotin itu kasar lalu mengepulkan asap rokok ke udara.


"Aku harus mengikuti kemana mereka pergi" pria itu lantas beranjak dari duduknya berjalan keluar dari Mansion milik Tuan Zeus.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung