
Happy reading 🤗
.
.
.
.
.
.
.
Setelah proses ijab kabul selesai para pengantin berjalan menuju panggung yang sudah di dekorasi sedemikian rupa, berdiri di atas panggung layaknya putri dan pangeran. Orang tua dari masing-masing pengantin berdiri di samping mereka.
Para tamu berdatangan berjabat tangan memberikan selamat kepada keluarga Tuan Wijaya dan orang tua Shireen setelah itu beralih kepada para pengantin.
"Selamat Tuan, tidak lama lagi Tuan dan Nyonya akan segera menimang cucu" ujar salah satu tamu yang merupakan rekan bisnis Tuan Farhan.
"Terima kasih Tuan, saya juga sudah tidak sabar menggendong cucu-cucu yang lucu" jawab Tuan Farhan dengan senyum simpul di bibirnya.
Lima ratus tamu itu saling bergantian untuk memberikan ucapan selamat kepada keluarga pengantin juga pengantin, sedang pengantin wanita merasa lelah karena saking banyaknya para tamu membuat betis mereka terasa kaku juga pegal-pegal.
"Sayang, kakiku pegal sekali aku sudah tidak kuat berdiri" keluh Shireen berbisik di telinga Hamas, putra sulung raja Iblis itupun langsung berjongkok di depan Shireen, mengangkat sedikit gaun Shireen dan melihat pergelangan kaki istrinya yang memerah.
Hamas pun berdiri lalu berjalan ke arah Tuan Farhan.
"Dad kaki istri Hamas luka dan dia sudah sangat capek bisakah Hamas dan istri Hamas istirahat?" tanya Hamas menatap wajah Daddynya.
"Pergilah, jangan biarkan istrimu kecapean takutnya malah kamu tidak bisa malam pertama" sahut Tuan Farhan blak-blakan membuat wajah Hamas memerah. Jons dan lainnya tertawa jenaka melihat wajah malu-malu pengantin pria.
"Daddy!" tekan Hamas merubah ekspresi wajahnya menjadi datar. Putra sulung raja Iblis itupun berlalu menghampiri istrinya.
"Ayo kita istirahat ke kamar, aku sudah izin ke Daddy" kata Hamas dan Shireen hanya mengangguk pelan. Rasanya semua tubuhnya menjadi remuk karena harus berdiri menyambut salam dari banyaknya tamu yang hadir. Saat Shireen hendak berjalan tiba-tiba Hamas menggendong Shireen ala bridal style membuat sorakan tamu kembali terdengar.
"Cieeee, yang sudah tidak sabar untuk malam pertama nih!" teriak Azhar meledek Hamas, namun yang di ledek tidak menanggapinya. Berjalan terus menuju lift.
"Hahahaha, memang anak muda gairahnya sangat dahsyat" sahut salah satu tamu membuat semuanya tertawa jenaka.
"Masih siang jangan terburu-buru!" teriak para tamu lagi.
"Aku malu sayang" cicit Shireen sedang Hamas hanya menampilkan senyum tipis di bibirnya.
"Biarkan saja, kalau kamu malu peluk aku erat-erat dan sembunyikan wajahmu di leherku" tutur Hamas dan Shireen pun melakukan apa yang di katakan suaminya itu.
Sedang di atas panggung masih ada Richo dan Karla yang masih menyalami tamu undangan.
"Sayang apa kamu merasa lelah? kalau lelah biar kita istirahat saja" tanya Richo pelan. Karla menggeleng, sekalipun lelah namun ia membiarkan saja. Ini adalah acara sekali dalam hidupnya, biarkan merasa sakit namun ia tak mungkin meninggalkan momen yang sangat bersejarah dalam hidupnya.
Tio, Sandy, Alex, Larissa, Aulia dan Oskar. Enam orang tersebut berjalan naik ke atas panggung mereka tersenyum meledek pada dua pengantin pria dan wanita itu.
"Akhirnya si jones satu ini menikah juga" canda Tio dengan kekehan kecil.
"Kau benar Tio, hampir separuh hidupnya dirinya jomblo ngenes, sisa satu yang belum menikah nih" sahut Alex melirik ke arah Sandy. Pria yang di lirik hanya mencebikkan bibirnya kesal. Karena hanya dirinya yang belum mendapat pasangan.
"Bukankah ada satu wanita yang tidak punya pasangan, itu cocok dengan Sandy bukan?" kali ini Karla ikut menimpali dengan tawa jenakanya.
"Aunty Karla memang selalu benar" kata Aulia. Sandy menatap Larissa sedang Larissa hanya membalas dengan tatapan dinginnya membuat Sandy menarik sudut bibirnya kesal.
"Jangan mengumpatku dalam hati, atau kau akan merasakan kepalan tanganku ini!!" tutur Larissa mengangkat kepalan tangannya di hadapan Sandy. Semua di sana terkekeh karena mendapati reaksi dari pasangan jomblo.
"Tenang saja kawan, lama-lama juga dia akan menunjukkan finger lovenya" kata Oskar dengan ibu jari serta jari telunjuk membentuk love.
"Hahahaha benar banget Oskar, kisah cinta bermula dari kebencian" ledek Karla membuat Larissa dan Sandy benar-benar muak.
"Sudah-sudah kasihan mereka, lihat wajah mereka yang masam itu" lerai Tio. Mereka pun menyalami kedua pasangan pengantin, Tio dan Alex memberikan sedikit wejangan dewasa kepada pengantin pria agar nantinya proses malam pertamanya berjalan lancar. Memang tidak salah Richo mendapat wejangan berharga dari dua pria yang sudah berpengalaman dalam menaklukkan wanita.
Sedang dua D dan dua sepupunya, mereka duduk di salah satu meja dengan kue serta minuman yang sudah tertata rapi di atas meja, benar-benar menggunggah selera bagi empat bocah yang baru bertemu itu. Mereka menyantap makanan di atas meja tanpa memperdulikan orang-orang sekitar.
Di lain tempat seorang wanita muda berparas cantik, sedang melakukan pelatihan sepertinya itu adalah salah satu latihan militer. Saat ini dirinya merendam tubuhnya di dalam air es bahkan sudah 15 menit lamanya, ia masih bertahan di dalam sebuah kolam kecil yang di isi dengan air es. namun memiliki kedalaman empat meter.
Seorang pria bertubuh kekar memiliki bulu halus di wajahnya, hidungnya yang mancung serta kornea mata berwarna biru laut menambah kesan tampannya, tatapan pria itu terus tertuju pada kolam kecil lebih tepatnya pada wanita yang sedang berenang dengan gaya dada.
Wanita itu sedang belajar menahan napas panjang di dalam air es serta belajar membiasakan tubuhnya dengan air es, karena dirinya adalah seorang militer yang mana harus bisa bertahan dalam kondisi apapun.
Sudah 30 menit lamanya, akhirnya gadis itu berenang ke atas permukaan air, lalu bergerak menuju bibir kolam menguatkan dirinya untuk naik ke atas ia benar-benar tidak bisa menahan dingin bahkan hampir dirinya mengalami hipotermia namun sebisa mungkin ia bertahan.
Bernapas lega saat dirinya berhasil naik dari air yang benar-benar dingin itu. Pria tampan itu melempar handuk untuk wanita tersebut.
"Thank you" ujar sang wanita lalu menggosok rambutnya dengan handuk yang di berikan oleh pria tampan yang sepertinya adalah pelatihnya.
"Bersiaplah, setelah ini nona akan berlatih menembak dan melawan saya dalam adu jotos" ujar pria tersebut. Wanita yang di panggil nona itu hanya menampilkan wajah datarnya.
"Aku sudah siap, ayo kita lakukan pelatihan sekarang!" jawabnya dingin layaknya es dalam kulkas.
"Baik nona" pria itu kemudian berjalan keluar dari salah satu ruangan di ikuti wanita yang berenang di dalam air es tadi, menuju ruangan khusus menembak.
"Aku sudah siapkan satu set pakaian nona silahkan untuk berganti pakaian dulu..., katakan pada saya jika sudah selesai" sebuah bag berwarna hitam di serahkan kepada nona mudanya.
"Terima kasih Uncle" katanya, kemudian pria tinggi itu berlalu dari hadapan wanita muda itu. Wanita tersebut bernama Ainsley putri seorang Militer pertahanan negara. Itulah sebabnya dirinya di latih dengan sangat keras agar dirinya bisa menjadi seorang militer untuk menjadi pasukan rahasia.
"Uncle Vicky, aku sudah selesai!" teriak gadis bernama Ainsley. Pria bernama Vicky itu pun masuk ke dalam, berjalan dengan gaya coolnya. Terdiam sejenak merasa terpukau melihat gadis yang ia latih terlihat sangat cantik, rambutnya yang basah terurai membasahi baju serta lehernya membuat pria berumur 30 tahun itu menelan ludahnya kasar.
"Uncle, kenapa diam saja?!" tanya Ainsley dingin mengerutkan keningnya melihat tingkah pria dewasa itu tak seperti biasanya.
"Ah, eh, ti-tidak apa-apa" jawabnya gagu dan Ainsley hanya mengangguk kecil.
"Dasar buaya" cemoh Ainsley dalam hati. sepertinya Ainsley tahu bahwa Vicky sedang terpesona melihatnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung