
Happy Reading
.
.
.
.
.
.
.
"Abang"
DEG
"Suara itu? Suara yang sangat lama aku rindukan" Hamas membatin dengan tubuh kaku tanpa ekspresi. Pandangan yang tadinya menatap lantai pelan-pelan terangkat dan menatap sosok pemilik suara.
Dan saat tatapan keduanya bertemu di situlah jantung Hamas terguncang hebat, seakan ia baru saja melakukan lari maraton.
Ingin sekali Hamas merengkuh tubuh mungil di depan matanya dan mengucapkan untaian rindu tetapi tidak semudah itu nyatanya tubuhnya kaku dan lidahnya menjadi keluh. Ia tidak berdaya.
"Aww, jantungku begitu sakit" setitik air mata mengalir dari sudut mata seorang wanita, memegang dadanya yang terasa sesak, kilasan ingatan tentang pria duda itu membuatnya kembali terpuruk, rasa benci, rindu dan sayang berpadu satu.
"Kenapa kamu kemari? Pergilah aku tidak membutuhkanmu" usirnya dengan nada dingin setelah menstabilkan emosinya.
DEG
Pria duda itu tertegun mendengar panggilan "kamu" yang keluar dari mulut wanita yang sedang terbaring, kata yang sangat asing di telinganya rasanya ada sebuah sekat dari kata yang di ucapkan Ainsley padanya.
Ia sedih mendengar nada judes dari gadis kecilnya namun ia seketika tersadar, ia baru menyadari kejanggalan yang di lontarkan Ainsley padanya.
"Tunggu! Di-dia mengingatku? Apakah dia sedang berpura-pura amnesia?" bisik Hamas dalam hati sambil menatap dalam wanita di depannya.
"Apa kau mengalami hari yang baik setiap harinya?" Hamas bertanya dengan nada lembut, tatapannya terus tertuju kepada gadis kecilnya.
"Bukan urusanmu, pergilah aku tidak ingin di ganggu!" ketusnya dingin, ia kemudian berbalik dan membelakangi Hamas. Tetapi Hamas bukanlah pria yang mudah menyerah ia membuka sepatunya dan mendaratkan pantatnya di atas kasur lalu membaringkan tubuhnya di samping Ainsley.
DEG
Tubuh Ainsley kaku saat sebuah tangan besar melingkar di pinggangnya, sebisa mungkin ia tetap tenang dan melepaskan tangan itu kasar.
"Sudah kubilang jangan menggangguku! Apa kau tuli!"
"Ssst, pelankan suaramu abang ingin memelukmu sebentar, sebentar saja" lirih Hamas pelan, Ainsley terdiam mendengar suara Hamas, seperti orang yang jarang istirahat. Tangan Hamas kembali melingkar pinggang Ainsley saat tuannya menyetujuinya.
"Kau begitu cerdik bersembunyi dari kami, apa kau tahu abang selalu merindukanmu?"
"Jangan membual di depanku, aku bukan lagi Alexa yang akan terpana dengan gombalan darimu, hatiku sudah tertutup saat kau membuangku" ucapnya menggigit bibirnya, hatinya sungguh sakit, sebisa mungkin ia menahan agar air matanya tidak terjatuh. Andai bisa menghapus ingatan bersama Hamas ia pasti akan melakukannya agar hati dan mata ini tidak menangis lagi.
Entah kenapa mendengar penolakan dari gadis kecilnya membuatnya tidak suka, ia lantas membalikkan tubuh Ainsley hingga keduanya saling berhadapan. Tatapan elang Hamas membuat Ainsley menelan ludahnya takut. Bahkan deru napasnya yang gugup terdengar jelas dan Hamas dapat merasakannya yang menerpa kulitnya.
Sungguh, menatap dari dekat wajah pria duda itu membuat wajah Ainsley memanas, sudah lama sekali ia begitu merindukan wajah itu tetapi ia harus menjauh karena mereka tidak mungkin bersama.
"Astaga, aku harus segera pulang, nenek pasti mencariku" Ainsley tersadar dari lamunannya ia berpikir bagaimana caranya ia kabur dari sini.
"Alexa!" suara datar itu terdengar di telinga Ainsley membuatnya ragu untuk melihat sosok yang berbicara.
"Jangan pernah berpikir untuk kabur lagi, jika kau berani melakukannya, percaya atau tidak abang pasti akan menghancurkan semua orang yang ikut menyembunyikanmu!" tegas Hamas dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Sudahlah jangan berpikir macam-macam, abang mau istirahat sebentar, kau istirahat juga" Hamas menarik tubuh gadis kecilnya dan membawanya dalam dekapannya. Mata yang mulai sayu itu perlahan-lahan tertutup, Ainsley merasakan napas Hamas sedikit berat sepertinya pria itu mendapati hari sulit, ia pun membiarkan Hamas memeluknya karena setelah ini mereka tidak akan bertemu lagi.
"Maafkan Alexa bang, Alexa tidak mau ikut pulang, Alexa sudah betah bersama tuan Kalingga, Alexa tidak mau luka lama terukir kembali biarkan Alexa hidup normal tanpa cinta yang menghantui" batinnya sedih. Sekalipun ia mengetahui bahwa tuan Kalingga meretas memorinya dan menggantinya dengan memori putrinya bernama Ainsley ia tidak menyalahkannya justru berterima kasih karena mereka, ia jauh dari sosok pria yang hampir membuatnya mati.
Ia akan hidup menjadi sosok Ainsley yang di kenal oleh tuan Kalingga dan yang lainnya, ia sungguh sudah sangat nyaman.
Saat berada di Apartemen milik Azhar ia sudah merasakan familiar dan kilasan-kilasan ingatan tiba-tiba muncul di kepalanya, padahal itu pertama kalinya ia berkunjung tetapi seperti pernah hidup di sana.
Saat masuk ke dalam kamar bernuansa pink bercampur kuning, ia semakin merasakan sakit di kepalanya karena gambaran buram semakin bermunculan, sampai ia terjatuh pingsan.
Dan di saat itulah ingatan Alexa kembali, ingatan yang dulu hilang kini benar-benar kembali tersimpan dalam memori jangka panjang. Bersamaan dengan itu rupanya hatinya tetap tidak siap bertemu pria yang dulu bersarang di hatinya.
Kini pria itu kembali hadir dan berada di depan matanya, begitu dekat dengan wajahnya membuatnya salah tingkah, walau sekuat tenaga membuang jauh-jauh perasaan itu tetapi entah kenapa saat bertemu dengan pria yang dulu tinggal di hatinya, tetap cinta itu akan kembali datang.
"Tunggu saat aku sudah bisa menghapus rasa ini, aku akan kembali" Ainsley atau Alexa itu menahan napasnya saat ia menyentuh lengan kekar milik pria duda, dan mengangkatnya dari tubuhnya kemudian meletakkan di atas kasur.
Ia bernapas lega kala pria itu tidak terganggu sedikitpun. Langkah awal sudah terselesaikan saatnya ia turun dari atas bangsal.
"Ahh, dingin sekali" keluhnya saat kakinya berpijak ke lantai. Alexa segera berjalan cepat menuju pintu keluar. Ia membukanya dan berjalan keluar dari kamar, namun anehnya terdengar bunyi alarm, lampu di atas pintu menyala merah membuat Alexa mengumpat kesal.
"Sial! aku salah menebak" Alexa segera berlari entah kemana, dan penjaga yang mendengar alarm tersebut langsung mengejar Alexa yang sudah kabur.
Sementara di dalam ruang VIP C pria yang berada di dunia mimpi itu terkejut bangun saat alarm pertanda buruk berbunyi. Ia menatap ke sampingnya dan tersadar sudah tidak ada Alexa, membuatnya begitu panik.
"Sial, kau membuatku marah Alexa, berani sekali kamu mempermainkanku!" umpatnya dan berlari keluar.
Tempat pertama yang di tuju Hamas adalah ruang CCTV, tanpa mengetuk pintu pria itu menyelonong masuk membuat penjaga CCTV terkejut. Ingin marah tetapi pria itu adalah boss mereka Alhasil hanya senyuman palsu yang mereka tampilkan. Segera mereka berdiri dan menundukkan kepala sebagai tanda hormat kepada sang pimpinan.
"Ada yang bisa kami bantu tuan?" tanya mereka.
"Saya ingin melihat rekaman di lantai 3 ruang VIP C bagian luar" salah satu pria langsung mengotak-atik komputer di depannya, ia tidak bertanya sebab wajah tuan besarnya menunjukan kesuraman, ia tidak mau masalah tuannya akan berimbas kepadanya oleh sebabnya ia langsung mengerjakan titah sang tuan.
"Ini tuan" Mata Hamas langsung tertuju ke arah benda persegi empat itu, ia melihat seorang wanita berjalan mengendap-endap keluar dari ruangan, ia menggeleng geli melihat tingkah lucu gadisnya.
Karena sepanjang jalan lorong rumah sakit terpasang CCTV mau kemanapun orang ingin bersembunyi tetap saja terlihat oleh mata-mata tanpa kaki itu, terkecuali di ruang-ruang tertentu.
"Heh, ketemu kau gadisku, kau ditakdirkan untuk tidak bisa kabur dariku... Lihat saja hukuman apa yang pantas untuk orang yang sudah mengacaukan tidurku" bisiknya dalam hati.
Tanpa kata terima kasih, Hamas pergi keluar, sudah bukan rahasia lagi seorang pemimpin tidak mungkin berterima kasih kepada bawahannya, itulah kenapa mereka hanya biasa saja saat Hamas berlalu dengan polosnya.
Dengan gaya coolnya, Hamas berjalan menuju ruang persembunyian Alexa, sesekali pria duda itu tersenyum tipis.
Sementara itu di toilet pria, Alexa bersembunyi di balik belakang pintu toilet, ia memejamkan matanya berharap tidak di temukan. Entah apa yang akan terjadi padanya nanti kalau sampai Hamas benar-benar menemukan dirinya yang berusaha kabur.
Drab Drab Drab
Drab Drab Drab
Terdengar bunyi langkah kaki masuk ke toilet pria, Alexa manahan napasnya.
"Ekhemm, aduh ada apa dengan tenggorokanku in?" dehem seorang pria.
"Mati aku" mata Alexa membulat kala pemilik suara itu adalah orang yang ingin ia hindari.
"Aiiish, sangat tidak lucu jika aku ketahuan di sini, konyol sekali"
Langkah kaki yang mula-mula terdengar kian menghilang dari pendengaran Alexa, ia tersenyum sambil mengelus dada kala takdir berpihak padanya.
"Syukurlah dia sudah pergi" Alexa segera keluar dari persembunyiannya, tiba-tiba sebuah tangan gaib melingkar di pinggangnya membuatnya refleks berteriak.
"Akkkkkkkhh"
.
.
.
.
.
Bersambung