
Happy reading 🤗
.
.
.
.
.
.
.
Tuan Farhan, Azhar dan River keluar dari mobil kemudian berjalan masuk ke lobi rumah sakit. Tuan Farhan dan River berjalan duluan ke lantai dua sedang Azhar berjalan menuju meja resepsionis, ia harus meminta izin untuk menjenguk kedua ponakannya namun harus mendapat persetujuan dari dokter terlebih dahulu.
Karena River sudah tahu ruangan cucu Boss besarnya di rawat mereka pun langsung ke sana. Mereka duduk di kursi tunggu, menunggu kedatangan Azhar. Saat mereka sedang berbincang seorang pria dengan rambut gondrong yang di ikat tiba-tiba datang menghampiri mereka membuat kedua pria yang tengah duduk itu mendongakkan kepalanya sembari menatap pria yang baru saja datang.
"Tadi ada dua orang paruh baya datang menjenguk anak-anak abang Hamas, jadi saat ini kita belum bisa menjenguk mereka berdua, sepertinya yang menjenguk mereka adalah orang tua Shireen" pria berambut gondrong itu membuka suara sembari menatap tuan Farhan dan River bergantian. Pria dengan setelan jas hitam itu menganggukkan kepalanya pelan sebagai jawaban.
"Kalau begitu besok saja" mereka pun lalu berjalan menuruni anak tangga dan berjalan keluar dari rumah sakit. Tiga pria beda usia itu lantas masuk ke dalam mobil, tuan Farhan yang merasa lelah menyandarkan kepalanya di sandaran jok melipat kedua tangannya di atas perut dan memejamkan matanya sejenak mengistirahatkan tubuh yang terasa lelah.
Kelopak mata yang tadinya tertutup kini terbuka memperlihatkan keindahan kornea mata berwarna coklat, bulu mata yang panjang mampu menyihir siapapun yang melihat akan terpesona, sebuah tepukan pelan dari seseorang membuat pria itu terbangun dari tidurnya, mulut yang tadi mengatup menguap tiba-tiba.
"Daddy, kita sudah sampai" seorang pria gondrong berujar membuat pria yang lebih tua darinya celingak-celinguk, ia mengangguk mengerti. Setelan jas ia rapikan kaki jenjangnya melangkah keluar saat pintu mobil itu terbuka. Tiga pria itupun masuk ke dalam bangunan besar bernama Apartemen, tanpa suara mereka melenggang masuk.
Waktu berlalu begitu cepat tak terasa awan jingga menyelimuti nabastala, menguasai langit yang tadinya begitu cerah, pria dengan setelan tak terurus itu keluar dari mobil berwarna putih berjalan lunglai masuk ke Apartment, sepertinya pria itu begitu lelah hingga tak menyadari jika ada pasang mata yang sedang memperhatikannya saat dirinya masuk.
"Hamas!" suara bariton itu mengagetkan Hamas membuat kakinya seketika berhenti lalu memutar badannya ke sumber suara. Matanya melebar saat melihat pria paruh baya di kursi sofa.
"Daddy!" serunya, kaki jenjangnya melangkah lebar menuju pria yang di panggilnya Daddy, yah pria itu adalah tuan Farhan.
"Kenapa tidak menghubungi Hamas jika Daddy sudah sampai?" sebuah tepukan hangat mendarat di punggung kanan Hamas membuat pria itu sedikit menarik ujung bibirnya membentuk lengkungan tipis. Ia sangat merindukan Daddynya saat masalah yang cukup rumit menimpanya ia benar-benar membutuhkan sosok ayah.
"Daddy ingin memberikanmu kejutan, bagiamana keadaanmu? apakah semua dalam kendali?" tatapan dalam itu begitu menghangatkan jiwa Hamas, pria muda itu menjatuhkan pantatnya di atas sofa lalu menyandarkan kepalanya di sandaran sofa. Terdengar helaan napas berat keluar dari mulut Hamas, tuan Farhan tahu jika putranya tidak baik-baik saja.
"Hamas baik-baik saja" ujarnya singkat sembari memandang lurus ke depan. River sudah pulang setengah jam yang lalu sedang penghuni rumah lainnya berada di kamar masing-masing hanya tuan Farhan yang sedang bersantai di ruang keluarga karena menunggu kedatangan putra sulungnya.
"Bagaimana keadaan adik Lia? apakah persalinannya lancar?" tuan Farhan mengamati wajah pria di sampingnya ia mengangguk tanpa suara.
"Bagaimana kuliahmu? kapan akan selesai? apakah kamu tidak ingin pulang ke Indonesia?" tatapan lelah itu tersirat dari sorot mata pria muda yang masih berumur 19 tahun, kornea mata kecoklatan serta bulu mata yang panjang membuatnya terlihat sangat menawan.
"Untuk pulang ke Indonesia masih belum Hamas pikirkan, jika masalah Hamas sudah selesai akan Hamas kabari" tuan Farhan mengangguk mengerti, ia sebagai orang tua tidak akan memaksa kehendak anaknya biarkan mereka berjalan di jalan mereka sendiri selagi tidak keluar dari jalur yang benar.
Setelah berbincang cukup lama, Hamas naik ke lantai atas ia harus membersihkan tubuhnya karena ia baru saja beraktivitas di luar rumah alhasil membuat tubuhnya di penuhi keringat, dan ia butuh air untuk menyegarkan tubuhnya itu.
Waktu sudah memasuki pukul 8 malam, sebelum mandi tadi Hamas sudah memesan makanan di restoran yang sering ia kunjungi dan sekarang pesanannya sudah datang, semua penghuni di Apartemen besar itu sudah duduk rapi di kursi mereka masing-masing termasuk kedua orang tua Shireen.
Hening, itulah yang terjadi di ruang makan tersebut, ibunda Shireen mengangkat kepalanya memutar bola matanya hingga berhenti ke arah Hamas, perempuan paruh baya itu berdehem sejenak lalu membuka suara.
"Ibu harap kau bisa melupakan Shireen dan carilah seseorang untuk anak-anakmu, mungkin ini terlalu mendadak dan membuatmu sedikit tidak nyaman namun, cepat atau lambat anak-anakmu membutuhkan sosok ibu untuk menemani mereka tumbuh dewasa"
PRANK
Hamas menghempas sendok di tangannya kasar hingga menimbulkan dentuman cukup keras membuat semua di sana menatap Hamas juga ibunda Shireen bergantian.
"Istri Hamas baru saja di kebumikan, Hamas mohon dengan hormat untuk tidak mencampuri urusan pribadi Hamas!" nada dingin itu begitu menusuk ke hati setiap yang mendengarnya, ibunda Shireen hanya mendesah kasar ia hanya ingin kedua cucunya memiliki ibu. Ia tidak meminta lebih, hanya seorang wanita untuk menemani kedua cucunya, itu bukan masalah besar bukan.
Tuan Farhan hanya diam sembari menikmati santapan lezat di depannya sedang tuan Robert menatap istrinya sembari menggeleng kepalanya saat ibunda Shireen akan membuka suara lagi. Melihat itupun perempuan paruh baya itu akhirnya mengurungkan niatnya.
Sedang Hamas yang sudah tidak mood makan mendorong kursinya ke belakang ia pun beranjak dari sana.
"Hamas!" Hamas berhenti saat suara bariton ayahnya memanggilnya.
"Duduk dan habiskan makananmu!" dengan wajah dongkol pria itu kembali duduk tanpa banyak bicara ia memakan habis makanannya.
"Hamas sudah selesai, ada pekerjaan yang harus Hamas kerjakan..., selamat malam" semua mata tertuju pada Hamas tak terkecuali tuan Farhan, pria itu masih asyik mengunyah makanan di mulutnya menikmati rasa lezat itu seakan pendengarannya tidak berfungsi.
Kaki jenjang Hamas melangkah lebar menaiki anak tangga, kepalan tangan itu terlihat jelas hingga menimbulkan beberapa urat tercekat di tangan Hamas, wajahnya yang datar serta tatapan elangnya menyirat kejengkelan atas ungkapan dari ibu mertuanya.
BRAAAAK
Suara pintu terdengar menggema, akibat hempasan kuat yang di lakukan Hamas, pria itu lalu mengambil sebuah bingkai foto yang berdiri rapi di atas nakas.
"Sampai kapanpun aku tidak akan meninggalkanmu" lirihnya dengan mata memerah menahan tangis.
"Aku bersumpah untuk tidak menikah lagi, kau harus percaya itu, kau adalah istriku yang sangat aku cintai tidak seorang pun yang bisa menggantikan posisimu di hati aku... aku akan menjadi sosok ibu juga ayah untuk anak kita, kamu jangan cemas sayang tenanglah di sana" setitik kristal bening jatuh membasahi foto dalam bingkai di tangan Hamas. Di usapnya wajah yang tersenyum itu sebuah kecupan sayang mendarat pada benda mati di tangannya membayangkan jika di depannya adalah sosok istrinya yang nyata.
"Aku tidak akan mengingkari janji pernikahan kita Shireen, tidak akan pernah!"
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung