The Love Story Princess And Prince Mafia

The Love Story Princess And Prince Mafia
Bab 185 Sebuah Postingan



Happy Reading


.


.


.


.


.


.


.


Mentari pagi tersenyum di ufuk Timur, Bumi yang semula gelap dan hanya sedikit pencahayaan dari lampu buatan manusia kini menjadi terang oleh lampu dari pusat tata surya. Bintang besar itu mampu melempar cahaya dan menerangi kota besar, orang-orang tidak repot lagi untuk menyalakan listrik sebab sudah ada listrik alami yang di berikan Tuhan pada manusia.


Sejumlah manusia mulai beraktifitas dengan kegiatan sehari-hari, pergi ke kantor, bersekolah, bekerja untuk sesuap nasi bagi keluarga tercinta, begitupun dengan penghuni di Apartemen unit dua. Semua orang yang ada di dalam Apartemen tersebut sudah bangun, bahkan sudah duduk siap di meja makan. Ada tiga menu yang tersedia di atas meja, tentunya roti Sandwich, nasi goreng telur ceplok, dan sayur sup brokoli bening tidak lupa susu sebagai pelengkap lima sempurna.


Mereka makan sangat lahap, terutama Fadel dan Fadil, kedua pria dewasa itu begitu menikmati makanan yang di buat oleh ibu mereka, Jons yang melihatnya tersenyum senang, ia bersyukur bisa menjadi ibu yang baik yang bisa membuat masakan untuk anak-anaknya, rupanya menjadi ibu yang dapat di andalkan dalam hal perut ada rasa bangga untuk diri sendiri.


"Masakan mommy tidak ada duanya, aku sepertinya mau pindah kampus saja, pulang ke Indonesia adalah pilihan tepat untuk terus menikmati masakan mommy" kata Fadel dengan wajah berseri-seri, bahkan sudah tiga kali menambah nasi goreng dan sup secara bersamaan, entah kenapa ia tidak bisa berhenti makan.


"Benar kata Fadel, mommy tidak ada lawannya kalau soal masakan, aku kalau mau cari istri yang seperti mommy saja, yang bisa masak agar aku tidak kelaparan nantinya" timpal Fadil memuji Jons, wanita itu tidak henti-hentinya tersenyum.


"Sepertinya daddy harus membatasi masakan istriku untuk kalian cicipi, rasanya tidak ikhlas" tutur tuan Farhan dengan wajah datar, semua orang di sana memutar bola matanya malas.


"Mulai deh" batin Azhar geleng-geleng pelan, entah kenapa sifat tuan Farhan semakin protektif terhadap istrinya di usianya yang tua, bahkan sampai tidak rela masakan istrinya di cicipi oleh anak sendiri, padahal mereka juga berasal dari darah dagingnya.


"Istri kakek adalah nenekku, itu berarti aku berhak mencicipi masakan nenek, lagipula kenapa bukan kakek saja yang masak? Agar bisa makan sendiri" timpal Aditya dengan tatapan polos, alisnya berkerut melirik ke arah tuan Farhan yang sedang menatapnya tajam.


"Anak kecil, nenekmu ini adalah istriku, aku yang paling berhak daripada kalian semua" tegasnya tidak mau kalah, Jons mendengar perdebatan cucu dan kakek itu membuat kepalanya pening.


"Kalian semua diam! Lebih baik habisi makanan kalian, tidak baik bertengkar di depan makanan" Jons melerai perdebatan unfaedah itu, ia memijat pelipisnya yang terasa penat, ada-ada saja suaminya ini, begitu protektif terhadapnya bahkan sampai soal masakan.


Semua di sana terdiam mereka kembali makan dengan khidmat, tidak bersuara hanya suara sendok yang bersahut-sahutan.


"Nenek, hali ini kita ke lumah sakit?" tanya Enzi memecah kesunyian, Jons mengangguk mengiyakan, mereka akan kembali ke rumah sakit sekaligus membawa makanan untuk keluarganya.


"Kami sudah selesai. Mom, dad, kami ke kampus dulu yah" Fadel dan Fadil beranjak dari kursi mereka menyalami Jons dan tuan Farhan lalu terakhir ke Azhar. Tak berselang lama Azhar ikut berpamitan untuk pergi ke kampus juga karena hari ini ada jadwal mengajar, kini sisa mereka berempat di meja makan, dan mereka baru saja menyelesaikan makan pagi.


"Segeralah siap-siap, supir kita sudah datang, Enzi, Aditya jangan lupa untuk membawa piring kotornya ke dapur" kata Tuan Farhan yang langsung beranjak tidak lupa memegang piring kotor yang tadi di pakainya menuju dapur.


"Sayang tidak perlu lakukan itu, selagi ada nenek kalian bersantailah, tidak usah repot-repot, kalian masih kecil besar dulu baru kerja" jelas Jons tidak setuju dengan didikan tuan Farhan terhadap dua cucunya, apalagi mereka baru menginjak usia empat tahun terlalu keras baginya jika harus mengajarkan kemandirian sejak dini sekalipun bagus tetapi dia tidak tega melihatnya.


"Tidak pelu nenek, kami hanya membawa pilingnya nanti kakek yang cuci" jawabnya dengan senyum lebar. Tuan Farhan menatap kaget pada Enzi karena pasti ia akan di kerjai oleh dua cucunya itu.


"Benar nek, kakek sangat mencintai nenek, aku yakin kakek tidak akan melihat nenek yang melakukan pekerjaan sulit itu, tapi jika kakek tidak melakukannya apakah cintanya itu adalah dusta, bukan begitu kek?"


"Eh?" tuan Farhan melongo dan melebarkan matanya, Jons tidak dapat menahan tawanya ia menutup rapat-rapat bibirnya agar tidak terbahak, apalagi melihat wajah tuan Farhan yang sudah berubah merah.


"Kalian berdua ini, bisanya banyak omong saja, baiklah biarkan kakek yang akan mencuci piringnya" pasrahnya melirik istrinya yang tersenyum simpul padanya ia ikut tersenyum.


CUP


Satu kecupan mendarat di bibir tuan Farhan membuat mata pria itu membulat.


"Lagi yang!" titahnya memohon penuh harap, dua kerucil Hamas memutar bola matanya malas, mereka mendesah kasar buru-buru Aditya menarik tangan Enzi untuk pergi dari dua sejoli yang mulai ber-mesraan. Melihat dua cucunya sudah tidak ada, tuan Farhan menarik tangan Jons dan langsung menyosor menciumnya, ia begitu puas, wajahnya bahkan kembali ceria setelah merasa kesal dengan dua cucunya.


Sementara di rumah sakit, Alexa duduk berjaga di bangsal ayahnya sedang Amanda masih tertidur pulas di ranjang dekat bangsal Alex, Alexa baru saja menggantikan Amanda untuk berjaga. Di bangsal lain ada dua orang pria di ruang tersebut, tentu Alexa mengenal mereka, satu anak buahVicky sedang berjaga di luar sementara dua penjaga Vicky sedang tertidur di sofa pasalnya mereka semalaman berjaga di luar, mungkin mereka kelelahan sekalipun mendapat pelatihan fisik tetapi mereka tetap manusia biasa yang bisa merasakan lelah.


"Ayah masih tidur lebih baik aku main hp saja" gumam Alexa lalu mengeluarkan ponselnya dari saku celananya, ia membuka Instagram dan sebuah postingan pertama yang ia lihat membuat jantungnya mendadak tidak karuan, sebuah postingan bulan yang hanya sendirian bergantung di atas langit tanpa ada yang menemani, bukan itu yang membuatnya berdebar melainkan sebuah caption yang entah kenapa jantungnya tiba-tiba berdetak hebat saat membacanya.


"Malam hari tampak cerah, bulan di atas memancarkan cahayanya untuk Bumi, tidak ada teman yang menemani namun tidak membuatnya sedih, entah apakah dirinya kesepian seperti aku di sini? kuharap dia mendapatkan teman seperti aku yang akan terbang ke sebuah kota untuk mengejar cintanya kembali"


Alexa menyentuh jantungnya, memejamkan matanya dan menarik napas panjang "Sadar Alexa, Kata-kata itu bukan untuk kamu! Bisa saja itu untuk wanita lain" batinnya sedih, tak terasa setetes air matanya jatuh, ia menangis.


TES


.


.


.


.


.


.


Bersambung