
Happy Reading
.
.
.
.
.
.
Seorang gadis dengan setelan jeans berpadu dengan jaket kulit, tengah berjalan pelan di belakang pria berambut gondrong. Tangannya terulur dan menepuk pundak pria yang daritadi mengikutinya.
"Kau mencariku?" ia bertanya dengan nada datar dan ekspresi wajah yang sulit di artikan. Azhar berbalik arah menghadap gadis yang bertanya.
DEG
Ia terpaku menampilkan wajah bingung, ia seperti seseorang yang baru terbangun lima ratus juta tahun, ia sulit memahami kondisi yang di alaminya saat ini. Gadis dengan wajah bulat juga bola mata yang indah terang, ingatannya berputar dan kembali ke masa lalu saat mereka masih berusia empat tahun hingga gadis itu menghilang kini berdiri dengan tubuh utuh juga masih bernapas.
Tanpa bicara pria itu menarik tangan gadis di depannya menariknya ke dalam dekapannya. Ia memeluk gadis itu erat membuat gadis di pelukan Azhar sulit bernapas. Gadis itu terheran-heran, ia lantas memberontak tetapi Azhar tidak mau melepaskan.
"Hey, lepaskan! apa kau ingin kutonjok!" serunya sambil memukul kuat punggung Azhar.
"Alexa, apa kau tidak mengingatku? aku adalah kakamu, atau jangan-jangan kepalamu terbentur dan membuat ingatanmu tidak sempurna hingga melupakan wajah tampanku ini? " jawabnya polos.
"Hah?" sungguh mulut gadis itu ternganga dengan ekspresi wajah bingung, bertemu dengan pria aneh itu membuatnya ikutan bodoh.
"Hey! kau mungkin salah mengenali orang. Namaku bukan Alexa melainkan Ainsley. Cepat lepaskan tangan kotormu dari tubuhku atau aku akan menghabisimu sampai tubuhmu tidak berwujud!" katanya lagi dengan penuh ancaman.
"Tidak mungkin aku salah mengenali orang, wajahmu begitu mirip dengan Alexa. Kau pikir aku buta hah!" Kedua tangan Azhar menempel di kedua pipi Ainsley dan menekannya hingga mulut Ainsley menjadi monyong.
"Wajah yang begitu mirip ini tidak mungkin jika bukan adikku"
"Awww! sakit!! " teriak Ainsley saat tangan Azhar dengan ringannya menarik hidung Ainsley membuat gadis tersebut terpekik kaget. Ainsley mengusap pelan hidungnya yang memerah. Ia menatap tajam ke arah Azhar, sedang pria itu hanya menampilkan deretan giginya yang rapi dan putih. Tidak ada rasa bersalah sedikitpun di hati Azhar membuat Ainsley ingin sekali memukul wajah pria tampan di depannya. Sungguh membuat emosi saja.
"Aku bukanlah adikmu! sekalipun wajahku mirip dengannya, tidakkah kau dengar bahwa manusia memiliki tujuh kembar di dunia ini... jadi mungkin aku adalah salah satu kembarannya tetapi kami bukanlah orang yang sama, apakah kau mengerti?!" jelasnya sambil menunjuk dada bidang Azhar.
Azhar menatap seksama wajah Ainsley bahkan matanya tak berkedip sedikitpun, ia bahkan semakin yakin bahwa gadis di depannya adalah Alexa yang selama ini hilang tanpa kabar. Azhar melirik ke kiri dan ke kanan lalu menatap ke belakang membuat Ainsley menjadi heran.
"Apa yang di lakukan pria gila ini?" Ainsley membantin.
BUGH
Satu pukulan mengenai belakang leher Ainsley membuat gadis itu terjatuh pingsan.
"Maafkan aku, aku harus membawamu ke Apartmentku, sebelum aku pastikan bahwa kamu adalah orang yang kucari" bisik Azhar dan segera menggendong tubuh Alexa.
"Rupanya kamu berat juga, aku bahkan kesusahan menggendongmu, apa kau yang terlalu berisi atau aku yang lemah" ujar Azhar dengan napas ngos-ngosan. Kini Azhar telah berhasil memasukkan Ainsley ke dalam Mobilnya di jok belakang. Sedang dirinya duduk di jok depan kursi kemudi.
Mobil milik Azhar perlahan-lahan bergerak meninggalkan jalan sempit di salah satu kota Washington. Kali ini ia tidak boleh lengah, ia harus mengumpulkan informasi terkait hilangnya Alexa. Ia sangat yakin bahwa gadis di belakangnya adalah anak Amanda ia merasakan rasa familiar saat bersama Ainsley tadi.
Ainsley tertidur pulas setelah di pukul oleh Azhar walau sebenarnya Azhar tidak tega melakukannya tetapi karena untuk membuktikan bahwa Ainsley adalah Alexa ia harus membawanya secara paksa.
Azhar membawanya masuk ke Apartemen setelah berhasil membuka pintu Apartemen. Bangunan itu adalah rumah yang pernah di tempati Alexa dulu saat ia masih SMA, andai gadis itu tidak hilang mungkin dia sudah menyelesaikan kuliahnya sekarang.
Azhar membawa Alexa ke lantai dua tepat di kamar Alexa berada. Barang-barang milik Alexa masih tertata rapi di tempatnya. Sebenarnya barang-barang tersebut pernah di pindahkan ke gudang olehnya dan Hamas saat Shireen sudah menjadi istri Hamas.
Tetapi saat kecelakaan yang menimpa Shireen dan Hamas kembali ke Indonesia, Azhar mengembalikan lagi barang-barang milik Alexa dan Azhar kini menempati kamar Hamas.
Tiga hari sekali Azhar membersihkan kamar Alexa sekalipun Alexa sudah tidak ada tetapi ia tetap membersihkannya dan kamar yang sudah lama kosong kini ada yang menempatinya.
Pelan-pelan Azhar membaringkan tubuh Ainsley, ia duduk di bibir kasur sembari menatap teduh wajah gadis di atas kasur. Azhar mengelus rambut coklat Ainsley sehelai rambut panjang terlilit di jemari tangannya. Ia menatapnya lama seperkian detik ia tersenyum dengan mengangkat sebelah alisnya.
"Aku harus menyimpannya" batinnya lalu menaruhnya di dalam saku celananya.
Azhar melihat kerutan kecil tercekat jelas di dahi Ainsley, ia menatapnya dalam sambil menyentuh wajah gadis tersebut. Tiba-tiba Ainsley membuka matanya ia melihat Azhar di sampingnya membuatnya terkejut dan langsung duduk.
"Ka-kau! pria brengsek apa yang telah kau lakukan pada diriku?!"sentaknya sambil melihat sekujur tubuhnya, ia bernapas lega saat menyadari tidak ada yang janggal dengan pakaiannya.
TOK
"Awwww! sakit! iiiiis!!" Ainsley memekik kaget karena Azhar menyentil keninganya.
"Buang pikiran kotormu! apa tampangku seperti pria yang bernafsu sekarang?" ucapnya datar. Ainsley mencebik dengan bibir terangkat sebelah.
"Bagaimana tidak berpikir kotor jika kau menculikku dan membawaku kemari, jika tidak kotor lalu apa?" sungutnya emosi.
"Dasar kau ini, buang pikiran kotormu tentangku! tidak mungkin aku bernafsu denganmu karena kamu adalah adikku. Mengerti!"
"Iiiish, berapa kali harus kukatakan aku bukan adikmu! apa kau tuli hah?"
"Bodoh amat!" Ainsley benar-benar geram akan tingkah pria asing di depannya. Ia tidak tahu harus berbuat apa lagi bahkan Ainsley bingung harus berkata apa agar Azhar percaya padanya bahwa dirinya bukanlah Alexa yang di maksud oleh Azhar tetapi pria itu sungguh sulit untuk percaya.
"Lihatlah kamar ini, kamar yang kau tempati sekarang adalah kamarmu dulu. Lihatlah foto ini dia adalah kamu"
"Wajahnya begitu mirip denganku" batin Ainsley mengamati foto yang di berikan Azhar padanya. Bahkan tak satupun celah yang memperlihatkan mereka berbeda, benar-benar sangat mirip. Bahkan jika itu saudara kembar pasti ada perbedaan di setiap tubuhnya tetapi ini tidak ada.
"Apa aku benar-benar adalah Alexa, sebagaimana yang dikatakan oleh pria ini?" bisik Ainsley dalam hati.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung