
Happy Reading guys
.
.
.
.
.
.
.
"Dia mirip sekali denganku tetapi kau salah besar aku bukanlah gadis yang ada di foto ini" Ainsley berkata sambil menyentuh wajah gadis di dalam bingkai foto berwarna pink.
"Kenapa kau sangat yakin bahwa kamu bukanlah gadis di foto itu? apa kau punya bukti?" tanya Azhar datar. Wanita di sampingnya itu benar-benar menyebalkan menurutnya, jika saja wanita itu bukanlah Alexa sudah daritadi ia menonjoknya agar membalas rasa kesal di hatinya.
"Hehehe, aku tidak punya bukti tetapi apakah kau punya bukti bahwa apa yang kau yakini benar?" bukannya menjawab Ainsley balik bertanya pada Azhar.
"Tentu saja, wajahmu adalah bukti nyatanya hanya saja sayang sekali otakmu sedang rusak"
"Kau!" Ainsley mendengus kesal mendengar perkataan Azhar yang selalu menusuk hati. Jika di beri kesempatan untuk berbuat apa saja kepada pria gondrong itu ia pasti akan memilih menghantamnya dengan keras, sungguh tangannya sudah terkepal kuat ingin menonjok mulutnya yang pedas itu.
"Aku ingin pergi dari sini, nenekku pasti khawatir tentangku" bujuk Ainsley dengan mata yang penuh permohonan namun, Azhar tak sedikitpun peduli ia hanya memikirkan bahwa wanita di depannya adalah Alexa.
"Aku akan mengantarmu jika hasil tes DNA sudah keluar" jawaban Azhar membuat Ainsley melotot. Ia bahkan menarik kerah baju Azhar dan menyudutkannya ke tembok.
"Keterlaluan! jangan membuatku hilang kendali, kenapa kau melakukan tes DNA tanpa sepertujuanku! brengsek!" umpatnya benar-benar emosi.
"Heh! aku tidak butuh persetujuanmu Alexa, karena sekarang kamu sedang tidak mengingat jati dirimu maka aku harus bertindak lebih. Ingat kami sudah lama mencarimu dan sekarang kau sudah di depan mata kenapa aku harus membiarkanmu pergi lagi" Azhar melepas tangan Ainsley, gadis itu terdiam mematung. Bukan karena tersentuh tapi semakin kesal mendengar perkataan Azhar yang meragukannya. Jelas-jelas dia bukanlah gadis keluarga pria di depannya dia adalah salah satu putri Menteri Pertahanan kota Washington.
"Kamu yah! benar-benar membuatku semakin ingin membunuhmu! tunggu saja saat kau berada di wilayahku, akan ku buat kau segan hidup mati tak mau" Azhar hanya terkekeh kecil mendengar ancaman Ainsley yang menurutnya adalah sebuah lelucon. Menurutnya itu adalah ancaman gadis kecil yang berumur tiga tahun saja.
"Sudahlah simpan saja emosimu, apa kau ingin makan sesuatu?" Ainsley menghempas tangan Azhar dari kepalanya, Azhar hanya bisa mendesah berat lalu berjalan keluar dari kamar Alexa. Ainsley menatap punggung kekar Azhar sampai hilang dari pandangan matanya.
Ia menyentuh kepalanya yang tiba-tiba saja sakit ia berdesis sembari memijat pelipisnya, sebuah gambar samar-samar terlintas di ingatannya sepertinya memorinya sedang bekerja menginput kembali data yang lama hilang.
"Sssshh, sakit sekali. Gambaran apa ini? kenapa aku tidak tahu aku pernah melakukannya" batinnya memejamkan mata. Ainsley memaksakan dirinya untuk mengingat sesuatu yang hilang tetapi rasa sakit itu sangat menyakiti tubuhnya ia benar-benar kesakitan sampai bersuara pun tidak mampu.
"Aaaaahh, siapa anak laki-laki itu dan pria dewasa itu siapa? a-aku belum pernah melihatnya sebelumnya tetapi kenapa ada di ingatanku?" Ainsley begitu penasaran sampai ia menjerit kesakitan.
"Aaaaahhh sakit! sakit aaaaaah!"
BRAAAAK
Seorang pria mendorong pintu kuat sampai menimbulkan bunyi yang sangat nyaring, ia berlari ke arah ranjang yang di tempati Ainsley.
"Apa yang sakit? Lexa sadarlah! hey jangan menakutiku" Azhar menepuk-nepuk pipi Ainsley yang tak sadarkan diri, Azhar kemudian menggendong tubuh Ainsley dan membawanya keluar.
Azhar segera menuruni anak tangga dengan langkah buru-buru, wanita dalam gendongannya sudah tidak sadarkan diri, saat Azhar membuka pintu Apartemen dua pria muda berdiri di hadapan Azhar dengan mata membulat besar.
"Abang, siapa wanita itu? apakah kekasih abang?" tanya keduanya terkejut. Mereka adalah Fadil dan Fadel adik angkat Azhar.
"Ayo ke rumah sakit sekarang nanti akan abang ceritakan!" tanpa protes kedua anak kembar itu mengangguk dan segera membuka pintu mobil untuk Azhar. Fadil duduk di kursi kemudi sedang Fadel di samping saudaranya. Azhar masih memeluk wanita pingsan itu ia sungguh takut jika terjadi sesuatu pada Ainsley.
Dua puluh menit berkendara dengan berbagai macam kesulitan di perjalanan kini mereka telah tiba di rumah sakit milik Tuan Farhan. Setelah hilangnya Alexa di rumah sakit beberapa tahun yang lalu kini tuan Farhan membangun sebuah rumah sakit tentu untuk memperluas pasar bisnisnya lebih tepatnya agar masalah yang terjadi kepada Alexa tidak terulang kepada keluarganya yang lain. Setiap anggota keluarga besar tuan Farhan sakit maka akan di bawakan ke rumah sakit tersebut untuk meminimalisir sesuatu hal yang buruk. Tentu penjagaan di rumah sakit Alexa's Hospital itu begitu ketat bahkan satpam yang menjaga di berbagai sudut rumah sakit adalah tentara elit yang langsung di latih oleh tuan Farhan. Mental dan fisik sudah tidak di ragukan lagi kehebatannya, bahkan mereka juga di sebut sebagai tentara siap mati.
Alexa's Hospital itu adalah rumah sakit yang di bangun oleh tuan Farhan untuk Alexa, itu adalah salah satu ucapan maafnya karena tidak bisa menolongnya di saat darurat, rasanya kekuasaan dan kekuatannya tidak ada gunanya kala Alexa hilang tanpa kabar.
Beralih kepada pria gondrong yang sedang berlari dengan wanita dalam gendongannya.
Azhar berteriak meminta tolong membuat para dokter dan suster terkejut setengah mati, pasalnya yang berteriak adalah anak dari pemilik rumah sakit. Mereka segera membawa bangsal dan Azhar membaringkan Ainsley di atas bangsal tersebut.
"Tolong periksa adik saya!" ucap Azhar dengan mata berkaca-kaca. Tiga orang dokter mengangguk mantap. Melihat reaksi Azhar yang begitu perhatian terhadap Ainsley membuat para dokter harus bekerja secara hati-hati dan semaksimal mungkin.
"Gadis ini adalah adik tuan muda Azhar tetapi aku belum pernah mendengar dan melihat wajahnya, entah apakah itu benar atau salah aku harus bekerja hati-hati, gadis ini kelihatan penting di mata tuan muda" Salah seorang wanita membatin.
"Baik tuan muda, kami akan segera periksa kondisi pasien" jawab dokter. Empat orang suster mendorong bangsal Ainsley dan membawanya masuk ke ruang UGD. Azhar dan dua adiknya duduk di kursi tunggu. Fadel dan Fadil menatap Azhar, meminta penjelasan siapa gerangan wanita yang sangat menarik perhatian abangnya? pria gondrong itu tahu jika sedang di tatap oleh adiknya ia pun segera membuka suara.
"Dia adalah anak tante Amanda"
"What! bagaimana bisa? bukankah kakak Alexa sudah lama meninggal? apakah kakak Alexa bangkit dari kematian ataukah itu adalah reinkarnasinya?" Fadil berteriak histeris dengan mimik wajah terkejut. Fadel dan Azhar memelototi Fadil karena terlalu impulsif.
"Maaf, maaf aku terlalu terkejut"
"Abang, bagaimana bisa gadis itu adalah kak Alexa? sebenarnya apa yang terjadi?" Fadel bertanya pelan.
"Sebenarnya belum ada bukti nyata bahwa gadis itu adalah Alexa, abang hanya berasumsi bahwa dia adalah Alexa abang akan menyelidikinya, kalian tunggu di sini dan jaga dia, segera hubungi abang jika terjadi sesuatu!"
"Siap bang!" ucap Fadel dan Fadil dengan posisi tangan hormat kepada Azhar.
"Good, abang pergi dulu" Si kembar mengangguk mantap. Mereka menatap punggung kekar Azhar sampai tak terlihat oleh mata mereka. Keduanya pun saling menatap satu sama lain.
"Apa kau yakin gadis itu adalah kak Alexa?" Fadil bertanya dengan sebelah alis terangkat ke atas.
"Hmmm, tidak tahu siapa dia tunggu hasil dari abang Azhar baru kita bisa mengetahui identitasnya yang sebenarnya"
"Bagaimana jika kita bertaruh? aku yakin gadis itu bukan kak Alexa" Fadel terkekeh jenaka.
"Baiklah karena kamu sudah memilih duluan, maka tentu aku tidak mungkin sama dengan pilihanmu. Aku yakin bahwa gadis itu adalah kak Alexa. Hmmm taruhan apa yang kau taruhkan sekarang?" Fadil terlihat berpikir kemudian menjawab.
"Hmmm, aku akan menjadi pembantumu selama seminggu, bagaimana? jika kau kalah dalam taruhan ini maka kau menjadi budakku tetapi jika aku yang menang maka aku akan menjadi budakmu"
"Deal"
Keduanya berjabat tangan sebagai tanda kesepakatan bahwa kalah menang harus mematuhi aturan yang sudah di tetapkan.
"Dil, kau berjaga dulu di sini, aku akan ke ruangan kakek dan nenek dulu"
"Jangan berlama-lama karena aku juga ingin menjenguk mereka!" tutur Fadil.
"Yah"
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung