
Happy reading 🤗🤗
Like dan Votenya dong teman-teman 🙏🙏🙏
.
.
.
.
.
.
.
Di negara Meksiko tepatnya di Mansion, seorang pria tengah kebingungan mencari seorang gadis yang baru kemarin tinggal di Mansion mereka namun saat melihat isi kamarnya tidak ada apapun kecuali barang-barang yang sudah ada di ruangan tersebut.
"Kemana kamu pergi Lia? astaga jangan sampai kamu kenapa-kenapa apalagi kamu baru pertama kali ke sini... jangan sampai raja Hades itu tahu jika Lia tidak ada di sini" gumam Oskar. "Aku harus melihat CCTV" batinnya melangkah keluar dari kamar Aulia berjalan menuju lantai dasar di mana tempat ruangan kamera berada.
CEKLEK
Oskar masuk ke dalam ruangan kamar belakang lantai satu, ada beberapa komputer tertata rapi di atas meja. Menjatuhkan bokongnya di kursi putar, tangannya berselancar di benda persegi itu. Matanya membulat sempurna kala melihat Aulia menarik kopernya dan lebih terkejut lagi saat melihat Tio tidak mencegah Aulia malah memberikan kata-kata yang kasar. Hal itu membuatnya sangat murka.
"Brengsek kau Tio!" umpat Oskar menggebrak meja. Ia beranjak dari duduknya berjalan keluar dari ruang CCTV. "Ayah harus tahu tentang Aulia" bisiknya meraih ponselnya. Menghubungi nomor Tuan Zeus.
"Halo ayah Aulia pergi dari Mansion" ujar Oskar saat panggilan suara masuk. Mendengar berita buruk itu membuat Tuan Zeus mendadak beku. Pria paruh baya itu sedang melakukan meeting dengan beberapa direksi dari perusahaan yang bekerja sama dengannya.
"Cari dia sekarang, ayah akan menutup rapat dan segera pulang" jawab Tuan Zeus tegas. Sambungan telepon itupun berakhir. Tuan Zeus kembali ke tempat duduknya.
"Mohon maaf untuk semuanya, ada masalah mendadak yang harus saya selesaikan sepertinya rapat ini di tutup dulu untuk sementara waktu... sekali lagi maafkan saya, saya undur diri. Permisi!" jelas Tuan Zeus menundukkan kepalanya. Setelah menutup rapat pria itu buru-buru keluar dari ruangan meeting berjalan ke arah lift.
"Apakah ada masalah Tuan?" tanya seorang pria di samping Tuan Zeus, dia adalah sekertarisnya.
"Cucu saya hilang, dan saya harus mencarinya" jawab Tuan Zeus dengan wajah yang tidak baik-baik saja. Pria itu mengangguk mengerti ia tidak bertanya lagi.
"Kamu handle perusahaan biar saya yang mencari keberadaan cucu saya" ujar Tuan Zeus lagi membuat pria di sampingnya mengangguk mengerti.
"Baik Tuan" pintu lift terbuka Tuan Zeus keluar dari ruangan tertutup itu sedangkan sang sekertaris kembali naik ke lantai atas.
Tuan Zeus membulatkan bola matanya kala melihat beberapa panggilan masuk dari Tuan Farhan hal itu membuatnya sedikit tidak tenang.
"Jangan sampai Tuan Farhan mengetahui kepergian putrinya itu" ujar Tuan Zeus. Melenggang masuk ke dalam mobil meninggalkan parkiran mobil perusahan.
"Apa sebenarnya yang terjadi sampai harus membuat cucuku keluar dari rumahnya sendiri?" batin Tuan Zeus.
Di sisi lain
Seorang pria dengan rasa bersalahnya duduk di dalam mobil. Mengamati setiap pejalan kaki ataupun pengendara motor.
"Di mana kamu Nona? jangan sampai kamu kenapa-napa Uncle harus mencari kamu di mana lagi?" gumam Tio dalam hati. Memijat pelipisnya yang terasa penat. Rasa pusing di kepalanya begitu menggerogoti saraf-saraf kepalanya membuatnya sedikit kesakitan.
"Semalam tidak bisa tidur, jadinya kepalaku yang sakit" tuturnya pelan memjiat keningnya, menyandarkan kepalanya di sandaran jok depan.
"Aku tidak bisa duduk saja... hatiku tidak bisa tenang jika tidak melihatnya sekarang" ujarnya. Membuka safety beltnya dan keluar dari mobilnya. Ia memarkirkan mobilnya di salah satu tempat yang cukup aman. Di depan kafe di sisi jalan.
Pria itu mulai berjalan menyusuri jalanan besar kota Meksiko matanya menyapu seluruh jalan melihat orang-orang yang berjalan kaki ataupun berkendara namun hasilnya nihil tidak ada sosok yang di carinya.
"Tolong agar baik-baik saja, jangan sampai ada luka sedikitpun di tubuhmu Nona, atau Uncle pasti akan merasa bersalah" gumam Tio dengan wajah menunduk, tangannya terkepal kuat menahan amarah karena dirinya semua menjadi rumit. Andai ia tidak berkata kasar pasti gadisnya masih berada di Mansion dan tidak pindah. Menyesal pun sudah terlambat semua sudah terjadi.
"Andai aku tidak menyakiti hatinya dengan kata-kataku yang buruk, dia tidak akan meninggalkan Mansion... aku sungguh tidak tahu harus mencarinya kemana lagi" pria itu sangat menyesali perbuatannya, kaki jenjangnya terus menapaki jalan aspal mencari jejak sang gadisnya berada.
"Sepertinya menjadi pengamen tidaklah buruk" batin Aulia tersenyum tipis. "Untuk sementara Lia bisa hidup dengan mengamen seperti ini" sambungnya lagi.
"Terima kasih kakak" ujar Aulia dan mereka hanya tersenyum tipis dengan pandangan sedikit jijik namun Aulia tidak mempermasalahkan itu.
"Ayo kita istirahat, dari tadi siang kita mengamen dan sekarang sudah sore" tutur Leon menarik tangan Aulia untuk beristirahat di teras sebuah tokoh.
"Kamu tinggal di mana Leon?" tanya Aulia saat mereka duduk di teras tokoh roti.
"Aku tidak punya tempat tinggal yang tetap, terkadang aku harus tidur di pinggir jalan kalaupun cuacanya tidak bagus aku akan mencari tempat yang bisa berlindung diri dari hujan" jelas Leon. Mendengar hal itu membuat Aulia merasa kasihan, tangan mulusnya menyentuh rambut bocah di sampingnya mengelusnya lembut.
"Aku pasti akan membawamu tinggal bersamaku, tapi aku perlu menghubungi Daddyku untuk menjemputku... sayangnya aku tidak memiliki ponsel, ponselku di curi orang" curhat Aulia dengan pipi mengembung kesal. Mengingat kejadian dirinya kehilangan barang-barang berharganya membuatnya ingin mencabik-cabik para pencuri.
"Kasihan sekali Kakak ini, mengkhayalnya terlalu tinggi... aku harus bekerja keras agar mimpinya menjadi orang kaya bisa terwujud" tekad Tio dengan kepala mengangguk pelan. Tidak tahu saja jika gadis yang duduk di sampingnya memang anak orang kaya.
"Kamu kenapa angguk-angguk kepala kayak gitu?" tanya Aulia dengan alis berkerut. Laki-laki kecil itu tersenyum kecil.
"Jangan sedih aku akan membuat impian kakak terwujud untuk menjadi kaya..."
"Hah!." Bengong Aulia heran. "Bukannya Lia sudah kaya yah kenapa di berbicara seperti itu?" batinnya.
"Hey! kalian jangan duduk di depan tokoh saya! sudah miskin, bau lagi, pergi! Pergi!. Jangan membuat para pelanggan merasa jijik kesini karena kalian!!" teriak seorang wanita paruh baya. Wanita itu datang membawa kecebong hendak memukul Aulia dan Leon.
"Awas kak!" Leon menarik tangan Aulia untuk menghindar. "Bu, bisa kan biacara baik-baik tidak perlu memakai kekerasan" ketus Leon tidak suka. Wanita paruh baya itu menatap tajam ke arah Leon dan Aulia bergantian.
"Benar-benar virus yang harus di jauhi. Jangan pernah duduk di sini orang miskin! dasar bau!" ketusnya dan melenggang masuk ke dalam. Aulia mengepal tangannya kuat jika bukan mengingat dirinya berada di wilayah orang lain maka sudah di pastikan ia akan menghajarnya sampai mati.
"Percaya atau tidak Lia akan menendangnya hingga ke Antartika" batin Aulia kesal.
"Ayo kita beli makanan, pendapatan kita hari ini lumayan banyak jadi kita bisa makan makanan enak" Leon sudah biasa mendapatkan cacian seperti tadi hal itu seperti makanan sehari-hari, baginya, ia bahkan tidak merasa kesal ataupun marah, namun tidak dengan Aulia gadis itu masih begitu jengkel dengan kata-kata pemilik toko kue tadi.
"Lia akan membeli tokonya itu! heh, dia pikir Lia tidak bisa membeli tokohnya apa!" ujar Aulia dalam hati.
"Kak kamu tunggu di sini yah, aku akan masuk ke dalam untuk beli makanan... Kakak mau pesan apa?" tanya Leon. Mereka berhenti di salah satu cafe yang cukup banyak pelanggannya.
"Apa saja yang penting bisa di makan" jawab Aulia. Dan anak laki-laki itu mengangguk mengerti.
"Kalau begitu kakak tunggu aku di sini Jangan pergi kemana-mana"
"Iya aku akan berdiri di sini" jawabnya. Leon berjalan masuk ke dalam cafe sedangkan Aulia menunggu di depan cafe, matanya melirik ke semua penjuru. Tiba-tiba ada tarikan kasar menarik tangannya.
"Hehehe, akhirnya kami mendapatkanmu Nona..."
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung