
Happy reading 😘
Beri like dan vote nya yah 🤗❤️❤️❤️
.
.
.
.
.
.
.
Malam berganti siang, cahaya bulan dan bintang sudah tergantikan oleh sinar mentari pagi dan langit biru yang begitu terang menyinari Bumi kota Meksiko. Seorang pria berusia 37 tahun dengan setelah celana jeans hitam berpadu dengan baju kaos hitam turtleneck di lapisi jaket kulit begitu pas di tubuhnya. Pria itu berdiri di depan rumah minimalis bercorak putih coklat. Tangannya terulur memencet bel di samping kanan pintu.
"Keluarlah Nona ku mohon!" pinta pria tersebut yang tak lain adalah Tio. Sudah sekian kalinya ia memencet bel rumah minimalis modern tersebut namun tak kunjung di buka oleh Tuan rumahnya. Hingga sebuah suara pintu terdengar Tio pun terkesiap.
"Eh, Om ada apa kesini?." Tanya Hara yang sepertinya baru bangun. Karena waktu memang masih sangat pagi orang-orang masih bergelut dengan selimut hangatnya.
"Bisakah kau memanggil Nona Aulia, aku ingin berbicara dengannya... please ini sangat penting" mohon Tio pada Hara. Pria itu menatap penuh tanya pada pria dengan stylenya yang sudah rapi. Tidak di pungkiri bahwa pria di depannya sangatlah tampan dan cool, sekalipun sudah berkepala tiga tapi masih terlihat masih sangat tampan.
"Tapi dia sedang tidur... tunggu sebentar akan aku bangunkan" jawab Hara merasa kasihan terhadap Tio. Tio mengangguk pelan menyandarkan punggungnya di sandaran dinding sembari melipat dua tangannya di atas perut.
Sedang Aulia baru saja turun dari lantai dua setelah mencuci wajahnya juga tidak lupa menyikat gigi. Kening Aulia berkerut melihat Hara hendak ke atas.
"Abang mau kemana?" tanya Aulia penasaran. Hara berhenti di depan Aulia lebih tepatnya di anak tangga kedua.
"Pujaan hatimu sedang menunggu di luar, lekaslah menemuinya dia seperti ingin mengatakan sesuatu yang penting" jawab Hara serius Aulia mengerutkan keningnya. Mendengar kata pujaan hati membuatnya berpikir sejenak.
"Jangan katakan pujaan hati di depan Lia lagi, karena dia sudah tidak ada lagi di hati Lia sekarang!." Ketus Aulia dengan tatapan kesal. Gadis itu melenggang pergi meninggalkan Hara yang hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah sahabatnya itu.
"Lain di mulut lain di hati, dasar betina" ungkap Hara tersenyum kecut. Ia kemudian berjalan menuju ke arah dapur mencari sesuatu untuk bisa meredakan rasa kering di tenggorokannya.
Di luar rumah, Aulia sudah berdiri di depan Tio, pria itu menyunggingkan senyum yang paling manis untuk seorang gadis yang sudah membuat pikirannya tak karuan. Berjalan mendekat ke arah gadis yang tengah berdiri di hadapannya.
"Ada apa Uncle mencari Lia? apalagi ini masih pagi Uncle ganggu tahu gak!" ketus Aulia bersedekap dada sedang pria itu tersenyum kecut. Beginikah rasanya di cuekin oleh orang yang tercinta. Apakah perasaan sakit itu yang selalu di rasakan oleh gsdis di depannya. Ia benar-benar merasa bersalah.
"Maaf sudah mengganggu waktu Nona" ujarnya dengan hati perih kepalanya tertunduk dengan perasaan bercampur.
"Cepat katakan jangan membuat waktu Lia terbuang sia-sia!" ketus Aulia menatap jengah pria yang sedang bersedih itu walaupun hatinya tidak tega tapi ia harus menegaskan pada pria yang di panggil Uncle agar tidak mempermainkan perasaannya terus.
"Mengenai permintaan Uncle semalam, bisakah Nona mau menunggu Uncle, tunggu Uncle menyelesaikan misi dunia bawah dan Uncle akan melamar Nona..." ucap Tio berharap dengan pandangan tertuju pada Aulia. Gadis itu hanya menatap datar pria tersebut.
"Cih! Lia pikir Uncle ingin mengatakan sesuatu yang penting ternyata hanya sampah. Uncle pergilah jangan membual di depan Lia lagi karena itu tidak akan mempan lagi, hati Lia sudah mati" jelas Aulia dingin ia berbalik badan hendak masuk ke dalam rumah namun sebuah pelukan menghentikan langkahnya.
Tio memeluk tubuh ramping itu dari belakang, tangan kanannya ia letakkan di bahu Aulia sedang tangan kirinya menyandar di perut rata gadisnya. Menjatuhkan dagunya di pundak sang gadis.
"Please, maafkan Uncle Nona. Uncle salah yang tidak berkata jujur padamu tapi Uncle punya alasan. Tolong jangan marah pada Uncle lagi please" lirih Tio menenggelamkan wajahnya di ceruk Aulia. Gadis itu menahan sesak di dada. Ia merasakan bulu kuduknya berdiri kala bibir Tio sesekali mencium lehernya dan itu membuatnya sangat sensitif.
"Bagaimana dengan aunty Karla Uncle, Lia tidak mau menjadi orang ketiga dan perusak hubungan Uncle dan aunty" jawab Aulia mendesah berat. Ternyata masalah percintaan jauh lebih melelahkan daripada mendaki gunung Himalaya. Rasanya hati seakan meledak.
"Hubungan Uncle dengan aunty Karla hanyalah sebuah formalitas, Uncle hanya mencintaimu Nona... Please percaya sama Uncle" jawab Tio sesekali mengecup leher wanitanya. Gadis itu sedikit mengangkat sudut bibirnya membentuk senyuman.
"Benarkah itu Uncle?" tanya Aulia tersenyum tipis nyaris tak terlihat. Tio segera membalikkan tubuh gadisnya hingga berhadapan dengannya.
"Percayalah, Uncle punya alasan kenapa Uncle berhubungan dengan aunty Karla, tunggu sampai kita sudah menikah Uncle akan menceritakan semuanya... tapi sekarang Uncle harus berangkat ke Las Vegas" ujar Tio dengan suara lembut, ibu jarinya terangkat mengelus pipi wanitanya.
"Kota yang mengerikan, kenapa Uncle harus di kirim ke sana?" gumam Aulia pelan namun masih di dengar oleh Tio. Pria itu tersenyum mengangkat dagu gadisnya agar bisa menatapnya lama.
"Uncle pergi bersama anggota Tuan Zeus dan Black Wolf, juga aunty Karla dan Richo, tenang saja Uncle akan baik-baik saja di sana... yang penting Nona harus doakan Uncle agar tidak terjadi hal yang buruk di sana" ungkap Tio mencium kening Aulia lama. Seketika mata gadis itu tertutup dengan bibir melengkung tipis merasakan kehangatan bibir itu.
Sepasang mata menatap adegan mesra tersebut hatinya terasa nyeri namun apalah daya cinta tidak bisa di paksakan, kakinya melangkah masuk ke dalam tidak mau menyaksikan yang semakin membuat hati sakit.
"Belum di mulai tapi sudah kalah" gumam seorang pria tersenyum kecut.
"Uncle harus jaga mata tidak boleh jelalatan, harus jual mahal jika di panggil oleh wanita-wanita di sana jangan hiraukan dan jika mereka berani menggoda apalagi menyentuh Uncle maka Uncle wajib mematahkan tangan mereka, apakah Uncle mengerti!" tutur Aulia tegas. Matanya menatap wajah tampan prianya.
"Auuuw" pekik Aulia kala Tio menarik lembut hidungnya tidak sakit tapi hanya merasa malu.
"Ck! kekasih Uncle sangat posesif hmmm... tapi Uncle suka. Uncle akan mengikuti perintah pacar Uncle ini" balasnya terkekeh kecil. Dan Aulia tersenyum lebar. Memeluk mesra pinggang Tio.
Hingga sebuah dering telepon mengagetkan keduanya. "Uncle angkat telepon dulu" Aulia mengangguk pelan. Masih dengan senyum menghiasi wajahnya. Pagi itu hatinya begitu berbunga-bunga akhirnya perasaannya terbalaskan. Tidak sia-sia dirinya bersabar dan menunggu hingga pohon ketulusan itu menghasilkan buah dan ia petik sekarang.
Tio sudah selesai menelpon dan kembali memasukan ponselnya di saku celana jeans-nya. Ia berdiri di hadapan Aulia.
"Uncle pergi sekarang, Nona hati-hati di sini dan yang terpenting jagalah hati dan cinta untuk Uncle" ungkapnya membuat Aulia merona malu.
"Pasti, Uncle harus hati-hati" jawab Aulia. Tio kembali mengecup kening Aulia lama menyalurkan rasa sayang dan cinta pada gadisnya.
"Uncle pergi sekarang" tuturnya pamit. Namun di tahan oleh Aulia.
"Kenapa?" tanyanya dengan alis berkerut.
"Uncle belum mencium ini" tutur Aulia malu pipinya merah merona, menundukkan kepalanya tidak berani melihat wajah prianya.
"Hahahah, sayang kau sudah berani hmmm..., Kalau untuk ini jangan sekarang Uncle mau saat kita menikah Uncle takut Uncle gagal menjaga Nona" jawabnya sembari menunjuk bibir gadisnya. Walaupun ingin merasakan tapi itu tidak mungkin karena gadis di depannya seperti batu permata mahal yang harus di jaga sebaik mungkin.
"Cih! tapi kenapa di Mansion Oppa Zeus, Uncle mencium Lia" ketus Aulia bersedekap mencebikkan bibirnya kesal.
"Hahahaha, itu khilaf sayang. Pesawat tidak lama lagi akan lepas landas Uncle pergi sekarang" tutur Tio tersenyum tipis mengacak-acak rambut gadisnya gemas.
"Yah pergilah, hati-hati di sana" balas Aulia yang langsung mengecup bibir Tio lalu berlari masuk ke dalam rumahnya. Menyentuh dadanya yang bergetar hebat.
"Lia bodoh! dasar mesum!" gumam Aulia malu. Sedang Tio hanya terkekeh geli.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung