
Happy reading 🤗
Kasih like dan hadiahnya dong teman-teman 🙏❤️🌹🌹
.
.
.
.
.
.
.
Hari itu di kota Meksiko tercipta sejarah yang tidak akan pernah terlupakan dalam ingatan Aulia, putri seorang raja Hades Auliani Devano Jonas, adalah putri dari seorang pengusaha nomor satu di dunia dan sekarang berdiri di tengah-tengah jalan raya di saat lampu lalu lintas berubah menjadi merah itu berarti para pengendara untuk berhenti di salah satu jalur jalan.
Beberapa menit sebelumnya, bocah laki-laki bernama Leon menuntun Aulia untuk duduk di pinggir jalan tangan kecilnya mengambil beberapa tanah dan menggosoknya pada wajah bersih Aulia membuat gadis itu terpekik kaget.
"Hey! apa yang kamu lakukan pada wajahku?" tanya Aulia menahan tangan anak laki-laki di depannya.
"Kalau dengan tampilan bagus seperti itu, orang-orang tidak akan memberikan kita kue ataupun uang... kakak cantik menurutlah jangan mempersulit keadaan! kalau kakak tidak mau mati cepat ikutlah saranku!" jelasnya melepas tangannya dari genggaman Aulia, anak laki-laki itu kembali menabur tanah kotor di wajah Aulia membuat gadis itu ingin menangis.
"Hey! kamu tidak tahu siapa aku... kau akan kaget jika mendengar nama Daddyku bahkan kau akan gemetar nantinya" sungut Aulia dalam hati. Tangannya terkepal kuat menahan rasa geram pada tingkah bocah yang sudah kelewat batas.
"Ini semua gara-gara Uncle Tio!!" teriak Aulia kesal.
"Siapa Uncle Tio? jangan menyalahkan orang lain, ini sudah menjadi takdirmu kakak." Ucap Leon dengan wajah datarnya membuat Aulia ingin menabok mulut Leon dengan senjata Mommynya.
"Hiks, hiks. Daddy, Mommy... Lia tidak mau jadi gelandangan di sini" batinnya dalam hati.
"Ayo sekarang kita pergi, tampilan kakak sekarang sudah sangat meyakinkan orang-orang, ingat kakak harus berjoget dan aku akan bernyanyi... tugas kakak juga yang meminta uang pada mereka" tuturnya menarik tangan Aulia berjalan menuju jalan raya.
"Hey! Kenapa aku harus menurutimu! aku tidak mau, aku mau pulang!" Aulia melotot tajam dengan kasar ia menarik tangannya hingga terlepas dari tangan anak laki-laki itu.
"Kamu tidak tahu yah, Daddyku sangat di takuti oleh orang-orang, Mommyku juga seorang pembunuh bayaran yang terlatih" bisik Aulia dalam hati. Berkacak pinggang di depan anak kecil bernama Leon.
"Di tempat ini aku yang berkuasa, jika kakak tidak menurutiku maka jangan salahkan aku jika kakak akan, KREEEK..." ancamnya dengan tangannya menggambar goresan luka di leher. Membuat Aulia ingin sekali terbahak-bahak.
"Cih! dia pikir aku gadis rumahan yang ayu dan tidak pandai berkelahi... rupanya dia meragukan kehebatanku hmmmm..." seru Aulia dalam hati tertawa kecil.
"Sudahlah, baiklah aku akan menurut pada adik penguasa" jawab Aulia yang tidak ingin memperbesar masalah. Leon menarik pergelangan tangan Aulia menuju jalan raya yang masih lampu merah. Leon dan Aulia berdiri di tengah-tengah mobil, bocah laki-laki itu langsung bernyanyi sembari bergoyang dan Aulia yang mendapat pelotototan dari Leon karena tidak mengikuti instruksinya. Dan terpaksa gadis itu ikut bergoyang dengan tangan terangkat ke atas pinggulnya di goyang seadanya.
"Hiks, hiks, Daddy tolongin Lia" histeris Aulia yang merasa malu di tertawai oleh orang-orang.
🎶 I'm on my knees while I'm beggin'
'Cause I don't want to lose you
Hey yeah, ratatata
🎶 'Cause I'm beggin', beggin' you
And put your loving hand out, baby
I'm beggin', beggin' you
And put your loving hand out, darling
"Gadis itu terlihat mirip dengan Aulia tapi tidak mungkin dia... Aulia sedang di Mansion lagipula wajahnya sangat lusuh begitu" gumam seorang pria di dalam mobil, tidak jauh dari sana ada mobil BMW yang menatap ke arah Aulia sangat intens.
"Hah! aku akan cepat-cepat pulang, tidak tahu dia sedang apa sekarang?" tanya Oskar dalam hati dengan senyum tipisnya.
Orang-orang memberikan uang peso pada Aulia dan Leon, bocah laki-laki itu segera menarik Aulia untuk keluar dari tengah-tengah jalan raya kala pergantian lampu lalu lintas akan berjalan.
Mereka menepi di sebuah jalanan yang cukup sepi duduk di salah satu tiang besi.
"Wah, uangnya lumayan banyak, kita bisa hidup selama seminggu" ujar Leon tersenyum lebar sedangkan Aulia menatap datar wajah anak kecil di sampingnya.
"Heh! uang sedikit itu mana cukup untuk seminggu, barang-barang di kota ini sangat mahal" protes Aulia bersedekap dada.
"Tidak perlu untuk makan yang mewah-mewah, cukup roti dan mineral sebagai pengganjal perut... kita harus bekerja keras lagi kalau ingin membeli beberapa kebutuhan yang layak" jelas bocah itu sangat bijak.
"Tidak ada Daddy seraya dunia Lia mau runtuh saja" keluh Aulia dalam hati mendesah berat.
"Ayo kak kita beli roti untuk makan siang kita, sekalian untuk makan malam" ajak Leon mengulurkan tangannya pada Aulia gadis itu menatap tangan mungil itu lalu menggapainya.
"Terima kasih kamu sudah menolongku, jika aku sudah kembali pada keluargaku aku akan memberikan kekayaan berapapun yang kamu mau" celoteh Aulia membuat Leon terbahak-bahak.
"Hahahaha, terima kasih kak sudah peduli padaku... tapi aku sarankan untuk tidak banyak halu itu tidak baik bagi kesehatan batin jika tidak kesampaian maka hati akan sakit... bekerjalah yang giat maka dunia ini akan kakak genggam" Aulia melotot tajam ke arah Leon, ia berkata sungguh-sungguh kenapa malah tidak percaya padanya.
"Hey! Daddyku adalah pria terkaya sedunia, jika kamu tidak percaya aku akan membuktikannya!!" seru Aulia merasa terhina padahal apa yang di katakan adalah benar.
"Sudahlah kak, berpikirlah yang bijak agar tidak mendatangkan penyakit... aku memang masih kecil tapi aku paham tentang kehidupan, ada kalanya untuk bermimpi tinggi tapi harus di seimbangkan dengan kenyataan... aku paham orang miskin seperti kita mempunyai angan-angan sangat tinggi." Jawab Leon santai berjalan menyusuri lorong yang sempit.
Aulia mengepal tangannya erat, terlihat giginya yang saling bertautan seakan menahan geram pada seseorang.
"Lia akan membuktikannya!!" teriak Aulia dalam hati. Wajahnya sudah sangat merah. "Heh! kesal pun tidak ada gunanya" gumamnya pelan.
Seorang pria tengah mondar-mandir di halaman rumahnya, sesekali menatap rumah di samping kanannya lalu beralih pada benda persegi yang melingkar di pergelangan tangan kanannya.
"Kenapa belum kembali juga? apakah dia tersesat? kalau dia tersesat dia bisa menggunakan Maps untuk mencari jalan pulang... sudah tiga jam kepergiannya. Aku sangat mengkhawatirkannya" bisik Tio dengan perasaan tak menentu.
Menyentuh dadanya yang tidak baik-baik saja. "Astaga! aku tidak bisa begini aku tidak mau Nona kenapa-kenapa, bisa gawat kalau Tuan muda mengetahuinya" gumamnya lalu mengambil kunci mobil dan ponselnya di dalam rumah. Berjalan keluar mengunci pintu rumah, setelah itu menuju ke arah mobil sedan berwarna coklat tua melesat meninggalkan pekarangan rumahnya.
Melihat ke sekeliling jalan namun tidak menemukan sosok yang di cari. "Di mana kamu Nona? bisa gak sih untuk tidak membuat masalah" ujar Tio meremas kemudi mobil. Ia membawa mobilnya dengan kecepatan sedang agar bisa dengan mudah mencari keberadaan Aulia.
"Maafkan Uncle Nona, andai kamu tidak pergi dari rumah kamu tidak akan hilang begini... di sini sangat rawan pembunuhan semoga kamu baik-baik saja" doa Tio penuh harap.
Di salah satu jalan lorong Leon dan Aulia di hadang oleh tiga orang preman berbadan kekar. Masing-masing dari mereka memegang kayu buah ukuran panjang.
"Hey! mana setoran hariannya?" seorang pria rambut panjang berwarna kuning mengulurkan tangannya di depan Leon, sedang di mulutnya bertengger sebatang rokok yang sudah di bakar.
"Tidak ada! kalau ingin uang kalian cari saja!" ujar Aulia dengan wajah menantang, tidak ada guratan ketakutan di wajahnya.
"Kak, mereka adalah penguasa di tempat ini, lebih baik kita bagikan dengan mereka atau kita akan mendapat masalah" bisik Leon pelan. Aulia terkekeh jenaka.
"Jadi pria jangan pengecut bodoh!" tutur Aulia makin membuat tiga pria itu emosi.
"Dasar wanita keras kepala! kamu pikir kamu bisa melawan kami huh!!" murka pria berambut merah membuat Aulia tertawa terbahak-bahak.
"Hahahaha, aku takut kalian akan berlari terbirit-birit" kekehnya.
"Astaga, kakak membuat masalah besar" batin Leon.
"Kamu tenang saja, aku bisa berkelahi" Aulia menenangkan Leon, ia tahu bocah itu sedang ketakutan sekarang.
"Bedebah! cari mati rupanya!!" Aulia menarik tangan Leon untuk keluar dari lorong kecil itu, tidak leluasa jika bertanding di tempat kecil.
"Woiii jangan lari kamu!!." Teriak tiga preman tersebut, mereka mengejar Aulia dan Leon.
"Kamu menjaulah sedikit!" Aulia mendorong tubuh Leon untuk menjauh, gadis itu terkekeh sinis, menarik lengan bajunya yang panjang ke atas hingga sebatas siku.
Memiringkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. "Sudah lama tidak berlatih hehehe" batinnya senang.
"Sialan! wanita gila ini menantang kita bro, habisi dia jangan biarkan nyawanya hidup" teriak rambut kuning membuat putung rokoknya menginjaknya kasar.
"Heh! siapa takut" balas Aulia. Salah satu dari tiga pria itu berlari menendang Aulia dengan gesitnya ia menghindar.
BUGH
BUGH
Kemudian teman satunya lagi memberikan bogeman ke arah Aulia namun dengan cepat ia menangkisnya dengan pergelangan tangan bagian belakang. Kaki Aulia terangkat sebelah menghindar tendangan bawah lalu meloncat mundur.
"Tiga lawan satu, tetap kamu yang kalah Nona" terkekeh ketiganya membuat Aulia tertawa licik.
"Ck! benar-benar sekumpulan manusia bodoh" celetuk Aulia.
"Kakak, lebih baik kita selesaikan dengan uang saja, jangan membuat diri terluka" teriak Leon khawatir.
"Heh! kita yang bekerja keras dan mereka mendapatkan keuntungan tanpa bersusah payah... konyol sekali!" gerutu Aulia yang langsung melayangkan tendangan lurus ke arah aset salah satu pria membuatnya langsung tersungkur jatuh.
BUGH
"Brengsek! ****!" umpatnya menahan sakit.
"Kau bocah ingusan"
BUGH
BAGH
Aulia menangkis dengan tangan menyilang lalu mendorong kaki musuh dengan tenaganya. Melayangkan tendangan putar hingga mengenai batang leher musuh membuat pria itu tersungkur jatuh.
"Sial! dia sangat jago, ayo kita panggil anggota kita" mereka berlari dengan wajah merah padam. Leon langsung menarik tangan Aulia untuk segera pergi.
"Ayo kita lari dari sini, anggota mereka sangat banyak!"
"Baiklah".
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung