
Happy reading 🤗
.
.
.
.
.
.
.
.
Kini hari telah berganti, malam yang suram bagi Hamas karena di tinggalkan oleh sosok yang di cintainya bahkan sampai meninggalkan dua buah hasil cinta mereka, yang kini tidak akan pernah kembali lagi. Pergi untuk selama-lamanya tanpa menengok ke belakang seakan jalan di depannya adalah impiannya.
Dua bayi kembarnya masih belum di beri nama, karena Hamas masih berduka atas kepergian sang istri. Malam tanpa ada pernak pernik bintang sepanjang malam kini telah berganti menjadi pagi, senyum mentari terbit di ufuk timur membangunkan orang-orang di muka bumi. Para pencari sesuap nasi terbangun dengan mulut masih menguap pertanda bahwa diri mereka masih sangat mengantuk, namun jika tidak bekerja maka sulit bagi mereka untuk mendapat makanan. Namun berbeda bagi orang-orang konglomerat, para pejabat yang notabenenya memiliki penghasilan besar tanpa harus bekerja keras mereka masih menikmati tidur nyenyaknya.
Seorang pria paruh baya yang kini tampak rapi dari sebelumnya, rambut yang acak-acakan karena baru bangun tidur kini sudah rapi dengan setelan di tubuhnya, pria itu baru saja menyelesaikan kegiatan mandinya tiga puluh menit yang lalu dan kini pria itu sudah duduk santai di salah satu kursi dekat jendela pesawat.
Menikmati pemandangan indah di dalam pesawat, menjatuhkan pandangannya pada sekumpulan awan cerah yang ikut berpindah akibat tiupan angin sembari menyeruput kopi sevel yang di campur dengan sirup kurma.
Waktu yang di tempuh masih satu jam lagi untuk tiba di bandar Udara Washington Dulles. Beberapa menit telah berlalu hingga pesawat jet yang di tumpangi tuan Farhan sudah benar-benar mendarat di atas bumi kota Washington.
Tuan Farhan lalu turun dari dalam pesawat, di sana sudah ada River yang menjemput tuan Farhan, karena sebelum pesawat mendarat ia sudah memberitahu kabar kedatangannya dan minta di jemput. Mendengar bahwa Bossnya itu datang pria bernama River buru-buru datang ke bandara.
Kini kedua pria itu sudah di dalam mobil, River menempati kursi kemudi sedang tuan Farhan duduk di jok kedua dengan tablet di tangannya. Sekalipun ia bepergian dan tidak berada di perusahaan namun ia selalu memantaunya lewat tablet di tangannya, tidak heran memang, dunia semakin canggih apalagi begitu banyak teknologi canggih yang bisa akses sejauh dan di manapun kita berada.
"Coba ceritakan sebenarnya apa yang sudah terjadi? bagaimana bisa menantuku mendadak meninggal? apalagi ada cucuku di dalam perutnya" tanya tuan Farhan sembari memijat pelipisnya, belum lagi dirinya memikirkan putrinya yang sedang berjuang melahirkan di Indonesia, ia belum mendapat kabar tentang kondisi putrinya dan cucunya itu.
"Menurut cerita Hanan, nyonya muda meninggal akibat terjatuh dari atas tangga hingga mengakibatkan pendarahan, malam itu mereka semua sudah tidur dan tiba-tiba mereka terbangun karena mendengar suara teriakan nyonya muda..., saat tiba di tempat kejadian mereka sangat terkejut dan segera membawa nyonya muda ke rumah sakit namun sayang saat sampai di sana nyonya muda..." jelas River tidak berani melanjutkan ucapannya. Tuan Farhan yang mendengar cerita River hanya membuang napas kasar.
Tuan Farhan memijat pangkal hidungnya memikirkan musibah yang menimpa putra sulungnya ia tidak tahu bagaimana keadaan Hamas saat ini sedang putranya sangat mencintai Shireen ia yakin putranya sangat-sangat terpukul.
"Andai aku tidak mendengar perkataan mereka menantuku pasti masih hidup" batin tuan Farhan.
"Lalu bagaimana keadaan Hamas sekarang? dia tidak berpikir untuk bunuh diri kan?" tanya tuan Farhan lagi, River menggeleng kepalanya sebagai jawaban. Tuan Farhan mengangguk mengerti, ia tahu putranya tidak akan berpikiran sempit sampai mau mengikuti jejak istrinya yang sudah berpindah alam.
"Jenazah nyonya muda sudah di kebumikan kemarin sore, sekalipun tuan muda sangat terpukul namun tuan muda tidak melupakan putra dan putrinya yang masih di rawat di rumah sakit..., selain mengurus kedua anaknya tuan muda juga tidak melupakan kuliahnya" jelas River lagi.
Tuan Farhan mengangguk mengerti, ia merasa bersyukur kedua cucunya masih di beri kesempatan untuk hidup di dunia dan bisa menikmati kekayaannya yang tiada habisnya, ia akan menjadi kakek yang selalu ada untuk kedua cucunya, karena ia tahu cucunya lahir ke dunia ini tanpa dengan ibu yang sudah meninggalkan mereka untuk selamanya.
Satu jam berada di dalam mobil dan dengan berbagai macam situasi di mana banyak kendaraan yang saling menyalip untuk berebutan tempat paling depan. Dan setelah melewati semua masalah dalam perjalanan, kini mobil yang di tumpangi tuan Farhan sudah tiba di halaman Apartment Hamas.
Bersamaan dengan itu Azhar hendak keluar ke Apartemen ia yang melihat ayahnya datang segera memeluk erat tubuh tuan Farhan.
"Akhirnya Daddy datang juga" gurau Azhar dengan smirk di bibirnya. Tuan Farhan membalas pelukan putra keduanya.
"Di mana abang kamu?" walau ia tahu bahwa Hamas berada di kampus namun ia hanya ingin berbasa-basi dengan putra keduanya, sudah lama tidak saling berkomunikasi sekalinya bertemu ia harus banyak berbincang-bincang.
"Abang masih di kampus mungkin akan pulang sore nanti" jawab Azhar. Kedua ayah dan anak itu berjalan menuju sofa ruang keluarga. Tuan Farhan menjatuhkan pantatnya di atas sofa yang empuk, kemudian menyilang kakinya saat duduk.
"Terus tadi kamu mau kemana? apakah kamu hendak pergi ke kampus?" tanya tuan Farhan dengan alis terangkat sebelah. Azhar menggeleng sebagai jawaban, sebenarnya ia mau menjenguk dua ponakannya yang masih di rawat di rumah sakit.
"Aku ingin menjenguk kedua cucumu, mereka masih di rawat di rumah sakit" mendengar kata cucu pria paruh baya itu seketika berdiri dengan senyum terukir di bibir tipisnya.
"Kalau begitu ayo! Daddy juga ingin menjenguknya, Daddy ingin melihat tampang penerus perusahanku" ujarnya bersemangat membuat Azhar dan River geleng-geleng kepala.
"Tapi Daddy baru saja sampai, apakah tidak lelah harus ke rumah sakit padahal Daddy menempuh perjalanan hampir dua puluh empat jam... aku takut..."
"Jangan lupa aku ini adalah raja mafia, sudahlah cepat bawa aku untuk melihat penerusku!" potongnya tidak sabaran. Mau tidak mau Azhar mengantar tuan Farhan di ikuti River.
Sedang di rumah sakit, orang tua Shireen juga menjenguk cucu mereka, wajah cucu perempuannya begitu persis seperti Shireen, memang buah jatuh tak jauh dari pohonnya, wajah mereka berdua seperti duplikat jika dari kecil saja sama bagaimana besar nanti.
"Lihatlah pa, wajahnya begitu persis dengan Shireen saat masih bayi, sangat di sayangkan ibu kalian meninggalkan kalian bahkan tanpa mencicipi air susu ibu... tapi tenanglah nenek akan menjaga baik-baik kalian" tutur ibunda Shireen dengan mata berkaca-kaca.
"Kita tidak perlu khawatir, keluarga tuan Wijaya sangatlah kaya aku yakin mereka tidak akan membuat hidup cucu kita menderita, aku yakin tanpa Shireen mereka berdua akan tetap bahagia" jawab tuan Robert.
Istrinya menatap tak suka saat mendengar jawaban suaminya.
"Seorang anak hidup di keluarga yang sangat kaya sekalipun, akan tetap membutuhkan sosok ibu yang mengayomi yang memberikan kasih sayang yang tulus..., aku akan berbicara baik-baik dengan Hamas untuk mencari istri untuk kedua anaknya" tutur ibunda Shireen sembari melihat kedua cucunya yang masih di dalam inkubator.
"Jangan bicara sembarangan, biarkan Hamas yang memutuskan apalagi istrinya baru saja pergi!" tegas tuan Robert tidak habis pikir dengan jalan pikiran istrinya. Namun ibunda Shireen melakukan itu demi kedua cucunya ia akan melakukan apa saja untuk membuat mereka merasakan kasih sayang seorang ibu. Kedua pasangan suami istri itupun keluar dari ruangan NICU, karena jam yang di berikan dokter sudah selesai.
Kini mereka telah berada di parkiran mobil bersamaan dengan itu mobil yang di tumpangi tuan Farhan masuk sedang mobil tuan Robert baru saja keluar.
.
.
.
.
.
.
Bersambung