The Love Story Princess And Prince Mafia

The Love Story Princess And Prince Mafia
Bab 136 Lain Di Hati Lain Di Mulut



**Happy reading 🤗


Jangan lupa beri dukungannya ya teman-teman 🙏🙏🙏🤗🤗**


.


.


.


.


Mobil mahal dengan merek yang cukup terkenal, ia memasang spanduk di bagian belakang mobilnya agar penjual getuk atau yang melihat pamam getuk bisa menghubunginya.


Kini Tio menyetir mobilnya dengan pelan-pelan agar bisa di liat orang lain atau penjual getuk.


Saat beberapa menit berlalu tak sengaja Tio melirik ke spion luar dan betapa terkejutnya melihat beberapa motor sedang mengejarnya ia berpikir keras siapakah mereka? apakah penjahat atau orang baik namun seketika ia mengingat bahwa ia tadi memasang spanduk mungkin mereka adalah paman getuk.


"Sepertinya aku akan segera pulang" gumam Tio tersenyum tipis, ia kemudian mencari tempat untuk bisa memarkirkan mobilnya, Tio mencari ruang kosong di depan kedai kopi buru-buru Tio turun dan benar saja ada sekitar lima paman getuk berhenti di samping mobilnya.


Dan lima paman getuk itu memiliki kepala botak yang sangat licin, juga motor berwarna hitam, buru-buru mereka menghampiri Tio.


"Tuan, saya jual getuk sesuai dengan permintaan istri tuan, ayo tuan silahkan di pilih getuknya! rasanya sangat enak saya jamin istri tuan akan ketagihan memakannya" ujar salah satu penjual getuk tanpa basa-basi.


"Eh eh, tuan, getuk punya saya yang paling enak, saya jamin istri tuan tidak akan berhenti memakannya, bahkan banyak testimoni yang tidak meragukan rasanya" penjual getuk lainnya ikut bersuara, masing-masing menjelaskan kelebihan produknya.


"Eh, tuan ayo silahkan pilih punya saya rasanya sangat enak dan harganya murah meriah kok, saya yakin tuan tidak akan rugi jika beli punya saya"


"Enak saja, saya lho yah yang duluan melihat informasi tuan ini, jadi yang harus di beli punya saya dulu!" Tio tersenyum masam melihat perdebatan dari lima penjual getuk, bahkan banyak dari beberapa pejalan kaki yang memerhatikan dirinya juga lima penjual getuk.


"Astaga, bukankah aku terlihat seperti seorang istri yang mempunyai lima suami? dan sekarang mereka memperebutkanku untuk malam pertama dengan mereka" bisik Tio dalam hati. Sungguh di luar dugaan betapa jauh pikiran Tio yang menganggap dirinya sebagai seorang istri yang haus akan pria hingga memiliki banyak suami.


"Untung saja aku adalah pria kalau aku benar-benar terlahir sebagai seorang wanita bukankah adegan ini akan terjadi dalam hidupku, membayangkan saja membuatku begitu merinding" gumam Tio pelan. Ke lima paman getuk itu masih memperebutkan Tio untuk membeli getuknya membuat Tio merasa malu.


"Sudah, sudah, jangan berdebat lagi! aku akan membeli getuk kalian semua, namun yang mau aku beli hanyalah getuk yang warnanya pink" lerai Tio membuat ke lima penjual getuk bersorak senang.


"Ayo tuan, ambil getuk punyaku dulu!"


"Tidak! tuan ini harus mengambil getuk ku terlebih dulu karena aku yang pertama melihatnya" seru salah satu penjual getuk membuat Tio benar-benar kesal. Bagaimana tidak kesal bahkan baju juga tangannya di tarik oleh lima pria penjual getuk.


Wajah Tio sudah memerah ia begitu menyesal memasang spanduk di mobilnya membuatnya ingin sekali menonjok mereka satu persatu.


"Aku ingin menghabisi kalian semua!" umpat Tio menggerakkan giginya.


"Percaya atau tidak aku akan menonjok habis kalian! lepaskan aku!" bentak Tio dengan tatapan menghunus membuat lima penjual getuk terdiam dengan perasaan bersalah.


"Tenang saja aku akan membeli punya kalian, jangan memperebutkan aku seperti ini, aku bukanlah seorang model papan atas" keluh Tio lalu berjalan menuju salah satu motor yang menjual getuk. Ia harus cepat-cepat menyelesaikan tugas dari sang istri, berlama-lama dengan mereka membuatnya begitu pusing bahkan hampir saja ia terkena kolesterol tinggi.


Mereka pun menjadi tenang, satu persatu Tio membeli getuk dari lima pria itu ada sekitar lima puluh buah getuk yang kini di tangan Tio, Tio pun membayar senilai lima ratus ribu itu berarti mereka mendapatkan seratus ribu per orang membuat mereka begitu kegirangan.


"Terima kasih tuan, semoga tuan selalu di berkati dan keluarga tuan sehat dan panjang umur" doa mereka seraya menunduk sopan. Tio sedikit tersentuh ia tersenyum sepintas.


"Amiin atas doanya, dan terima kasih banyak kalau begitu saya pergi dulu" ujar Tio dan lima pria penjual getuk mengangguk dengan senyum lebar.


Tio bernapas lega saat sudah di dalam mobil, ia menyimpan getuk di laci dashboard lalu menyalakan mesin mobilnya dan melesat jauh. Kini hari mulai sore itu berarti selama lima jam ia berada di luar mencari getuk dan baru sekarang ia menemukan getuk yang sesuai dengan permintaan sang istri.


Kini Tio telah memasuki halaman luas Mansion bertepatan dengan itu mobil tuan Farhan juga tiba dan berhenti di belakang mobil Tio. Setelah mengunci mobil ia turun dan tak lupa membawa pesanan Aulia.


"Selamat sore Daddy" sapa Tio saat keduanya saling bersitatap. Tuan Farhan menatap datar ke arah tangan Tio yang sedang menenteng kresek besar, matanya memicing penuh tanda tanya.


"Apa yang kamu bawa itu Tio?" tanya tuan Farhan Tio tersenyum ia lalu menjawab bahwa isi dalam kantung plastik itu adalah getuk pesanan Aulia.


"Aku beli di penjual keliling, aku pikir ini cukup higienis" jawab Tio


"Atas dasar apa makanan itu higenis? apa kau sudah menguji kebersihannya? aku tidak mau mengambil risiko besar terhadap cucu pertamaku! berikan kepada anggota Black Wolf dan jangan biarkan Aulia mengetahuinya" tegas tuan Farhan membuat Tio melotot tajam.


Begitu susahnya dirinya mencari getuk yang di pesan oleh istrinya dan dengan seenak jidat raja Iblis itu mengatakan untuk di berikan kepada anggota Black Wolf, bukankah itu sangat konyol!.


"Maaf, kali ini aku tidak akan mengikutimu tuan muda, aku sudah banyak membuang-buang tenaga juga waktuku demi mencari makanan ini" bisik Tio dalam hati. Tidak menanggapi pernyataan konyol tuan Farhan, Tio malah melenggang pergi tanpa berbicara, ia melangkah cepat ingin segera menemui istrinya.


"Kurang ajar! dia tidak mendengarku! sepertinya nyalinya cukup besar heh!" umpat tuan Farhan dengan gigi saling bertautan, sepertinya perasaan tuan Farhan tidak baik-baik saja saat ini, andai dia seorang perempuan mungkin marahnya karena pengaruh hormon menstruasi namun dia adalah seorang pria, apakah faktor amarahnya adalah karena adiknya belum puas? entahlah hanya tuan Farhan yang tahu.


Tuan Farhan kemudian masuk ke dalam, seperti biasa anggota Black Wolf menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat kepada tuan mudanya dan tuan Farhan hanya melenggang tanpa melihat mereka.


Saat di ruang keluarga, tuan Farhan melihat anak-anaknya serta istri dan iparnya sedang menyantap sesuatu di tangan mereka sepertinya itu adalah kue yang di bawa oleh Tio.


"Sayang kau sudah pulang? ayo duduk dulu aku buatin minuman untuk kamu" Jons menghampiri tuan Farhan meraih tangan kanan suaminya dan menciumnya membuat tuan Farhan tertegun.


"Apa yang sedang kamu lakukan Ara? kenapa kau mencium tanganku?" tanyanya dengan tampang heran Jons tersenyum simpul.


"Mencium tangan suami seharusnya menjadi rutinitas yang setiap hari aku lakukan, dan aku baru belajar dari Ayu, jangan pikirkan itu ayo duduk dulu" ajak Jons dan tuan Farhan mengangguk pelan.


Jons lalu pergi ke dapur membuat minuman untuk suaminya, mulai hari ini ia akan melayani suaminya sekecil apapun itu. Sedang tuan Farhan duduk dengan wajah datarnya.


"Daddy cobalah kue ini, rasanya sangat enak" Aulia menyodorkan sepiring kue getuk. Pria yang di panggil Daddy itu menatap dengan tatapan jijik membuat Tio dan Ayu hanya geleng-geleng kepala.


"Manusia satu ini memang tidak akan pernah berubah" kata Ayu dalam hati.


"Tidak sayang, Daddy tidak suka dengan kue ini" tolaknya secara halus dan Aulia mengangguk mengerti.


"Daddy kuenya sangat enak lho, Daddy nyesal nanti kalau tidak menyantapnya sekarang" kali ini Dafa yang berbicara namun tuan Farhan masih tetap pada pendiriannya, ia hanya menaikkan alisnya sebagai jawaban.


Tak lama Jons datang membawa kopi sevel yang di campur dengan madu tak lupa sepiring kue getuk di tangannya, dan menyodorkan kepada tuan Farhan, pria itu seketika meleleh melihat senyuman manis dari wajah sang istri, seakan beban hidupnya tiba-tiba sirna.


"Coba kue ini sayang, rasanya sangat enak aku yakin sayang akan suka" tutur Jons halus, bak kucing penurut tuan Farhan mengambil satu buah getuk dan memakannya membuat Aulia dan lainnya cukup terkejut.


"Ummm, katanya tidak mau makan tapi saat mommy yang beri malah langsung menurut... keterlaluan sekali!" cemoh Aulia dalam hati begitupun dengan Dafa dan Daffin.


"Emmm, rasanya seperti yang kamu bilang sangat enak" ujar tuan Farhan dengan senyum mengembang. Dan Jons sangat senang.


"Ekheem! sepertinya dunia milik berdua dan kami di sini hanya sebatas kontrak saja" gumam Tio.


"Ah Daddy lain di hati lain di mulut" celetuk Daffin membuat tuan Farhan malu sendiri.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung